ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 24, Sabtu 6 Oktober 2001
___________________________________________________

novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Di ruang penjemputan, Keith, adik dan sudara kandung Elaine satu-satunya, pertama-tama melihat dan mengenali Jagger, bukan karena sudah pernah bertemu, namun karena diceritakan Elaine bahwa Jagger selalu berpakaian a'la pengendara motor besar. Agak kaku juga awal perkenalan Jagger dengan Keith. Keith menjabat tangan Jagger dengan genggaman erat sekali, namun tangan Jagger tak siap, dan hampir saja wajahnya meringis kesakitan ketika genggaman Keith mencengkeramnya kuat-kuat, seperti biasanya orang Barat.

Memperkenalkan nama masing-masing, mereka tertawa karena nama mereka mirip dengan nama dua musisi pembentuk jiwa band the Rolling Stones. Bedanya, ini Keith Mc'Kenzie, nama Scotlandia, sedangkan gitaris Rolling Stones bernama Keith Richard, nama yang berasal dari Wales. Sedangkan Jagger ini cukup bernama Jagger saja, walau yang asli bernama depan Mick. Mereka segera tertawa-tawa bersama. Mobil Vauxhall milik Keith keluar dari kompleks bandara Heathrow dan melaju mantap menuju ke kota London.

Di mobil, Elaine berfikir. Diam. Di dalam diam Elaine mendekap Sanca yang menghisap putingnya dengan kuat dan deras. Goyangan mobil yang langsam serasa seirama nafas yang tenang. "Apakah keputusan ini bijaksana?" Pikir Elaine, menimbang keputusannya berkeluarga dengan Jagger dan tinggal di kota London. "Apakah Jagger akan bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan profesinya sebagai wartawan? Rasanya, muskil itu terjadi. Bahasa Inggris Jagger tentu tidak memenuhi standar untuk bekerja sebagai wartawan di media massa Inggris. Namun tentunya Jagger masih bisa menulis untuk pers Indonesia, mengirimkan laporan-laporan dari London untuk pembacanya di Indonesia." demikian Elaine menimbang dan memikirkan suaminya.

Dari dalam mobil yang berpenghangat, Jagger mengamati daerah-daerah suburbia yang sepi. Jagger melihat bahwa sebagian besar rumah dan halamannya seragam dan rapi, namun sepi, seolah tak berpenghuni. Langit kelabu bermendung tebal dan hujan tipis hampir menyerupai kabut, maka semua kendaraan yang berlalu-lintas menyalakan lampu-lampunya. Rapi. Semuanya rapi, kelabu, teratur, menjemukan, pikir Jagger.
***

Sambil menyetir, Keith, terus bercerita. Dia sudah tau, bahwa Jagger adalah bekas anak kampung yang besar di jalanan, bekas wartawan, penyair, dan penggemar pakaian penunggang motor besar yang fanatik. Sudah banyak yang diceritakan oleh Elaine, mengenai ipar dari Indonesia ini, jadi Keith sudah memiliki bayangan mengenai siapa saudara barunya ini. Keith sendiri belum pernah ke Indonesia, namun dia berpandangan bahwa semua yang bukan Inggris itu pasti lebih baik, lebih hidup, lebih tidak membosankan dan lebih bebas dari manipulasi. Pandangan demikian dimiliki Keith maupun Elaine, yang dibesarkan di bawah kekuasaan Margaret Thatcher, si wanita besi, yang seperti Suharto, mempereteli semua daya masyarakat di negerinya.

