sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 251, 24 agustus 2015
Tulisan lain

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 13 - Aminatul Faizah

Devon

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Teheran Dalam Stoples 12 - Aminatul Faizah

Kamboja

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Muharam
Muharam tiba. Aku terbangun mendengar sayup-sayup suara ayah dari halaman depan. Kulihat ayah sedang mengibarkan bendera hitam. Aku berlari turun. Sambil mendongak ke atas untuk memastikan bendera tetap pada pucuknya, ayah mengikat tali di bawah. Setelah itu ayah mundur beberapa langkah dan melihat ke pucuk tiang bendera.

Tiga kali ayah mengulang ikatannya barulah dia merasa puas. Ayah selalu ingin mendapatkan hasil yang sempurna dan sepertinya karakter itu ikut diwariskannya ke aku.  

Sepanjang perjalanan ke sekolah terlihat sesuatu yang berbeda. Kota Teheran yang ramai berubah sepeti menjadi kota yang sedang bersedih. Banyak  orang yang memakai baju hitam tanda berduka cita. Bendera hitam dikibarkan di banyak tempat. Sepertinya kutukan kematian sedang menyebar di seluruh kota.

Perjalanan menuju sekolah menjadi agak menyakitkan. Terdengar musik yang menyayat hati yang berkali-kali diulang, meraung-raung di seantero kota. Suasana hati pada pagi yang biasanya penuh semangat dan riang menuju sekolah untuk bertemu kawan-kawan ikut berubah total. Ibu yang merasakan perubahan suasana hatiku, mencoba menenangkan.

“Ini tradisi mereka sayang, kita harus menyesuaikan diri.”

Kupegang kuat tangan ibu dan untuk pertama kalinya aku juga ingin ikut mengantarku sekolah. Di depan terlihat sebuah tenda kecil berwarna hitam dengan berbagai kaligrafi. Semua guru menggunakan pakaian hitam, termasuk ummu yang baru pertama kali kulihat menggunakan pakaian dan kerudung hitam. Bendera hitam dikibarkan di tiang di tengah lapangan.

Berbeda dengan aku, kawan-kawan yang lain sepertinya tidak merasa terganggu dengan dominasi warna hitam dan musik yang menyayat. Mungkin mereka sudah terbiasa dan pelan-pelan aku merasa mulai tenang, walau tetap saja aku tak bisa terlepas sama sekali dari suasana kedukaan yang menyebar.

Khafsah yang mengenakan kain hitam menyambutku ke pintu. Semua temanku yang duduk di bangku paling depan mengenakan pakaian hitam,. Mereka sudah duduk tertib seperti sedang menyiapkan diri untuk melakukan sesuatu. Wajah Khafsah ceria, lebih bercahaya dari hari-hari yang biasa. Giginya yang sedang tumbuh bisa aku lihat dengan jelas dan ada sejumput putih diantara gigi yang menguning.

“Kau kenapa?” tanyanya sambil menyentuh daguku, memutarnya hingga wajah kami saling berhadapan.

Aku melihat wajahnya yang cantik dan putih, sama dengan anak-anak  Iran berbeda dengan kulitku yang agak kekuningan. Perpaduan antara kulit ayah yang putih seperti orang turki dan kemerahan seperti orang Austria dengan ibu yang kuning langsat.

“Aku baik-baik saja.”
“Kau yakin?” tanyanya sambil melihatku lebih dalam.

Aku tersenyum dan juga aku bersedih. Aku seolah terasing yang tak tahu apapun.

“Nanti kita berkeliling melihat tenda-tenda. Kamu mau kan?”
“Ya,” jawabku singkat tidak terlalu bersemangat.

Hari itu, Ummu Khoirah memulai pelajaran dengan makna Muharam. Aku mendengarkan dengan penuh seksama. Dari tanggal 1-10 Muharam, bukan hanya kota Teheran saja yang bersedih tapi seluruh negeri. Selama sepuluh hari itu, lagu yang terdengar adalah azadari atau ratapan duka cita.

Kaligrafi yang ditulis di tenda hitam di depan sekolah –yang juga kulihat di beberapa tempat sepanjang perjalanan- bertuliskan “Ya Husein Syahid” atau “ Ya Husein Mazlum.”

Walau dikerubungi ratapan duka cita, seperti dijelaskan ummu, Muharam juga bermakna kegairahan. Para anak-anak muda dengan penuh semangat membangun tenda-tenda hitam dan menghiasnya dengan kaligrafi. Mereka secara berkelompok penuh gairah menyenandungkan ratapan duka cita. Sesekali terjadi persaingan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Setiap orang penuh gairan untuk memperlihatkan larutnya mereka dalam kedukaan.

Ketika istirahat, sekelompok murid laki-laki yang lebih tua membawa genderang besar yang ditenteng di bagian depan. Beberapa membawa simbal. Mereka penuh gairah memukul gendang yang ditingkahi bunyi simbal. Aku sebenarnya masih bingung menyatukan kedukaan dan kegairahan namun penjelasan singkat ummu membuat aku tidak lagi terteror dengan kesedihan yang mendalam seperti dalam perjalanan ke sekolah tadi.

