sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 241, 24 april 2014

Tulisan lain

Teheran Dalam Stoples 6 - Aminatul Faizah

Risjwijk 17 - Taufiq Ismail

Surat Buat Pa Said - Ajip Rosidi

Saya, 'Rajanya' Arsenal 1 - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 5 - Aminatul Faizah

Depan Sekretariat Negara - Taufiq Ismail

Benteng - Taufiq Ismail

The Act of Killing untuk Citra Indonesia - Anonim (Kru Indonesia untuk film Jagal)

Teheran Dalam Stoples 4 - Aminatul Faizah

Tekad - Mansur Samin

Demonstran - Wahid Situmeang

Jenis-jenis Natal di London - Liston P Siregar

Inggris

memoar Saya 'Rajanya' Arsenal 2
Liston P Siregar

Karena terlalu bersemangat, saya tiba terlalu cepat di satu pagi akhir Februari di pintu masuk tur Stadion Arsenal. Masih ada sekitar 40 menit. Meja penerima tamu agak ramai karena ada tur perorangan dengan mesin pencerita untuk pengunjung yang bayar di tempat dengan mengikuti jalur yang sudah disiapkan.

Giliran saya: disambut senyum ramah. Diperiksa nama dan: “Anda bisa ke museum dulu dan nanti ke sini lagi sekitar lima menit sebelum tur,” tutur penerima tamu sambil menjelaskan arah menuju museum. Dia menambahkan waktu sekitar 30 menit cukup untuk menikmati museum.

Sebelum beranjak diambilnya satu buklet Arsenal, yang diiklankannya dengan riang dan sopan. Dibukanya beberapa halaman dengan tata letak dan foto yang bagus. Tergoda sebentar tapi harganya tidak terjangkau kantung. “Maaf nanti saya pikir dulu,” sedikit tak enak setelah dilayani dengan ramah oleh sebuah klub sepak bola kelas dunia.  Di benak saya, lebih baik bayar tiket untuk museum.

Ternyata tidak perlu membayar tiket masuk museum jika ikut Tur Legenda, yang akan dipandu dengan pensiunan bintang Arsenal. Satpam penerima tamu di pintu museum juga ramah. Agak kesulitan mengingat-ingat satpam yang ramah di London. Di kantor ada beberapa tapi karena sudah saling rutin melihat maupun satu dua yang saling kenal. Pengalaman umum saya –imigran berkulit coklat- di London- satpam itu kalau tidak dingin ya sok galak.

Di Arsenal tidak. Tersenyum mendekat tanpa gaya agresif dan menyambut ‘good morning sir’ .  Melihat tiket Tur Legenda dan langsung mundur selangkah, ‘please sir.”

Sambil menikmati video tentang sejarah Arsenal, proses pembangunan Stadion Emirates, bio singkat para bintang, tayangan gol-gol Arsenal di beberapa pertandingan penting, maupun foto-foto dan kuis, saya sekaligus tersadarkan pada yang disebut sebagai bisnis sepak bola skala global.

Kami, jutaan pendukung Arsenal, adalah sumber pemasukan penting bagi klub. Memang bisa terpleset untuk merasa jadi Raja Arsena -seperti yang sempat saya alami- karena begitulah cara bisnis bekerja menggaet konsumen.
***

Charlie George yang menjadi legenda pemandu untuk tur hari itu. Saya baru meng-Google dia ketika namanya tertulis di email konfirmasi booking. Disebut-sebut sebagai anak Arsenal tulen, dia lahir di Islington -kawasan sekitar stadion Highbury Arsenal yang lama- menonton pertandingan sebagai pendukung yang masih ingusan dan akhirnya menjadi salah seorang pemain utama Arsenal.  Poster besarnya, masih dengan rambut gondrong ala 1970-an, dipajang di salah satu sisi dinding Stadion Emirates.

Kami ‘yang merasa jadi Raja Arsenal’ -sekitar 40-an orang berjalan mengikut Charlie. Di titik-titik tertentu rombongan berhenti untuk berdiri atau duduk di sekelilingnya mendengar ceritanya, tentang pembangunan stadion ketika duduk di kursi penonton  –di bagian utama yang saya yakin tidak akan pernah bisa saya beli tiketnya- atau tentang Wenger yang mengubah makanan pemain Arsenal –yang sehat dan bergizi- ketika di dekat tempat manajer dan pemain cadangan di pinggir lapangan.

