sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 234, 15 juli 2013

Tulisan lain

Perdulilah ketika warga dunia perduli - Liston P Siregar

Kereta Mati - Toto S. Bachtiar

Nevermore - Wing Kardjo

Vivere Pericolosamente 2 - Vincent Mahieu

Kisah dua pemimpin: Boris dan Jokowi - Liston P Siregar

Cikini - Ramadhan K.H.

Vivere Pericolosamente 1 - Vincent Mahieu

Anak Sumbawa - Ajip Rosidi

Hampa - Bahrum Rangkuti

Lebih hitam dari hitam - Iwan Simatupang

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

 

Tree

cerpen Air
Ras Siregar

Biarpun rumah di atas, air ledeng tetap deras. Mau gosok gigi, cukup di wastafel dalam kamar dengan memutar keran tanpa tawar-menawar. Jika pagi hari atau sore hari, kepingin mandi yang segar, cukup dengan memutar keran lalu mengucurlah air dari kerucut teratai di atas kepala.

Air yang menimpa kulit seperti pijitan bidadari dalam tidur dan tanpa sadar suara pun berkumandang menyanyikan lagu mandi.

Waktu pagi-pagi sungguh segar!
Waktu sore hari amat nyaman!
Bangun terus mandi amat senang!
Lalalala lalala

Tali kloset ditarik dan serta merta menerjanglah air menggusur kotoran ke dalam lubang. Entah ke mana selanjutnya, tak perduli!

Lantas buang puntung rokok ke dalam air yang menerjang, seluruh kloset jadi bersih. Bau hilang dan keluarlah kita dari kamar kecil yang sejak tadi kita tunggui dengan pikiran tenteram.

Sengaja aku katakan, biarpun rumah itu di atas, sebab di bagian bawahnya hanya berupa toko dan kantor. Berarti di bawah tanpa penghuni seperti di atas. Tapi
maaf, jangan tuan salah tafsir. Orang yang tinggal di atas itu bukanlah tergolong orang yang mampu. Cuma pegawai, yang hidup dan memburuh. Dan kebetulan
mendapat tempat tinggal di atas itu, di suatu daerah yang sangat menarik. Harmoni!

Di satu deretan toko-toko yang mewah dan kantor-kantor yang menghasilkan
banyak. Harmoni!

Aku kebetulan mendapat dua buah` kamar di bagian atas itu. Tiga kamar lainnya, dihuni rekan sekerja yang telah memiliki tujuh orang anak. Jelasnya, di satu rumah itu terdapat dua keluarga_ Mereka dan aku. Seperti tetangga lain, kami tak pernah kesusahan air. Khusus untuk orang Harmoni!

Aku rasa, Harmoni ialah satu daerah yang surplus air.

Beberapa tahun yang Ialu, aku pernah tinggal di Daerah Kemayoran. Airnya setetes-setetes. Kalau aku mandi Iebih dari lima gayung, induk semangku akan bermuka masam. Lantas, ketika akupindah ke Petojo, airnya mengucur sebesar kencing monyet. Tapi tetap, jika aku mandi Iebih dari lima gayung, induk semangku
akan mengomel panjang. Katanya air mahal.

Ketika aku tinggal di Grogol hanya mandi dengan air sumur. Coklatnya memang tidak secokiat Kali Ciliwung. Gerutuan tetap saja sama. Air mahal! Maksudnya tentu air minum! Lebih dari itu, mereka merasa iri dengan orang yang sudah hidup dengan air ledeng. Kecuali daerah elite Menteng dan Kebayoran Baru, semua orang menggerutu tentang air.

“Air di ibukota ini bagai teriak musafir di padang pasir,” ujar seorang teman.
“"Ada Ciliwung!” godaku.
”Monyong!” sinisnya.

Tapi semua mereka hanya menggerutu asal menggerutu saja. Akhirnya menjadi biasa. Air tidak ada. Biasa! Mandi di kali. Biasa!

