sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 249, 5 Juni 2015

Tulisan lain

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 13 - Aminatul Faizah

Devon

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Teheran Dalam Stoples 12 - Aminatul Faizah

Kamboja

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 11 - Aminatul Faizah

Wales

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 10 - Aminatul Faizah

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

 

cerpen Poltak dan Mamak, pada suatu sore
Liston P Siregar

Poltak akhirnya bertanya ke Mamaknya, di satu sore yang tenang, ketika Mamak sedang memilah-milah pakaian yang sudah disetrika, siangnya.

Di ruang serbaguna, penghubung antara kamar mandi dan dapur, melantun lagu Terang Matahari, pelan tapi riang, dari pemutar kaset mono yang dihibahkan abang sulungnya, yang baru membeli seperangkat audio Sony dan surrounding system untuk TV. 

Sejak itulah, pemutar kaset mono yang pernah berteriak-teriak bersama Led Zeppelin, Deep Purple, Rolling Stones -untuk memamerkan keliaran imajinasi, mabuk, dan cinta mereka- bertobat sepenuhnya. Sekarang ia hanya melantunkan Kidung Jemaat, memuja Tuhan dan alam semesta.

Hujan lebat boleh turun, angin kencang berhembus, 18 TKI mati tenggelam di Selat Malaka, bom bunuh diri menghajar tiga nyawa di Tel Aviv, namun pemutar kaset Toshiba produk 1989 itu - di bawah kendali Mamak- tetap memuja Tuhan.

Dan sore yang tenang itu menjadi agak bersemangat.  “Terang matahari telah menyinari segala neg’ri, dan gunung dan padang, dan sawah dan ladang, senang berseri….”

Poltak bertanya singkat, Mamak menjawab jelas, panjang, dan sabar.

Namun Poltak tetap belum terlalu yakin, sampai dua puluh tujuh tahun kemudian.
***

Sekitar enam bulan sebelum Ujian Nasional SMA, Poltak ikut Penelaahan Alkitab di kantor GMKI*: satu paket dengan bimbingan UMPTN**, gratis. Lima kali seminggu, pukul lima hingga pukul tujuh petang, istirahat 15 menit, bertubi-tubi dia mengerjakan soal-soal UMPTN tahun-tahun sebelumnya, ditutup doa syafaat, yang dia yakin paling sedikit sepuluh menit panjangnya.

Hari keenam, Sabtu, pukul 10 hingga 12, giliran Penelaahan Alkitab, disusul makan siang yang enak -dengan menu rendang, babi panggang, soto ayam, sate kambing- diselingi doa syafaat, yang pernah dihitungnya sekitar sepuluh menit panjangnya. Lantas pekan itu ditutup dengan ke gereja, diminta membawa tema kotbah di gereja masing-masing, untuk dibahas Sabtu pekan berikutnya.

Tiga kali absen bimbingan -yang menurut catatan lima tahun terakhir memiliki tingkat keberhasilan 95%  atau dua kali absen PA, berarti dikeluarkan. Itulah yang membuat Poltak ikut bimbingan, demi mengantarnya ke Fakultas Teknik Sipil, Universitas Sumatra Utara, dengan bayaran doa syafaat panjang lebar, tujuh kali seminggu.

Dibesarkan dalam tradisi HKBP*** yang kuat, Poltak sempat yakin Tuhan akan membantu umatnya, di setiap detik di setiap gerak. Tapi itu dulu, setahun lalu. Sekarang dia siap membayar semampunya supaya masuk universitas negeri, karena dia tidak bisa membayangkan hari-harinya selepas SMA.

Dia merasa hidupnya, seperti bapak dan mamaknya, lurus searah di pelataran datar, dengan tahapan-tahapan jelas.  Abang dan kakaknya, rasanya, boleh berbelok naik- turun, tapi sebagai anak bungsu yang jadi anak bapak-mamak, dia adalah cetakan yang cuma berpeluang berimprovisasi di permukaan saja.

