sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 248, 15 april 2015

Tulisan lain

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

Devon

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Teheran Dalam Stoples 12 - Aminatul Faizah

Kamboja

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 11 - Aminatul Faizah

Wales

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

Pembunuhan jurnalis atas agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 10 - Aminatul Faizah

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

 

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

Sewaktu awal sekolah aku duduk di baris kedua di sebelah kiri ke empat dari depan. Mullah membacakan perintah-perintah agama setiap pagi dan kami pun belajar mengunyahnya. Itulah inti pendidikan di tempatku. Belajar mengingat, mengucapkan, dan berusaha menjalankannya.
Semakin lama belajar di sekolah, aku mulai merasakan kegelisahan akibat tekanan dalam bentuk kaidah-kaidah dan keseragaman. Dalam penjalajahanku di dunia baru dengan teman-teman baru, terasa ada kerikil-kerikil kecil tajam yang menusuk ke telapak kaki namun tak bisa disingkirkan begitu saja. Rasa sakit itu adalah sebuah kenyataan dan juga ketidakberdayaan. Orang harus menerimanya, sambil meringis, menangis, menjerit atau diam tanpa emosi.

Kerikil pertamaku, rasanya, adalah pengajaran secara tersirat maupun tersurat bahwa lelaki memiliki nilai yang lebih dibanding perempuan. Adalah kaum pria yang menemukan dunia baru, yang mencerahkan akal budi, yang menyebarkan seni budaya, yang memahami hukum-hukum alam dan menulis kitab suci. Pria menjadi pemimpin, pelopor, pelindung, penggagas, pembela sedangkan perempuan berada di belakang atau di bawah atau di dalam.

Agak sulit menerima patokan-patokan itu karena aku tak melihat –apalagi mengalaminya- di dalam rumah. Ayah, ibu, aku, Ghazali, khala Aisyah dan Ali semuanya sama dalam satu barisan. Ayah memimpin keluarga memang tapi pada saat-saat tertentu ibu yang menjadi penentu dan ayah hanya mengangguk-angguk setuju. Aku memimpin Ali –setiap kami bermain ke kebun rahasia- dan juga melindunginya –ketika kami diludahi dan ditendang oleh si keriwul.

Namun Ali juga memimpin ketika memberikan permennya kepadaku. Kelak jika Ghazali sudah boleh main ke luar rumah, tentu aku akan memimpin dan sekaligus melindungi dia juga. Tapi ketika Ghazali tumbuh besar menjadi anak perkasa, bisa jadi dia yang melindungi aku.
Semuanya mengambil peran dan tugas yang bisa saling berganti karena azasnya adalah kesamaan. Tapi tidak demikian halnya dengan ajaran Mullah Husein yang berprinsip secara lahiriah sudah ditetapkan sebuah perbedaan tegas yang menetapkan peran dan tugas yang baku tanpa peluang untuk saling berbagi dan bertukar. Seseorang sudah memiliki posisi pasti yang tak bisa diubah lagi.

Aku tak suka ajaran Mullah Husein itu, sama tak sukanya dengan Mullah Husein sendiri. Akan tetapi tak ada yang bisa aku lakukan. Kenyataan pahit itu hanya menggelorakan gelegak emosiku di dalam hati, sedangkan yang muncul ke luar adalah sebuah penerimaan akan ketidakberdayaan. Bagaimanapun aku tak yakin apakah gelegak itu akan seterusnya bisa terkendali atau sekali waktu akan meledak ke luar, menghantam keras dan meninggalkan bekas. Entahlah.

Suatu pagi –yang belakangan kusadari sebagai salah satu hari terindah- mullah mengumumkan kalau dia hanya akan mengajar kaum lelaki -yang selalu dibanggakannya- di kelas yang lebih tinggi. Hatiku seperti ingin berteriak melepas keriangan terbebas dari kegelisahan azas keunggulan pria yang disebar oleh Mullah Hussein. Aku juga amat senang ketika dia berdiri di depan kelas didampingi seorang perempuan, yang berdiri sekitar setengah langkah di belakang mullah.

