ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 24, Sabtu 6 Oktober 2001
___________________________________________________

novel Dokter Zhivago 24
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Selama bulan November 1911 Anna terbaring di ranjang dengan radang paru.

Yura, Misha Gordon dan Tonya menghadapi promosi pada musim semi yang datang, Yura dalam ilmu kedokteran, Tonya dalam ilmu hukum, Misha dalam falsafah.

Segala hal dalam otak Yura bercampur-baur dan salah letak saja, segala hal menjadi pula miliknya yang khas --pandangannya, kebiasaan dan kecenderungannya. Lain dari biasanya, ia sangan mudah menangkap kesan-kesan; dan kesegaran serta kebaruan dalam pendiriannya adalah istimewa.

Sungguhpun ia sangat tertarik pada kesenian dan sejarah, ia hampir tak ragu-ragu mengenai pemilihan karirnya.

Baginya kesenian bukannya panggilan jiwa, sama halnya dengan kenyataan bahwa kegembiraan batin serta kemurungan bukanlah pekerjaan. Ia menaruh minat pada ilmu alam serta yakin bahwa manusia mesti berbuat sesuatu yang berguna dalam kehidupan praktis. Ia menetap pada ilmu kedokteran.

Dalam tahun pertama dari pelajaran yang empat tahun itu ia tinggal setriwulan dalam kamar urai yang letaknya jauh di bawah tanah di ruang kolong Universitas. Orang turun melalui deretan tangga yang melenggok.

Selalu hadir segerombolan mahasiswa yang ceroboh, ada yang bekerja keras dengan buku pelajaran yang rusak-redam, di lingkungi tulang-tulang, ada yang tenang melakukan penguraian, masing-masing di sudutnya, lain-lainnya bersenda-gurau, membuat lelucon atau memburu tikus-tikus yang berlari-larian dalam kelompok di lantai batu.

Dalam udara temaram di rumah mayat, jenasah telanjang paa perempuan yang tenggelam, orang-orang muda yang bunuh diri dan belum dikenal, dipreservir baik-baik hingga tak membusuk; di situ tubuh-tubuh ini mengkilap putih seperti fosfor. Injeksi-injeksi dengan tawas membuat mereka muda serta menggubah kebulatan tubuh yang tak ada sebelumnya. Mayat-mayat dibedah, dipotong-potong dan dipreparir, namun keindahan tubuh manusia masih juga nampak dalam bagian sekecil-kecilnya, sehingga kekaguman yang dirasakan Yura waktu melihat tubuh gadis yang acuh tak acuh terlempar atas meja seng, terasa pula olehnya ketika ditatapnya lengan atau tangan yang terpenggal. Ruang kolong berbau karbol dan formaldehide serta dipenuhi kehadiran rahasia, rahasia hidup yang tak dikenal dari mayat-mayat telanjang di tempat ini terasa layak, seolah kamar di bawah tanah inilah rumah kediaman atau markas besarnya.

Suara rahasia yang membenam segala hal lainnya ini menganggu Yura waktu ia melakukan penguraian. Tapi banyak lagi dalam kehidupan yang mengusiknnya juga. Itu sudah lumrah baginya, pun tak dapat dielakkan.

Yura pandai berpikir dan lebih pandai lagi menulis. Sudah sejak masa sekolahnya ia mimpikan hendak menulis buku dalam prosa, buku berisi kesan-kesannya tentang hidup; didalamnya bagaikan batang-batang dinamit yang tersembunyi, akan disimpannya hal-hal yang paling luar biasa yang pernah disaksikan dan dipikirkannya. Ia terlalu muda untuk menulis buku demikian, yang dibuatnya ialah menulis puisi. Ia serupa pelukis yang seumur hidupnya membikin sketsa-sketsa untuk lukisan besar yang diidamkannya.

Kekuatan serta keaslian sajak-sajaknya mendorong Yura untuk memaafkan diri sendiri tentang apa yang dianggapnya dosa pembenihannya, sebab yakinlah ia bahwa hanya keaslian dan kekuatanlah yang mampu mengubah realitet pada karya seni dan bahwa tanpa itu kesenian akan tak guna semata-mata, merata tanah, serta pemborosan waktu

Yura sadar betapa besar peranan pamannya untuk membentuk wataknya.

Nikolay Nikolayevich kini tinggal di Lausanne; di situ beberapa bukunya telah terbit dalam Bahaa Rusia maupun dalam bahasa-bahasa lainnya. Dalam buku-bukunya itu dikembangkannya segala pemandangannya tentang sejarah sebagai alam semesta kedia --semesta yang didirikan mansuia dengan dibantu oleh waktu dan ingatan, sebagai jawaban terhadap ancaman maut. Diilhami oleh pengertian baru tentang ke-Kristenan, hasilnya ialah gagasan baru tentang kesenian.

Misha Gordon bahkan lebih mendalam lagi terkena oleh gagasan-gagasan ini dari pada Yura. Akibat pengaruh teori-teori pamannya, tapi Misha terhambat oleh itu. Yura dapat menerima peranan keturunan kebangsaan yang berlaku dalam segala pendapat Misha yang ekstrim itu; ia terlampau berendah-hati, hingga tak dicobanya mengajak Misha supaya melepaskan rencana-rencananya yang aneh itu, namun kadang-kadang ia ingin agar Misha lebih empiris dan lebih dekat pada hidup.
***

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000