sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 242, 1 september 2014

Tulisan lain

Yang Terempas dan Yang Luput - Chairil Anwar (1949)

Nafiri Ciputat - Bahrum Rangkuti Anwar (1969)

London

Saya, 'Rajanya' Arsenal 2 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 6 - Aminatul Faizah

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

Saya, 'Rajanya' Arsenal 1 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 5 - Aminatul Faizah

Depan Sekretariat Negara - Taufiq Ismail

Benteng - Taufiq Ismail

The Act of Killing untuk Citra Indonesia - Anonim (Kru Indonesia untuk film Jagal)

novel Teheran Dalam Stoples 7
Aminatul Fiazah

6. Tanah Lapang
Pelan-pelan, ayah dan Ibu akhirnya mengizinkan aku berjalan-jalan ke luar rumah, membuka gerbang bersama khala, dan menguncinya kembali setelah melihatku sampai di ujung jalan, berbelok ke kiri atau kanan. Aku bebas memilih tantanganku di dunia luar itu. Ayah juga sudah memasang lonceng di pojok atas gerbang dan memasang tali sehingga bisa kutarik untuk mendentangkannya.

Ayah hanya menegaskan aku sudah harus berada di dalam rumah sebelum suara azan terdengar dan hari-hari ternyata mampu menajamkan naluri waktuku, untuk membaca warna langit yang perlahan-lahan memburam. Itulah saatnya aku kembali menelusuri arah balik dan berbelok di sudut jalan pada pohon apel dari sisi barat atau di pojok rumah tingkat dua berbata merah terang jika aku berkeliling memutar seperti empat persegi. Dan aku tak pernah melanggar batas waktu yang ditetapkan.

Pertama kali aku ke luar hanya sampai ujung jalan dan kembali sementara ibu bersama khala menyaksikan aku berjalan menjauh dan mendekat. Ali ikut menatapku dari balik paha ibunya. Kemudian aku berjalan bersama Ayah berkeliling jalan kampung, melewati kembali lapangan tempat anak laki-laki bermain bola dan rumah mewah dengan barisan pohon palem. Aku suka bau udara terbuka, yang sesekali menyebar berbagai aroma. Sekali waktu aku mencium asap sampah, pernah juga aroma apel atau bau tanah kering yang diguyur hujan. Sesekali tercium pula bau kotoran kuda.

Di suatu pagi hari yang cerah dan juga menyengat aku menggandeng tangan Ali. Aku mengajaknya melihat dunia luar yang indah. Kami berjalan melintasi dua rumah dan tibalah kami di tanah lapang yang luas, tempat beberapa anak laki-laki yang bermain bola. Seperti biasa tatapan mata Ali sangat parau dan menyedihkan. Dia diam, hampa dan membuat dunianya sendiri. Hanya ia yang tahu dan kita tak akan pernah tahu yang ia miliki.

Dua bocah riang penuh tawa, dengan bulu mata, rambut, dan juga alis yang hitam sempurna. Mata mereka sangat indah. Indah karena behiaskan kebahagiaan. Aku duduk sambil meluruskan kaki di bangku panjang yang sebagian kayhu sandarannya tercabut, melihat bocah berpakaian hijau lumut dengan celana hitam panjang. Temannya dengan rambut yang lebih pendek memakai pakaian serba cokelat tua. Debu tanah yang mengiringi gerakan mereka , tak mereka pedulikan. Yang mereka pedulikan adalah bola. Walau hanya berdua, debu membubung cukup banyak sampai sesekali membuat keduanya menghilang di balik tirai debu.

Seorang gadis yang memakai kerudung pendek dan memakai banyak gelang warna merah muda yang mengkilap. Ia tersenyum melihatku. Memandangi wajahku dengan dalam dan tersenyum malu. Saat mulutnya terbuka aku melihatnya giginya tinggal dua di bagian depan. Aku mengamatinya lebih dalam dan melihat banyak debu di pipi putihnya. Ia kumal dan juga sedikit tak terawat. Wajah cantiknya tak lagi nampak. Hanya kumpulan debu yang ada. Dia mengacungkan tangannya. Ia mengulurkan telapak tangan di hadapanku. Aku mengulurkan tanganku. Untuk pertama kalinya aku bersalaman dengan seorang gadis Iran seusiaku

“Aku Leila...dan ini Ali temanku,” kataku.
“Aku Khafsah...aku kenal anak yang jadi temanmu itu. Ibunya pedagang kue keliling.”
“Oh...iya,” adalah kata yang keluar begitu saja. Gadis kecil yang memakai baju merah tua itu duduk di sampingku. Ia menjulurkan kakiku dan sesekali melihat Ali.
“Kau tinggal di mana?”

