sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 247, 15 maret 2015

Tulisan lain

Mobilku - Sanie B Kuncoro

Kamboja

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 11 - Aminatul Faizah

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

Wales

Pembunuhan jurnalis atas agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 10 - Aminatul Faizah

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

 

novel Teheran Dalam Setoples
Aminatul Faizah

11. Permen
Sekolah buatku bukan untuk belajar berhitung, membaca, atau menggambar. Mungkin begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Bermain bersama sebelum lonceng sekolah atau saat istirahat maupun bersama-sama dalam satu ruangan. Sekolah membuatku menjadi bersama dengan teman-temanku selama berjam-jam.

Sekolah semacam melemparkanku dari lingkaran keseharian yang rutin. Aku selalau menikmati waktu-waktu kebersamaan dengan Ibu, Gazali, Ali dan khala, namun aku juga merasa ingin melompat ke dunia lain, ke dunia yang lebih rumit dengan saling mintal memintal hubungan satu sama lain.

Jika suatu hari aku kesal pada Damimah dan adik kembarnya Wadyah, keesokan harinya kami bertiga justu menjauh dari Khafsah. Setiap hari ada tantangan baru yang harus kusiasati dan aku harus sendiri.

Aku juga suka berhitung. Angka ternyata tak kalah menarik dengan huruf dengan logika yang amat berbeda dan pelajaran berhitung di sekolah membuat aku melihat cakrawala angka yang tak terbatas: jauh, dalam, tinggi, dan luas.

Setibanya di rumah dari hari pertama belajar berhitung, aku langsung mencari Ali.

“Ali kau tahu aku tadi belajar menghitung. Sangat mudah, kau tahu kau akan senang jika sekolah.”

Ia hanya diam sambil membaca buku bergambar tentang penguin diberi ibu.

“Aku bertemu Damimah dan juga Wadyah. Mereka kembar mengataiku orang Afghanistan. Aku marah, karena ia bilang kalau orang Afghan itu kasar. Mereka juga tak mengajakku main. Tapi ada banyak kawan. Ada Khafsah dan kami bisa berlari-lari di halaman yang luas.”

Ali menutup bukunya dan melihatku. Tak tahu tertarik atau merasa terganggu.

“Kami olah raga dan aku berlari. Kami lomba lari mengitari lapangan. Aku kalah tapi senang sekali Ali. Kau ternyata tak perlu menang untuk bisa senang”

Kuambil buku Bahasa Arab dan kubuka halaman yang menunjukan nilai sepuluh, satu-satunya angka sempurna yang kudapat sejak masuk sekolah.

“Angka sepuluh sempurna Ali dan hadiahnya permen, kau mau?”

Kumasukkan tanganku lebih ke dalam tas dan kuambil dua permen dari rempah manis dengan bungkus berwarna perak.

Aku tak tahu rempah apa, tapi Damimah pernah memberiku dan memang amat manis dan kenyal. Aku buka bungkusnya dan kumasukan ke mulut Ali, dia diam saja tak melawan dan mengunyahnya.

“Enak kan Ali.”

Aku lihat lagi tulisan Arabku yang mendapat nilai sepuluh. Senang, bukan hanya karena mendapat dua rempah manis. Senang melakukan sesuatu yang sempurna. Nanti aku akan tunjukkan juga kepada ayah, pasti dia juga ikut senang biarpun dia tidak mendapat rempah manis.

Aku berlari ke ibu, menunjukkan bungkus rempah manis yang berwarna perak. Aku sangat ingin memiliki permen yang banyak. Ibu tersenyum dan itu berarti ya, aku akan mendapatkan rempah manis yang banyak.

Keesokan harinya, sepulah sekolah, ibu langsung menyuruhku ke kamar dan setoples kecil berisi permen dengan bungkus beraneka warna terletak di atas ranjangku.

Betapa senang hatiku dan kuambil dua permen, berlari ke kamar Ali. Di lantai terlihat permen-permen yang sama dalam setoples sama. Aku tertawa lepas, dan kumakan langsung kedua rempah manis itu.

