sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 245, 10 januari 2015

Tulisan lain

Pembunuhan jurnalis atas agama - Liston P Siregar

Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Ras Siregar

Inggris

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Kisah Tembakau - Aminatul Faizah

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

Teheran Dalam Stoples 8 - Aminatul Faizah

Simon Carmiggelt

Elegi Jakarta - Asrul Sani

New York

Teheran Dalam Stoples 7 - Aminatul Faizah

Simon Carmiggelt

Yang Terempas dan Yang Luput - Chairil Anwar (1949)

Nafiri Ciputat - Bahrum Rangkuti Anwar (1969)

novel Teheran Dalam Setoples
Aminatul Faizah

9. Khafsah
Suatu pagi, ketika aku sudah tak lagi berteman dengan Khafsah, ibu membawa seorang lelaki tua yang buta ke dalam rumah. Rambutnya semuanya beruban dan hanya meninggalkan sedikit jejak hitam. Kulitnya putih namun lebih banyak keriputnya. Tubuhnya kekar dan juga segar untuk ukuran usianya. Seorang anak kecil seusiaku selalu menuntunnya. Sepertinya ia orang yang saleh. Kain sorban kotak-kotaknya selalu mengalung di lehernya. Anak kecil itulah yang selalu merapikan pakaiannya dan menuntunnya. Matanya adalah mata mullah itu.

Mullah Fairus selalu datang setiap Jumat usai salat. Banyak kaum Syiah yang tak melakukan salat Jumat. Mereka percaya kalau salat itu hanya dilakukan setelah kedatangan imam Mahdi dan tidak wajib dilakukan. Ayah selalu mencari masjid yang melaksanakan salat jamaah walau dia harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari rumah. Usai salat, ayah bersama ibu serta khala dan aku akan menunggu mullah. Kami semua duduk di ruang keluarga, termasuk Ali dan Ghazali.

Ayah yang selalu menyambut mullah di gerbang dan membuka sendiri pintu gerbang itu. Kami semua disuruh tetap menunggu di ruang tamu. Biasanya mullah berbicara sebentar dan setelah itu ayah akan pergi ke ruang kerja sedang ibu, Ghazali dan khala Aisya masuk ke dapur. Barulah ia mengajari mulai aku dan Ali mengaji serta menyampaikan amalan-amalan saleh.  waay hanya akulah yang memberinya respon balik.

Anak lelaki yang menggandeng mullah adalah cucunya. Cucu ketiga belas dari dua anaknya. Namanya adalah  Mahmud. Ia tak bersekolah karena harus menemani kakeknya. Ia dengan sabar setiap hari menuntun kakeknya yang menjadi imam di masjid Al Nur tak jauh dari rumah kami. Mahmud sangat pendiam. Ia tak pernah berkomentar atas yang kami katakan. Ia hanya diam dan hanya menggunakan matanya untuk berkata.

Seperti Ali bonekaku dan sekaligus temanku. Tapi aku yakin Mahmud sebenarnya tidak membisu total seperti Ali. Aku mendengar dia berbicara dengan mullah walau hanya seperlunya. Mullah Fairus juga bukan orang yang suka berbicara, jadi keduanya hanya mengeluarkan suara untuk hal-hal yang perlu saja.

Suatu Sabtu, saat ibuku sedang menyisir rambutku. Ia mulai bertanya tentang Khafsah yang tak pernah datang lagi. Aku bercerita tentang kebencianku dan juga rasa marahku padanya. Beberapa pekan berlalu dan ternyata kemarahanku belum juga reda. 

Bagiku Khafsah sudah berkhianat, tapi aku tahu ibu akan menyalahkanku. Hanya tinggal soal waktu saja. Ketika ibu  bertanya tentang Khafsah, aku tahu waktunyha telah tiba.

“Sayang, kau tak boleh melakukannya?”

“Kenapa bu?” aku berbalik dan membiarkan ibu menatap kedua mataku.