Akal dan hatiku langsung bertautan dan meyakinkan bahwa dia adalah seorang perempuan baik dengan lautan hati yang luas dan nafas embun yang sejuk. Dia menggunakan chadur biru gelap dengan rapid dan mengenakan sandal coklat sederhana tanpa ornament penghias apa pun. Wajahnya yang lebar sepertinya sengaja untuk memberi ruang yang lebih besar bagi kecantikannya sementara kulit putihnya yang bersih seperti halaman kertas kosong terbuka yang siap menampung semua keluh kesah kami tanpa pandang bulu.

Kulihat alis matanya belum rapi terpotong, ketika dia mengangkat wajahnya untuk melihat kami semua. Kami semua tahu kalau perempuan yang belum menikah memiliki alis mata yang belum tertata rapi. Perempuan itu sepertinya akan menjadi milik kami semua. Kegairahan untuk segera bersamanya tanpa kehadiran mullah menyebar ke semua sudut-sudut kelas.

Dan memang hari-hari kami lebih menggembirakan dengan ummu Khoirah. Dia seperti seorang kakak yang bukan hanya mengajari, membimbing, atau memimpin kami, tapi juga yang siap bermain bersama kami. Pada sisi lain bermain bersamanya tak membuat kami kehilangan rasa hormat padanya. Sering aku melihatnya secara diam-diam dengan ekor mata ketika mengerjakan sesuatu di bukunya atau mengamati yang ditulisnya di papan tulis dan sering sekali terlintas di benakku bahwa kalau aku boleh memilih maka ketika dewasa nanti aku ingin seperti dia. Dunia di depanku memang semakin terbuka setelah masuk sekolah dan sosok ibu menjadi bukan satu-satunya perempuan idealku lagi. 

Suatu hari kami mendapat tugas matematika. Tulisan putih yang rapi di atas papan hitam membuatkuy semakin tertantang untuk mendapatkan hasil sempurna. Dengan seksama aku mengerjakan hitungan yang cuma sampai angka puluhan, Itu tugas yang ringan buatku namun aku amat berhati-hati mengejakannya dan menulisnya dengan perlahan untuk mencapai kebenaran dan kerapihan sempurna. Aku ingin menjadi yang khusus di depan mata ummu dan jika aku mencapai kesempurnaan, jelas ummu akan menempatkanku berbeda dari teman-teman yang lain. Usai mengerjakan kuulang lagi memeriksanya dan kupastikan bahwa aku telah mencapai kesempurnaan.

Kulirik Zahro, yang selalu berupaya menjadi nomor satu namun lebih sering menjadi nomor dua di bawahku. Dia sudah duduk tegak dengan melipat kedua lengannya sambil wajahnya menyapu semua ruangan untuk mempertontonkan kepiawaiannya. Aku menduga Zahro mungkin memang bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, tapi aku yakin tulisannya jelas tidak serapiku. Zahro adalah salah satu contoh dari patokan-patokan yang disebarkan oleh Mullah Hussein tanpa pernah mau menyadari bahwa patokan itu sering sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Ummu Khoirah mengumpulkan semua buku dan kami semua duduk hening memperhatikan dia memeriksa satu per satu hasil pekerjaan kami. Pelajaran itu yang terakhir pada hari yang panas itu, dan kami menunggu tertib. Dia kemudian memanggil Siti dan Aminah yang duduk di bangku tengah paling depan untuk membagikan kembali buku kami. Dengung suara terdengar, yang gembira karena mendapat hasil bagus maupun yang mengeluh. Zahro tampak tersenyum puas sambil melirik ke buku teman sebangkunya.

Hatiku berdebar ketika Siti menaruh buku di atas mejaku. Kubuka dan aku tersentak walau kukendalikan sepenuhnya agar tak sampai terlihat di rona wajahku. Halaman yang kukerjakan sepertinya tak tersentuh, persis sama seperti ketika dikumpulkan. Tak ada nilai atau tak ada setitik tulisan pun dari pena ummu. Dengung suara semakin mengeras karena semua anak bersiap-siap pulang, tapi aku duduk terdiam, memandang kosong ke halaman kertasku.
Khafsah membangunganku dengan menarik tanganku. Kulihat ummu sedang membereskan tasnya di mejanya. Kuberanikan diriku saat berjalan menuju pintu ke luar dan terkumpul juga gunungan keberanianku dan aku mendekati mejanya.