Sambil jalan atau ketika bercerita, Charlie melepas canda yang saya tidak mengerti tapi banyak yang tertawa. Waktu minta berfoto bersamanya, dia bertanya ‘dari mana?’ Indonesia. Disambarnya, “ya memang saya duga Indonesia,” yang maksudnya untuk bercanda dan menghangatkan suasana.  Saya tanya tahukah dia Indonesia, ‘ya tahu. Arsenal sudah ke sana.’

Rombongan para raja juga mengintip ruang eksekutif. Nyaman dan mewah, ada barnya dan juga pesawat TV. Biaya menjadi anggota, jelas Charlie, £80.000 per tahun atau sekitar Rp.1,5 miliar dan harus bersabar di daftar tunggu untuk musim mendatang. Sedikit terperanjat: Rp1,5 miliar untuk menonton sekitar 30 pertandingan kandang –dengan asumsi Piala FA, Piala Liga, dan masuk Liga Champions.

Tapi sebenarnhya lebih banyak tertanya-tanya, bayar mahal untuk duduk agak jauh di atas, dan buat apa pula TV di sana.

Ketika belakangan saya berctita tentang tur ini ke seorang teman kantor, dia malah pernah diundang ke pesta ulang tahun teman sekolahnya di salah satu ruang eksekutif . Dia bukan pendukung Arsenal dan nonton sepak bola sekedarnya. “Hanya beberapa menit nonton bola, setelah itu ngobrol dan minum champagne,” katanya.

Titik tur lain adalah ke ruang ganti. Di sini Charlie tak bercerita apa pun: “Silahkan berfoto.” Di setiap rak ada kaus yang digantung dengan seragam masing-masing pemain. Cukup lama kami di sana karena antrian untuk berfoto di bintang masing-masing.

Saya pertama kali memilih di depan kaus Laurent Koscielny, bek yang tidak terkenal tapi pekerja keras –dan menurut sok tahu saya- makin bagus mainnya walau tetap belum bek kelas dunia. Puncak tur, rasanya, adalah duduk di ruang wartawan, tanya jawab 30 menitan dengan Charlie George. Macam-macam dan orang berlomba-lomnba bertanya.

Apakah menurutnya Arsenal Wenger perlu dipertahankan - ‘ya’- atau bagaimana menurutnya Manchester United di bawah David Moyes –‘saya kira masa yang sulit dan mungkin Ferguson yang pintar untuk mundur ketika dia merasa sudah cukup berat’- dan kenapa dia ke luar dari Arsenal –‘saya bertengkar dengan manajer Bertie Mee yang meminta supaya saya memotong janggut baru akan diturunkan lagi’.

Saya tidak tahu mau bertanya apa. Dua jam lebih berkeliling sudah cukup rasanya untuk menguatkan kembali ikatan ke Arsenal.

Bagi pendukung kelas pemula seperti saya, perlu sesekali menegaskan pilihan, yang sebenarnya tak punya ikatan kuat. Apalagi untuk klub yang kering gelar juara dalam banyak tahun
belakangan.
***

Di ujung jalur tur adalah toko Arsenal.

Dua tahun lalu, waktu nonton satu pertandingan Piala Liga yang tidak penting, satu-satunya laga Arsenal yang pernah saya tonton karena ada diskon lewat koran gratis Evening Standard dan banyak kursi kosong karena pas liburan sekolah, saya beli satu kaus Arsenal. Kali ini cuma tengok-tengok, kata orang Medan.

Tur selesai berarti balik ke dunia nyata. Menjadi Raja Arsenal berat bukan hal murah. Kelas saya cukuplah sekedar teriak di depan TV, sedang sumbangan uang  biarlah ke pub murah meriah di ujung jalan dekat rumah –satu gelas bir untuk satu babak. Langganan TV berbayar di rumah supaya bisa nonton Liga Primer saja rasanya belum pas.

Seorang teman di kampung tempat tinggal saya mendukung Charlton –yang musim ini main di Liga Championship -satu tingkat eringkat di bawah Liga Pimer- walau sedang terancam relegasi. Dia anggota Charlton dan sesekali mendapat tiket diskon £5 untuk kawan-kawan anggota. Sudah belasan kali saya nonton Charlton dan pernah tergoda beralih ke klub lokal yang lebih terjangkau.

Cuma susah juga rasanya, apalagi ketika Arsenal punya peluang merebut Piala FA dan untuk sementara menang melawan Everton untuk merebut peringkat empat, yang menjamin lolos ke Liga Champion, satu-satunya ‘prestasi Arsenal dalam delapan tahun belakangan.

Biarlah tetap jadi rakyat Arsenal.
***
baca Saya 'Rajanya' Arsenal 1

ceritanet©listonpsiregar2000