ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 23, Rabu 26 September 2001
___________________________________________________

novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo
Tiga, Mendarat di Heathrow

Roda pesawat menghantam landasan, membal sedikit, lalu terasa segala daya mesin-mesin Boeing raksasa bekerja menahan laju. Beberapa detik kemudian, jelaslah sudah bagi semua penumpang; pendaratan selamat. Terasa kelegaan menghalau ketegangan yang menggumpal di seluruh kabin pesawat selama pendaratan. Terdengar beberapa orang melepas sabuk pengaman, meski lampu pertanda belum membolehkan.

Elaine, melepaskan kecemasan, merangkul dan mencium suaminya; "Kita sampai, Jagger, ini London, Heathrow." Pesawat mereka bergerak perlahan kini, merapat pada lorong embarkasi. Lampu tanda wajib pakai sabuk pengaman padam, dan suara pilot tak jelas mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal melalui sistem suara kabin. Orang-orang mulai berdiri, sibuk membuka pintu-pintu rak penyimpanan bagasi tangan yang berada di atas kepala mereka masing-masing. Sanca belum juga terbangun. "Look, Sanca still sleeping!" kata Jagger, kagum atas kelelapan anaknya.

Elaine hampir-hampir tak merasa lagi kejanggalan bahasa Inggris suaminya, karena memang selalu begitu bahasa Inggrisnya: dapat dimengerti tetapi tak sempurna. Pernah dia dengar bahwa ada orang yang berbakat belajar bahasa asing, ada yang rasanya nggak mungkin bisa. Kadang dia berpikir bahwa Jagger rupanya tergolong jenis yang kedua. Padahal ia pandai menulis di dalam Bahasa Indonesia dan pernah menjadi wartawan. Telah lama Elaine mengharapkan bahasa Inggris Jagger bertambah baik, namun selama ini, seolah tak pernah ada kemajuan. Mungkin dengan tinggal di London selama beberapa tahun, Jagger akan lebih menguasai bahasa Ingrris.

Sanca tidak pula bangun ketika Elaine membopongnya, diikuti Jagger yang membawa tas bayi dan bawaan tangan mereka yang lain, mereka memasuki lorong yang membawa ke sebuah ruangan besar yang penuh dengan orang-orang yang antri untuk pemeriksaan paspor pada sekitar sepuluh loket imigrasi. Bagi yang memegang paspor Inggris, tak perlu antri, mereka boleh langsung pergi ke lokasi karusel bagasi. Tetapi Elaine tak punya pikiran meninggalkan suaminya sendirian dalam antrian. Keluarga Jawa-Inggris itupun dengan sendirinya ikut menempatkan diri di dalam antrian. Elaine mengambil prakarsa dan memilih barisan yang terpendek, dengan sekitar duabelas orang berada di depan.

Barisan antri itu belum bergerak sedikitpun ketika Sanca terbangun mendadak bagai tersentak mimpi buruk. Bayi itupun menangis. Elaine berusaha menghibur, namun tangis Sanca makin keras saja. Ibunya sebenarnya tahu, Sanca cuma minta popoknya diganti. Tapi mau bagaimana? Orang tua lagi sibuk antri, dan di sekitar lokasi yang telah diperiksanya, tak ada tempat penggantian popok bayi. "Eh, Jagger, masih ada tidak, popok bersih di dalam tas bayi?"

Seorang perempuan berseragam dan membawa HT menghampiri mereka, dan berkata bahwa karena mereka membawa bayi yang letih, maka mereka dipersilahkan melompati panjangnya antrean dan langsung menghadap loket imigrasi. "Bokis juga, lu, Sanca ! Nangis supaya dilayani lebih cepat. Dasar anak gua!" kata Jagger dalam hati.

Petugas imigrasi yang memeriksa mereka, seorang pemuda dengan wajah penuh tindik, ternyata sangat ramah. Dia membuat sejurus muka-muka lucu untuk menghibur Sanca, dan melihat sampul passport Elaine. Begitu petugas itu berbicara, taulah Elaine dari logatnya yang menghilangkan lafal-lafal huruf t dalam pengucapannya, bahwa dia penduduk London asli, wilayah yang masih terjangkau oleh suara dentang lonceng gereja Bow yang tua di London bagian Timur.
"Oh, you've go' a British passport, love, you don't need to come ere!"
"Wah," pikir Jagger, "ngomongnya cepet banget, mana logatnya susah lagi! Gue nggak ngerti nih! Dan tato babi terbang di lengannya, gile amat!. Mukanya penuh logam begitu! Tindikan di bibir, hidung, alis, kuping dan pipi! Pasti die paling takut sama magnit!" Jagger tersenyum sendiri oleh lelucon batinnya.