Setiap malam menampung air di pancuran umum dan mengangkatnya ke bak ma-
sing-masing, ini pun biasa, biarpun kantuk meraja.

Indonesia penuh dengan air. Tapi akhirnya diharuskan membeli air dari pemikul-pemikul dengan harga tinggi. Ini pun biasa!

Seperti harga barang naik, muianya semua menggerutu, protes kiri dan kanan, akhirnya protes itu ditelan keprotesan massa. Lantas jadi biasa.

”Yah, biaaar! Masa bodo situ! Ribut-ribut pun salah!”
”Yang bener, mana?” tanya yang lain.
"Tau dah!"

Tapi kami tetap tenang. Tetangga yang lain tenteram. Rekan serumah yang telah tiga tahun di rumah ini tetap tak mau tahu soal air. Air ada. Aku yang sudah dua tahun menghuni rumah atas itu, merasa berkuasa atas penggunaan air.

Sewanya 250 perak bagi dua per bulan. Sebesar honorarium sebuah cerita pendek. Kemudian keluarga bertambah. Aku kawin. Rekan serumah didatangi penghuni baru, si bayi. jadi, kini anaknya delapan. Ditambah ayah dan ibu anak-anaknya itu, berarti mereka punya sgpuluh jiwa.

Dua belas jiwa ditambah jiwaku dan isteriku. Sewa bertambah menjadi tiga ratus perak. Dan tetap separuh seorang karena masing-masing merasa sebagai kepala keluarga. Namun, air tetap mengalir deras.

Waktu pagi-pagi sungguh segar!
Waktu sore hari amat nyaman!
Bangun terus mandi amat senang!
Lalalala lalala

Mendadak saja aku rasa akan kejadian yang kemudian terjadi. Rekan serumah mengambil dua pembantu. Katanya untuk membantu masak dan menjaga anak-
anak. Tapi kemudian ternyata, perabot-perabotnya semua berubah. Dari milik instansi ke milik pribadi.

"Hebat dia” pikirku.

Karena itu, mulailah teriadi kontradiksi. Mereka hidup dengan berbagai material yang berlimpahan dengan aku yang tetap seperti sediakala. Wajah mereka yang penuh keriahan dengan lemak-lemak subur di badannya dengan kami yang tetap seperti hari-hari lalu.Aku cuma manggut-manggut. Kagum akan rejekinya.

”Lotere, Mas?” tanyaku suatu hari.
”Ah, biasa!"
"Biasa bagaimana?”
”Ngobyek! ” cetusnya.
”Nyatut?”

Ia mengangguk dengan senyum puas. Matanya bersinar menerangi segala masa suram yang lewat. Begitu tanggapanku, pancaran dan matanya. Itu semua, rejekinya itu, tidak menarik perhatianku.

Sejak itu, dua orang adiknya yang masih mahasiswa pun tinggal di rumah itu. jumlah jiwa di rumah itu kini menjadi enam belas. Tamu-tamu berdatangan. Ada yang menginap dan ada pula yang hanya mandi sore.

Hampir tiap minggu, mereka pesta. Tanpa sebab. Sebagai rekan sekantor dan serumah, kami juga mendapat bagian dari makanan itu.

Mulanya, karéna aku memang tidak ambil perduli soal keramaian yang terjadi, tetap berjalan tenteram. Air tetap mengucur deras. Air itu segar. Karena telah dibersihkan dan diolah di Pejompongan, air itu tetap sejuk. Bau kaporit yang sesekali terasa, terkadang menjengkelkan juga.

Suatu hari rekan serumah bertanya, mengapa air itu berbau kaporit. Aku katakan kepadanya, mungkin karena air itu tidak diperiksa lagi setelah dibubuhi kaporit.

”Tolol benar!” gerutunya.

Karena kami telah biasa dengan kesegaran dan kesenangan, kekurangan sedikit telah menjadi gerutuan. Soal kaporit pun menjadi bahan pembicaraan. Terkadang kami berdebat soal penggunaan kaporit dan pemakaiannya. Tapi aku merasa tidak senang sebab dia sendiri tak tahu apa dan bagaimana kegunaan kaporit.

