sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 250, 11 Juli 2015

Tulisan lain

Pelarian - Chairil Anwar

Puasa - Jajang Kawentar

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 13 - Aminatul Faizah

Devon

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Teheran Dalam Stoples 12 - Aminatul Faizah

Kamboja

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 11 - Aminatul Faizah

Wales

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

novel Teheran dalam Stoples
Aminatul Faizah

13. Scnitzle
Kali ini ibu yang memasak. Ia akan memasak ikan kukus, fesenjum, scnitzle. Fesenjum adalah daging yang dicampur pasta delima yang manis dan untuk sebagian orang rasa itu cukup aneh. Tapi ibuku tahu banyak hal yang enak. Ia membuatnya dari kacang walnut dan juga hazelnut yang digiling.

Lalu dimasukan ke dalam panci untuk dicampur dengan pasta tomat, pasta delima, garam merica dan juga lada lalu air. Adonan itu dimasak dengan api kecil selama lima jam namun dua jam sebelum matang ibu akan mencampurkan sedikit kaldu dan juga daging.

 Scnitzle adalah masakaan Eropa yang terbuat dari ayam yang dilumuri dengan garam dan merica, lalu dimasukan di dalam tepung dan telur sebelum ditaruh di remah roti yang dicampur dengan kacang almont asam dan daun pashley. Setelah itu digoreng dengan minyak jagung dengan api yang tidak terlalu besar.

Tapi dari semua aroma yang sering dimasak ibu, aku sangat tertarik dengan aroma nasi Iran. Beras Iran yang berkualitas bagus direndam terlebih dahulu selama satu hingga dua jam. Lalu dimasak dalam air hingga setengah matang dan kemudian dicuci lagi dengan air. Barulah dicampur dengan garam dan minyak zaitun untuk dimasukan ke dalam panci yang didasarnya sudah dilapisi nan yang dilumuri minyak zaitun.

Aku paling suka nasi Iran, walau sebenarnya aku –sama seperti ayah, khala dan juga Ali- akan menyantap dengan lahap semua yang dimasak ibu. Hanya Ghazali yang tidak selalu bisa memakan yang dihidangkan di atas meja. Ibu tak akan memberi Ghazali makanan yang terlalu berminyak maupun yang terlalu kuat rasa bumbunya.

Pada malam libur itu, setelah menyantap scnitzle, aku teringat ibu suatu kali pernah berjanji untuk melihat koleksi foto yang disimpan ibu. Aku tahu ibu memiliki kamera. Walau tak selalu dibawa setiap bepergian ke luar rumah, sesekali aku melihat ibu memotret semparangan. Aku tak pernah tertarik sampai ketika ibu mengambil foto dar kotak tunmpukan koleksinya pada hari pertama sekolahku dulu.

Kutagih janji itu, dan setelah Ghazali diantar ke tempat tidurnya, ibu turun membawa kotak itu. Kami duduk berdua di meja makan, Ayah tampak sedang sibuk di meja kerjanya dan aku tidak mau mengganggunya sedang Ali tak kelihatan.

Aku sempat ragu apakah memanggilnya atau lebih ingin berdua saja bersama ibu. Ketika ibu mulai membuka kotak itu, aku putuskan untuk duduk berdua bersama ibu.

Tumpukan foto itu amat banyak dan juga amat beragam. Ada foto pedesaan pada saat musim panas ketika pohon-pohon lebat dengan dedaunan hijau atau pada musim gugur dengan daun-daun yang berwarna coklat maupun kemerahan. Juga ada pohon-pohon yang telanjang bulat tanpa daun sehelai pun selain batang dan cabang-cabang gundul pada musim dingin serta pucuk-pucuk kecil daun ketika memasuki musim gugur.

Aku suka foto-foto beragam itu, walau yang paling aku suka adalah lapisan salju tipis di perbukitan landai. Di sana sini masih terlihat menyeruak rumput haluis berwarna coklat muda. Saru dua rumah terlihat jauh di belakang, dan tak satupun orang atau hewan yang terlihat. Sepi, damai, dan dingin tapi indah.

Ayah mengatakan salju juga turun di Teheran pada akhir hingga awal tahun. Aku tak sabar menanti, masih ada sekitar empat bulan lagi sebelum Desember .

“Bu apakah salju itu seperti es krim?”
“Ya kalau masih baru jatuh, tapi lama-lama mengeras.”
“Ibu pernah memegang salju.”
“Ya, dan mudah-mudahan akhir tahun nanti salju juga turun di sini.”

