sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 248, 15 april 2015

Tulisan lain

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 13 - Aminatul Faizah

Devon

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Teheran Dalam Stoples 12 - Aminatul Faizah

Kamboja

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 11 - Aminatul Faizah

Wales

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

Pembunuhan jurnalis atas agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 10 - Aminatul Faizah

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

 

sajak Nisan
untuk nenekanda

Chairil Anwar

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942
*diambil dari Aku Ini Binatang Jalang

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah jadinya nanti
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Aku Ini Binatang Jalang
Editor: Pamusuk Eneste

Satu hal yang hingga saat ini belum tuntas dibicarakan mengenai Chairil Anwar adalah sajak-sajaknya yang terdapat dalam beberapa versi, sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu (DCD), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (KT) , Tiga Menguak Takdir (TMT), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang. Ambillah contoh sajak Aku (versi DCD), yang dalam versi KT berjudul Semangat.

Bait pertama sajak Aku berbunyi

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Sedangkan dalam versi KT, sajak itu diawali dengan:

Kalau sampai waktuku
kutahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Perhatikan kata 'Ku (versi DCD) dan kata kutahu (versi KT).

Perhatian pula saja Hampa berikut. Menrut versi DCD sajak itu berbunyi.

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti

Sedangkan menurut versi KT, sajak dengan judul yang sama ini bunyinya demikian:

Sepi di luar, sepi menekan-mendesak
Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti-menanti
Sepi
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencekung punda
Udara bertuba
Rontok-gugur segala. Setan bertempik
Ini sepi terus ada.

Jassin pernah mengatakan bahwa kata-kata dan tanda-tanda baca yang berbeda dalam sajak-sajak Chairil Anwar adalah 'salah kutip atau salah cetak' dan 'salah tik'. Akan tetapi jika kita amati kedua versi saja Hampa di atas tentu timbul pertanyaan: betulkah perubahan redaksi sajak itu hanya karena salah kutip, salah cetak, atau salah tik belaka? Apalagi kalau kita perhatikan bahwa perubahan redaksi sajak Chairil bukan hanya menyangkut kata dan tanda baca, meainkan juga menyangkut perubahan (penghilangan bait), seperti terlihat dalam sajak Sajak Putih berikut. Menurut versi TMT, sajak ini berbunyi:

Bersandar pada tari berwarna pelangi
Kau depanku bertudung sutera senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

Akang tetapi Sajak Putih yang ditulis Chairil di atas sepucuk kartu pos terdiri dari empat bait. Dengan kata lain ada satu bait yang hilang (atau dihilangkan) dalam Sajak Putih versi TMT tadi. Bait itu adalah"

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kecuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku

Pertanyaan kita di sini adalah: siapa yang menghilangkan bait terakhir ini? Pengarangnyakah (Chairil Anwar) atau penerbit buku (Balai Pustaka)?

Teeuw pun pernah menyinggung perbedaan redaksi sajak Kawanku dan Aku yang terdapat dalam DCD dan KT. Menurut Teeuw, Kawanku dan Aku versi KT lah yang 'lebih menarik dan lebih berhasil dari segi koherensi dan konsistensi.' Namun demikian, Teeuw juga menambahkan bahwa 'masalah versi mana yang lebih menarik dari segi mutu sastra harus dibedakan dari masalah lain, misalnya masalah versi mana yang lebih asli, atau versi mana yang lebih baik menurut intnesi atau pilihan si penyair sendiri'.

***

Karena kesulitan menentukan versi mana yang lebih orisinal dan mana versi yang final menurut Chairil sendiri guna kepentingan koleksi ini ditempuh cara lain. Cara lain itu demikian: bila ada saja Chairil yang terdapat dalam dua versi, maka keduanya dimuat dalam koleksi ini. Akan tetapi jika sebuah sajak terdapat dalam tiga versi atau lebih, maka yang dimuat hanya dua versi saja, dengan catatan: sajak yang mirip atau berdekatan dianggap sebagai satu versi saja.

Dengan cara ini, pembaca pun menjadi tahu adanya versi-versi sajak Chairil Anwar. Di pihak lain, diharapkan pembaca (a) ikut menentukan mana di antara kedua versi itu yang lebih bagus, dan (b) berhak pula menentukan versi mana yang akan dibacakan, dideklamasikan, ataupun dibicarakan.

Di samping itu, khusus untuk para peneliti, adanya versi-versi ini membuktikan bahwa sajak-sajak Chairil Anwar masih terbuka lebar untuk distudi secara filologis.

***

Sajak-sajak yang dimuat dalam koleksi ini hanyalah sajak-sajak asli Chairil, ditambah dua sajak saduran. Sajak-sajak yang tadinya tanpa judul, dalam koleksi ini dberi judul demi kepentingan praktis (misalnya untuk memudahkan pengutipan). Surat-surat pendek Chairil kepada Jassin -yang selama ini dikutip di sana sini atau dimuat sepotong-sepotong- juga dimuat secara lengkap dalam koleksi ini. Selain itu disertakan pula bibliografi mengenai Chairil dan karyanya.

Sudah barang tentu bibliografi ini belum lengkap karena belum semua tulisan mengenai Chairil dan karyanya belum tercakup di dalamnya. Mudah-mudahan ketidaklengkapan ini bisa dilengkapi sambil jalan, lebih-lebih mengingat bahwa hingga sekarang pun orang masih terus menulis tentang Chairil maupun karyanya.

***

Sistematika yang dipakai dalam menyusun koleksi ini disesuaikan dengan sistematika Jassin: sajak-sajak disusun secara kronologis. Dengan begitu, pembaca dapat melihat perkembangan sajak-sajak Chairil dari awal hingga akhir.

Sumber yang digunakan untuk menyusun koleksi ini adalah: (1) Chairil Anwar, Deru Campur Debu (Jakarta: Pembangunan, 1966), (2) Chairil Anwar, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Jakarta: Dian Rakyat, 1981), (3) Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, Tiga Menguak Takdir (Jakarta: Balai Pustaka 1950), (4) H.B. Jassin (ed.), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Jakarta: Gunung Agung, 1983) dan H.B. Jassin (ed.) Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (Jakarta: Balai Pustaka, 1975).

Pamusuk Eneste
Jakarta, 2 Oktober 1985

ceritanet©listonpsiregar2000