Dia tak tahu soal kaporit tapi mengajak berdebat soal kaporit. Dan dari nada debatnya aku melihat watak berikutnya. Ia kini merasa telah punya segala, berarti ia boleh bicara tentang apa saja.

Aku terangkan bahwa kaporit itu berslfat pembersih dan pembunuh kuman Aku coba menjelaskan itu berikut dengan dalil kimia dan rumusnya. Tapi ia sok tahu dan mengatakan bahwa kaporit itu ditambahkan ke dalam air agar orang jangan memakai air ledeng lagi.

Alasannya, biasanya air itu tak berbau kaporit. Aku mau ketawa, tapi cuma dalam hati.

”Jadi, mereka itu sentimen!” protesnya.

Ketika itu aku merasa bahwa banyak orang yang merasa dirinya berpunya, lalu tahu segalanya. Karena ia kaya, maka dikatakannya bahwa emas itu dibuat dari asap. Karena bawahannya takut padanya, maka manggutlah semua kepada Sang Kuasa.

Lalu timbul dalil, emas dibuat dari asap. Inikah keadilan?

”lya, mereka sentimen!” seruku membenarkan karena tak ada gunanya berdebat dengan dia.

Sejak itu sikapku kepadanya dingin saja. Aku berusaha menghindarkan pertemuan dan percakapan dengannya karena pembicaraannya akan lebih banyak merupakan percakapan sok kuasa.

Air tetap mengucur deras biarpun sesekali bau kaporit 'terasa tajam. Tamunya terus-menerus ada, bermalam atau pulang malam setelah selesai mandi.

Suatu kali istriku mengomel padaku ketika aku pulang kantor. Padahal, aku telah berencana, begitu sampai di kamar, kucium dia, lalu kuberikan kepadanya sebuah amplop yang berisi gaji bulan lalu sambil berbisik: ”Rapel kita, lumayan juga.”

Tapi sebelum rencana itu terlaksana, tahu-tahu ia telah mengomel panjang.

”Kenapa, sih?" tanyaku tak puas.
”Rekening air dua ribu delapan ratus!” keluhnya.

Aku kaget! Kaget sekali! Kurasa genteng di atas seperti retak dipagut panas matahari.

”Listrik enam ratus!” serunya.

Aku makin kaget. Genteng di atas kurasa sudah pecah dipagut sinar matahari.

”Susu sembilan ratus!" keluhnya dengan wajah putus asa.
”Yah, susu bayar. Listrik bayar separuh juga!" perintahku.

Matanya menghitung-hitung jumlah itu.

”Ledeng?” tanyanya ragu_

Aku diam. Diam dalam kekalutan dan ketidakadilan. Apakah aku harus membayar separuh juga? Lalu kuniatkan untuk membicarakan soal itu sore nanti.

Sore itu aku lesu. Mereka tetap dengan pendirian yang lama. Dua kelompok dengan dua keluarga. Berarti setengah seorang.

”Apa boleh buat. Bayar saja!" seruku kepada istriku sebagai pemegang kas rumah tanggaku.

Istriku merengut. Wajahnya penuh kekesalan akan ketidakadilan sedangkan aku tenang-tenang saja. Rencananya untuk membeli kain putih bakal persiapan kehadiran penghuni baru jadi pudar oleh air.

”Mulai hari ini, mandilah sebanyak yang mereka pakai! Guyur seluruh badan dengan air, sebanyak mungkin!” seruku dengan suara sinis.

Ia tetap masam. Namun air tetap mengalir deras. Kurasakan lebih deras dari bulan-bulan yang lalu. Dan aku pun mandi dengan air berlebih-Iebihan. Lupa pada orang yang menggerutu kekurangan air dan lupa pada harga air.

