sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 239, 04 februari 2014

Tulisan lain

The Act of Killing untuk Citra Indonesia - Anonim (Kru Indonesia untuk film Jagal)

Tekad - Mansur Samin

Demonstran - Wahid Situmeang

Jenis-jenis Natal di London - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 3 - Aminatul Faizah

Catatan Harian Seorang Demonstran - Slamet Kirnanto

Sebuah Jaket Berlumur Darah - Taufiq Ismail

Teheran Dalam Stoples 2 - Aminatul Faizah

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya - W.S. Rendra

Sketsa Jakarta - Mansur Samin

Teheran Dalam Stoples 1 - Aminatul Faizah

Terima kasih Mister Vicky - Liston P Siregar

Jagal Yang Mengganjal - Christine Franciska

Pembro

novel Teheran Dalam Stoples 4
Aminatul Faizah

3.Ruang baca
Suatu hari, di malam yang sunyi, saat aku belajar menulis di ruang baca bersama ibu. Aku melihat ayah membaca surat yang datang beberapa hari lalu. Ia membaca setiap surat yang datang dengan seksama. Ibu mengajari aku menulis aneka husruf. Kali ini mulai dari jim hingga ain. Tatapan ibu, berpaling dariku saat ia melihat pintu ruang baca kami terbuka. Palingan yang sama jika adik menangis.

Ibu akan menghentikan apapun saat melihat dan juga mendengar anaknya menangis. Pernah suatu ketika, saat adik berusia dua bulan, ibu sedang memegang gelas kristal hadiah ayah. Ia melepasnya, jatuh pecah menjadi keping-keping terkecil. Ia langsung lari menenangkan adikku. Ia juga melakukan hal yang sama saat aku menangis.

Kali ini yang mendapatkan palingannya adalah Ali. Ia sedang mengintip kami.

Hanya belahan wajah kiri Ali yang mampu kami lihat. Ibuku berdiri dari sofa dan membuka pintu. Ia mengandeng tangan Ali dan mendudukannya di sampingku. Ia mengambil satu pensil lagi dan selembar kertas, menyuruhnya melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan. Ali menurut. Melihat kemampuan ibu menarik perhatian Ali, aku merasa bahwa aku gagal. Ibu lebih bisa melakukannya.

Menarik perhatian Ali dari pada aku.

Apa yang kulakukan beberapa hari yang lalu dan kebahagiaannya sirna sudah. Ali bahkan tanpa ragu memandang wajah ibu saat ibu bicara, ia juga menulis yang ibu perintahkan.

Aku melempar pensilku kesal. Ayah memungutnya. Aku iri dengan ibu yang bisa melakukan sesuatu lebih baik dariku. Aku kesal, marah, dan sekaligus kecewa dengan yang kuperoleh. Ayah mengembalikan pensil ke aku. Ia menaruh suratnya dan merangkul tubuhku, meredamkan semua amarahku. Aku menyentuh dagunya dan merangkul tubuhnya. Aku terlelap di gendongan ayah.

Pagi harinya, kulihat kartu hati buatan tangan, dan kalimat maaf berbahasa Inggris tertulis di bawahnya. Dari ibu rupanya. Aku berlari menuju kamar di sampingku. Kubuka kamar itu, kulihat ibu menyisir rambut dan tak ada ayah di sana. Aku merangkulnya. Merangkul tubuh indah yang munggil itu. Ia mencium dan menghisap ubun-ubunku dan merangkulku. Mendudukkan aku di pangkuannya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya berkali-kali, ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke depan.

Aku tersenyum riang.

Ibu menenangkanku. Aku menunjukan kartu yang terbuat dari kertas tebal itu. Ibu memungut dan mengatakan sesuatu,

“Maafkan ibu sayang. Ibu tak tahu kalau kau iri dengan yang ibu lakukan pada Ali.”
“Tidak, bu. Aku marah karena ibu bisa menarik perhatian Ali. Aku setiap hari bermain dengannya tapi tak bisa melakukannya.”
“Sayang…melakukannya harus dengan hati. Jangan menyuruh melakukan sesuatu yang tak ia sukai.”

Ibu terus menggoyang-goyangkan tubuhnya: aku seperti duduk di sebuah kursi goyang yang hangat.

Aku berpikir mungkin Ali tak suka dengan yang kulakukan. Aku telah mengajaknya melakukan sesuatu yang aku mau, bukan yang ia mau. Anak lelaki bukan bermain boneka atau pasar-pasaran. Ia mungkin marah namun tak bisa, karena ia tak bisa bicara. Ia bisu…dan juga ia sakit. Itu yang ibu katakan padaku saat pertama kali aku bermain dengannya. Ia bisu karena sakit di hatinya.

“Ibu, boleh aku minta sesuatu ?”
“Tentu. Katakanlah…” Ibu berdiri menggendongku dan mengantakan aku ke kamarku. Ia membantu melepas kancing piyamaku dan membuka almari. Mengambil gaun merah muda yang indah dan dandanan putih.

“Ibu, bisakah ibu membeli mobil-mobilan untuknya.”
“Tentu.”

Ibu tersenyum. Ia selalu tersenyum padaku seperti itu.

Ia tak pernah marah. Ia yang selalu menyediakan senyuman yang indah dan menawan. Setelah mandi ia dandani aku dan mengajakku turun ke lantai bawah. Kulihat ayah sedang menggendong adik di taman. Aku berlari mendekatinya. Saat aku sampai setengah halaman aku menoleh ke kamar Ali di lantai atas. Kulihat Ali sedang mengintip ayah. Aku berbalik, berlari ke arah kamarnya.

Kubuka pintu kamarnya, dan kugandeng tangannya. Aku tersenyum bahagia dan tak tahu apakah ia tersenyum atau tidak. Pernah terbesit dalam pikiranku, kapan Ali akan berlari dan mengandeng tanganku. Akan selalu kutunggu dan kunantikan.

Sesampainya di halaman aku ajak ia belari. Mengelilingi tubuh ayah sambil menggoda adik yang digendong ayah. Adikku tertawa melihat tingkah polaku. Ayah juga. Ali hanya diam sambil melihatku. Tiada roman muka senang. Aku marah dan jengkel namun  tak bisa marah. Karena kata ibu Ali sakit. Aku hanya memegang tangannya dan ayah tahu kekesalanku. Ia menggandeng tanganku sambil melirikku.

Hatiku lagi-lagi luluh.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000