Dia hanya tersenyum sambil menunjuk arah utara. Aku hanya mengangguk mengerti. Padahal aku tak tahu apapun.

“Kau kelas berapa?’’ tanyaku.“Aku akan masuk sekolah musim semi tahun depan.”
“Sama. kau akan sekolah di Ulu Jami’ kan?”
“Aku tak tahu. Ibuku yang tahu. Semoga saja kita satu sekolah agar kita bisa berteman,” kataku sambil melihatnya mengeluarkan delima yang sangat merah dan juga besar dari kantong bajunya.

Aku meliriknya dan dia juga menoleh. Ia mengulurkan delima itu padaku, membaginya menjadi dua bagian. Aku mengambil satu bagian, mengupasnya, membiarkan butiran mutiara merah itu jatuh di telapak tanganku. Aku menoleh ke Ali, kuambil tangannya dan aku gengamkan butiran delima itu. Aku harap ia tahu apa yang aku lakukan. Namun tidak. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Aku mengangkat tangannya, menuju mulutnya. Aku masukan butiran itu di mulutnya.

Dan kubiarkan ia mengunyahnya. Ia menoleh ke wajahku dan aku hanya tersenyum.

“Kau beli di mana?’’
“Aku tak membelinya. Aku mengambilnya di kebun rahasiaku. Kau mau ke sana?”

Aku tersenyum dan sangat senang mendengarnya. Ia berjalan mendahuluiku. Aku mengandeng tangan Ali. Kami berjalan menembus tanah lapang.  Berjalan hingga ke sudut tanah lapang dan kami tiba di sebuah pagar besar dengan lubang kecil di pojoknya. Lubang itu diakibatkan retaknya dinding tua. Tubuh munggil Khafsah menerobosnya. Aku mengikutinya tapi segera kembali karena Ali tak mengikutiku.

Aku memasukan Ali lebih dahulu dan baru aku yang masuk. Ali masuk dan kami tiba di rumah tua yang tak berpenghuni. Hanya ada puing bangunan yang ditumbuhi banyak pohon merambat. Di sana ada pohon zaitun dan juga banyak sekali delima. Aku melihat banyak delima namun masih kecil.

Kami menghabiskan sepanjang hari di tempat itu. Karena kebun rahasia, aku tak menceritakannya pada ibu. Ali juga melakukan hal yang sama. ia tak mengatakannya pada siapapun juga. Ibu sepertinya merasa bahwa aku telah menemukan teman baikku. Ia senang.

“Siapa namanya saying?”


Aku pun bercerita tentang Khafsa, juga tentang gelang merahnya dan debu di pipinya yang putih. Tapi tidak tentan buah delima dan kebun rahasia.

Keesokan harinya aku membawa buku berjudul Jack dan Buncis Ajaib. Aku membacakannya untuk Khafsah dan juga Ali di kebun rahasia kami. Ia sangat menyukainya dan seperti tak sabar menanti akhir cerita.

Kami bertiga berpisah di depan tanah lapang. Khafsah akan berjalan menuju arah jalan besar dan aku menuju rumahku. Aku sangat ingin tahu di mana temanku itu tinggal. Ia tak pernah cerita tentang rumahnya, bukan seperti aku yang bercerita tentang ayunanku, pohon aprikot, pohon anggur, adikku, ibuku, ibu Ali dan juga ayah. Aku juga selalu membawa kue dalam saku saat bermain. Kue itu akan kami bagi bertiga dan kami makan bersama sambil membaca buku cerita. Ali tetap diam, menerima bagiannya, untunglah Khafsah tak memperdulikan kebisuan Ali. Dia lebih tertarik mendengar ceritaku, melihat aku membaca huruf-huruf di buku dengan lancar.

