sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 246, 8 februari 2015

Tulisan lain

Ribut KPK-Polri, Melihat ke Inggris - Liston P Siregar

Rembang Api - Jajang Kawentar

Media Massa dan Agama - Liston P Siregar

Wales

Pembunuhan Jurnalis Atas Agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 10 - Aminatul Faizah

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

Teheran Dalam Stoples 8 - Aminatul Faizah

Simon Carmiggelt

Elegi Jakarta - Asrul Sani

novel Teheran Dalam Setoples
Aminatul Faizah

10. Sebuah Mimpi
Aku berlari ke pangkuan mullah begitu ia tiba di rumah. Aku memegang janggutnya dan ia mengelus ubun-ubunku. Mullah dan aku sudah seperti kakek dan cucu. Aku akan cerewet berceita tentang apa saja dan mullah Fairus akan mendengarkan dengan sabar sambil mengangguk-angguk. Waktu itu kunjungan ke rumah Khafsah masih berbekas kuat dan kuulang pertemuan pertamaku dengan Khafsah, ibu yang memberinya sepatu, tapi tidak tentang Khafsah yang meninggalkan aku dan Ali ketika diserang si kriwul. Juga tidak tentang kebun rahasia.

Biasanya mullah Fairus pasti bisa menemukan sedikit jeda yang pas dalam celotehanku dan mengingatkan gilirannya untuk bercerita. “Sudah dulu, sekarang saya mau bercerita tentang…” Aku pun berganti mendengarkan, dengan seksama. Sering aku jatuh terlelap mendengar cerita tentang nabi, karena menenangkan hatiku dan sekaligus panjang dan banyak.

“Putrimu sangat manis dan juga bersemangat,” kata mullah sambil menyerahkan aku ke gendongan ibu.

“Ya mullah Fairus. Saya berharap anak ini kelak tahu mana yang benar dan juga mana yang salah dan ia mampu melakukannya dan mampu berjasa bagi bangsa dan juga agamanya.”
“Amin,” kata mullah.

Aku sempat menggeliat kecil ketika ibu menyandarkan tubuhku di ranjang. Ia lalu menutup pintu dan aku bermimpi. Aku bermimpi berlarian di ladang yang menghijau, entah dimana. Di sana ada banyak pohon dan juga banyak bunga yang bermekaran. Bunga-bunga yang aromanya memenuhi hidungku, aroma segar yang tak kuhirup.

Banyak burung yang berterbangan maupun yang hinggap di pohon sambil berkicau senandung-senandung merdu.

Juga banyak mimpi yang bertebaran, ada yang berayun di atas pohon, ada yang melayang pelan, ada juga yang meluncur di atas padang rumput atau yang mengalir di air. Aku berjalan di tengah mimpi-mimpi itu dan bisa melangkah masuk ke dalam mimpi apapun yang aku mau dan ke luar kapan pun aku mau.

Ah, terlalu banyak mimpi, memusingkan. Lebih baik aku berlari-lari saja di atas ladang hijau memutar-mutar tubuhku sambil mendengarkan kicau burung dan menghirup aroma bunga segar. Biarkan mimpi-mimpi itu beristirahat. Mungkin mereka juga lelah setiap malam harus membawa cerita ke dalam tidur orang.

Esok paginya aku bangun dan tak satupun mimpi lagi yang tersisa di kamarku. Mestinya aku ambil satu mimpi dan kusimpan di dalam lemari bajuku atau di bawah ranjang. Sesekali aku tertidur tanpa mimpi dan aku tak suka. Seandainya ada satu mimpi saja yang kusimpan, alangkah indahnya.

Ke luar  dari kamar aku melihat ibu sedang membongkar sebuah kotak berisi foto. Amat banyak dan amat beragam. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Ada yang berwarna maupun hitam putih. Ada pula foto wajah seseorang maupun yang ramai-ramai. Semua foto ada wajahnya, walau tak satupun yang kukenal. Melihat aku mendekat, ibu menunjukkan sebuah foto kecil dan aku lihat wajahku di sana. Pertama kalinya aku melihat fotoku, dan kuambil, kutelusuri bagian-bagiannya, bibir, mata, telinga, alis mata, bulu mata, bola mata, ujung bibir, kening.

Semuanya.

Setelah itu kusentuh bibir, mata, telinga, dan bagian-bagian yang sudah kuamati. Kusentuh semuanya. Ibu tersenyum melirikku dan meminta kembali foto itu dan menyerahkan lipatan baju di samping kotak itu. 

Hari itu hari pertama ke sekolah. Setelah berganti pakaian hitam aku turun ke bawah dan ibu memperlihatkan tas sekolahku. Berwarna hijau ada tulisan kecil namaku di bawah kancing pembukanya yang berwarna putih. Di dalamnya ada kotak pensil berwarna oranye, dua buku tulis, dan satu penggaris.