“Mak, boleh aku ikut ujian ITB? Sudah kutanyak Bapak, disuruh tanyak Mamak,” katanya sekali waktu.
“Janganlah, amang****. Indekosnya mahal, tiket ke sana, terus nanti kau perlu pulang-pulang. Mahal kali jadinya,” jawab mamaknya.
“Belum pasti ‘nya lulus, Mak,” keluhnya.
“Kalau nanti lulus, kan tidak bisa ditukar begitu saja ke USU. Nanti aku rindu, tak bisa aku ke Bandung, Amang,” bujuk Mamaknya tersenyum kecil, mencoba mencairkan kebekuan yang tampil di wajah anaknya.

Itu waktu kelas dua SMA. Ada saatnya -sampai beberapa bulan- dia berdoa sebelum tidur, meminta agar sekali waktu Mamaknya datang, berkata, “Ya cobalah, Amang. Ikutlah kau tes ITB.”

Atau Bapaknya, yang 100% yakin semua universitas di dunia sama saja untuk sekedar ijazah, tiba-tiba memutuskan mengambil alih urusan, “Poltak, kau pilihlah yang mana yang kau suka.”

Doa pendek yang khusyuk, sampai dia bisa melihat dirinya, duduk di sebuah pojok gelap yang kosong tak berbatas, dan Tuhan dengan jubah putih panjang, melayang perlahan di atasnya. Doa yang ditutup dengan senyum kecil, diikuti siraman rasa riang, haru, dan lega. 

Perlahan, senyum kecil itu makin kecil, bertambah malam kian mengecil, terus hilang, seluruhnya. Campuran rasa aneh, mencair sedikit demi sedikit, sampai habis tak tersisa. Doa pendek pun tergantikan malam-malam belajar yang panjang, ditutup dengan rasa lelah dan cemas.
***

“Seperti yang dikatakan Matius, ‘Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu, mari kita panjatkan doa syafaat,” ujar Bang Hasudungan, yang membimbing Kimia petang itu.

Tapi otaknya gelisah memikirkan soal terakhir: C5H12O, yang dijawabnya termasuk senyawa Ester, mestinya Eter. Dia tak terlalu yakin kali. Maka pikirannya melayang sendiri, lepas dari teman-temannya dan sepanjang doa syafaat itu, dia bermain-main dengan C2nH2n2O, CnH2nO, CnH2nO2.

Di layar video kepalanya, dia melayang di ruang tanpa gravitasi, mencoba menangkap bulatan-bulatan kecil beraneka ukuran, yang terbang berserakan. Genggaman tangan kirinya sudah penuh tapi dia masih perlu dua O lagi, satu 0,5 mg, dan satu lagi 1,2 mg. Dijangkaunya bulatan-bulatan dengan tangan kanannya.  

“…Poltak, Prima, Riana, Robert ...,” lalu dia tersadar.

Seperti biasa, 27 nama peserta disebut satu per satu dalam doa. Abjad nama pertanda doa mendekati ujung. Difokuskannya benaknya, dan bulatan-bulatan tadi pecah satu persatu.

“Amin,” ikutnya, bersama yang lain, menutup doa.

Sambil membereskan buku-bukunya, beberapa bulatan sempat menggumpal, tetapi Patricia mendekat.

“Tak, kapan kau ke gerejaku jadinya? Udah berapa banyak hari Minggu lewat, belum jelas juga janjimu. Minggu inilah, ya?”

Patricia pintar, juga cantik. Rasa-rasanya boru Panjaitan itu naksir dia, tapi entah kenapa, dia tak terlalu tertarik dengan perempuan yang berani dan aktif itu. “Sudah ada satu di rumah, Mamak,” batinnya.

“Minggu depanlah. Aku harus ngawani Mamak ke gereja.”
“Ah, kau. Masak Mamak terus alasannya. Bete kali awak dengarnya.”

Terlepas ketawanya, tak bisa mengelak, membayangkan, cemana pulak kalau nanti ada dia sama Mamak di rumahku? Tapi jawabannya, “Serius aku, minggu depanlah.”

“Betul, ya? Awas kau, kalau bawak-bawak Mamak lagi. Kutanya langsung nanti sama Mamakmu.”

Dia tersenyum, membayangkan Patricia menelepon Mamak, langsung. Amat mungkin.

Poltak jauh lebih suka si Riana Lubis, yang lebih banyak diam, lebih sering menunduk, lebih suka mendengar. Juga, lebih karena sekali waktu mereka kebetulan duduk bersebelahan, Riana mengeluh lembut sebelum doa syafaat, dan selesai doa, diliriknya wajah Riana, seperti baru tersentak, bangun dari tidur.

