sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 238, 17 desember 2013

Tulisan lain

Teheran Dalam Stoples 3 - Aminatul Faizah

Catatan Harian Seorang Demonstran - Slamet Kirnanto

Sebuah Jaket Berlumur Darah - Taufiq Ismail

Teheran Dalam Stoples 2 - Aminatul Faizah

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya - W.S. Rendra

Sketsa Jakarta - Mansur Samin

Teheran Dalam Stoples 1 - Aminatul Faizah

Terima kasih Mister Vicky - Liston P Siregar

Silhuet - Taufiq Ismail

Jembatan Dukuh - Ajip Rosidi

Jagal Yang Mengganjal - Christine Franciska

Loire Valley

komentar Jenis-jenis Natal di London
Liston P Siregar

Natal selalu jatuh 25 Desember di hampir seluruh dunia walau ada yang berbeda, seperti Kristen Ortodoks Rusia yang menetapkan 7 Januari sebagai kelahiran Yesus Kristus.

Tapi ketika sudah satu tanggal sekalipun, di London dan beberapa kota besar di Inggris –menurut saya-  ada berapa jenis dan periode ‘Natal’.

Yang pertama di pusat pertokoan: Natal sudah sejak pertengahan November lalu. Etalase toko meriah dengan warna warni hiasan Natal, pohon terang, sinterklas, dan beberapa menawarkan potongan. Belanja Natal di Oxford Street, salah satu pusat belanja terkenal dunia, memang mulai sejak pertengahan November. Jalanan juga dihiasi dengan lampu warna warni.

Seorang pemusik terkenal Classic Rock jaman 80-an, Rick Wakeman, mengeluh waktu belanja untuk keperluan sehari-hari pertengahan November lalu. Dia kesal karena terteror oleh produk-produk biasa yang diberi label Natal dan menemukan sekotak coklat berhiaskan perayaan Natal dengan tanggal kadalauwarsa malah satu bulan sebelum 25 Desember!

Natal belanja berlangsung hingga 24 Desember malam –jadi orang diperas belanja sampai jam-jam terakhir- untuk berhenti total pada Hari Natal dan menggila dengan diskon besar 26 Desember. Sehari setelah Natal, sejak subuh orang akan antri di depan toko-toko di Oxford Street untuk rebutan, dan ini benar-benar rebutan belanja. Begitu pintu toko dibuka, ratusan orang yang antri berlarian masuk toko dengan prinsip: siapa cepat dia dapat.

Natal lainnya disebut Christmas Dinner atau Jamuan Natal, yang dilakukan kantor atau komunitas sosial ketika memasuki Desember. Kantor yang kaya raya mentraktir karyawan makan dan minum di restoran mewah tanpa batas, sedang yang pas-pasan membatasinya, dan yang miskin -sama seperti komunitas sosial- urunan bareng-bareng.

Namanya memang Jamuan Natal, tapi tak ada urusan dengan kelahiran Yesus Kristus. Bahkan berdoa bersama sebelum makan pun tidak ada. Mungkin bos atau sesepuh komunitas kasih sambutan yang isinya tentang kemajuan perusahaan atau pencapaian komunitas. Dan tak sedikit dari para peserta Jamuan Natal ini yang pulang dalam keadaan mabuk berat.

Kantor saya sudah tidak menggelar acara ini lagi, paling tidak di departemen saya. Terakhir kali dua tahun lalu saja, sudah dijatah porsi makan dan minumnya. Pekan depan saya bersama teman-teman satu kursus akan patungan untuk Jamuan Natal. Di mana? Di restoran Korea…

Natal ketiga adalah Carol Service, dikelola kantor-kantor atau komunitas sosial dan dimulai ketika sudah memasui masa Advent atau empat Hari Minggu sebelum 25 Desember. Kebaktian Kidung –begitulah mungkin terjemahan sederhananya- sudah bermakna spiritualitas kelahiran Yesus namun dengan suasana yang agak ‘ringan’.

Acaranya utama menyenandungkan kidung-kidung klasik yang dikenal semua orang Kristen yang pernah ke gereja saat Natal, seperti Malam Kudus, Gita Surga Bergema, atau Hai Bintang Betlehem. Kidung diselingi dengan pembacaan ayat-ayat Alkitab, dan juga renungan –bukan kotbah- serta doa. Pembacaan ayat, renungan, dan doa tidak dilakukan oleh pendeta atau panitua namun sesama karyawan dan anggota komnunitas.

Kantor saya menggelar Kebaktian Kidung pada Senin 9 Desember di gereja di seberang kantor. Yang menyampaikan renungan adalah seorang manajer senior. Dia menggunakan powert point untuk layar besar di belakangnya dengan ilustrasi gambar, karikatur, dan klip video –persi sama ketika menjelaskan sebuah proyek- untuk menyampaikan renungan bahwa Natal bukan hanya berbelanja semata.

Usai Kebaktian Kidung selama satu jam itu, kami semua kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaan-pekerjaan rutin keduniawan.

Akhirnya, Natal yang sebenarnya di gereja-gereja dengan kebaktian malam Natal 24 Desember dan hari Natal 25 Desember. Ini bisa dikatakan puncak dari kegiatan gereja selama setahun sekaligus puncak penampilan dari pendeta dan para pengurus gereja. Jemaat yang hadir juga lebih ramai dari biasa. Para jemaat kapal selam –umat Krisken yang datang ke gereja saat kelahiran, perkawinan, Natal, dan kematian- umumnya hadir dalam salah satu kebaktian ini.

Gereja kecil kami di pinggiran London Tenggara menggelar kebaktian Malam Natal pada pukul 23.00 dan menembus ke hari Natal-nya. Dan salah satu tradisi Natal masyarakat Inggris adalah makan dan minum (termasuk alkohol) seenak dan sebanyak mungkin saat malam dan hari Natal. Pada pukul 23.00 banyak jemaat kapal selam yang sudah makan serta minum banyak dan beberapa tetap datang ke gereja dalam keadaan mabuk, ringan maupun berat.

Biasanya ngaconya bernyanyi keras dengan suara fals, sibuk ngobrol diantara sesama mereka ketika yang lain sedang bernyanyi, atau berteriak Amin usai berdoa. Petugas gereja kami biasanya mengingatkan saja dengan sopan tapi tahun lalu mereka akhirnya mengusir sepasang jemaat kapal selam yang berteriak-teriak Amin dan Halleluya sepanjang kebaktian.

Terus terang saya ternanti-nanti juga: apa lagi aksi para pemabuk di malam Natal tahun ini.
***

ceritanet©listonpsiregar2000