Bungkusnya yang berwarna perak dan hijau kurapikan, akan kusimpan di antara halaman buku-buku bersama dengan beberapa helai daun yang sudah kusimpan.

Aku juga bisa memberi satu permen ke ayah yang mencium keningku setelah melihat nilai sepuluh untuk tugas tulisan Arabku. Kutunggu ayah pulang dari kantor dan kusambut dia di depan pintu dengan permen berwarna kuning. Ayah tersenyum menerimanya dan membawanya ke Gazali, tapi ibu melarang.  

Permen di setoplesku berkurang dengan cepat, tapi di setoples Ali bertahan lebih lama. Aku sebenarnya ingin seperti Ali, tapi keinginan itu selalu kalah dengan mulutku yang memanggil-manggil rasa manis itu dan jariku yang ingin menyentuh bungkusnya yang halus namun menjadi kasar karena tergulung-gulung.

Setiap pulang sekolah, aku akan mengambil satu, membuka bungkusnya dengan hati-hati, meluruskan bungkusnya, menyelipkan ke dalam halaman buku yang masih kosong dan barulah aku memasukkan permen ke dalam mulutku.

Seperti sebuah upacara ritual yang punya tahapan-tahapan kaku yang tidak boleh dilompati, juga tidak boleh dikejar waktu.

Seperti hari-hari lainnya, aku langsung bergegas ke kamarku sepulang sekolah. Masih ada dua permen lagi di setoples. Aku tidak yakin untuk meminta lagi kepada ibu.

Tapi aku amat kaget karena setoples sudah berisi lebih banyak permen. Kutuang semuanya di atas tempat tidur dan kuhitung, semuanya ada sembilan permen. Aku mendapat tambahan tujuh permen. Kulepas pandanganku ke langit-langit kamar, kukernyitkan dahiku: apakah ibu masih punya simpanan dan dikeluarkan sedikit demi sedikit.

Tiba-tiba aku tersentak dan kutinggal permen itu, lari bergegas ke kamar Ali.

Ali sedang mewarnai. Berkat ibu dia mulai akrab dengan buku, entah itu buku komik, atau buku bacaan, maupun buku gambar untuk diwarnai.

“Ali…” panggilku tidak sabaran.

Dia melihat wajahku, dari sorot matanya yang lembut aku berhasil mendapatkan jawaban. Aku tersenyum.

“Terimakasih banyak Ali.”

Tidak menjawab, Ali kembali meneruskan mewarnai  bukunya. Aku kembali bergegas ke kamarku, mengambil dua permen dan memasukkan sisanya ke dalam setoples, untuk lari lagi ke kamar Ali.

Kubuka bungkus kedua permen dan kali ini tak aku luruskan bungkusnya. Kuberikan satu kepada Ali namun dia menggeleng. Aku coba untuk mendekatkan ke mulutnya, namun dia menggeser muka untuk menjauhkan mulutnya dari permen itu sambil kembali menggeleng.

Dia kemudian menunjuk ke ara setoplesnya yang masih berisi setengah lebih. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum dan kumasukkan kedua permen ke dalam mulutku.

Bungkusnya kubuang langsung ke kerangjang sampah kecil di pojok kamar Ali. Aku terlalu gembira mendapatkan permen dari Ali dan tak butuh bungkusnya.

“Terimakasih ya Ali,” kuulang lagi.

Ali mengangkat kepalanya sedikit dengan sorot mata yang lembut tadi dan menunduk meneruskan kerja di bukunya.

Aku tatap langit-langit kamar Ali.  Aku bisa merasakan senyumang masih tersungging di mulutku. Ali jelas boneka. Ia manusia yang mengerti yang dibutuhkan orang lain, yang aku butuhkan. Permen memang hal kecil namun bukankah semua hal besar di dunia selalu diawali dengan hal yang kecil.

Hari itu merupakan salah satu hari terindah yang aku alami, hingga kelak bertahun-tahun kemudian.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000