Khafsah sepertinya bukan seorang pencerita yang baik, tapi pendengar yang baik. Dia juga tidak sukah bertanya terlalu banyak. Aku suka Khafsah, maka pada suatu hari aku mengajaknya untuk bertandang ke rumah. Aku tarik tangannya dan ia begitu takjub melihat rumahku.

Aku mengajaknya masuk dan ibu melihat kami. Ia tersenyum, menyambutnya dengan hangat seperti menyambut Ali dengan penuh kehangatan. Ia membuatkan kami segelas susu hangat dan juga setoples biskuit. Ia menyuruh kami duduk diatas karpet Persia berwarna terang yang halus di ruang baca. Ibu membagikan kami kertas putih yang kosong dan juga pensil. Tapi mata Khafsah tak tertuju pada kertas putih itu namun tetap melihat barisan buku-buku di ruang baca itu. Ia memutarkan kepalanya. Melihat lampu yang ada di atas ruang baca.

“Indah sekali, khanum.”

Ibu hanya tersenyum mendengarnya.

“Orang tuamu bekerja sebagai apa nak?” tanya ibu sambil mengajari kami menulis huruf Arab.
“Ibuku tukang cuci jika ada pesanan dan setiap pagi hari kami jualan kue. Ayahku tukang kebun keliling,” katanya.
“Berapa saudaramu?” tanya ibu lagi sambil mengajarinya memegang pensil. Ali lebih mahir dari padanya. Ali bahkan tanpa diminta ibu sudah mampu menulis namanya dengan tiga huruf: alif...lam...dan ya’.
“Ada lima. Aku anak yang kedua. Adikku masih sangat kecil, ada tiga. Semua saudaraku laki-laki. Aku sendiri yang perempuan.”
“Kakakmu sekolah?” tanya ibu lagi sambil mengajarinya mengotori kertas putih itu.
“Iya. Ia akan jadi kakak kelasku jika aku sekolah.”

Ibu terhenti. Ayah memanggil ibuku. Ayah harus ke luar dan Ghazali tak ada yang menemani. Ketika itulah ibu melihat ukuran sandal Khafsah yang besar dan sudah tipis. Ibu menghela nafas dan bercakap-cakap dengan ayah sebelum ayah masuk ke dalam mobil. Ibu kembali sambil membawa Ghazali. Ia memberikan Ghazali krayon dan juga kertas putih. Ia membantu Khafsah menulis. Ibu dengan sabar melatihnya. Sama seperti melatih Ali.

Setelah beberapa huruf aku merasa bosan. Aku lebih suka jika bermain di kebun rahasia. Aku minta izin untuk main ke luar. Aku membawa kertas gambar dan juga krayon serta beberapa biskuit. Kami menghabiskan waktu di kebun rahasia, mencoret-coret kertas putih, makan biskuit, dan memandang ke langit biru, atau kembali membangun dunia sendiri-sendiri, seperti yang dilakukan Ali. Di kebun rahasia, kami bisa melakukan apa saja dengan sesukanya.  

Ketika tiba kembali di rumah, aku melihat ibu menungguku dan Ali. Ia tersenyum dan senyuman itu mengecil ketika melihat kami berdua dihadapannya.

“Dimana temanmu?”
“Tak ada. Ia pulang, ibu.” jawabku sambil menaruh sandal di depan pintu.
“Ayo kita makan” ajak ibu.

Ibu menuangkan susu di dua gelas besar dan mengambilkan aku sup beserta juga roti. Lalu ibu duduk dan memangku Ghazali. Aku tahu kalau ibu ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu hal itu dari matanya. Ia memberikan sedikit senyuman kemudian berdiri. Mengambil sesuatu dari balik pintu. Sebuah kotak berisi sebuah sandal.

“Maukah kau esok pagi memberikan ini untuknya?”

Aku agak iri. Lalu ibu menunjuk ke arah rak sepatu. Ada dua kotak dengan namaku dan juga Ali. Aku tersenyum dan ibu memicingkan matanya tanda kelegaan.

“Baik bu.”

Ibuku tahu banyak hal. Ia tahu kalau sandal butut besar itu menyiksa Khafsah. Ia tahu meski baru bertemu dengannya satu kali. Ibuku memang perempuan yang hebat.

“Sayang...kapan-kapan kita main di rumahnya, kau mau kan?” tanya ibu sambil menyuapi biskuit ke mulut Ghazali.
***

ceritanet©listonpsiregar2000