sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 243, 1 oktober 2014

Tulisan lain

Cerita Satu Kota - Syam AR

Teheran Dalam Stoples 8 - Aminatul Faizah

- Simon Carmiggelt

Elegi Jakarta - Asrul Sani

New York

Teheran Dalam Stoples 7 - Aminatul Faizah

Yang Terempas dan Yang Luput - Chairil Anwar (1949)

Nafiri Ciputat - Bahrum Rangkuti Anwar (1969)

London

Saya, 'Rajanya' Arsenal 2 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 6 - Aminatul Faizah

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

catatan Menjadi Wartawan, Dulu dan Sekarang
Liston P Siregar

Catatan berseri ini mungkin bisa jadi bahan belajar, bahan bacaan waktu senggang atau bahan tertawaan. Tapi anak Medan punya pasti patenlah.

Bisa juga diikuti di Facebook dan Twiter Ceritanet dan ceritanetblog.wordpres.com.

Dan bisa klik di sini kalau mau dalam file PDF.
_______

Seri 1. Siapakah Wartawan? Atau:  Siapakah Jurnalis?

Ada lelucon lama di Medan, tentang seorang warga keturunan Cina yang harus ujian kewarganegaraan (di jaman Orde Baru memang ada ujian seperti ini). Ketika ditanya ‘Apa Pancasila?’. Dengan aksen Cina yang kental dia menjawab yakin: ‘Itu olang malam-malam ketok pintu minta uang.’

Dia memang salah satu korban rutin pengompasan Pemuda Pancasila, (adegan ini ada di film The Act of Killing arahan Joshua Oppenheimer).

Apakah tragedi yang sama bisa juga untuk wartawan? Pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto mungkin bisa.

Itulah sebabnya sekelompok pejuang pers mandiri pada pertengahan 1990-an menyebut diri jurnalis dan mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, AJI,  untuk membedakan dengan tegas dari Persatuan Wartawan Indonesia, PWI, yang waktu itu banyak anggotanya menerima uang atau jasa lain dari sumber. AJI menentang keras praktek itu dan beberapa anggotanya malah ditangkapi dan dipenjarakan. Lha kok?

Wartawan
Wartawan atau Jurnalis berasal dari kata warta atau jurnal. Artinya melaporkan. Itulah pekerjaan utama wartawan: melaporkan satu peristiwa.

Tapi laporan bermacam-macam. Ada laporan bawahan untuk atasan yang berprinsip Asal Bapak Senang. Ada pula laporan sebuah kelompok pegiat ke Komnas HAM, yang didramatisir sedikit supaya Komnas HAM terdorong melakukan penyelidikan. Atau laporan Duta Besar Indonesia di Washington untuk Menteri Luar Negeri  tentang anggaran yang membengkak karena kurs rupiah menurun. Atau laporan guru sekolah tentang anak saya yang bolos terus biarpun dari rumah tiap hari ngakunya ke sekolah.

Ada banyak laporan.

Tapi yang mana yang berkaitan dengan wartawan atau jurnalis? Berhubung, katanya, sudah zaman reformasi –biarpun agak mundur karena Pilkada sekarang tidak langsung lagi- kita gunakan saja kata wartawan dan jurnalis secara bergantian, tanpa bermaksud menuduh yang satu dan membela yang lain.

Itu dia yang pertama. Jurnalis tidak berpihak. Jadi laporan jurnalis seimbang, kiri dan kanan sama berat. Jangan belum apa-apa sudah menuduh. Itu dulu, nanti bisa dibahas lebih lanjut.
Yang kedua, laporan wartawan adalah fakta. Tidak dibumbui, tidak dikurangi, juga tidak didramatisir dan tidak dilembutkan pula. Yang dilihat dan yang didengar itu yang dilaporkan.
Laporan jurnalis juga menyangkut kepentingan orang banyak. Anak saya yang suka bolos tidak akan dilaporkan wartawan tapi murid satu sekolah yang bolos semua akan dilaporkan karena macam mana pula sekolah itu kok bisa semua muridnya bolos. Para orang tua murid jelas berkepentingan.

Soalnya kemudian adalah kalau sekolahnya di Tangerang, mana ada pentingnya sama orang yang tinggal di Gorontalo (di Pulau Sulawesi sana). Nantilah dulu uraian panjangnya, sekarang ini prinsipnya saja dulu.  

Juga banyak kali sekarang berita-berita yang dilaporkan wartawan tentang penyanyi yang cerai atau yang beli mobil baru? Itulah dia tadi, sabar sikit; soal itu pasti dikaji lebih dalam.

Balik ke awal, menjadi jurnalis bisa gampang dan bisa juga sulit. Gampang karena dengan Facebook, Twiter, Youtube, Watsap, Email, Firechat,  jelas semua orang bisa melaporkan dengan tidak berpihak, sesuai fakta, dan untuk kepentingan orang banyak. Persis, 100% benar!

Cuma mungkin ada baiknya memilih jalur yang sulit. Kemajuan teknologi dan kompleksitas kehidupan global yang saling berkaitan telah membuat sikap tidak berpihak, sesuai fakta, dan kepentingan orang banyak menjadi sesuatu yang dilematis, yang kontroversial, dan tidak jelas.
Dan di era iPhone dan Samsung Galaxy sekarang, makna dan fungsi informasi semakin penting lagi.

Salah informasi bisa salah keputusan dan salah keputusan maka nasib orang banyak terancam.  Ingat orang Afghanistan yang tak ada urusan sama Taliban dan Amerika Serikat mati dihantam pesawat tempur AS? Kenapa? Karena salah informasi. Sesama kawan orang itu pun, tentara Inggris,  ada yang mati ditembak. Kenapa? (Pilih jawabannya: A. Karena Salah informasi, B. Karena pasukan AS marah, C. Karena salah pencet).

Sementara wartawan, sama dengan profesi lain, punya tanggung jawab juga, punya kode etik, dan juga bisa dipidanakan atau diperdatakan.

Jadi kalau Anda merasa yakin bisa berpegang pada tiga prinsip dasar wartawan tadi, sampai di sini lah pertemuan kita. Juga kalau Anda berpikir, “ah melapor di jaman sekarang ini ya suka-suka sendiri lah. Facebook gue punya, iPad gue punya, tongsis beli sendirik…” maka sarannya adalah jangan buang-buang waktu, dan  sampai di sini juga lah pertemuan kita kawan.

Tapi seandainya mau belajar bersama sambal cakap-cakap untuk menuju wartawan yang benar, maka teruskanlah mengikuti seri-seri berikutnya. Menjadi benar memang sulit.

(Dan bersambung, cuma sebelum Seri 2 nanti, akan diselingi Intermeso 1 dulu...)
***

Kata kunci Seri 1
-. Melaporkan
. Tidak berpihak
-. Berdasarkan fakta
-. Kepentingan orang banyak

ceritanet©listonpsiregar2000