Harga air satu meter kubik tidak mahal. Tapi harga yang murah ini punya batas kemampuan. Ada maksimum. Lewat maksimum, pasti kena denda. Dendanya bukan
alang-kepalang. Berlipat ganda!

lnilah yang mahal. Denda itu! Namun aku tak pernah jera karena honorarium cerita pendek telah bertambah. Rekan serumah lain lagi. Mereka mulai merasakan satu tanggungan yang lumayan.

Ini kudengar dari cerita istriku, yang mendapat cerita pula dari istri rekan itu. Mereka saling menceritakan kesulitan pembayaran air.

”Mereka kan banyak rejeki?” tanyaku.
“Sudah nggak ada |agi,” kata isteriku.
“Ke mana larinya rejeki itu?”
”Toke Lim tidak muncul-muncul lagi!”
”Hmm!”
“Apa sih komisi?"
“Persenan," jawabku.
“O!”
“Kenapa?”
”Toke Lim tidak kasih komisi |agi!”
“Komisi apa?”
”Meubiler.”
”Oh” keluhku mengerti.
“Enak juga dapat komisi, ya?" tanyanya.
“Itu rejeki! Mudah-mudahan rejeki itu lari pada kita,” gurauku.

Karena sudah keenakan dengan kesenangan, maka enggan mereka kembali ke pangkalan seperti hidup sebelum datangnya kemewahan. Justru itulah mereka mulai menjuali. Tapi keluarga mereka, tamu mereka, masih tetap datang, biarpun tidak seramai bulan-bulan yang lalu.

Namun aku sudah tidak ambil perduli karena waktuku malam hari sudah lebih banyak direnggutkan mesin ketikku untuk menulis cerita pendek sebanyak-banyaknya agar denda air bisa kulunasi.

Pada suatu hari, tamu mereka dari kota D dengan tiga orang anaknya datang dan bermalam di situ. Anak-anak jadi ramai. Tidur siang susah. Sial bagi tamu yang datang itu karena sehari kemudian ledeng air disegel berhubung peringatan untuk
Ketiga kalinya tidak kami indahkan.

Dan sejak itu, keran air terkunci dan setetes air pun tiada. Wastafel di kamarku menguning. Kloset berbau yang sangat menusuk dan memualkan. Tahi anak-anak dan warna air kencing kuning kemerah-merahan.

Rencana tamu itu semula dua minggu. Tapi mereka betah cuma empat hari. Lalu mereka pulang lebih pagi dari rencana pesiar di Jakarta.

”Orang jakarta tidak pernah mandi!" oceh mereka. 

Ocehan ini tentu akan menjalar ke kota D yang kecil itu. Kami sendiri tenang-tenang saja. Kami cuma menghitung-hitung sepikul air setiap hari 25 perak. Sebulan cuma 750 perak. Nilai itu Iebih murah dari pada harus langganan air. Maksudku, termasuk denda! 

Ketika aku pulang dari kantor kudengar isteri rekan serumah dan istriku sedang bertengkar.

“Kamu, sih, buka air besar-besar!” bentak isteri rekan.
”Habis!” _
“Habis apa? Mandi semaunya! Make air sesukanya!”
“Bayarnya sama saja,” balas isteriku kalem.
“Mentang-mentang suamimu mampu.”
Aku terus menghampiri. Dan ketika aku tampil dihadapan mereka, pertengkaran reda. Istriku lari memburu ke kamar. Kudengar kemudian sedu-sedan dari kamar itu. Aku merasa tidak perlu meladeninya.

Ketika aku akan beranjak, rekan sekerja telah ada di situ.
”Terlalu make air semaunya. Kalau sudah distop, eh-eh, malah sok tenang!” gerutu isteri rekan dengan berani.

”Kalian yang mandi berapa? Kami kan hanya berdua! Tapi bayaran jumlah kamu semua dan kami ber dua, ya sama saja! Jadi, yang royal itu, bukan kami,” kataku kalem.

Rekan itu mengangkat bahu, Ialu beranjak masuk ke dalam, membiarkan aku dan istrinya. Tapi aku pun segera beranjak ke dalam.