“Karena ia temanmu. Ia punya alasan tersendiri melakukannya. Kau harus tanyakan itu. kau harus berusaha menerima kekurangan dan juga kelebihan seorang teman. Janganlah kau menyalahkan seseorang sebelum mengenalnya karena apa yang terlihat dari luar sebenarnya tak selalu benar.”

“Tapi bu, ia meninggalkan aku.” Aku berupaya membuat ibu mengerti jalan pikiranku dan menerimanya.

“Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumahnya?”

Aku diam dan ibu melirikku. Aku menatap ke lantai dan kuangkat wajahku, ibu malah tersenyum. Aku marah dan berlari ke kamar Ali. Aku melihat Ali sedang dengan bermain dengan bayangan tangannya. Aku memegang tangannya dan menatap wajahnya. Ia memperhatikan aku dan sedikit terganggu.

“Ali, aku marah karena ibu membela Khafsah.”

Ali menarik tangannya. Ia miringkan sedikit kepalanya ke arah kanan. Matanya seperti menunggu penjelaskanku berikutnya. Ia menanti kelanjutan ceritaku.

“Apa yang aku lakukan jika bertemu dengannya dan jika aku tahu kalau aku yang salah?”

Ali diam. Isyarat matanya terhenti. Ia tak tertarik dengan yang aku katakan.

“Jika aku benar apa yang akan aku katakan? Aku akan marah ataukah aku akan memaafkannya. Mungkin aku harus memaafkannya karena mullah Fairus mengajarkan kita untuk saling memaafkan bukan?”

Aku menyandarkan kepalaku di kaki-kaki ranjang dan melihat jauh ke dalam angan-angan dan nasehat mullah muncul kembali.

“Apakah aku orang yang jahat?”

Ali hanya diam dan menolehku sejenak. Mungkin ia ingin menjawab yang kutanyakan namun masih belum yakin. Ia tak punya keyakinan untuk mengatakannya padahal aku sangat menantikannya walau sekedar anggukan kepala atau mungkin gerakan kepala seperti tadi, entah ke kiri atau ke akan, ke atas atau ke bawah. Sayang Ali diam saja.

Aku sedang gelisah dan aku harus mengeluarkan semua kegelisahanku.

“Ali, jika aku ada di neraka, akankah kau akan membantuku. Akankah kau masih mengakui kalau aku temanmu?”

Ali tak memperdulikanku. Ia hanya diam dan melihat wajahku. Ia menghentikan tangannya yang sibuk bermain dengan bayangan.

“Jika kita terpisah apakah kau akan mencariku?”

Kali ini kali ini mendekatiku. Seolah yang aku katakan adalah hal yang paling menarik dari semua yang pernah aku katakana selama ini. Ia langsung memandangku dan matanya berkata “jangan tinggalkan aku.” Aku tersenyum. Aku tahu pandangan itu, sama seperti ketika tiga anak berandal melecehkan kami. Di balik tangisnya, di balik matanya yang takut aku mendengar suara matanya: “jangan tinggalkan aku.”

Dan aku memang tidak meninggalkannya. Kali ini dia menjawab pertanyaanku dengan suara matanya yang sama. 

“Tapi apakah kau akan mencariku?”

Ali kembali bermain dengan tangannya. Aku mendekat dan melihat ke dalam bola matanya. Aku tidak menemukan suara apapun di mata itu. Kedua mata itu baru bisa berkata “jangan tinggalkan aku.” Namun aku sangat yakin Ali akan mencariku karena hanya akulah satu-satunya temannya.

Ia akan mencariku. Ia akan mencariku karena kami adalah satu jiwa dan juga satu hati. Jiwaku dan juga hatiku adalah milik Ali yang tak memilikinya. Ia menganggap aku adalah belahan jiwanya. Tidak adan anak yang mau berteman dengannya. Juga tidak Khafsah yang sudah berkali-kali menghabiskan waktu bersama di kebun rahasia.

