ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 23, Rabu 26 September 2001
___________________________________________________

sajak Memento Mori
Sitok Srengenge


Pada parasmu yang pucat
        kubaca gurat isyarat:
cambuk angin
 musim dingin,
           perusuh yang kembali
dengan sisa dengki laskar Stasi

    Cahaya terkubur di kota yang tidur,
anak-anak dan perempuan dari Timur
mimpi sekerat roti dan seteguk anggur

Sungguh, kausuguhkan padaku
                            malam itu:
      letus tulang di tungku krematorium
dan kuntum-kuntum gandum yang alum

 Selebihnya selingkup selimut,
selembut dan selembab kabut
 digetar guruh yang meronta
jauh di relung hutan cemara

      Dan kita pun tiarap,
dan napas pun tersekap
   Kamar jadi sesunyi ruang kremasi
lenguh luluh terpanggang api birahi

                                     Di balik matamu yang terpejam,

seorang perempuan membakar Mein Kampf diam-diam
Kata-kata perkasa Si Fuhrer itu lantak ke dalam sekam,
       seperti bara tubuhmu yang gemeretak dan padam
          Sejarah, remah, gairah, kembali susut ke tanah,
tempat awal dan akhir langkah bertaut di satu noktah

"Bahkan kau yang berjalan dengan khayal
       kelak istirah di sebuah negeri oriental:
         sejenak jiwa
di sejengkal Jawa.
  Tapi sukmaku akan senantiasa mengembara
mencari tanah yang dijanjikan, entah di mana."

Selapang yang kaubayangkan, ribuan mil,
             terbentang antara Eifrat dan Nil
Tapi kaummu merebut,
  tapi kaulmu terenggut

                       Burung-burung
lintas di remang bayang gedung,
tapi kaulihat diri sendiri, gamang di kegelapan
                 bicara dalam bahasa orang Selatan

Langit bagai telungkup nyiru
dengan geletar cahaya zohal
      "Aku ingin kembali, Ibu.
Anakmu masih bocah nakal."
1997


DI HAMBURG SEPI MENGHAMBUR

Kecuali kelam cuma angin compang-camping,
           seusai sepi merajamkan sejuta taring
  Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,
bayang-bayang maut dari ghetto masa silam

Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,
lidahnya menjilati patung-patung di taman
             Udara menggelepar, menanggung gaung,
                 menebar bau rawan peraduan

  Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,
sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi

Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar danau itu,
       tapi masih tersisa isyarat yang mengeruhkan kalbu:
di lorong-lorong Metro, ketika rinding riuh kehilangan echo,
             lolong sengau dan kerling menjauh bagi kulit sawo

Sepi meringkuk berselimut kabut tebal
                   di pucuk menara katedral,
dengkur lembut yang ngalir dari alam bawah sadarnya
           melantunkan Talmud dan mimpinya sinagoga

       Riap tunas kembang menyingkap jangat bumi:
ada yang sedang berdandan, barangkali musim semi

                     Busut-busut salju mulai memuai,
bagai lisut seprai. Rambut angin kusut masai
           Yang berlanjut cuma kelam,
merajut kelamin ke kelambu malam

      Nafsu yang menggerakkan waktu,
nafas yang menafikan belenggu beku
Tubuh yang melimbak,
butuh yang meliur
         Ke dalam sajak
sepi menghambur
1997

SYAIR MUSAFIR

             Serapuh manekin, seteguh fountain,
kausepuh bara birahi tanpa acuh pada dingin

Menara gereja menjulangkan syahwat,         
                        St. Pauli lewat

Tak ada natal putih,                     
hanya reranting merintih                           

         Salju seakan mangkir,
tanah penuh bangkai daun              
Tapi akan hadir seorang musafir,               
kau menanti di ujung tahun                      

                                  Datang ia dengan kuntum selasih
      di ranjang menyala kaukenalkan dirimu Kekasih 

Di balik pintu maut menunggu                   
dengan sepasang kuda waktu                
Dalam tubuhmu: kabus mani                     
menembus Getsemani                   
1997

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000