sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 240, 22 maret 2014

Tulisan lain

Saya, 'Rajanya' Arsenal - Liston P Siregar

Depan Sekretariat Negara - Taufiq Ismail

Benteng - Taufiq Ismail

The Act of Killing untuk Citra Indonesia - Anonim (Kru Indonesia untuk film Jagal)

Teheran Dalam Stoples 4 - Aminatul Faizah

Tekad - Mansur Samin

Demonstran - Wahid Situmeang

Jenis-jenis Natal di London - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 3 - Aminatul Faizah

Catatan Harian Seorang Demonstran - Slamet Kirnanto

Sebuah Jaket Berlumur Darah - Taufiq Ismail

Teheran Dalam Stoples 2 - Aminatul Faizah

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya - W.S. Rendra

Foto

novel Teheran Dalam Stoples 5
Aminatul Faizah

4. Aprikot
Di musim panas, saat buah aprikot matang. Khala berkali-kali mengambilnya dan membuat manisan untuk kami. Ia juga membuatkan kami sari buah yang sangat enak. Saat mengambil beberapa buah dan membantunya, seseorang datang bertamu. Aku mengikuti khala yang membuka pintu gerbang.
Seorang pria tua yang berpakaian rapi, tersenyum. Dia menunggu di teras dan begitu ayah ke luar melihatnya, langsung merangkulnya. Lalu ayah menunjuk aku yang berdiri di belakanga ayah. Lelaki tua itu menoleh padaku. Kukira itulah wajah kakek yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

“Tuan…Bagaimana kabar tuan.”

Kata tuan membuat hatiku menciut. Dia bukan kakekku. Aku murung dan sebuah rangkulan hangat datang dari khala. Ia menggendongku dan membawaku ke dapur. Dia menaruhku di kursi dapur dan membiarkan aku memandang punggung ibu yang sedang menyiapkan sesuatu. Ia membalikan badan dan mengambilkan satu mug porselen putih susu hangat untukku. Ibu membawa sebuah teko, dua cangkir dan satu toples kacang almont manis.

Aku menangkat kedua tangan ke daguku, membayangkan bagaimana wajah kakek dan juga nenek. Aku iri dengan dongeng yang aku baca karena setiap anak akan menghabiskan masa liburan musim panas sambil berlarian dengan pria tua dan memainkan rambut putihnya. Aku sungguh iri dengan anak-anak itu. Aku sangat ingin menyentuh kerut muka mereka, merasakan keriput tangan mereka dan ingin mengetahui semuanya: semua cerita masa kecilnya sampai bagaimana mereka bisa menikah, punya anak, dan punya cucu.

Aku tak menyentuh susu hangat itu sedikitpun. Aku tak tertarik dengan semua yang ada dihadapanku. Semuanya terasa hampa dan juga hambar.

“Ada apa Leila ?’’ tanya khala sambil memotong aprikot dan membaginya denganku. Ia memakan buah itu dan sambil membersihkan buah lainnya dari biji dan kulitnya.
“Di mana kakek Ali?”
“Kakek Ali pemilik pekerbunan di daerah Rasht, daerah pertanian yang sangat indah.”
“Kapan kalian mengunjunginya?”
“Saat hari raya atau perayaan hari besar lainnya, tapi sayangnya sekarang hanya hari raya saja karena ongkosnya sangat mahal.”

Aku berdiam diri. Menatap yang dilakukannya. Ia mengupas kulit aprikot satu per satu, mencucinya, menaruhnya di atas serbet dan menunggunya sampai kering. Kemudian dia memanaskan kotak-kotak kecil gula dan memasukan buah itu, menunggunya hingga dingin sebelum menaruhnya ke dalam toples. Aku tak tahu apakah aku dapat melakukan yang ia lakukan saat aku dewasa. Mungkin jika ada buah apricot, aku akan melakukan sesuatu. Jika tidak, aku tak akan melakukan apapun. Hanya aprikot yang saat itu melekat di benakku.

Pria tua yang memakai jas hitam itu sangat akrab dengan ibu dan juga ayah. Ia berkali-kali melempar senyuman yang indah padaku saat aku meliriknya. Matanya indah dengan alis hitam yang memudar. Tubuhnya tegak dan sedikit jangkung. Tak memiliki kumis namun tetap berkharisma.

Ibu kemudian menuntunku, memangku tubuhku dan membelai rambut sebahuku. Dia mengajakku tenggelam dalam dimensi yang aku rindukan. Kehadiran orang lain dalam keluarga dan kehadiran kakek yang tak pernah hadir dalam hidupku. Ibu memanggilnya dengan panggilan mullah.