Aku benci Khafsah, tapi aku tak bisa lari dari ibuku. Kutinggalkan Ali dan aku ingin kembali ke kamarku, bersembunyi di balik selimut tebalku, membiarkan angan-anganku bebas: membenci Khafsah atau meludahi si keriwul. Angan-angan adalah milikku sendiri yang bisa kunikmati semauku. Tak ada yang bisa mengatur anganku. 

Melewati ruang tamu, ibu sudah menungguku sambil tersenyum. Ibu tak memakai chadur, hanya melilitkan selendang kuning di kepalanya. Selendang itu membingkai wajah mungil dan cantik milik ibuku. Ia menggandeng tanganku berjalan ke kamar Ali dan memanggil Ali hanya dengan matanya. Ibu kemudian mengambil tas berisi berbagai kue basah dan menyerahkan kepadaku untuk dibawa. Bertiga kami ke luar rumah. Pertama kali aku dan Ali ke luar rumah lagi, kali ini bersama ibu.

Ibu berjalan melewati lapangan tempat anak-anak bermain bola, tapi tak kulihat si keriwul dan kedua temannya. Di ujung lapangan kami tidak berbelok ke arah kebun rahasia tapi justru menjauh menuju ke pasar. Di sebuah belokan sebelum pasar, kami masuk ke dalam sebuah gang sempit. Gangnya kurang lebih hanya satu meter dan bau di gang itu mengganggu pernafasanku. Banyak mata yang memperhatikan kami, mata-mata yang tertarik dengan kecantikan ibuku.

Rumah-rumah mungil berjejal satu sama lain dengan tembok tinggi. Aku melihat banyak kain putih memanjang yang dijemur dan melindungi kami saat berjalan di dalam gang. Ibu betanya kepada seseorang dan langsung saja orang-orang yang lain berkerumun mengelilingi ibu dan orang itu, ingin tahu pertanyaan ibu dan banyak yang tertawa kecil mendengar aksen ibu.

Orang itu menunjuk sebuah rumah tua dengan dinding yang memiliki satu pintu. Empat orang anak kecil yang hamper sama besarnya dengan aku langsung mengambil peran menjadi penunjuk jalan dan aku tak tahu mendengar jelas yang mereka katakan kepada ibu. Suara mereka gaduh karena berlomba-lomba berbicara kepada ibu, yang cuma tersenyum sambil mengangguk-angguk. Kami berjalan mengikuti keempat anak itu.

Anak yang paling besar berteriak ke dalam rumah ketika kami berada di depan pintu dan tanpa menunggu balasan langsung membuka pintu itu dan tangannya memberi isyarat agar ibu dan kami semua masuk. Dia kemudian mengusir ketiga temannya yang lain dan menutup pinut, ikut masuk bersama kami.

Rumah itu memiliki halaman dengan kolam di tengahnya. Seorang perempuan yang tampaknya seusia ibu melihat sedikit terkejut ke arah kami. Dia sedang mencuci dan segera ditinggalkannya cucian itu di bibir kolam dan berdiri menyambut ibu. Tiga anak laki-laki yang bermain batu dan tanah di dekat kolam, mengikutinya. 

Baju hitamnya yang kusut tak ia pedulikan dan gerakannya saat  mendekati ibu seolah menyambut seorang tamu penting. Ia membawa kami masuk ke dalam rumah dan menunjuk ke sebuah bangku. Salah satu kaki bangku sudah tidak menjejak lantai dengan sempurna dan agak bergoyang ketika kami duduk. Aku duduk membatu, tak tahu mau melakukan apa dan juga berkata apa. Aku tahu bahwa kami sedang berada di dalam rumah Khafsah walau dia tidak ada. Ali terus memegang tangan ibu, ketika duduk sekali pun walau tanpa rasa takut yang memancar dari sorot matanya.

Ibu menyerahkan tas berisi kue. Perempuan itu menghilang ke dalam ruangan sebelah. Dua anak laki-lakinya berdiri bersandar ke dinding di seberang bangku sambil menatap kami bertiga dengan tajam, Anak yang paling kecil mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Kulirik anak laki-laki yang mengantar kami tadi, dia duduk di lantai di samping bangku, di bawahku. Dia sepertinya sedang menanti sebuah peristiwa besar di depan matanya dan dia terlibat dalam peristiwa itu, mengantarkan tamu penting yang membawa peristiwa besar ke dalam sebuah rumah miskin.

