sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 237, 23 oktober 2013

Tulisan lain

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya - W.S. Rendra

Sketsa Jakarta - Mansur Samin

Teheran Dalam Stoples 1 - Aminatul Faizah

Terima kasih Mister Vicky - Liston P Siregar

Silhuet - Taufiq Ismail

Jembatan Dukuh - Ajip Rosidi

Jagal Yang Mengganjal - Christine Franciska

Osborne, SBY, Jokowi, dan media - Liston P Siregar

Tangan-tangan Lapar - Dodong Djiwapradja

Siapakah Laki-laki Yang Rebah di Taman Ini - Goenawan Mohamad

Air - Ras Siregar

hasting

novel Teheran Dalam Stoples 2
Aminatul Faizah

Di suatu pagi, ketika ayah ke luar membeli bekal makanan dengan mobil –kami semua masih belum boleh ke luar rumah oleh ayah- dan ibu sedang melaksanakan salat sunnah hajat di ruang baca- aku bersama adik menggambar di kertas putih yang disediakan ibu. Adikku Ghazali hanya memainkan krayon di semua sudut sambil sesekali tersenyum saat aku melihatnya.

Tak berapa lama berselang seseorang mengetuk pintu. Kukira saat itu adalah ayah, dan aku otomatis bergegas membuka pintu. Namun ternyata bukan. Aku sempat terhenyak dan diam ketakutan: ‘ayah melarangku membuka pintu.’ Di depanku seorang wanita memakai kerudung hitam panjang yang kusut bersama seorang bocah dengan baju dan celana senada berwarna cokelat kusam. Dia pasti tahu caranya membuka gerbang.

Tapi senyum ibu itu membuatku tenang dan aku langsung teringat wajah anak lelaki yang menyembunyikan wajahnya ketika aku berkeliling kolam. Ia langsung bersembunyi di belakang tubuh ibunya sambil melirik aku yang sedang memegang krayon.

Nyonya cantik yang beralis rapi itu menyerahkan aku sekeranjang kue. Aku tak mengerti yang ia ucapkan, tapi kehalusan suaranya meyakinkan aku bahwa dia sama sekali bukan ancaman. Baru sekitar seminggu di Teheran, tak satu kata Parsi pun yang aku tahu, walau sebelum berangkat ke Teheran, ayah sudah membeli dan juga membacakan sebuah buku dongeng Parsi. Tapi belum ada satu katapun yang melekat di otakku.

Kupanggil Ibu tapi tak ada jawaban langsung. Kututup pintu dan kutuntun tubuh wanita ke ruang baca di lantai atas. Dia terasa ragu, dan aku malah lebih merasa tentang dan menarik lebih kuat tangannya naik ke atas. Ibu belum selesai salat sedang Ghazali sedang bermain-main krayon sambil tidur terlentang.

Wanita itu dengan seksama melihat ibu yang sedang salat dan mundur beberapa langkah ke belakang. Begitu selesai shalat, ibu terperanjak kaget. Ia melepas mukenahnya dan mengendong adik lalu mengajak wanita itu duduk di sofa kecil di ruang itu. Aku meletakkan keranjang penuh kue di meja yang terletak di depan sofa.

“Assalamualaikum…” kata ibuku pelan.
“Alaikum salam,” jawab wanita itu sambil menarik anaknya yang sepertinya tetap ketakutan melihat kami dan berupaya terus berlindung di balik tubuh ibunya.

Wajah yang aneh dan sorot mata yang hanya berisi ketakutan. Sepertinya ia selalu mengalami hari yang menyedihkan dan memilukan yang tak mudah dilupakannya. Ibu bergegas ke bawah, membuka lemari es dan kembali ke atas dengan senampan minuman, kue, dan juga buah.

Ia memberi satu gelas minuman pada anak lelaki itu, yang duduk memepet ke ibunya. Lalu ibu mengelus rambutnya dan memberi tatapan kejujuran. Ia kemudian menurut dan mengambil segelas susu dari tangan ibu.

“Anakmu mengalami trauma?” tanya ibu sambil melihat dalam-dalam wajah anak lelaki itu. “Kenapa?”
“Dia, melihat ledakan mobil.”

Ibu mengangguk kecil dan kembali memperhatikan anak itu dengan penuh perasaan. Ia mengelus ubun-ubunnya dan kembali melihat ibunya.

“Ada apa?”
“Saya pedagang kue keliling.”

Ibu melirik keranjang kue di atas meja.

“Ini kue daganganmu?”
“Bukan khanum, itu untuk anda. Hadiah ini sangatlah tak pantas, maaf jika saya menyindir anda.”
“Kau tahu, aku sangat senang ada tetangga yang datang mengunjungi kami.”
“Anda orang Sunni?”
“Ya, dan kau orang Syiah kan?”
“Saya dulu bekerja untuk keluarga yang tinggal di sini dan saya pikir mereka sudah memberitahu tentang saya. Namun setelah melihat cara anda salat, saya berkecil hati. Saya melihat anda bersendekap dan saya langsung takut.”
‘Kenapa harus takut. Aku tak terlalu paham aliran agamaku, tapi dari sejak kecil begitulah aku diajarkan. Aku hanya yakin kalau Islam adalah yang benar. Apalah artinya Syiah atau Sunni, semuanya sama saja.”

Ibu menghela nafas dan melihat ke arah taman. Aku mendengar suara mobil masuk ke halaman dan kali ini aku yakin itu adalah ayah. Ibu mengajak perempuan itu turun ke bawah, dan menggendong adik. Aku ikut dari belakang. Wanita itu tampak berjalan malu-malu dan anak laki-laki itu menggantung di kaki ibunya.

Kami semua duduk di ruang tamu. Ibu menjelaskan kepada ayah dalam Bahasa Indonesia dan wanita itu diam menunduk, anaknya mengintip ayah dan aku, namun langsung menghindar ketika aku membalas tatapannya.

“Bekerjalah dari pagi hingga tengah hari. Setelah itu kau akan punya waktu untuk anakmu. Kau hanya membersihkan rumah karena aku yang akan memasak. Apakah anda mau biarpun saya orang Sunni?’’

Wajah perempuan itu tampak riang, berkali-kali mengucapkan terima kasih dan membungkuk ke arah ayah. Ia berjalan ke pintu dengan bergegas. Secercah cahaya tampak di matanya, chadar hitamnya berkali-kali melambai-lambai tertiup angin. Perempuan itu sempat melirikku sebelum pergi tapi anak lelaki itu tak melirikku. Dia ikut bergegas mengikuti ibunya. Keduanya langsung berlalu saat begitu membuka pintu pagar.

Malam itu, ketika makan malam ibu menegaskan pintu pagar harus selalu dikunci. Jatungku sempat berdetak kencang tapi ibu tidak bercerita bahwa aku yang membuka pintu. Ayah memastikan agar ibu kelak akan punya kunci gerbang juga.
***
bersambung 

ceritanet©listonpsiregar2000