Kupusatkan benak dan hatiku untuk mendengar sepenggal azadari,

Kheime-ha misuzad va sham-e shab tare azast..
Karbala matam sarast
Majma’peygambaran dar qatl-e gah-e karbala
Karbala matam sarast

Tenda-tenda terakar dan lilin malam menjadi nada kesedihan
Karbala menjadi tempat dukacita
Sekumpulan pembawah risalah ada di padang pembantaian karbala
Karbala menjadi tempat dukacita

Selepas istirahat, ummu meneruskan pelajaran dengan Bahasa Arab untuk organ-organ tubuh. Mataku seperti biasa yang tertuju di papan tulis tapi pikiranku melayang-layang tak berpijak pada apa pun. Suasana hati yang asing menyelinap.

Ketika lonceng pulang berdentang, teman-temanku berlarian ke luar kelas, tapi aku memutuskan untuk bertanya lebih banyak kepada ummu.

“Ummu aku harus senang ataukah sedih?” tanyaku.

Dia tersenyum menenangkan: “Kenapa?”

Aku menjelaskan yang kualami dan juga apa yang kubingungkan.

Tenda-tenda hitam, kata ummu, merupakan perlambang dari tenda-tenda Imam Husein di Karbala, tempat terjadinya pembantaian. Pada bulan Dzulhijjah 59 H, Imam Husein bin Ali bin Thalib meninggalkan Mekkah untuk menuju Kufah karena diminta bantuan oleh warga Kufah, yang ingin menjatuhkan khalifah saat itu, Yazid bin Muawiyah. Khalifah Yazid dikenal represif dan anarkis.

Namun sebelum sampai Kufah, tepatnya di padang Karbala, Imam Husein beserta 72 orang sahabat dan juga keluarganya termasuk anak-anak kecil dan bayi dihadang oleh pasukan Yazid. Semua lelaki dibantai habis kecuali seorang putra Imam Husein, Ali Zainal Abidin, yang sedang sakit parah dan seorang cucu Imam Husein, Mohamad Al Baqir yang masih balita. Sedangkan yang masih hidup dirantai dan diarak hingga ke istana di Damaskus.

Kematian Imam Husein dan para pengikutnya itu merupakan martir bagi umat Syiah dan perang Karbala menjadi salah satu kalender penting bagi umat Syiah yang berpuncak pada 10 Muharran. Tragedi yang memilukan itulah yang setiap tahunnya diperingati oleh orang Iran. Mereka meratap di sambil mendengarkan maddah yang membaca azadari.

“Lalu apakah kau harus senang?”
“Tidak ummu.”

Aku sebenarnya masih tidak terlalu memahaminya namun pelan-pelan mulai bisa membayangkan kehebatan dari sebuah tradisi duka yang berhasil diteruskan dari satu generasi ke generasi lainnya selama seribu tahun lebih. Kepedihan yang terjadi lebih dari seribu tahun lalu ternyata masih bisa dihadirkan dalam keseharian di Iran. Aku jadi amat menghargai mereka yang melakukannya, yang membuktikan ketaatan mereka pada ajaran agama. 

Setibanya di rumah, aku pandang bendera hitam di halaman yang berkibar tertiup angin. Suara azadari yang berkumandang dari segala arah terdengar. Sambil berganti baju di kamar, aku mengulang kembali cerita yang kudengar dari ummu Khoirah. Sambil menggendong Ghazali –yang sama sekali tidak terganggu dengan azadari- Ibu mendengarkan yang kuceritakan walau aku yakin dia pasti sudah tahu.

Di antara suara azadari yang berkumandang, ibu mencium ubun-ubunku ketika aku selesai bercerita.

Suasana hatiku agak berubah. Sebentar lagi Khafsah akan datang, dan aku berlari ke kamar Ali.

“Kamu mau ikut Ali?”

Dia diam saja. Aku bertanya kepada ibu, apakah aku boleh mengajak Ali.

“Tanyakan pada khala.”

Setiap kali aku bertanya kepada khala maka pasti jawabannya mengiyakan. Kuceritakan kepada Ali tentang tenda-tenda hitam untuk mengenang Perang Karbala, tapi seperti biasa dia tidak memberi respon apa pun. Wajahnya tetap datar tanpa emosi. Apakah dia tidak akan pernah bisa memilih dan hanya menerima yang diberikan kepadanya? Mungkin aku tidak akan pernah tahu jawabannya hingga kelak nanti dia dan aku menjadi dewasa. Apa pun, aku tidak akan pernah putus asa.

Ibu sudah menyiapkan sup ayam dengan campuran tomat. Ada beberapa potong roti kering. Kuambil sepotong roti, kucelupkan ke sup ayam di dalam mangkuk kecil di hadapanku dan kumasukkan ke dalam mulutku sambil memandang Ali, berharap dia akan mengikuti. Ali diam saja. Jadi kuangkat tangannya, kubawa ke piring tempat roti, dia mengambil sepotong dan kutarik tangan itu mendekat ke mangkuk supnya dan dia mencelupkan ke dalam sup itu sebelum memasukkannya ke mulut.

