ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 24, Sabtu 6 Oktober 2001
___________________________________________________

cerpen Rumah Lelaki
Yusuf Arifin

Sejak kecil ia selalu dicekoki oleh orangtuanya bahwa rumahlah pelabuhan hidup. Dari sebuah rumahlah seseorang pergi berlayar dan kembali ke rumahlah ia akan berlabuh. Dunia menyediakan petualangan tetapi rumah adalah tempat berlindung ketika seseorang perlu berkeluh kesah atau untuk berbagi kegembiraan. Hancurnya sebuah rumah adalah pertanda hancurnya dunia yang melingkupi orang.

Ia memang tak pernah membantah cekokan itu. Masa kecilnya membahagiakan. Orang tuanya sempurna dalam segalanya, kakak dan adiknya tanpa cacat. Kehidupan berjalan tanpa riak yang berarti. Kesedihan kadang-kadang terjadi, seperti ketika ayahnya meninggal, tetapi kegembiraan adalah yang utama mewarnai hidupnya. Lagipula apalah arti kebahagiaan tanpa adanya kesedihan dan kegembiraan yang datang bergantian. Bukankah kebahagiaan adalah pastinya hati untuk menyambut ketika kegembiraan dan kesedihan datang?

Dengan bekal itulah ia kemudian memutuskan tiba waktunya untuk membuat pelabuhan sendiri, rumahnya sendiri. Ia harus keluar merengkuh dunia sebelum ia bisa membangun rumahnya sendiri. Sudah 24 musim dedaunan gugur ketika ia memutuskan itu. Kakak-kakaknya sudah mapan dengan rumah mereka sendiri. Masih ada beberapa adiknya di rumah namun mereka belum saatnya untuk pergi.

Ibunya mencium dengan kasih sayang. ''Bila sudah kokoh tiang rumahmu, undanglah aku dengan segera,'' pesan ibunya ketika ia pamit.

Ia tertunduk, matanya membening oleh air mata, tangannya mengelus tangan ibunya yang mulai penuh kerutan.

Dan begitulah. Waktupun berjalan persis seperti jutaan tahun sebelumnya. Matahari dan bulan tenggelam dan muncul bergantian sesuai garis edarnya.

Satu hari adalah 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Kadang sepertinya berjalan lebih lambat, kadang sepertinya lebih cepat, tetapi hatilah yang mengatakan itu, bukannya waktu. Waktu bergerak tanpa perasaan apapun juga. Berapa ribu kali langit berganti dari gelap ke terang, dari terang ke gelap.

Dan ia yang sudah meninggalkan rumah menyusuri dunia bersama waktu. Dari ujung ke ujung, dari batas ke batas, dari mana nafkah hidup mengulurkan tangan. Begitulah ia. Tentu saja ia tak lupa, masih jelas terngiang dibenaknya mengapa ia pergi, rumahlah pada akhirnya pelabuhan perjalanan ini, rumahnya sendiri.

''Rumahku sendiri. Bagaimana cara memulainya,'' gumamnya pelan.

Setiap kali ia merenungkan hal itu, setiap kali pula otaknya bergegas memulai perjalanannya kembali. Matanya menatap awas ke sekitar tetapi pikirannya melayang-layang. Tertanam betul nasehat ayahnya.

''Fondasi rumah harus kuat. Karena tanpa fondasi yang kuat rumah akan mudah rubuh. Inilah awal dari segala awal. Yang paling penting.''

Ia tersenyum. Ratusan kali ayahnya mengatakan hal itu. Yang pasti dilanjutkan dengan betapa tidak bedanya fondasi rumah dengan fondasi perkawinan. Fondasi rumah yang kuat akan mampu menghadapi angin ribut dan gempa. Fondasi perkawinan yang kuat akan mampu mengarungi tantangan yang seberapapun beratnya.

Ayahnya memang selalu mengaitkan rumah dengan perkawinan. Ah ... ayahnya memang seorang yang bijak. Ia masih sering merindukannya.

Ia menjadi teringat akan ruang keluarga rumahnya yang besar, hangat dan nyaman. Dua sofa yang besar menjadi titik pusatnya. Beberapa bantal besar teronggok di kaki sofa, siap menerima siapun yang ingin rebah diatasnya. Ada beberapa foto keluarga dan foto ayah dan ibunya saat masih muda. Entah berapa ribu jam ia habiskan waktu di ruang itu sekeluarga.

''Kalian tahu mengapa ruang keluarga ini aku buat senyaman mungkin?'' pernah ayahnya bertanya. ''Karena inilah tempat kita bersilaturahmi sebagai satu keluarga. Suka dan duka kita bagi bersama di tempat ini. Kalau kita punya persoalan kita pecahkan di tempat ini. Kalau kalian ingin menangis atau tertawa inilah tempatnya.

''Ia bersama kakak dan adiknya tak perlu bertanya tentang ruang lain di rumah, karena tanpa diminta ayahnya mulai berceramah.

''Rumah... rumah....rumah. Rumahlah segalanya. Aku buatkan kalian semua kamar sendiri agar kalian belajar bertanggungjawab. Harus kalian bersihkan dan tata sendiri, karena pada akhirnya kalian harus hidup sendiri-sendiri terpisah dari aku dan ibumu. Aku dan ibumu pasti suatu saat akan mati.

''Matanya akan memerah, suara sedikit pelan dan bergetar. Ia sekeluarga akan terdiam sendu. Adiknya yang paling bungsu selalu bergeser mendekat dan kemudian memijat-mijat kaki ayahnya.

Ayahnyapun kemudian akan mengelus-elus pundak ibunya sambil berkata, ''Tentu saja aku juga membuat kamar untuk aku sendiri dan ibumu. Kalianpun nanti akan begitu. Kami, ayahmu dan ibumu, perlu ruang pribadi. Untuk memadu cinta, untuk saling marah kadang-kadang, dan untuk membicarakan kalian tanpa kalian tahu.''

Kata-kata memadu cinta selalu membuat ibu tersenyum. Ia, kakak-kakaknya dan adik-adiknya juga ikut tersenyum.

''Ah ayah kalian memang kurang kerjaan,'' begitu selalu kata ibunya tersipu. Tetapi tak pernah ia mendengar ibunya tak mengiyakan perkataan ayahnya.

Percakapan mereka selalu kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang atap rumah mereka. ''Sengaja aku bikin lancip ke atas sebagai simbol. Untuk mengingatkan pada aku dan ibu kalian bahwa perkawinan antara aku dan ibu kalian semoga saja merupakan tangga titian ke sorga. Menuju ke atas.''

Wajah ayahnya akan tiba-tiba serius dan ibunya akan menepuk paha ayahnya dengan perlahan sambil tersenyum gembira.

''Rumah....rumah...rumah,'' helanya perlahan. Walau rutin berkabar ke ibunya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk berkabar ibunya di rumah saat itu juga. Tetapi apa yang mau dikatakannya? Tiba-tiba teringat percakapan mereka dulu dengan ayahnya? Kedengarannya sangat sentimentil untuk seorang lelaki seperti ia.
***

*)inspirasi dari lagu Ramble On, Led Zeppelin

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000