sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 236, 20 september 2013

Tulisan lain

Terima kasih Mister Vicky - Liston P Siregar

Silhuet - Taufiq Ismail

Jembatan Dukuh - Ajip Rosidi

Jagal Yang Mengganjal - Christine Franciska

Osborne, SBY, Jokowi, dan media - Liston P Siregar

Tangan-tangan Lapar - Dodong Djiwapradja

Siapakah Laki-laki Yang Rebah di Taman Ini - Goenawan Mohamad

Air - Ras Siregar

Perdulilah ketika warga dunia perduli - Liston P Siregar

Kereta Mati - Toto S. Bachtiar

Nevermore - Wing Kardjo

Vivere Pericolosamente 2 - Vincent Mahieu

London

novel Teheran Dalam Stoples*
Aminatul Faizah

Setiap hari aku gadaikan hari-hariku dengan kerinduan.
Sekiranya rambutku selalu mengingatkan aku.
Betapa pentingnya menebus masa laluku.
Atau memperlihatkan aku dalam kebenaran,
Sebelum aku menyesali.
Dan ku gugah hatiku dari lalai.
Di hariku sekarang ada hari pengiringnya.
Hari-hari indah tanpa luka di bawah naungan Langit Cinta Persia.

Ku tulis ini untuk Ibuku.
Aku mencintaimu selalu dan selamanya. Karena hanya kau lah satu-satunya hartaku.
***

1. Pembantu baruku

Ketika masih kecil, aku bertanya banyak hal pada ibu dan ayah. Banyak yang ingin kuketahui dan juga banyak yang belum sempat kutanyakan, seperti apa itu cinta, keberanian dan kesetiaan. Tapi seiring waktu kutahu juga. Banyak keganjilan yang kualami saat masih kecil. Banyak yang ingin kutanyakan hingga kini namun aku sudah sudah mendapat banyak jawaban dengan seiring waktu. Cinta, perpisahan, kematian dan juga banyak tentang arti hidup di atas kebersamaan.

Saat usia lima tahun keluargaku hijrah ke Iran. Pekerjaan ayah selalu memanggil tempat baru. Ayah adalah seorang ahli perminyakan yang selalu dibutuhkan jasanya oleh negara-negara di Timur Tengah.

Tapi aku tak tahu kenapa dan juga mengapa harus Iran. Saat itu tahun 1987, musim semi saja baru tiba. Kami pindah ke Teheran timur, sebuah kawasan yang sepi: aku masih ingat perjalanan dari bandara yang ramai perlahan-lahan menyepi hingga kami tiba di sebuah rumah berdinding bata.

Aku memang agak kecewa. Aku langsung tahu kalau tempat sekeliling rumah itu bukanlah tempat yang mewah dan nyaman. Mendengar sepintas keluhan Ibu tentang perang Iran-Irak yang masih berkobar, membuat aku membayangkan bom meledak di samping rumah atau roket menghantam halaman belakangnya: mendentum dasyhat membongkar kesepian dan meninggalkan lobang besar. Seperti dalam berita di TV dan gambar di Koran.

Jalanan menuju ke rumah terasa mencekam. Banyak spanduk digantung di atas jalan, juga banyak grafiti di dinding maupun di tiang listrik, yang aku tak tahu arti persisnya. Aku melihat seorang pria memakai surban hitam berjalan dan sempat bertanya siapa dia. Ibu hanya hanya mengangkat alis matanya memberi isyarat agar aku tak usah banyak bertanya. Kubuang pandanganku kembali ke jendela dan ekor mataku melirik ke laki-laki bersurban hitam menjauh di belakang. Taksi tua yang mengantar kami amat lamban. Dari kaca spionnya aku beberapa kali memergoki pandangan sinis supir itu ke arah kami. Wajah kami asing dan percakapan ayah dan ibu tak bisa dipahaminya.

Ayah mendapat rumah yang berhalaman luas dengan dinding pagar bata yang tidak dicat atau didempul. Saat kami mendarat bandara, ibu kelihatan panik. Dia berkali-kali mengucapkan salawat nabi dan merangkulku dan adikku yang berusia satu tahun. Dia takut akan ada yang menghadang dan menyakiti kami. Tahun 1987, Republik Islam Iran sudah berdiri namun masih banyak pergolakan di dalam Iran ditambah perang dengan Irak yang belum juga selesai walau sudah melewati puncaknya.