Perempuan itu muncul kembali dengan membawa teh di dalam gelas aluminium abu-abu. Aku lihat hampir di semua gelas ada bagian yang sudah peot. Dia juga mengeluarkan kue yang dibawa ibu dengan di atas nampan kaleng yang warnanya sudah tidak pasti lagi, antara merah, cokelat dan oranye. Aku sapu ruangan sempit itu dengan pandanganku. Ada gulungan selimut dan bantal lusuh di salah satu pojoknya. Apakah pojok itu menjadi tempat tidur Khafsah setiap harinya. Tiba-tiba aku merasa kakiku terasa dingin, bersentuhan dengan lantai yang dingin. 

“Anakku adalah teman anakmu.”

“Suatu keanggungan, terimakasih atas apa yang anda berikan selama ini.”

“Tak apa. Aku meminta maaf karena tak mendidik anak sebaik kau mendidik anakmu. Anakku terlalu manja hingga ia tak bisa mengalah.” Ibuku meneguk teh yang warnanya hampir menghitam.

“Ah…mereka hanya anak kecil.”

“Tapi mereka akan jadi besarkan suatu saat nanti khanum. Kita harus menanamkan banyak hal di saat ini karena suatu hari nanti mereka akan terbang dan kita sudah tak mampu mengendalikannya kembali. Dimana Khafsah?”

“Ia membantu ayahnya, membersihkan kebun keluarga Khan.”

Ibu Khafsah memegang tangan anaknya yang ingin mengambil kue, mecegahnya. Ibu tersenyum dan mengambil kue pisang dan memberikan kepada anak itu. Ibu mengangkat nampan kue dan mendorongnya ke arah dua anak yang bersandar di dinding. Mereka mendekat berbarengan dan tanpa memilih-milih, mengambil kue yang terdekat di jangkauannya. Anak laki-laki yang mengantar kami berdiri, seperti memberi tahu kepada ibu bahwa dia juga ada di dalam ruangan dan ibu mengambil sepotong kue, menyerahkan ke aku untuk diberikan kepadanya.

Giliran Ibu Khafsah yang mengambil sepotong kue dan memberinya kepada Ali, namun Ali diam saja tak menerima dan juga tidak menolak. Tangan kanannya tetap memegang tangan ibu. Kue itu kemudian diberikan kepadaku, tapi aku menggeleng.

Aku ingin kue itu diberikan kepada Khafsah supaya dia tidak kedinginan ketika tidur malam nanti karena kelaparan. Kebencianku musnah dan aku rindu Khafsah. Aku ingin dia berada di dalam ruangan bersama kami, duduk di bangku di sampingku dan ikut makan kue yang dibawa ibu.

Aku juga ingin dia membawaku ke luar ke kolam di halaman rumahnya, membuat perahu kecil dari daun-daun dari tanaman di sekitar kolam sambil membagi mimpi tentang perjalanan jauh ke tempat hangat dengan tempat tidur yang empuk. Aku rindu Khafsah dan aku marah pada diriku sendiri yang teraniaya oleh kepicikanku.

Sampai rumah aku menjadi semakin cemas sendiri, membayangkan anak kriwul yang meludahiku dan menendang aku serta Ali adalah anak keluarga Khan. Aku merasa menjadi seorang manusia yang paling jahat yang tidak perduli dengan kesulitan orang lain.

Malam itu aku tidak bisa tertidur, gelisah membolak-balik badan di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dan baru jatuh tertidur setelah berjanji untuk mendatangani Khafsah di kebun keluarga Khan. Aku tak takut pada anak kriwul itu dan akan kuadukan dia kepada ayah ibunya. Aku ingin bertemu Khafsah dan anak kriwul itu tidak akan bisa menghalangiku biarpun dia anak keluarga Khan.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000