Elaine dan Keith menyaksikan betapa perjuangan dan demonstrasi-demonstrasi buruh-buruh tambang, yang dahulu menjadi tulang punggung industri Inggris, ditekan dan ditumpas menggunakan kelicikan dan kebrutalan aparat negara. Industri pertambangan Inggris pun gulung tikar tanpa ada yang mampu membelanya. Bersamaan dengan gulung tikarnya tambang-tambang batu-bara, mati pula sistem angkutan kanal yang dulunya menjadi andalan Revolusi Industri. Elaine dan Keith pernah pula mengikuti demonstrasi kaum intelektual muda yang menolak nuklir, yang juga ditumpas menggunakan pasukan polisi yang brutal. Bahkan usaha para muda dan pecinta lingkungan hidup dan kebudayaan untuk mengadakan perayaan solstice di Stone Henge, peningalan purba agama asli Inggris, dibubarkan dengan anjing dan pentungan. Setiap bagian masyarakat secara sistematis diperotoli oleh kekuasaan negara pimpinan Margaret Thatcher, yang mendukung kaum kapitalis dengan semboyan, "What is good for business is good for Britain"

Akibat ulah Margaret Thatcher memberi angin kepada kapitalisme multinasional untuk mencaplok daya hidup bangsanya, sebagian besar usaha kecil milik rakyat Inggris mati dengan pesat dan pasti. Penjual-penjual fish and chips lokal, misalnya, yang sudah berusaha selama beberapa generasi, terpaksa tutup dan digantikan oleh perusahaan muliti nasional seperti Mc Donalds atau Kentucky Fried Chicken. Pusat-pusat pertokoan yang dulu berisi toko-toko tua yang eksentrik dan menarik, digusur, digantikan dengan mall-mall raksasa, yang menjual produk-produk multi nasional pula. Brewery-brewery bir kecil di daerah-daerah, yang memproduksi berbagai jenis stout, ale, bitter, dan lager menurut resep-resep khas yang sudah mentradisi turun temurun, gulung tikar didesak kekuatan dana dan jaringan merek-merek besar yang seragam. Maka mereka berdua, Keith dan Elaine, seperti banyak kawan segenerasi, menghayati sikap sinis dan curiga terhadap apa-apa yang tampil dengan membawa bau kapitalisme global. Mereka adalah generasi delapan-puluhan, yang punk, yang berontak, sekaligus yang konsumtif dan menjadi korban permainan iklan dan citra.

"The Sex Pistols, they said it all!" Kata Keith, memecah kesunyian mobil.
"Are you familiar with the Sex Pistols?"
" Yes. I know Sex Pistols. I like. Good, Johnny Rotten."
" Yeah. That was the spirit here. That is how we grew up. You know, with Maggie in power and all that. Before the Berlin Wall."
"Yes, yes, Berlin Wall."
" So what happens to the Sex Pistols? They are bought by the capitalists. Made in to profit. Every thing is used by the capitalists now, why, even Che Guevara! The hammer and sickle! All are bought and sold for profit!"

Elaine, yang sudah selesai menyusui Sanca, dari jok bagian belakang menimpali.

"Tau, kamu, arti perkataan Keith?"
"Ya, tau juga. Maksudnya Sex Pistols itu anti kapitalis, kan?"
"Ya, bukan begitu saja. Dia bilang, Sex Pistols juga dijual untuk mencari untung oleh kapitalis. Bahkan palu-arit dan Che Guevara, juga dijual untuk untung kapitalis"
"Namanya juga kapitalis" jawab Jagger, tertawa sedikit sumbang karena salah paham. Lagipula dia tidak mengenal siapa itu Che Guevara.

"So how is your Indonesian, sis?" tanya Keith, setelah terpesona mendengar kakaknya nyerocos dengan suaminya di dalam bahasa Indonesia. Elaine meneruskan pertanyaan itu kepada Jagger.

"Good. Very good Elaine speaking Indonesia." jawab Jagger.

Dan memang betul, Elaine termasuk cepat mempelajari bahasa Indonesia. Atau mungkin juga, bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari, karena memang semula adalah bahasa pasar yang tak banyak aturannya.

"I can't read the papers, or poetry and like, yet. But I understand the news on telly." Kata Elaine, menjelaskan belum bisa baca koran namun paham berita di TV.
***
bersambung

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000