Kutemukan lagi foto lapisan salju tipis yang menutupi jalanan dengan barisan pohon di kiri kanannya. Bercak-bercak salju tampak di ujung cabang-cabangnya. Anganku menerawang ke halaman belakang rumah: kelak aku, Ghazali, dan Ali bisa bemain salju.

Aku akan berdoa kepada Tuhan agar dia mengirim salju yang cukup banyak ke halaman rumah kami. Kalau di rumah Khafsah tak ada salju, akan kuajak dia bermain bersama kami. Atau kami bisa pergi ke kebun rahasia, jadi aku tak boleh lupa berdoa agar Tuhan juga mengirim salju ke sana. 

Ibu kemudian meninggalkan aku sendirian untuk menikmati koleksi foto-foto di kotak itu. Semakin ke bawah semakin beragam fotonya. Satu album memperlihatkan ketika aku masih kira-kira seusia Ghazali.

Kubawa foto itu ke depan cermin di atas perapian dan kusandangkan dengan wajahku. Sepertinya tidak banyak yang berubah, walau wajahku lebih sedikit melonjong tidak bulat seperti dulu lagi. Sedang mataku tampak sama saja, dan rambutku jauh lebih panjang tanpa poni yang dipotong lurus merata di kening. Aku tersenyum melihat fotoku seperti boneka.

Di album itu, banyak orang dengan kulitku yang berwarna coklat muda kekuning-kuningan. Apakah kakek atau nenek ada di tumpukan foto? Atau mungkin paman ibu yang membujuk kakek agar menerima ayah sebagai suami putrinya? Banyak wajah yang menurutku mungkin menjadi kakek, nenek, paman ibu, atau abang, kakak, maupun adik ibu.

Juga banyak anak-anak seusiaku maupun yang lebih besar yang mirip dengan aku, tapi tak ada Ghazali.  Hidup di tengah orang-orang Iran –yang wajahnya amat berbeda denganku- membuat hampir semua wajah orang di foto itu tampak mirip: sebuah keluarga besar.

Masih banyak lagi tumpukan foto lepas dan album di dalam bagian bawah kotak namun perhatianku sudah berpindah. Kucari ibu di dapur, dia sedang menyeduh teh untuk ayah. 

“Ibu bagaimana kalau kita berfoto.”
“Boleh, kamu bersiap-siap saja.”

Aku berlari ke kamar Ali dan lampunya masih menyala. Aku mengandengnya ke ruang makan dan ibu sudah siap dengan kameranya. Ibu mengatur kami berdua berdiri di depan guci putih dengan ornamen bunga berwarna biru. Tangan kiriku merangkul Ali dari bagian belakang tapi begitu lampu kilat menyala, tangan Ali refleks menutup mukanya. Aku tertawa melihat Ali yang ketakukan dengan lampu kilat.

Ibu membawa kamera dan menyalakan lampu kilat beberapa kali ke arah yang lain untuk menenangkan Ali. Namun setelah beberapa kali Ali tak bisa lepas dari refleks dan ketakutannya, ibu memindahkan kami ke ruang tamu, berdiri di bawah lampu besar.

Ayah yang mendengar aku tertawa karena refleks Ali, ikut membantu dengan mengambil senter besar dan menyalakannya ke arah kami.

Setelah meyakinkan Ali bahwa tidak akan ada lampu kilat, Ibu memfoto kami berdua beberapa kali. Setelah itu kami bertiga bersama ayah, dan aku dan ayah berdua. Ayah setengah berjongkok dengan satu kaki diangkat lurus sehingga aku bisa duduk di atas pahanya. Kupeluk badan ayah yang kokoh dan amat senang rasanya hatiku berfoto bersama ayah.

Ayah kemudian berganti mengambil foto aku bersama ibu. Ali sudah langsung lari ke kamarnya, mungkin ketakutan karena ibu kembali menggunakan lampu kilat ketika memfoto aku dan ayah. Aku dan ibu -yang setengah menunduk- berdiri berdampingan sambil berpegangan tangan. Beberapa kali harus diulang dan ibu memberi instruksi kepada ayah.

Selesai berfoto, aku minta agar ibu kelak besedia memfoto aku dan Khafsah.

“Baik nak, tapi nanti kita minta izin ibunya dulu. Sekarang kamu sudah harus tidur sayang."
***

bersambung - baca bagian sebelumnya dengan klik novel

ceritanet©listonpsiregar2000