sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 241, 24 april 2014

Tulisan lain

Saya, 'Rajanya' Arsenal 2 - Liston P Siregar

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

Saya, 'Rajanya' Arsenal 1 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 5 - Aminatul Faizah

Depan Sekretariat Negara - Taufiq Ismail

Benteng - Taufiq Ismail

The Act of Killing untuk Citra Indonesia - Anonim (Kru Indonesia untuk film Jagal)

Teheran Dalam Stoples 4 - Aminatul Faizah

Tekad - Mansur Samin

Demonstran - Wahid Situmeang

Jenis-jenis Natal di London - Liston P Siregar

Inggris

novel Teheran Dalam Stoples 6
Aminatul Faizah

5. Chadur
Suatu pagi aku, adikku dan juga Ali duduk di atas permadani Persia yang tua dan tebal. Kulihat ibu mengenakan kain hitam yang sama dengan kain hitam yang selalu melilit tubuh khala Aisyah saat ia akan pergi ke luar rumah. Semua perempuan Iran memakainya. Kain itu membentuk lingkaran besar dengan diameter sekitar dua meter, lalu dibelah dua. Satu belahan setengah ligkaran dililitkan di tubuh kecuali muka. Itulah chadur Iran. Selama hampir lima bulan ibu tak pernah ke luar rumah. Ia hanya berada di rumah. Ia takut saat ke luar rumah karena banyak hal. Salah satu tentu saja karena chadur

Khala Aisyah melihatnya dari samping. Ibu rupanya belajar dari khala. Karena tubuh ibu yang lebih pendek dan lebih kurus, ibu sangat kesulitan menjinakkan kain itu. Berkali-kali ia terjatuh saat belajar untuk berjalan. Tentu saja hanya aku dan khala yang tersenyum. Adikku hanya diam sambil memainkan krayonnya dan Ali, aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Ia bahkan tak tersenyum saat kain itu melilit tubuh ibu. Ketika ibu hampir terjungkir di hadapan kami, aku hanya tersenyum tak menolongnya. Aku tak tahu bagaimana menolong ibu.

Saat itu aku hanya tahu kalau ibu yang menolongku. Tak terbersit perempuan hebat seperti ibu membutuhkan pertolonganku. Hidup ibu sepertinya hanya menolong tapi tidak ditolong, apalagi oleh putrinya.

Dan ibu memang tak pernah putus asa. Ibu terus mencobanya hingga sore hampir menjelang. Ibu tersenyum lepas saat ia bisa melakukannya. Berjalan dengan sempurna, tanpa tersandung dan tanpa terlilit chadur. Ia tersenyum, menunjukan dengan bangga yang sudah ia pelajari pada khala dan juga padaku. Ia memutarkan tubuhnya seperti akhir dari sebuah pagelaran balet.

Ibu memeluk tubuh khala dengan penuh keceriaan dan juga kesenangan. Pertama kalinya aku melihat ibuku tertawa lepas dan riang. Merasa ia tak sendiri lagi. Merasa memiliki saudara. Itulah ikatan yang selalu dinantikan ibu.

Ayah baru saja tiba dari kantor membawa barang belanja untuk kebutuhan makan kami. Ibu membantunya, tanpa memeriksa lagi. Ayah punya perhatian untuk ditail-ditail dan aku yakin tak ada satupun dari daftar ibu yang kelupaan.

Kami pun bersiap-siap makan. Khala menggendong adik sambil ibu membereskan belanjaan dan menyiapkan meja makan. Setelah itu. ibu menuntun Ali menuju meja makan. Ia mengambil adik dari khala, lalu mendudukannya, lantas Ali didudukkan di kursi di sampingku. Ali kadang makan malam bersama kami walau khala sering menolak. Dia sebenarnya lebih suka makan di dapur bersama Ali. Tapi jika Ali makan bersama kami, khala Aisya seperti terpaksa juga ikut karena dia tak ingin ibu jadi lebih sibuk membantu Ghazali dan Ali ketimbang menyantap makanannya.

Ibu kembali ke dapur dan aku melihat khala menuju ruang tamu dan membersihkannya. Ayah masih mandi dan aku sedang bosan duduk diam membatu bersama ‘boneka’ manusiaku. Aku turun dari kursi dan khala tersenyum saat ia tahu aku mengikutinya. Dari balik pintu kaca aku memperhatikannya.

Sisi indah dari perempuan Iran adalah sangat menyukai bersih-bersih. Tetap menjaga karpet Persia agar tak kotor atau membersihkan kaca dari bekas-bekas tangan, dan melap debu di permukaan meja, laci, dan kursi. Rumah kami selalu bersih sejak ada khala Aisya. Dia benar-benar teliti dengan yang ia lakukan.