Tak pernah ada cukup waktu meyelidiki lebih jauh posisi Riana tentang doa syafaat, tapi dia yakin mereka berada dalam satu perahu yang sama. Ditatapnya sekilas, di baris depan sana, Riana berdiri dari kursinya, sedikit mengayun seperti menari, melepas hawa bebas merdeka.

Dia makin suka sama Riana.

Tiba-tiba dia ingin berdoa lagi.
***

Malam itu sehabis makan, Poltak langsung masuk kamar, dibukanya Alkitab. Ketika masih mencari-cari Matius 7, abangnya membuka pintu kamarnya setengah, mendorong kepalanya masuk. “Lupa aku, semalam Patricia nelpon kau waktu basket, tapi tak ada pesannya. ”

“Sip,” jawabnya tak acuh. Semakin jelas di kepalanya gambaran Patricia menelepon Mamak, minggu depan.

“Buka Alkitab pulak kau?” tanya abangnya mendekat. “Bah ikut PA rupanya,” celetuknya lagi setelah melihat buku kecil berjudul Tafsir Alkitab di meja.

Abangnya langsung meneruskan, “Ada cerita, mahasiswa bikin PA. Biar mantap, dipanggil orang itulah pendeta untuk berdoa. Pendeta itu sudah sering kali diminta kayak gitu. Tapi ya, namanya pendeta, datang jugalah dia, agak malas-malasan. Terus berdoalah dia, ‘Tuhan malam ini atas berkat-Mu kami berkumpul, ’ gitulah doanya, dan sampeklah yang ini, ‘semoga Tuhan memberkati kelompok Penelahan Alkitab ini supaya…’, terus terdiam pendeta itu, ‘supaya ...’, katanya lagi, terus diam lagi, sambil, ‘hmmm ... supaya … hmmm...”

Poltak yang tadinya mendengar ogah-ogahan, agak mengangkat kepalanya, ingin tahu kesudahan cerita.

“Supaya ... hmmm … jangan angat-angat tahi ayam. Amin.’ Cepat-cepat ditutup pendeta doa itu.”

Mendengar itu Poltak tertawa kecil.

“Kau kerjakan saja ujian-ujiannya. Ayat-ayat bukan untuk dikorek-korek pake akal. Dipatuhi atau tidak, itu masalahnya,” kata abangnya sambil berbalik meninggalkan kamarnya.

Perkataan itu membuatnya agak kesal, Poltak membalas dengan suara keras, “Ya, daripada kebanyakan dengar teriak-teriak rock tak jelas, jadi kacau kayak kaulah jadinya.”

Malam itu sudah bulat tekadnya untuk berdoa dan membedah ayat-ayat di Matius, tentang doa. Dibukanya Matius 7:7, ditelusurinya, sampai  ayat 11: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik  kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Dibacanya penjelasan dari buku tafsir, lalu diteruskannya penelusuran ke Matius 18 ayat 19: "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”

Diserapnya penjelasan Tafsir Alkitab: “Ada kuasa besar dalam doa bersama yang sepakat. Ketika kita berdoa bersama dengan orang-orang percaya lain, pengaruhnya sangat positif.

Doa bersama membangun dan menyatukan kita dalam iman.”

Tiap penjelasan memicu pertanyaan baru dan memerlukan penjelasan baru, dan mengantarnya ke kitab lain, ke Markus, ke Yohannes, ke Yakobus, ke pasal lain, ayat lain, dan terus memicu pertanyaan baru, keraguan baru, kebingungan lain, dan tantangan.

Perjalanan yang sepertinya tak pernah selesai, masuk ke sebuah terowongan gelap dan panjang, yang Poltak tak yakin, apakah ada cahaya di ujung terowongan sana, kelak.

Malam itu menjadi panjang. Jauh lebih panjang dari malam-malam belajar yang biasa, menembus hingga subuh.
***

“Mak, kenapa doa bersama itu akan lebih kuat?”
“Kenapa, amang?” mamaknya balik bertanya.
“Kan mestinya hubungan Tuhan itu langsung sama umat. Bukannya kalau doa sendiri itu langsung dan lebih khusyuk?  Awak tiap doa syafaat, malah ngantuk, Mak. Panjang kali. Banyak yang tak awak pedulikan.”

