sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 243, 1 oktober 2014

Tulisan lain

Siapakah Wartawan? Atau: Siapakah Jurnalis? - Liston P Siregar

Cerita Satu Kota - Syam AR

- Simon Carmiggelt

Elegi Jakarta - Asrul Sani

New York

Teheran Dalam Stoples 7 - Aminatul Faizah

Yang Terempas dan Yang Luput - Chairil Anwar (1949)

Nafiri Ciputat - Bahrum Rangkuti Anwar (1969)

London

Saya, 'Rajanya' Arsenal 2 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 6 - Aminatul Faizah

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

7. Payin-e Shahr
Aku baru tahu apa yang ibu pikirkan setelah aku memberikan sandal pada Khafsah. Saat itu sudah lewat beberapa minggu. Aku tak sengaja mendengar percakapan Ibu dan khala itu di sore hari, sambil menikmati manisan terong yang ibu buat. Seperti biasa, sambil ngobrol ibu sesekali memandang Ghazali dan ayah yang sedang bermain di halaman samping. Di sana ada pohon anggur yang julurnya membuat sebuah atap alami yang enak untuk dilihat dan juga dinikmati. Di bawah atap ada sebuah kursi dari alumunium, yang diduduki ibu dan khala Aisyah. 

Bagi ibu, khala bukanlah pembantu. Ibu Ali di matanya adalah adik yang harus ia sayangi yang membantunya. Ibu tak pernah memarahinya meski sering melakukan banyak hal yang salah. Ibu juga mengajarinya bagaimana menyeduh teh yang bagus, bagaimana membuat roti yang enak, bagaimana duduk yang benar dan juga cara makan yang santun. Ibu bahkan mengajarinya menyulam dan melakukan banyak hal hebat untuk seukuran wanita yang tak mengenyam bangku pendidikan. Ibuku memang wanita hebat.

“Kau tahu ibu Khafsah?”
“Iya...dia tinggal di kawasan payin-e shahr (kawasan pemukiman kaum miskin.) Banyak orang yang pekerja kasar yang tinggal di sana”
“Besok pagi, maukah kau antarkan kue dan juga peralatan sekolah untuk keluarga itu?”
“Tentu.”

Ibu tersenyum, lalu senyuman itu hilang entah ke mana saat khala menanyakan dari mana ibu berasal.

“Hamidah siapa kalian?”
“Aku dan suamiku beasal dari Turki.” kata ibu, tenang dan meyakinkan.
“Kau berbohong. Aku kenal banyak orang Turki namun tak memiliki wajah semunggil dirimu dan setampan suamimu.”

Ibu hanya tersenyum dengan sanggahan itu. Ia kembali membaca koran dan melihat setiap kalimat yang ada di koran sebagai pelampiasan kebohongannya.

“Aku dan suamiku memang bukan dari Turki. Kami pernah tinggal di sana. Kami adalah orang yang masih ingin mencari jati diri. Aku dari Indonesia dan suamiku berkebangsaan Turki namun bukan orang Turki.”
“Lalu keluarga kalian?”
“Ada keluargaku tapi keluarga suamiku tidak. Ia diusir karena menikahiku dan juga memeluk agamaku.”

Ibu melipat korannya. Mengingat banyak hal yang selalu ia lupakan. Masa lalu yang sangat ia rindukan dan banyak mimpi yang ingin ia lalui. Mimpi yang kandas dan membuatnya selalu merasa sendiri. Mata yang kesepian dan juga mata yang selalu merasa sendiri.

Hanya wanita yang sudah biasa sendiri yang tak merasa bosan berada di rumah selama berbulan-bulan tanpa ingin mengetahui lingkungan luar. Hanya orang yang terbiasa sendiri yang mampu menjalaninya, mencurahkan banyak cinta pada mahluk munggl dan juga membagi banyak kasih antar sesama. Ibuku, ia menunjukan banyak hal pada kami, bahwa kekurangan bisa ditutupi dengan kelebihan yang kadang tak kami ketahui keberadaannya.

Aku mengambil peta. Aku ingin melihat kampung halaman ibuku.Tak banyak kenangan yang tersisa di benakku. Indonesia itu mungkin nama sebuah tempat yang tak jauh dari tempatku kini. Jika aku tahu mungkin ibu akan bertemu keluarganya dan ia tak akan kesepian lagi. Aku mengambil peta besar. Aku pandangi peta dunia dan aku cari tempat asal ibuku. Aku menemukan Turki lalu kota Bursa. Aku juga menemukan Teheran tapi di manakah Indonesia.

Aku telusuri peta besar itu dengan telunjukku seolah aku sedang berkeliling dunia. Dengan seksama kubaca satu persatu nama yang tertulis. Tidak mudah, tapi aku sudah bertekad untuk menemukan rumah ibuku, tempat asal setengah dari keberadaanku.

Akhirnya aku menemukan sebuah tempat yang dilalui garis katulistiwa dengan banyak pulau. Semuanya dengan nama besar merah Indonesia. Sebuah negara yang berkali-kali besarnya dibanding Iran. Aku terdiam, membawa peta itu ke kamar Ali. Aku buka pintu kamarnya dan seperti biasa kulihat ia sedang memainkan tangannya untuk membentuk bayangan.

Aku membuka peta di atas karpet di lantai kamarnya. Aku memandangi banyak pulau kecil dan juga pulau besar. Pulau paling timur yang lumayan besar berbentuk seperti burung, lalu pulau seperti huruf K, pulau yang gendut seperti ayam, pulau yang bentuknya mirip paha ayam dan yang ada sebuah pulau horisontal di bawahnya. Ada berjuta-juta pulau pulau munggil lainnya. Diantara sekian titik-titik besar dan kecil itu, di manakah ibu berada.

“Ali, ternyata kampung halaman ibu sangat luas. Menyenangkan rasanya jika kita bisa ke sana. Kau mau ke sana kan?”

Ia hanya melihatku sekilas lalu memainkan lagi tangannya. Ia tak memberikan respon apapun selain pandangan sekilas, sepersekian detik.

“Wah… di sana banyak lautnya Ali. Kita akan ke sana, kau belum pernah melihat laut kan?”
Kali ini ia tak melihatku dan aku membaringkan tubuh di atas peta yang luas itu sambil memandang langit-langit kamar Ali. Terbayang selintas perjalanan di atas pesawat terbang, tak banyak yang kuingat. Naik tangga, duduk di kursi yang terasa luas di antara ayah dan ibu sementara Ghazali di pangkuan ibu.

Ada permen dan telingaku sakit. Samar-samar, jadi kukernyitkan dahiku untuk berkonsentrasi mengingat lebih banyak dan lebih nyata tapi tak ada ingatan yang bertambah.  Dan aku tesentak, terlempar dari kenangan samar itu.

“Ali...ayo kita main !”

Ali hanya diam. Aku pun kembali memejamkan mata. Membayangkan bagaimana kampung halaman ibu. Akankah banyak pohon, akankah manusianya ramah dan juga cantik-cantik ataukah semuanya begitu hangat seperti karpet ini.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000