Ayahku adalah orang Turki keturunan bangsawan Inggris yang berdarah Jerman, Nama aslinya Earl Gerd Klaus Muller. Dia bertemu ibu saat masih jadi pekerja magang di sebuah perusahaan kecil yang ikut melakukan eksploasi minyak di Dumai, Riau. Waktu itu ibu berusia 19 tahun, sedang liburan berkunjung ke rumah keluarga pamannya, yang bekerja di perusahaan lain di tempat yang sama.

Ceritanya, ayah langsung jatuh hati ketika melihat ibu pertama kali di sebuah bazar yang dibuat untuk menghibur keluarga para pekerja minyak, asing maupun asli Indonesia. Dan ayah terus mengejar ibu sampai ke Semarang, langsung melamar dan ditolak oleh eyang namun mendesak paman ibu agar bersedia menjadi mak comblang. Yakin akan cinta dan ketulusan hati Earl Gerd Klaus Muller, paman ibu itu bersama istrinya serius datang ke Semarang memohon pada eyang, yang akhirnya menyerah. Begitulah ceritanya pertemuan cinta seorang pria Turki berdarah Inggris-Jerman dengan seorang perempuan Semarang.

Saat menjadi mualaf ketika menikah dengan ibu pada tahun 1980, namanya diganti menjadi Maulana Yusuf. Wajah ayah sangat tampan. Ia memiliki alis dan rambut yang hitam. Matanya hijau bersinar, kulitnya putih dan tubuhnya tegak. Dia adalah lelaki paling sempurna yang pernah aku lihat. Ayah selalu menjadi pelindung kami, dan mungkin itu yang membuat aku tidak terlalu ketakutan tiba di kawasan yang sebenarnya mencekam. Ada ayah, dan aku sedikit tentang biarpun kepanikan ibu mengganggu juga.

Hidup di kawasan yang terasa mencekam, ditambah dengan kepanikan ibu, membuat aku tak pernah tahu bagaimana hidup bertetangga dan jauh dari dengan sanak keluarga. Yang aku tahu aku hanya punya ayah, ibu, dan adikku. Tiga kepala yang selalu menjadi jalan kehidupanku.

Kami tiba di distrik Abdi Aziz, di daerah Teheran timur. Rumah-rumah di sekitar tampak mirip satu sama lain dengan dinding semen yang tidak dicat dan pilar tinggi dan ujungnya yang membentuk setengah lingkaran. Ukurannya hampir sama walau ada beberapa yang hanya satu tingkat. Jalanan di depan rumah kami agak becek dan banyak sekali mobil buatan Amerika.

Ada mobil di garasi dan ada satu pohon apricot tua di halaman depan rumah, sedang di halaman belakang ada beberapa tanaman lainnya, seperti anggur dan juga mawar. Di tengah halaman depan ada kolam besar yang banyak ikannya. Aku langsung berlari berkeliling kolam dan terhenti karena memergoki seorang anak lelaki mengintipku dari balik semak-semak di depan rumah. Kupandang dia dan dia menghilang, kutunggu dan terlihat kembali wajahnya di balik dedaunan semak yang baru meranggas untuk menghilang kembali. Aku tersenyum, berhasil mengalahkan seorang anak laki-laki dan kulanjutkan lariku yang riang berkeliling kolam. Pintu gerbang depan ditutup dan tertutup sudah wajah anak lelaki itu.

Ibu membantu ayah mengambil semua barang dari taksi. Empat koper penuh dengan dua kardus berisi buku. Sambil membopong salah satu kardus dengan kedua tangannya, ayah menggeser kedua daun pintu. Dari cerahnya wajah ayah, aku merasa inilah mungkin pintu surga itu, sebuah pintu yang mungkin akan mengantar kami ke sebuah jalan yang menyenangkan. Kerudung sari biru muda ibu menyibak rambut mungil Ghazali adikku, yang digendong ibu di punggung.

