sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 244, 21 november 2014

Tulisan lain

Media Massa, Dinosorus Abad 20 - Liston P Siregar

Ras Siregar

Teheran Dalam Stoples 9 - Aminatul Faizah

Bradford on Avon

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

Teheran Dalam Stoples 8 - Aminatul Faizah

Simon Carmiggelt

Elegi Jakarta - Asrul Sani

New York

Teheran Dalam Stoples 7 - Aminatul Faizah

Simon Carmiggelt

Yang Terempas dan Yang Luput - Chairil Anwar (1949)

Nafiri Ciputat - Bahrum Rangkuti Anwar (1969)

London

Saya, 'Rajanya' Arsenal 2 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 6 - Aminatul Faizah

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

cerpen Kisah Tembakau
Aminatul Faizah

Di bulan oktober daun-daun teh diiris dan pilah sepanjang jalan. Saat itulah meuner-meuner mulai berdatangan di kotaku. Tembakau Deli, Java atau tembakau yang akan mengepul di pipa munggil para penguasa jalang yang tak bertanah namun mengatur yang darah dan nadi kehidupan.

Tembakau adalah dolar hijau yang menjadi idaman kami. Tapi sayangnya itu hanyalah mimpi.

Dolar hijau tak kunjung datang, mengering seiring layunya tembakau.

Di bulan Oktober 1

Di bulan Oktober 2

Di bulan Oktober 3

Di bulan Oktober 4

Dan Oktober - Oktober  berikutnya. Selalu...

Ratusan perempuan dan anak-anak seperti gerombolan kupu-kupu memenuhi kebun. Orang-orang berseragam dengan kulit yang berbeda memocongkan senjata api pada tubuh mereka. “ Berhenti mengambil apa yang kami tanam dengan belaian tangan.”

Moncong senjata siap menerkam, “Ini tanah kami. Tak ada pajak untuk yang bertamu... Pajak kami untuk bumi milik yang bertuah.”

“Di Deli kau ambil laki-laki kami untuk kau jadikan budakmu... entah bagaimana mereka. Kau biarkan kami hidup menjanda... kau biarkan kami mengasuh anak kami yang di paksa menjadi yatim.”

Dan keberanian itu sirna ketika satu nyawa melayang. Sang bersenjata lebih menonjol.

Rombongan ketakutan satu bersatu berlalu dengan muka tertunduk dan badan membungkuk. Sebagian membisikan caci maki.

“Bagaimana laki-laki bedebah ini tak memberi rumah pada mereka ?” bisik tembakau.

"Ah.... kenapa tak pamit baik-baik seperti kedatangan moyang kalian yang manis, yang selalu sigap dengan segala cara dan buaian."

Sementara itu ladang tembakau itu sirna dalam gerbong-gerbong kereta dan yang tersisah hanya tanah ladang tanpa bisik tembakau, ladang dengan biji-biji tembakau yang menua dan tangisan ibu yang meneteki anaknya.

Itu dulu sebelum kita terlahir dan orang tua kita dipertemukan dalam takdir.

Kasih...

Lihatlah bulan Oktober datang dan masih merekah dan kita pun berhenti, dan kembali dengan tembakau. Andai kami mampu... aku nenek moyangku dan kami-kami yang akan datang memutuskan... memutuskan hubungan yang sulit dipahami. Antara kami dan tembakau.

Zaman telah tergantikan dan kami masih tetap sama.

Memanen, mengiris-iris bagian terdekat dengan jiwa yang merapuh dan memanaskannya di retrorika yang berkuasa tanpa kebijaksanaan. Membakar dan juga memanskan tanpa tahu arti belas kasihan yang diada berpunya. Dibisan lembaran-lembaran tembakau yang teruntai menjadibenang-benang kusut yang mungkin akan dipintal benjadi kretek dan filter. Yang akan menjadikan dunia berada antara yang sadar dan tidak arti kata perokok aktif dan pasif. Membumbungkan dunia dengan asap-asap yang membutakan kita.

Di lingkaran tembakau inilah nenek moyangku dan aku hidup.

Oktober ini, harga tembakau turun... kami pasrah.

Oktober ini mereka bilang bahwa cukai akan dinaikan. Harga kembali terpotong dan sembako semakin melilit tak terjangkau. Kami seperti dahulu tak mampu lagi makan dengan enaknya. Kami tak punya cukup uang sekadar untuk kelayakan akan 4 sehat 5 sempurna. Tak ada susu untuk anak kami, tak ada beras untukku. Yang ada hanyalah tembakau kering yang menumpuk di kolong tempat tidur karena tak laku-laku.

Oktober ini cukai untuk industri rokok kretek dinaikan... naik... naik... hingga banyak yang gulung tikar. Sedangkan filter tak memerlukan kami, karena zaman telah berubah. Mereka bilang tembakau tak berkualitas. Entah mereka dengan jujur mengatakannya atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu.

Suami kami tidaklah pulang-pulang di tanah rantau. Mereka bilang.... bahwa suamiku menyelamatkan kelelakiannya dengan menikahi aci-aci diseberang sana. Untuk selamat dari polisi yang bertanya akan kelegalan.

Sedangkan kami dengan tembakau hanya mampu berharap dari belas sang maha Kuasa. Hingga suatu hari demi sekaleng susu anak kita, aku dan mereka yang bergaul dengan tembakau yang kering dan juga mati. Terpaksa pergi... pergi menjadi burung-burung  bersayap air mata. Air mata menjadi sajak. Karena tak ku temukan lagi tawa anakku dan kepuasannya akan makan dan minum.

Bulan berganti bulan…

Tangan kami rasanya sama dengan hari yang lalu. Mengumpulkan tembakau kering dan menatanya apik di dalam karung ghoni. Alangkah malangnya bulan ini. Tembakau kami tak tahu kapan akan kami jula lagi. Mereka yang memakai baju putih mengatakan bahwa tembakau haram. Anak kami menangis karena tembakau kami tak laku. Mereka bilang yang memakai pakaian putih itu baik, lalu bagaimana dengan yang lainnya…mereka bilang haram…

Bagaimana kami para petani tembakau, para pemintal rokok dan pedagang akan kenyang. Kepada siapa kami harus mengadu tentang kisah tembakau kami.
***

Jember 6 Oktober 2014

ceritanet©listonpsiregar2000