Ibuku memanggil. Aku bergegas kembali ke kursiku. Kulihat sup bawang bombay dengan roti, daging bakar, dan juga pasta tomat. Aku duduk rapi. Kami menunggu khala untuk ikut serta. Khala duduk di samping kiri Ali dan aku di sebelah kanannya. Ghazali duduk di tengah ibu dan khala, sedang ayah diapit oleh ibu dan aku. Begitulah posisi jika khala dan Ali makan bersama kami.

Dan seperti biasa Ali hanya memainkan makanan. Ia tak berniat untuk memakannya. Aku dan khala yang biasanya menyuapinya. Ibu lebih banyak memberi tahu aku cara menyuap yang benar.

Hari-hari di Teheran, membuat aku menerima khala dan Ali sebagai keluarga. Ali seperti menjadi salah seorang adikku, walau kadang aku merasa kagok dengan keberadaannya. Kebisuannya seperti membuat hubungan kami seperti tidak pernah terdefiniskan dengan baik. Seperti duet penari yang tak berespon yang akhirnya hanya menghasilkan sebuah tarian yang tak pernah utuh, juga tak pernah selesai.

Bagaimanapun Ali dan khala pelan-pelan menyerap menjadi bagianku, bersama ayah, ibu dan Ghazali.
Berbulan-bulan di dalam rumah, tibalah hari yang sangat menyenangkan. Kami bagai mahluk yang terbebas dari penjara. Ibu mengendong Ghazali dan menggandengku. Kami akan berbelanja di pasar. Khala dan Ali juga ikut. Saat pintu gerbang terbuka, aku langsung merasakan banyak hal yang menantang di luar sana, sebuah tempat petualangan bagiku dan juga Ali temanku.

Aku memperhatikan semua hal yang ada di sekeliling. Kulihat semuanya. Banyak mobil. Sesekali aku temui seseorang dengan keledai atau orang yang mengenakan topi Alibaba. Dua rumah dari rumahku, aku melihat ada tanah kosong yang digunakan anak-anak laki-laki seusia Ali yang sedang bermain bola.

Salah satu anak itu melihatku. Ia tersenyum melihat kami. Aku juga melihat anak perempuan yang bermain masak-masakan di depan sebuah rumah yang memiliki pintu gerbang yang ukurannya lebih kecil dari rumah kami. Di pojok kampung aku menemukan rumah terbesar dan juga termewah. Setiap ujung halaman ditanami pohon palem, ada juga kurma yang menyumbul diantara pagar tinggi itu.

Kami berjalan menuju jalan raya yang banyak lubang di sana sini. Memasuki gang munggil yang riuh dengan banyak pedagang. Banyak bumbu yang terbungkus dalam karung besar dan banyak sekali lelaki berjanggut yang berwajah garang. Tak jarang kulihat mereka juga memakai pakaian seperti jas. Kios-kios berdesakan di satu tempat dan banyak kios yang tak rapi dan juga tak bersih. Kami harus berjalan hati-hati agar pakaian kami tak ikut kotor.

Kami menuju sebuah toko kue. Ibu membelikan kami kue setengah basah yang banyak karamelnya. Ia juga membelikan es krim untuk aku dan Ali, yang rasanya seperti campuran lemon dan jahe. Aku melihat toko naan untuk pertama kalinya. Dari luar banyak sekali tumpukan naan dan banyak sekali yang mengantri. Khala yang antri untuk kami. Saat itu es krimku sudah habis tapi Ali punya masih banyak. Aku membuka mulutnya dan mengajarinya makan es krim. Ia bahkan lebih bodoh dari adikku yang berusia satu setengah bulan. Ibu tersenyum melihatku mencoba membantu Ali menyantap es krimnya.

Kami semua berbalik menelusuri jalanan yang lebih dalam. Ibu berhenti di toko buku. Ia membelikanku dua tas, banyak pensil, banyak buku tulis, krayon gambar dan juga buku cerita. Ibu juga membelikan hal yang sama untuk Ali. Khala berkali-kali mengucapkan terima kasih namun ibu hanya mendengarnya setengah hati. Bagi ibu, agaknya ucapan terima kasih itu tak perlu lagi karena jika harus selalu mengucapkan terima kasih, mungkin ibu merasa yang harus mengucapkan terimakasih setiap detik.

Pindah ke sebuah tempat baru sejauh puluhan ribu kilometer dari kampung halamannya, dengan kebiasaan baru dan bahasa yang baru, jelas bukan hal yang mudah, untuk seorang perempuan hebat seperti ibu sekali pun. Dan khala Aisya seperti menjadi adik ibu yang membantu untuk menerobos masuk dalam kehidupan baru itu. 