Ibu tampak tidak lagi sepanik tadi, mungkin sudah tergantikan dengan kesibukan membereskan barang-barang atau juga karena rumah yang akan kami tempati terlihat nyaman. Aku tersenyum melihat ruang tamu yang lapang. Di sebelahnya ada ruang keluarga dengan pemanas ruangan dan TV, dan lebih jauh ke belakang ada ruang makan yang menyambung dengan dapur. Empat kamar terletak di lantai atas, dan satu ruang baca yang menghadap ke halaman belakang.

Ibu membuka setiap jendela, membiarkan cahaya masuk menerangi seisi ruangan. Semua perabotan masih tertutup kain putih dan ibu menyibak kain putih penutup sofa besar dengan busa yang tebal, mendudukan aku dan adikku. Ia mencium kening kami, lalu mengambil semua kain putih, melipatnya dan menyimpannya di sebelah dapur. Ia juga menyapu semua debu yang menempel dan tersenyum melihat ayah yang sedang bolak-balik mengambil koper.

Selama sekitar dua jam mereka bersih-bersih sementara aku dan adikku bermain boneka kelincinya di atas sofa, lalu akhirnya mereka duduk di dekat kami. Ibu hanya beberapa detik mendekap tubuh munggil adik lalu berjalan menuju dapur, melihat semua barang yang ada dan mencatat bahan makanan yang harus dibeli. Ia mencatat semuanya dan menyerahkannya pada ayah. Tak lama kemudian ayah menyuruh kami untuk menutup pintu rapat-rapat dan tak membukakannya untuk siapapun juga.

Selama satu minggu aku hanya bermain dengan beberapa beberapa boneka kecil yang boleh kubawa atau membaca buku yang sebenarnya sudah kubaca berulang kali. Setiap pagi aku ikut jalan berkeliling di halaman belakang bersama ibu sedang adikku didudukkan di atas tikar.  Ayah lah yang melakukan kontak sosial dengan orang-orang dan lingkungan luar rumah, sepulang kantor. Ibu sudah terbiasa mendekam di dalam rumah selama beberapa tahun. Tak ada koran, internet, dan juga tidak ada telepon. Ayah mengatakan kepada ibu ada telepon umum sekitar 500 meter dari rumah kami jika ingin menelepon ke Semarang, tapi ibu sudah menulis surat panjang ke ayah ibunya. “Aku sudah bilang kalau tak ada berita, artinya berita baik,” kata ibu.

Ayah sudah mencoba telepon umum itu berulang kali. Dia masih belum diharuskan ke kantornya dan mendapat waktu dua minggu untuk membereskan rumah dan keluarga. Tapi dia sudah beberapa kali menelepon kantornya, mulai dari memberitahu kedatangan sampai bertanya soal-soal tehnis di rumah. “Antriannya panjang dan waktunya dihitung pakai jam tangan, jadi supaya tidak rugi harus mulai menelepon pada detik pertama dan habis di detik ke 59 supaya satu menit tergunakan semua,” kata ayah tersenyum. Ayah memang amat perhatian dengan ditail-ditail dan amat suka presisi dan akurasi. Itulah yang membuat perusahannya memilih dia untuk diterbangkan dari satu tempat ke tempat lain, sampai ketika sudah punya satu istri dan dua anak sekalipun.

Dan ayah masih tetap saja tidak keberatan juga menerima tugasnya itu. Untunglah ibu benar-benar siap menikah dengan orang asing yang tak mengenal batas-batas geografis dan bersamaan dengan ayah yang belajar Bahasa Indonesia, ibu juga ikut belajar Bahasa Inggris. Bahkan setahun sebelum kami pindah, Ibu juga sudah belajar Bahasa Farsi karena ayah sudah tahu akan terbang dari Dumai langsung ke Teheran.
***
bersambung

*Tahun 2010, Aminatul Faizah mengirim naskan Teheran Dalam Stoples ke ceritanet.com dan rencana awal adalah mengeditnya untuk kelak diterbitkan di ceritanet dan juga dalam format buku. Namun dalam prosesnya, Diva Press mengajukan tawaran kepada Aminatul Faizah untuk menerbitkannya dan ceritanet menyarankan agar segera mengambil kesempatan itu. September 2012 terbitlah Teheran Dalam Toples oleh Diva Press. Adapun versi ceritanet diterbitkan atas persetujuan Aminatul Faizah.

ceritanet©listonpsiregar2000