"I know," jawab Elaine, "But I am with my husband and baby and they have Indonesian passports."
"Indonesian ay? Gissa look ov yir passport then, mate!" Petugas itu menyodorkan tangannya meminta sesuatu, maka mendengar kata passport, Jagger pun menyodorkan passpornya.
"Ain't many of you people been through my gate, mate. You ain't go' drugs or guns on ya ave ya mate?" Petugas itu berbicara sambil memeriksa paspor Jagger, dan meskipun Jagger berkonsentrasi menatap gerak mulutnya dan menangkap bunyi bahasanya, dia cuma menebak bahwa dia mengerti betul kata drugs. Maka diapun menjawab;"No. No drug. No drug." Jawab Jagger dengan logat Inggris medhok Jogja.
"This yir first time in the UK then?" Tanya petugas yang kesulitan menangkap perkataan Jagger.
"No. No. Never. Today, I first in UK!" Jawab Jagger, salah paham lagi.
"That's awri' mate! Step over ere and follow that lady and she will give you some checks." Dia menunjuk kepada seorang perempuan tinggi besar berwajah masam, namun Jagger kurang tahu apa maunya.
Elaine segera menengahi dengan protes kecil;"Excuse me! He is my husband and he has a valid visa! What is this all about? Can't you see we have a tired baby here?"
Pemuda bertato babi bersayap itu tidak tergoyah oleh protes Elaine, tetap saja dia berbicara dengan nada riang:" Just routine checks, darling, he'll be back with you soon."

Perempuan yang tingi besar itu memanggil dengan suara jantan yang keras:"Over here, please!"Jagger agak bingung, memandang istrinya untuk minta penjelasan. Elaine berkata:"Ya, kamu harus ikut orang itu untuk diperiksa sebentar." Jagger menoleh kepada perempuan raksasa itu, menunjuk kepada dirinya sendiri dan bertanya:"Me?"

"I haven't been speaking to anyone else, have I ? Come hurry now, we haven't got all day!" Suaranya yang jantan dan roman mukanya yang galak membuat Jagger rada keder juga. Perempuan itu membuka sebuah pintu di belakangnya, dan mengisyaratkan agar Jagger masuk. Jagger memandang kepada istrinya, meminta pertimbangan, dan Elaine-pun menganggukkan kepalanya.

Masuklah Jagger mengikuti petugas angker yang segera menutup pintu itu. Ternyata di dalam merupakan semacam ruangan klinik, lengkap dengan meja, kursi, ranjang periksa dan alat rontgen yang besar. "Let me see your passport, please." Perempuan itu berkata dengan formal.Jagger memberikan passpornya dalam keadaan terbuka pada halaman foto. Petugas itu dengan resmi memeriksa lembar demi lembar passpor Jagger namun hanya menemukan satu visa ke Inggris. Paspor itu masih baru dan baru sekali ini dipakai. Lalu dia mencocokkan foto paspor itu dengan wajah Jagger yang asli. Ketika membaca namanya, petugas yang angkuh itu mengernyitkan dahi:

"So your name is Jagger?"
"Yes." Jawab yang empunya nama.
"Only one name? Is this your given name or your surname?"
"Only one name." Jawab Jagger.
"Very strange, and a good old English name as well."
"No," kata Jagger, "Indonesian name."
"Do all Indonesians have one name?"
"No"

Sehembus pikiran iseng membersit benaknya. Dia ingin mencairkan suasana dengan sedikit bercanda:

"Some Indonesian very long names, but many, only one. Like Adam, one name. Moses, one name. Jesus, one name. And me, one name too!"

Jagger mengakhiri penjelasannya dengan senyum dikulum siap tertawa, namun perempuan itu memasang muka bengis.