”Setan, memang!” seru isteriku di dalam kamar.
”Yah, sudah! Sabar, dong!”

Lalu istriku bercerita bahwa soal mulanya ialah harga pikulan air naik menjadi 40 perak. Dan ketika membayar, uang istri rekan itu kurang. Lalu meminjam. Kebetulan uang istriku pun sudah tidak ada. Maka istri rekan merasa kecewa dan penasaran.

Sejak pertengkaran itu antara kami dan mereka terdapat jurang yang dalam. Lain hal jika di kantor. Kami tetap rekan sekerja yang bahu membahu. Di rumah tidak saling bicara. Perang dingin berkecamuk di terik matahari dan di gersang malam hari.
***

Wastafel itu makin kuning kehijau-hijauan. Kloset berbau sengit. Karena sengitnya, tak seorang pun berani masuk ke kamar kecil itu. Aku sendiri buang air di kantor dan isteriku mengungsi ke rumah temannya yang tak jauh dari rumah.

Hari berganti hari terasa gersang sekali. Kehidupan makin tinggi. Rekan serumah tampaknya makin lesu. Kedua pembantunya pun berhenti.

Lalu kedua adiknya pun mengungsi ke daerah lain, ikut dengan abangnya. Terasa rumah kami jadi sepi. Kehilangan air, laik sebagai kehilangan kesegaran. Buatku, tak ada air seperti sediakala, berarti hilangnya kegembiraan.

Dari wajah mereka aku dapat menduga bahwa mereka kehilangan segala. Kemerdekaan mereka terlihat diperkosa dan direnggutkan. Akhirnya pertengkaran antara mereka sering terdengar. Juga aku dapat kabar dari istriku, kalau istriku sesekali bertengkar juga dengan istri rekan.

"Soalnya apa?" tanyaku tak mengerti.
”Ada-ada saja. Kadang-kadang soal anaknya yang kencing melulu. Marahnya, yah, ke aku! Ya, aku lawan!”

Dua bulan akhirnya Iewat. jurang tambah lebar. Kutukan pada air makin menjadi-jadi. Hidup mereka pun makin senen-kemis. Kanak yang terlanjur dimanja menuntut hal-hal yang menggembirakan.

Akhirnya aku berpikir, suatu hari nanti akan muncul keributan besar bila air ini terus-menerus tidak menetes. Klimaksnya tentu akan hebat sekali. Apalagi setelah kutahu, rekan itu tidak mempunyai penghasilan luar lagi.

Diam-diam, di suatu hari, aku menghadap ke seorang teman yang bekerja di perusahaan air minum. Dengan perantaraannya maka segel dibuka. Lalu di sore
hari yang sepi, air pun mengucur kembali.

“Air! Air! Air!” teriak anak-anak bergeionjakan di kamar mandi, di bawah kerucut teratai.

Spontan isteriku membuka keran wastafel. Airnya putih bening laksana mata ikan bawal. Desir derasnya menggairahkan sekali seperti seorang bidadari yang berkunjung.

Istriku keluar kamar. Lalu berpapasan dengan istri tetangga. Mereka berdua senyum. Senyum penuh arti.

Sore itu aku mandi. Keran terbuka. Air pun mengucur melalu kerucut teratai di atas kepalaku. Air yang menimpa seperti pijitan bidadari dalam tidur dan tanpa sadar, suara pun berkumandang menyanyikan lagu mandi.

Waktu pagi-pagi sungguh segar!
Waktu sore hari amat nyaman!
Bangun terus mandi amat senang!
Lalalala lalala

Akhi bulan rekan tetangga datang. Ia bilang biarlah aku bayar sepertiga saja. Kulihat rekeningnya cuma tiga ratus rupiah.

“Ah tak usah! Biar separuh seorang,” kataku.

Ia senyum. Senyumnya penuh pengertian.

***
(dari kumpulan cerpen Harmoni, 1964)

ceritanet©listonpsiregar2000