“Maaf, ummu.”

Ia mengangkat wajahnya dari pandangan ke bawah ke arah tasnya. Dia melirikku dan juga Khafsah yang berdiri di sampingku.

“Milikku masih belum Ummu nilai.”

Dia tersenyum, berdiri, dan mengambil buku yang aku pegang.

“Kudengar kau orang Afghan,” tutur ummu, mengambil bukuku dan membukanya namun tidak melakukan apa pun.
“Temanku bukan orang Afghan,” balas Khafsah spontan seperti sedang berdebat dengan kakaknya sendiri.
“Kalaupun aku orang Afghan, aku tetap boleh bersekolah,” kalimat itu mengalir dari mulutku tanpa bisa kukendalikan.

Terbersit secuil kekecewaan atas ummu yang mengabaikan keberadaanku ketika justru aku berupaya sepenuh hati dan tenaga untuk mendapatkan perhatian khusus darinya.

Ummu hanya tersenyum sambil mengambil tasnya dan berjalan pelan ke arah pintu kelas dengan kepala digerakkan memberi isyarat agar aku dan Khafsah mengikutinya. Tapi aku tak mau pulang tanpa mendapat nilai apapun, tanpa mendapat perhatian. Aku bekerja keras menarik perhatiannya dan aku harus mendapatkannya, secuil apapun. Pengalamanku dengan Ali tampaknya sudah membentuk keteguhan hatiku untuk mendapatkah sesuatu yang kumau. Tanpa keteguhan itu, jelas sudah sejak dari dulu aku akan meninggalkan Ali terus bermain sendiri di kamarnya. Dan aku yakin ummu sadar bahwa salah satu tugasnya adalah memberik perhatian kepada murid-muridnya. Apalagi muridnya yang paling cerdas, begitulah keyakinanku.

Ummu memegang daun pintu: “Mari kita ke luar, kita harus menutup kelas ini.” Dengan senyum kecilnya dia tidak kehilangan otoritasnya dan aku bersama Khafsah berjalan ke luar kelas, Dikuncinya pintu kelas dan dimasukkannya ke dalam tasnya, tanpa terburu-buru walau aku rasanya sudah mengeluarkan seluruh jiwaku untuk menyampaikan pesan bahwa aku berhak penuh untuk mendapat perhatian, yang paling tidak sama dengan kawan-kawan lainku, seandainya pun aku tak layak untuk perhatian khusus.

“Kita duduk di sana,” katanya menunjuk Pohon Palem di ujung halaman. Aku mengikuti dari belakang dan kutarik tangan Khafsah. Aku perlu dukungan untuk menghadapi umum.
“Aku tak perlu menilaimu karena kau tak perlu itu,” tuturnya langsung begitu kami duduk di atas rumput di bawah keteduhan Pohon Palem.
“Yang tahu kemampuanmu adalah kau sendiri anakku. Semua soal yang aku berikan selalu kau bisa jawab dengan benar. Selalu. Jadi untuk apa aku memberi nilai padamu?”

Aku tak terlalu paham dengan pernyataannya dan menerimanya setengah hati. Apakah itu sebagai sebuah pujian atau sebuah sindiran. Seingatku ada satu dua yang salah dalam tugas-tugas sebelumnya dan ummu tidak pernah memberi tahu jawaban yang benar tapi hanya memberi tanda silang, berbeda dengan teman-teman lain yang mendapat tanda silang dan sekaligus jawaban yang benar. Jadi aku diam saja, menatapnya sambil menunggu kalimat berikutnya.

“Nilai hanyalah lambang dari hal yang diusahakan. Namun nilai tak akan cukup menggambarkan keseriusan dalam berusaha.”
Aku semakin tidak mengerti dan mengerucutkan mulut. “Tapi aku mau nilaiku.”
“Baik,” kata ummu dan mengambil pena dari dalam tas hitamnya. Diulurkannya tangan kanannya untuk mengambil buku yang kupegang dan segera kubuka halaman matematika yang terbaru sebelum kuserahkan kepadanya.