“Pintar kau Ali. Sekarang kita makan supnya.”

Kuambil lagi tangannya dan kugeser tangannya untuk mengambil sendok kecil di samping mangkuk. Tangan yang kecil itu kubawa ke mangkuknya dan menekan sedikit ke bawah sampai dia menggerakkan sendiri tangannya untuk menyendok sup dan memasukkannya ke mulut.

“Kita akan berjalan berkeliling Ali, jadi kita harus habiskan sup ini biar punya banyak tenaga,” perintahku pada Ali, yang menatap kosong walau aku yakin dia mengerti dan akan menghabiskan sup di mangkuknya.

Selepas makan, kutarik Ali ke halaman belakang dan kusorong dia mendekat ke ayunan dan dia sudah bisa naik sendiri. Kami berayun-ayun sambil mendengarkan senandung azadari yang datang dari segala arah.

Tak lama khala memanggilku dan kutarik Ali dari ayunan bergegas ke gerbang rumah menyambut Khafsah. Dia masih dengan pakaian hitam yang dipakai ke sekolah dengan sandal plastik yang lusuh sambil menggending adik laki-lakinya yang memegang seiris apel yang berwarna keclokatan. Aku menduga irisan apel itu sudah terjatuh di tanah dan diambil kembali. Bekas-bekas ingus yang membeku terlihat di atas bibir adik Khafsah.

Ibu yang melihat dari atas segera turun dan mengajak Khafsah dan adiknya masuk ke dalam rumah.

“Siapa nama adikmu Khafsah?”
“Zainal.”
“Berapa tahun usianya?”
“Satu tahun.”

Ibu kemudian menghidangkan kembali sup ayam bercampur tomat dengan roti kering, sama seperti yang kami makan tadi dan menyuruh aku dan Ali duduk menemani Khafsah dan adiknya.

Khafsah terlihat rau-ragu mengambil roti kering dan juga ragu-ragu mencelupkannya ke mangkuknya. Ibu mengambil sepotong roti kering, memecahnya menjadi remah-remah kecil di dalam mangkuk sup dan menyulang Zainal, yang makan dengan penuh semangat. Aku dan Ali hanya diam saja duduk melihat Khafsah dan adiknya.

Pelan-pelan kulihat Khafsah mulai makan dengan lebih bersemangat dan dia menghabiskan supnya lebih cepat dari Zainal.

Selesai makan, kami mulai jalan. Khafsah kelihatan senang, aku yakin karena makanan yang ibu masak. Bagi orang yang setiap hari makan sup ayam sekali pun, bisa merasakan sup ayam ibu enak, apalagi seperti Khafsah yang pastilah jarang makan sup ayam. Aku berjanji di dalam hati akan mengatur lebih banyak lagi janjian kami di seputar jam makan siang atau jam jajanan sore. Jika dia datang pada masa-masa itu, pastilah dia akan ikut menikmati hidangan yang sudah tersedia.

Khafsah amat mengenal gang-gang kecil di kawasan dekat rumah kami. Walau menggendong Zainal, kelincahannya tidak berkurang sedikitpun, Sesekali dia menyentak tangan untuk mengangkat kembali Zainal yang agak terperosot dari pinggangnya. Aku pun mencoba segesit dia dengan menarik Ali supaya terus mengikuti tempo berjalan Khafsah namun Ali sepertinya tidak tahu tujuan perjalanan kami sehingga kakinya tidak seringan biasa.

Aku ingat jika kami ke kebun rahasia, bisa terasa Ali tidak perlu ditarik karena sudah langsung ikut setengah berlari.

Dalam perjalanan keliling kampung,  aku baru tahu bahwa tidak semua tenda pada masa Muharam harus berwarna hitam. Ada juga hijau gelap dan bahkan ada yang putih. Semuanya berhiaskan kaligrafi. Di beberapa pojok sekelompok pemuda menyenandungkan ratapan duka cita dengan tabuhan genderang. Aku menyeret boneka besarku Ali, yang sepertinya tidak tertarik dengan penjelajahan Muharam itu. Atau mungkin dia juga

Di ujung jalan dekat pasar kulihat kakak Khafsah sedang menjual kue dan Khafsah berhenti di sana. Banyak pembeli berbaris. Khafsah menaruh adiknya duduk di atas tanah di dekat beberapa ember di belakang meja jualan dan dia berdiri di samping kakaknya. Aku pulang bersama Ali. Tangan Ali kupegang saja karena dia melangkahkan kakinya ringan.

Ada sedikit rasa kecewa, berharap Ali bersemangat melihat tenda-tenda Muharam, tapi dia ternyata tidak perduli. Dia sepertinya sudah lebih dulu menutup benak, telinga, dan matanya sehingga tidak ada rangsangan apa pun yang bisa masuk lagi. 
***
bersambung - baca bagian sebelumnya dengan klik novel

Jika ingin memberi komentar gunakan #ceritanet di Facebook dan Twitter

ceritanet©listonpsiregar2000