"Are you on drugs?"
"No! No drugs!"

Perempuan itu menelitinya selama beberapa saat, kemudian dia berdiri dan melakukan sesuatu pada mesin rotgennya:

"Take all your clothes off, please!" Ha? Pikir Jagger, dia mau aku telanjang? Merasa tak berhak menolak, Jagger melepas jaketnya, kebanggaannya, terbuat dari kulit dan dilengkapi dengan sulaman atribut Harley Davidson, lalu melepas pula kemeja Levi's nya dan akhirnya melepas kaos oblongnya. Berdirilah dia di hadapan petugas yang makin mirip algojo itu, hanya mengenakan boot biker dan celana kulit-nya yang tua. Perempuan besar itu selesai menyiapkan mesin rotgennya, dan melihat bahwa Jagger sudah bertelanjang dada. Namun dia masih tak puas:

"I said take all your clothes off, please!"
"Ha? All?" kata Jagger, ragu.
"That's what I said! All off! You haven't got anything I haven't seen before!"

Maka, dengan terpaksa, Jagger menanggalkan semua pakaiannya hingga bugil. Perempuan itupun menuntunnya untuk berdiri di depan mesin rontgen yang berdesir-desir suaranya.

"Now, just keep still there for one minute!" perintahnya. Lalu dengan nada agak lebih rendah:

"All right! You have not got TB. And a good hampton you got there too. Now I want you to lie on the bed and we will do an other test.

Jagger menurut dan berbaring di ranjang periksa, sementara perempuan itu dengan penuh upacara mengenakan sepasang sarung tangan karet lalu datang menghampirinya. Tangan-tangan perempuan yang kekar itu memegangi bahu Jagger, dan dengan gerakan mantap, memutar dan menelungkupkannya. Segera tangan-tangan kokoh itu mengangkat pinggul Jagger sehingga berada di dalam posisi nungging.

"OK. I want you to relax now. This won't take long."

Seakan tak sengaja, tangan kiri petugas itu menyenggol kemaluan Jagger dengan dalih menopangi nunggingnya. Jagger bingung. Ia memejamkan mata, tak tahu apa yang harus diperbuat. Dia merasa sekitar anusnya dilumuri dengan semacam jelly yang dingin. Tanpa diduga, perempuan itu menancapkan jarinya dengan tekanan yang pasti, ke dalam anusnya. Jagger terperanjat, tak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya dia pasrah saja merasakan jari petugas berputar-putar di dalam rektumnya membuatnya mules. Kemaluannya yang dipegangi petugas itu pun makin mengecil, mengkerut kecut. Untung, perlakuan ini tak berlangsung lama. Seakan tak terjadi apa-apa, tiba-tiba perempuan itu mengalihkan kedua tangannya dan berkata:

"OK. You can put your clothes back on now. We've had enough of yir limp hampton!"

Dengan perasaan tak menentu Jagger mengenakan pakaiannya kembali. Pikirannya tak enak, jangan-jangan dia telah diperkosa. Bermacam-macam pikiran tak enak berdesing-desing dalam kepalanya. Apa artinya semua ini? Kenapa dia merasa telah deperlakukan dengan tidak manusiawi? Kenapa dia diperiksa seperti itu? Apa lagi arti kata hampton yang diucapkan petugas yang menyeramkan itu? Perempuan itu, melepas sarung tangan karetnya dan membuangnya di tempat sampah sambil mengamati Jagger dan menjelaskan:

"We have to make routine checks for TB and for drugs, especially for first time visitors! "

Jagger diam tak menjawab, hanya pandangan traumatiknya menanar ruangan pemeriksaan itu. "Jadi dia takut gue bawa penyakit atau drugs!" Pikir Jagger. "Sialan banget!. Kok tau aja kalo gue hobi banget ngeganja!" Perempuan itu membubuhkan cap pada halaman paspornya dan segera mengembalikannya. Sekali inilah petugas berseragam biru tua itu tersenyum, hingga agak legalah perasaan Jagger. Bergegas dia berpakaian dan meninggalkan kamar periksa sialan itu. Elaine dan Sanca sudah menunggu di luar, dan segera mereka bergegas mengikuti rambu-rambu neon menuju ke karusel bagasi.
***
bersambung

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000