sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter    facebook    google


ceritanet              situs karya tulis - edisi 235, 15 agustus 2013

Tulisan lain

Osborne, SBY, Jokowi, dan media - Liston P Siregar

Siapakah Laki-laki Yang Rebah di Taman Ini - Goenawan Mohamad

Tangan-tangan Lapar - Dodong Djiwapradja

Air - Ras Siregar

Perdulilah ketika warga dunia perduli - Liston P Siregar

Kereta Mati - Toto S. Bachtiar

Nevermore - Wing Kardjo

Vivere Pericolosamente 2 - Vincent Mahieu

Kisah dua pemimpin: Boris dan Jokowi - Liston P Siregar

Cikini - Ramadhan K.H.

Vivere Pericolosamente 1 - Vincent Mahieu

 

Huntington

komentar Jagal Yang Mengganjal
Christine Franciska

The Act of Killing kebetulan sedang main di satu bioskop di London. Pikirku -karena tak punya acara hari itu, di tengah waktu luang selama training dan tugas di London- tonton sajalah karena juga sedikit naksir dengan trailernya.

Film ini dapat banyak pujian di dalam dan luar negeri. Isinya tentang pembantaian PKI tahun 1965. Itu saja yang aku tahu sebelum nonton. Dan tidak terlalu tahu soal PKI, pantaslah aku tonton, biar jadi tahu. Sederhana.
***

Ternyata menonton film dokumenter berdurasi dua setengah jam lebih -versi suntingan sutradara- menyiksa lahir dan batin. Jantung tak berhenti berdegup ketika tokoh-tokoh di dalamnya vulgar memberi pernyataan. "Bangga dan senang," kata dia ketika membunuh orang-orang PKI, yang sebetulnya belum tentu juga PKI.

Rekonstruksi pembunuhan dan cerita tentang bagaimana korban disiksa tampak sangat nyata, walau diceritakan dengan amat sederhana. Amat ngeri membayangkannya, dan aku tahu kenyataannya pasti lebih mengerikan lagi.
***

Tidak tahu bagi yang lain, tetapi bagiku menonton Jagal –begitulah terjemahan resmi Indonesia-mengingatkan kembali pada diskriminasi dan perasaan menjadi minoritas. Ingat-ingatan masa kecil, yang bahkan sempat aku lupakan- jadi hidup lagi. 

Pasalnya, ada Cina disinggung di situ, sesuatu yang melekat sangat di darahku.

Ada cerita soal anti-Cina dan bagaimana mereka juga jadi korban pembantaian. Ada juga adegan pemalakan di toko-toko Cina di Medan oleh para preman Pemuda Pancasila yang galak-galak. Pemuda Pancasila bangga sekali tampaknya dapat uang dari sana. Bapak-bapak tua yang punya toko, tampak lunglai dan sedih sekali.

Aku jadi membayangkan ibuku, yang kebetulan juga berdagang dan sering curhat soal tokonya.

Keluargaku tak kaya sejak dulu dan ibu yang cari uang untuk kami makan. Aku tahu bagaimana susahnya dia bekerja, dan adegan pemalakan sudah cukup membuat mataku berair. Aku rasa ibu pernah dibegitukan di masa mudanya entah dengan preman kota yang mana. 

Lantas, merembetlah perasaan ke soal Cina-Cina yang lain. Tentang sulitnya dan mahalnya mengurus surat-surat di kelurahan sampai KTP yang -yang kata ibuku- ditandai khusus.

"Macam cucu PKI saja kelihatannya," pikirku.

"Ada kodenya," kata ibu, "biar orang pemerintah bisa bedain mana Cina mana bukan. Walau namanya Indonesia kalau keturunan Cina, mereka bisa tahu."

Faktanya betul atau tidak, aku tak begitu peduli, nyatanya itu sudah jadi 'dongeng' di keluarga.
Lalu kuingat juga ngerinya waktu menonton peristiwa 1998 di televisi. Waktu itu usiaku masih sebelas tahun tapi cerita dari mulut ke mulut tentang kengeriannya sampai juga di telingaku.

Ingat bagaimana saat itu aku berjanji dengan tekad bulat di dalam hati: "Aku harus kerja keras, supaya sukses, supaya keluargaku bisa tinggal di mana saja, asal bukan di Indonesia."

Lantas, aku juga ingat namaku, yang kini sudah tak punya marga. Jadilah kebarat-baratan: Christine, yang dipilih ibu dengan asal. Christine -nama Kristen- namun di KTP beragama Buddha –walau sebetulnya bukan Buddha karena lebih tepatnya Kong Hu Cu atau Tao.

Identitas yang cukup rumit, yang sayangnya harus aku bawa sampai tua nanti.
***

Usai menonton, aku sudah mulai sesengukan, tapi ku tahan-tahan karena duduk paling depan dan malu kalau ketahuan.

Di depan, sudah ada tiga narasumber dan satu pembawa acara yang siap-siap mengawal diskusi.  "Matilah aku. Harusnya aku tak memilih pemutaran film yang ada diskusinya."

Sebentar mereka bicara, mataku sudah mulai berair lagi. Tak kuat aku mendengar diskusinya. Apalagi soal anti-Cina karena sedikit banyak aku merasakannya. 

Usai membasuh mata di toilet, aku beranikan diri masuk lagi. Sayang sudah tak lagi bisa konsentrasi mendengar tanya jawabnya, jadi tidak bisa cerita banyak. Yang jelas bule-bule tertarik sekali dengan film Jagal dan peristiwa 1965. Panel ditanya ini-itu tanpa henti.

Terlepas dai perasaan pribadiku soal kaum minoritas, Jagal jelas memberi cara pandang yang berbeda tentang peristiwa 1965, tidak dari kacamata politik, tapi dari sisi manusia dan emosinya.

Dan karena menceritakan manusia, maka garis benar dan salah jadi kabur. Tidak ada rasa benci sedikitpun ketika menontonnya tapi cenderung kasihan karena aku tak bisa membayangkan bagaimana harus hidup dengan masa lalu seperti para algojo 1965 itu.

Sedih melihat bagaimana orang-orang ini -pada akhirnya- juga menjadi korban doktrin politik. "Kita semua korban, kita semua menderita," begitulah mungkin intinya.
***

Melangkah keluar dari bioskop, aku bernafas lega karena 'ketegangan' itu berakhir.

Dan pikirku cuma satu: "Betul, film ini bagus,tapi aku tak ingin menontonnya dua kali."
***

ceritanet©listonpsiregar2000