Jika dilihat sekilas dari penampilannya,  ia lebih pantas bekerja di kantor, bukan berkelut dengan ilmu agama. Dia memiliki senyuman yang menawan hati. Senyuman dengan mata yang berbinar. Aku sangat menyukai pria ini. sangat…dan sangat. Sosok ideal yang cocok untuk menjadi kakekku.

“Sayang…dia adalah mullah Ali Ahmadi Abis Khan,” tutur ibu sambil merangkul tubuhku dengan kedua tangannya. Ia tahu apa yang ada di pikiranku dengan jelas.
“Dia siapa Bu?’’
“Dia guru ngaji ayahmu.’’

Ya, dia bukan kakek dan aku langsung melepas tangan ibu, berlari ke belekang mencari Ali. Saat itu Ali sedang bermain dengan kedua tangannya. Ia membuat bayangan dengan kedua tangannya. Kali ini bayangan kobra yang ia hasilkan. Cahaya yang ada di balik tirai musim panas menjadi latarnya. Ia  melihat aku masuk. Aku menyilakan kedua kaki dan mengikuti yang ia lakukan. Andai aku tahu yang ada dipikirannya sama seperti ibu tahu dengan pikiranku, mungkin akan menyenangkan. Aku akan tahu yang ia mau dan aku akan bisa menjalin hubungan yang tak saling menyakitkan.

Aku, membuka tirai putih dan melihat ke arah taman. Tak lama kemudian, ibu dan ayah, yang menggendong Ghazali, mengantarkan mullah ke luar rumah. Ayah sempat melihat kepalaku yang muncul dia ntara tirai putih.

Aku menutup tirai lagi dan melihat Ali memainkan sesuatu yang hanya ia sendiri yang mengerti. Dia terlihat cocok mengenakan baju koko kuning yang dibelikan ayah dua hari yang lalu. Aku sepertinya pernah melihat dia di buku-buku yang pernah kubaca. Apakah mereka seua juga aneh seperti Ali? Aku sangat ingin mendengar suara Ali. Hanya satu huruf saja mungkin akan menyenangkan, melegakan hati dan membuatku tahu kalau temanku bukanlah boneka.

“Ali kapan kau akan bicara?”

Ia diam. Aku tahu kalau ia akan diam dan tak mengubris diriku, apalagi kalimat yang akan aku keluarkan. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, walau tidak selalu terbiasa dengan kekecewaanku. Aku juga sangat ingin melihat Ali tersenyum. Sangat….

“Ali, jika kau tak bicara maka kau tak akan bisa sekolah. Aku akan sekolah ketika musim dingin selesai. Aku akan belajar di sana. Ayah bilang itu tempat sangat menyenangkan. Kita akan bertemu banyak teman, bermain bersama dan akan banyak mainan. Ayah juga bilang kalau kita akan belajar banyak. Ada guru dan juga banyak hal baru. Kau akan sekolah, jika kau mau bicara.”

Ali tetap diam

“Ali jika kau tak sekolah kau tak akan pandai. Kau akan bodoh dan Nabi kita benci orang bodoh.”
Aku berdiri, memainkan kedua tanganku dan membaringkan tubuhku di ranjangnya. Ranjang yang ia tiduri. Ruang kosong yang ada di sampingnya adalah untuk ibunya. Kamar di dekat garasa itu dulunya tak layak untuk dikatakan sebagai ruangan. Namun karena kerja keras ibunya, kini menjadi sangat bersih. Aku membaringkan tubuhku, melihat Ali yang memainkan tangannya. Kali ini membentuk bayangan yang sama dengan ayunan. Aku terbangun seolah mendapati ilham. Aku berlari, menuju ayah yang sedang membaca koran.

“Ayah…Aku mau ayunan.”
Mata ayah terperanjak. Ia menelanjangi tubuhku yang penuh hasrat akan ayunan. Lalu ia tersenyum.
“Tentu. Ayah akan buatkan untukmu.”

Ia bangun dan berjalan menuju gudang di ujung halaman. Mengambil yang dibutuhkan. Hingga malam jatuh aku mendengar ayah terus bekerja. Bunyi gergaji dan juga palu silih berganti. Kadang aku juga mendengar canda tawa ibu yang menemani ayah. Aku mengintip mereka dari tirai kamarku di lantai atas. Aku juga langsung berlari menuju kamar samping saat mendengar bunyi tangisan dari Ghazali. Aku menenangkannya, tak mau pekerjaan ayah dan candanya dengan ibu terganggu.