Aku ketakutan hebat ketika aku melihat teriakan wanita yang membanting kentang saat aku berjalan. Ibu menutup telingaku dengan tangannya. Ia tak ingin aku melihatnya. Melihat hal yang tak layak untuk dilihat dan juga didengar. Ada kebiasaan buruk para pedagang Iran. Di sini bukan pembeli yang menjadi raja namun pedagang. Pedagang Iran juga selalu mencampur barang, yang baik dan buruk dalam satu tumpukan. Pembeli dilarang memilih.

Kami menelusuri jalanan yang sama.dan sesampainya di tanah lapang yang banyak anak kecil, ibu berhenti. Ia memanggil semua anak dan mengeluarkan sekantung permen. Akulah yang disuruh ibu membagikannya. Ibu juga memainkan tangan 'boneka' Ali, dengan sabar ia mengajari Ali untuk membagikan permen sedang Ghazali digendong khala. Ibu dengan sabar merangkul tangan Ali dan ia tersenyum.

Hari itulah pertama kalinya aku melihat Ali tersenyum tanpa paksaan dan juga dengan mata yang berbinar. Ia tersenyum pada ibuku. Mungkin itulah rahasia menangani Ali. Kesabaran dan juga tanpa paksaan dengan resep akhir: bumbu ketulusan. Setelah semua anak mendapatkan permen kami berjalan pulang menuju rumah. Anak-anak itu mengucapkan terima kasih padaku.

“Kau senang Ali?” tanya ibu. Ali hanya tersenyum sambil melihat ibu. Aku berharap saat itu Ali akan berbicara denganku.

Setelah sampai di rumah. Aku menaruh semua pemberian ibu di kursi ruang tamu. Aku berlari ke kamar Ali dan aku lemparkan tubuhku di ranjang. Ali sedang duduk di ujung ranjang, diam melihat halaman, bukan melihat aku. Ia melihat ayunan itu dan aku melihat Ali.

“Ali, aku iri pada ibu. Kenapa kau bisa tersenyum pada ibuku dan kau hanya diam saat bersamaku.”
Dia hanya diam dan aku semakin jengkel. Aku dorong tubuhnya dan ia terjatuh.

“Kau keterlaluan Ali. Kau jahat…” aku bangkit, membanting pintu kamar, dan berlari ke luar. Aku berlari menuju kamarku dan mengubur diriku di balik selimut tebal. Aku jengkel, kecewa, marah, terhina, sedih. juga malu, dan menyesal Semua rasa bercampur baur.

Selama hampir dua hari aku menghindar dari Ali. Aku hanya menyibukkan diri dengan buku bacaan yang dibeli ibu. Aku sudah tak mau lagi menyapa Ali, walau di balik kemarahan dan kesedihanku, tetap saja ada pemahaman bahwa Ali tetap boneka tanpa mimik dan juga tanpa hati. Mana ia mengerti apa yang aku mau. Ia tak akan pernah menanggapi keberadaanku. Menangis pun aku, ia tak akan datang, apalagi menghapus air mataku.

Ibu membuka pintu kamarku. Ia duduk di samping dan tak bertanya apapun. Ia tetap diam dan melihatku sambil merapikan rambutku. Saat ibu menyisir rambut, kulihat Ali berjalan sepintas. Ia menuruni tangga dan aku tak tahu lagi di mana ia berada. Dia suka naik ke tangan dan menelusuri koridor di lantai dua, mengintip kamar yang terbuka tapi tak pernah masuk kecuali dipannggil oleh ibu, atau kutarik paksa.

Tak lama kemudian setelah ibu ke luar kamar, aku memandangi halaman yang banyak sekali pohon yang sedang tumbuh.

Tiba-tiba sebuah keajaiban datang. Ali menaiki ayunan, ia mengayunkannya dan hatiku langsung luluh. Aku berlari turun dari kamar, ke arah taman dan mendekati bocah mungil yang terus saja memainkan emosiku.

Ia berbalik melihatku. Dengan tatapan matanya saja aku tahu kalau ia sangat senang. Aku menarik tali ayunan dan aku dengar nada senyumnya. Aku mendengar nada itu dan aku sangat senang sekali.

"Kau tahu Ali...Aku sangat menyukainya, akhirnya kau tersenyum  padaku.”

Aku mengayunkan lagi ayunan itu dan Ali tersenyum melihatku.

“Ali kau suka…ayunan ini? Sudah aku duga. Aku sempat marah padamu karena kau tak memperdulikanku.”
Aku mengayunkan lagi: “Ali besok kita akan pergi ke tanah lapang itu. Kita akan punya banyak teman di sana.”
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000