Tanpa memeriksanya, dia memberi nilai 10. Aku tersenyum dan menerima kembali buku itu.
Aku tersenyum senang dan segera berlari kegirangan ke arah pintu gerbang. Kulihat ibu menunggu sendirian di luar pintu karena orang tua dan murid yang lain sudah pulang. Baru aku sadar meninggalkan Khafsah di belakang. Kupalingkan kepalaku dan dia berlari-lari kecil beberapa langkah di belakangku . Kuhentikan lariku dan kupegang tangannya, menariknya untuk belari lebih cepat mendekati Ibu yang menunggu bersama Ali.

Melihat wajah riangku dan lariku yang ringan, ibu tesenyum menyambutku. Kulepas tangan Khafsah dan kupeluk Ibu sebelum menunjukkan nilaiku, kepada Ibu dan juga kepada Ali.
“Lihat Ali, aku dapat nilai sepuluh lagi,” biarpun seperti biasa Ali tak memberi reaksi apa pun.  
Tapi Ibu juga tidak memberi perhatian seperti biasa, malah melihat jauh ke belakangku. Aku menoleh dan ummu memperhatikan kami sambil berjalan mendekati.

Ibu mengucapkan salam dan setelah saling menyapa, ternyata rumah ummu searah dengan rumah kami. Kami berlima berjalan. Di depan ummu bersama Ibu sambil memegang tangan Ali, yang sesekali melirik ke belakang melihat aku dan Khafsah. Ketika Khafsah berbelok memisah di persimpangan jalan, aku mendekati Ali dan berbisik pelan takut mengganggu pembicaraan ummu dan ibu.

“Dia itu guruku Ali, dia guru yang baik. Kau pasti suka menjadi muridnya tapi jangan dengan mullah Husein.”

Ali memandang ummu dari samping dan kemudian melempar pandangannya kembali ke arahku, seperti setuju dengan yang kukatakan.

“Benar kan.”

Hari itu aku rasanya naik turun melewati berbagai bukit dan lembah dengan amat cepat: dari sebuah harapan menuju ke sebuah keyakinan namun sebelum masuk ke dalam sebuah lembah kekecewaan dan pindah ke dalam sebuah ketegangan sampai akhirnya mencapai puncak keriangan. Bahkan aku mendapat puncak keriangan yang lebih tinggi, yang sama sekali tak terlihat sebelumnya. Berjalan bersama ummu, ibu, Ali, dan Khafsah membuat hari itu menjadi salah satu hari yang amat menyenangkan di sepanjang hidupku.

Aku malah bermimpi di siang bolong: ayah tiba-tiba muncul datang menyapa kami. Masih dengan pakaian kantor dia menggendong Ghazali.

Belum sempat aku perluas mimpi itu, kami sudah tiba di depan gerbang rumah. Ibu menundukkan kepalanya sebagai pertanda hormat kepada ummu, yang mengusap kepalaku dan Ali sebelum melanjutkan perjalanannya.

“Kau beruntung ‘nak, punya guru seperti dia,” kata Ibu sambil membuka gerbang. Aku tersenyum, bangga.

Malam itu aku bermimpi ummu menjemputku unuk berangkan ke sekolah. Dalam perjalanan dia bercerita tentang kemerdekaan perempuan yang masih harus diperjuangkan. “Ayah amat marah ketika aku belajar menjadi guru dan menolak kawin dengan putra atasannya,” tutur ummu. Air matanya menetes.

Dia juga bercerita tentang ibunya yang tidak pernah bersekolah namun bisa berhitung dan membaca karena belajar sendiri di rumah dengan meminjam buku pelajaran abangnya. “Ibuku amat pintar tapi dia tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah dan aku tidak mau mengulang kesalahan itu,” tutur  ummu. Air matanya mengalir lebih deras.

“Apakah ayah ummu masih marah,” tanyaku.
“Dia sudah meninggal,” jawab umum dan tangisannya semakin keras. Air matanya seperti hujan lebat yang tumpah dari langit. Suara tangisannya seperti gemuruh petir  yang sambung menyambung.

Aku tersentak bangun. Badanku basah bekeringat.

***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000