Dengan hanya melihatku, Ghazali tersenyum. Senyuman yang indah dan juga mata yang sama dengan milik ibu. Adikku suatu hari nanti akan menjadi pemuda yang tampan. Pemuda yang akan jadi rebutan banyak wanita. Aku melihatnya dengan seksama. Melihat adikku dengan penuh hati dan juga rasa. Aku elus rambutnya dan ia tersenyum. Hanya butuh beberapa menit ia sudah tertidur. Terlelap dalam batin yang sangat jauh. Batin yang pemikirannya sangat sederhana. Penuh kepolosan dan juga penuh harapan. Wajah yang hampir sama dengan wajah Ali saat tertidur.

Malam itu aku tertidur dengan alunan suara gergaji serta palu ayah yang bergerak pelan-pelan menyelusup ke mimpiku. Aku mendorong Ali di ayunan dan dia bersorak-sorai girang. “Lagi, lagi,” teriaknya. Suaranya bergemuruh  seperti guntur dan aku malah sedikit ketakutan. “Ya Ali, tapi kamu tidak usah harus berteriak. Sudah malam semua orang sudah tidur.” Tapi Ali terus berteriak “lagi, lagi., lagi, lagi….” Sehingga aku harus terus mendorong.

Esok paginya aku berlari ke luar halaman. Kulihat dua ayunan kayu. Aku melirik pada ayah yang sedang memegang cangkir kopi di dekat pintu yang menuju ke halaman, menatap puas ke ayunan buatannya. Dia sudah mengenakan pakaian rapi untuk berangkat kerja, dan menyandarkan bahunya di dinding.

Ayah tampak santai dan sama sekali tidak terkesan lelah setelah semalaman bekerja membuat ayunan.

Aku tersenyum riang dan langsung menaiki ayunan itu. Mengayunkannya dua kali dan melihat ayunan satunya yang tetap diam. Aku berdiri, mendekati ayah dan merangkul tangannya. Hanya telapak tangannya yang mampu kujangkau. Ia tersenyum, jongkok dan merangkulku penuh kasih sayang.

“Kau suka sayang?”
“Iya,” balasku dengan menatap dan tanpa berpikir.
“Satunya untuk siapa ayah?”
“Untuk...Ali tentunya. Bukankah Ghazali masih terlalu kecil. Mainlah, ayah harus berangkat kerja”

Mendengarnya aku sangat senang. Aku teringat mimpiku, mungkin ayunan ini yang akan membuat Ali berbicara. Biarlah dia berteriak seperti guntur, asal dia bersuara walau cuma meminta.

Kuikut ayah hingga ke pintu depan dan kulepas rangkulannya. Aku langsung berlari ke belakang, membuka pintu yang belum terbuka pagi itu. Aku tarik tangan Ali, aku ajak ia berlari menuju menuju taman. Menuju dua ayunan yang terpasang di pohon aprikot tua. Aku mendudukannya dan mengarahkan tangannya untuk memegang tali ayunan. Lalu kudorong dia perlahan-lahan, dan aku berlari ke arah depan untuk melihat wajahnya yang riang tapi dia malah ketakutan. Matanya tertutup rapat-rapat. Dia tak bahagia dengan yang kuberikan. Matanya takut untuk terbuka.

Aku hentikan, aku hentikan tapi ayunan masih mengayun kecil. Aku memegang talinya. Kuhentikan ayunan dan ia memeluk tubuhku. Tanpa suara dan juga tanpa nada. Dia tak sanggup mengatakan yang ia mau. Mulut yang tertutup rapat dan juga mata yang tertutup rapat. Dia memelukku dengan erat, hanya itu dan aku merasakan kalau ia sedang amat ketakutan.

“Ali…..” aku melepaskan ikatan tangannya. Kuangkat wajahnya dengan kedua tanganku. Kupandangi wajah yang tanpa rona dan juga mimik itu. Dia melihatku, dia terpaksa menatapku. Mata biru kecokelatan lebar yang indah namun tak bercahaya.
“Ali… aku minta maaf. Jika kau ketakutan. Aku hanya ingin kau senang. Ali. Ayah membuatkan ini semalam. Tidakkah kau ingin berterima kasih padanya. Ayah ingin kau mengayunkannya. Bermain seperti anak yang lainnya. Tersenyumlah Ali.”

Aku melepas tangan kananku. Aku tarik ujung bibirnya dan aku buat senyuman palsu. Aku lepas kedua tanganku dan ia kembali tanpa mimik lagi.

Diam dan kembali menjadi boneka lagi.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000