Aku bergegas kembali ke kamarku, mengambil buku Jack dan Buncis Ajaib dari bawah tempat tidurku. Khafsah akan ada di sana juga, dan dia bisa belajar membaca Jack dan Buncis Ajaib di sekolah. Namun ibu tidak setuju aku membawa buku itu dan memasukkan kotak makan dan termos kecil ke dalam tas baruku.

“Tidak hari ini sayang, ini hari pertamamu.”

Aku memakai seragam hitam, sama dengan murid lainnya dengan kerudung mungil yang juga hitam. Walau tak aku tak terlalu suka dengan warna hitam, langkahku terasa amat ringan tapi mantap. Segera aku akan menuju dunia yang mengantarkan ke dunia orang dewasa yang penuh dengan dengan akal. Ayah sering bercerita tentang sekolah, tentang tempat menimba ilmu pengetahuan dan cerita itu tak pernah membuat aku bosan. Ulangan cerita ayah tentang sekolah selalu membuatku justru semakin tidak sabar dan akhirnya harinya tiba juga.

Bersama ibu aku masuk ke halaman sekolah dan kami bergabung dengan antrian menuju ke sebuah ruangan. Anak-anak yang lebih besar berlarian dari halaman sekolah, bemarin bola, berkejar-kejaran, main engklek, atau sekedar berkerumun. Mereka pasti bukan murid baru di sekolah itu.

Aku tiba-tiba merasa mendapatkan dunia baru yang misterius dan penuh tantangan. Sebuah dunia yang tidak bisa aku tebak isinya selain permukaanya dan semakin masuk aku ke dalam akan semakin terungkap pula misteri yang lebih besar.

Kulihat seorang anak laki-laki duduk sendirian di bangku di pojok halaman yang riuh. Kenapa dia tidak ikut berlarian atau mengejar bola? Apakah dia seperti Ali atau mungkin malah si keriwul yang sedang kecapaian dan memilih untuk istitrahat sebentar sebelum menemukan korban lain. Mungkinkah aku bertemu dengan si keriwul di tempat ini?

Apakah Khafsah akan meninggalkan aku lagi jika bertemu dengan keriwul. Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di benakku pada hari pertamaku di sekolah dan tak terbayangkan jutaan pertanyaan lain yang kelak akan muncul pada hariku yang seribu atau ke sepuluh ribu di sekolah ini. Sekolah rupanya bukan hanya memberikan jawaban, juga menimbulkan pertanyaan.

Kuintip ujung depan antrian dan terlihat dua orang guru dengan baju hitam dan chadur hitam, mencatat nama semua murid satu persatu. Setelah itu si anak masuk ke dalam kelas dan orang tuanya pergi. Antrian terasa bergerak amat lamban ketika aku sedang justru segera ingin masuk ke kelas. Ketika giliran kami tiba, ibu mengusap kepalaku dan aku menapak tangga kecil untuk masuk ke dalam kelas.

Di pintu aku berbalik sekali lagi dan melihat ibu tersenyum padaku.

Kuayunkan kakiku memasuki ruang kelas, seperti akan melakukan sesuatu yang tidak bisa diulang lagi atau ditunda. Begitu masuk, maka pintu tertutup rapat, terkunci.

Ada tiga kolom meja yang masing-masing berisi dua kursi. Beberapa murid sudah berada di dalam dan kusapu semua meja dan Khafsah melambaikan tangannya dari meja di kolom kedua. Segera aku bergegas ke arahnya dan duduk di meja itu. Khafsah tersenyum lepas. Aku juga tesenyum, tak ada yang perlu kami ucapkan walau sebenarnya amat banyak yang kami sampaikan.

Guruku adalah mullah Husein, jenggotnya panjang. Dia memegang sebuah tongkat  panjang yang kurus. Ketika masuk ke dalam kelas, dia lebih dulu memukulkan tongkatnya ke papan tulis sebelum mulai berbicara dengan suara yang berat. Jenggot dan tongkatnya tampaknya menjadi alat untuk mengendalikan kelas.

Aku tak terlalu suka dengan mullah Husein. Dia amat berbeda dengan mullah Fairus, yang berwajah tenang dan sabar mendengar. Mullah Husein sedikit bicara tapi juga tak suka mendengar. Dia akan memukulkan tongkatnya jika mendengar suara murid-muridnya.

Semakin hari semakin muncul kepribadian mullah Husein yang amat berbeda dengam mullah Fairus. Bahkan ketika kami sedang mencoba menjawab pertanyannya pun, dia tak sabaran.

“Ayo, ayo, ayo,” desaknya sambil mengibas tongkatnya ke udara kosong sehingga berdesis seperti suara ular. Aku ingin bertanya kepadea mullah Fairus: “kenapa ada mullah yang tidak sabar mendengarkan muridnya.”
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000