Sore itu berlari tenang dengan latar Kidung Terang Matahari. Mamak bercerita tentang Kejadian, dari hari pertama hingga hari ketujuh, tentang persatuan iman, kehadiran Roh Kudus, doa bersama, sebagai kesempatan belajar berdoa, mewariskan tradisi, berbagi iman.

Mamak pintar, –dan jika dilihatnya foto ketika masih di sekolah guru dan perkawinan dulu, juga cantik. Sore itu Poltak kembali merasakan rasa yang sudah lama hilang.

“Begitulah, amang. Akhirnya jangan dilihat kuat tidaknya. Kau berdoa, kau meminta dengan kekuatan iman dan bantuan Roh Kudus. Sendiri atau syafaat, di rumah, di sekolah atau di gereja. Pengharapan itu salah satu inti iman Kristen. Berdoalah terus, amang….”

Di-umma-nya***** pipi Mamaknya, dan dia tersenyum kecil. Terasa lagi campuran riang, haru, dan lega, yang lama dirindukannya. 
***

Sabtu pagi, Poltak menelepon ke Medan, sekedar halo-halo rutin, dimulai dengan Bapak, singkat saja, sebelum dialihkan ke Mamak, yang selalu terburu buru ngobrol dengannya, karena Mamak lebih suka mendengar suara kedua cucunya.

“Sudah kelas berapa kau, amang? Apa kau juga suka basket kayak bapakmu dulu?” didengarnya sayup-sayup pertanyaan Mamaknya ke putra sulungnya.

Poltak teringat puluhan tahun lalu, sebuah sore yang tenang dan agak bersemangat, ditutup dengan campuran rasa yang jarang: riang, haru, dan lega.

Sore itu, dia sudah mendoakan semuanya, sendiri atau di gereja –tidak, Poltak tidak ikut PA lagi: doa yang berbelas-belas menit tetap membuatnya ngantuk.

Dia sudah meminta. Ada yang sungguh-sungguh, ada yang sambil lalu. Jutaan kali sudah ia bertanya tentang keampuhan doa, dan menjawabnya sendiri, lalu jutaan kali lagi, sambil siap sepenuhnya, untuk menghadapi jutaan atau bahkan miliaran pertanyaan lainnya.

Poltak tidak lulus ke Fakutas Sipil tetapi tamat dari FISIP, lantas kerja di kantor Pemda DKI Jakarta. Dia juga tidak menikah dengan Riana Lubis, gagal masuk Timnas Basket, tak sanggup membeli sound system Bose. Tiga tahun lagi pensiun, keinginan menjadi Kepala Unit – yang pernah didoakannya- sudah pasti tak tercapai.

Dia kawin dengan perempuan pintar yang cantik –tidak seaktif Mamak atau Patricia. Putranya lulus SMA dengan nilai cukup masuk universitas, putrinya ikut kursus melukis gratis karena berbakat. Di ruang kerjanya, ada sound system Technics, bekas, tapi berfungsi utuh dengan dentam bas yang mantap.

Besok gilirannya membaca ayat di gereja. Sudah empat kali dia dapat tugas itu, tapi masih juga dia tak tenang. Berdiri di depan orang banyak, di atas mimbar, membaca kitab suci, jelas bukan bagian dari karakternya tapi tak sanggup dia menolak agenda yang dibuat pendeta.

Dia menjauh dari telepon, masuk ke ruang makan, menutup pintu, duduk di kursi tengah dan berdoa, “Tuhan, bimbing aku besok membacakan ayat-ayat-Mu di gereja. Amin.”

“Berdoalah terus, amang ...,” kenangnya, lalu rasa riang, haru, dan lega itu, kembali menyerbak.
***

Tulisan ini disusun untuk kumpulan cerpen bertema Alkitab yang diterbitkan oleh Kebun Cerita

Keterangan:
GMKI: Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, lembaga yang ada di kampus-kampus.
UMPTN: Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
HKPB: Huria Kristen Batak Protestan, salah satu gereja orang Batak
Amang, bahasa Batak, artinya bapak, tapi juga digunakan untuk memanggil akrab anak atau cucu laki-laki.
Umma, bahasa Batak, artinya cium.

ceritanet©listonpsiregar2000