sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 233, 17 juni 2013

Tulisan lain

Kisah dua pemimpin: Boris dan Jokowi - Liston P Siregar

Cikini - Ramadhan K.H.

Vivere Pericolosamente 1 - Vincent Mahieu

Anak Sumbawa - Ajip Rosidi

Hampa - Bahrum Rangkuti

Lebih hitam dari hitam - Iwan Simatupang

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

Trem - MH Rustandi Kartakusuma

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Selamat Tinggal, Kucium - Sapardi Djoko Damono

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

foto


cerpen Vivere Pericolosamente 2
Hidup Nyerempet Bahaya
Vincent Mahieu (dari kumpulan cerita pendek Cis, penterjemah H.B. Jassin)dri Cahya Purnama

baca ulang bagian 1

Tali celana kolornya tiba-tiba putus dan arus keras segera meloloskan celananya dari pinggangnya. Tuan Barkey tiba-tiba teputar-putar dalam perasaannya dan di dalam air. Ia malahan merasakan dirinya telanjang bulat secara memaluka dalam air coklat yang pekat, lagipula silang celananya di lutut membuat ia tidak dapat menggerakkan kakinya dengan keras dan akhirnya ia kehilanganarah dan kecepatan karena ia dengan terkejut memegang celananya. Ia menyelam kepala ke bawah, kemudian muncul ke permukaan air kepala ke atas, kemudian menyelam lagi, terminum olehnya air kali banyak sekali dan ia terputar-putar tidak berdaya.

Tapi kebaikan selalu mendapat balasan kebaikan pula. Pergulatan tuan Barkey untuk mengangkat kembali celananya, menyebabkan ia tidak mati terbenam. Pikirannya tetap sadar dan secara otomatis tangan dan kakinya membuat gerakan-gerakan kecil tapi persis cukup untuk tetap mengapung. Ia berhasil meraih celananya ketika sudah sampai di belokan dan dengan beberapa ayunan tangan yang kuat ia berhasil mencapai rakit bambu.

Sambil menyembur-nyembur dan meludah-ludah ia naik ke atas rakit dan duduk, satu tangan menyangga dan tangan lainnya menahan celananya. Ada tiga orang perempuan di atas rakit sedang mencuci pakaian dan membersihkan beras. Mereka tidak melihat perenang itu dan karena itu terkejut sekali melihat seorang laki-laki kulit putih muncul dari air yang coklat. Mereka berteriak-teriak dan hiruk pikuk tak dapat menguasai diri, sehingga tuan Barkey terpaksa memperdengarkan suaranya dengan kasar dan otoriter: “Diam, bangsat, diam.”

Perempuan-perenrpuan itu diam, mereka gemetar, kemudian tenang dan tertawa terkekeh-kekeh. Si .tuan dengan terburu-buru menarik tali koior yang putus dari pinggiran celana, diikatnya ujung-ujungnya, diikatnya perutnya dngan tali kolor di luar celana, dilipatnya pinggiran atasnya sekuat-kuatnya pada tali kolor. Sementara mengerjakan ini, ia melihat lagi tapi sekarang dengan kaget bahwa baju dalam putih itu membayang. Ia tidak bisa berdiri dalam keadaan begitu tanpa menyebabkan perempuan-perempuan itu tertawa berkakakan. Karena itu ia tidak dapat melaksanakan niatnya semula untuk berjalan agak ke hulu dan kemudian berenang ke seberang.

Tidak ada jalan lain dari berenang dari tempatnya berada dan di seberang sana berjalan kembali. Di beberapa tempat memang ada kawat berduri, tapi ia akan berenang mengitarinya. Tuan Barkey masuk ke dalam air yang terletak dalam poros arus dan berenang ke seberang miring ke samping. Dirasanya air kali saban sebentar dengan kurang ajarnya menarik celananya dan setiap kali pula ia menahan celananya untuk mempertahankan kesopanannya.

Penyeberangan itu sangat meletihkan dan tuan Barkey hampir kehabisan tenaga ketika tiba di seberang, persis sebelum kawat berduri pikirnya. Ketika itu ia dengan terkejut mengetahui bahwa kawat itu juga berjalan terus di bawah. Celananya terasa sobek dan pahanya tergores. Pun ia tiba-tiba kehilangan kecepatan, sehingga hanyut dan baru bisa naik ke darat ketika tiba di belokan kali berikut. Sekilas pandang tuan Barkey menyadari keadaannya gawat sekali. Ia kelihatan dari jembatan dengan lalu lintas yang ramai. Ia tidak lama-lama berpikir dan secepatnya berjalan terhuyung-huyung ke tembok belakang rumah orang dan mengetuk pintu belakang, Ia akan meminta tolong pelayan-pelayan di rumah itu untuk mengambilkan pakaiannya di rumahnya.

Pada saat seperti ini tidak akan ada orang Eropa yang tidak tidur. Ia akan tiba di rumah tanpa dilihat orang. Dan pelayan, siapa pula yang bicara dengan pelayan? Sambil mengetuk pintu ia sudah bersiap~siap dengan keterangan yang akan diucapkannya: Saya jatuh ke dalam air dan diseret arus (apa bahasa Melayunya diseret? -dengan isyarat saja); tolonglah saya.

Pintu dibuka dan di depannya berdiri nyonya rumah: nyonya janda Aubrey. Tuan Barkey memandangnya dengan mulut ternganga. Ia hanya mengenal namanya dari tulisan di papan nama dan pernah juga melihatnya dan mendengar sesuatu tentang dirinya. Nyonya Aubrey juga memandangnya dengan mulut ternganga. Tapi sebentar saja. Dengan kaget ia bertanya: ”Tuan kecelakaan? Masuklah, masuklah, masuklah.”

Tuan Barkey maju ke depan, sambil menutupkan pintu di belakangnya.
”Tidak,” katanya seperti orang tolol, ”saya berenang di kali dan kemudian, kemudian ...”

Nyonya Aubrey tertawa tergelak-gelak dan matanya berkilau nakal.

”Lalu tuan berpikir, aku akan berkunjung sebentar ke rumah nyonya Aubrey. Terlalu ah! Apalagi dengan kemeja dan celana dalam yang tuan pakai itu!”

Tuan Barkey merasa terpukul dan menundukkan kepala, diliihatnya celananya yang membayang, cepat ia berbalik dan dilihaltnya pula ada lubang di bagian panbatnya. Ia separoh 'berbalik lagi.

”Demi Tuhan nyonya Aubrey. Nyonya jangan main-main.”
”Eeee! Tuan yang main~main, hahaha. Sungguh nakal tuan Barkey!”

Dialinginya mukanya dengan tangannya dan hanya telunjuknya digerak-gerakkannya memberi peringatan: ”Apa yang tuan lakukan sekarang! Saya bisa melihat semuanya”!

Tuan Barkey merah padam mukanya. Dijilatnya bibirnya dan matanya mendelik. Kedua tangannya menghalangi anunya dan ia berkata mendesak: ”Nyonya. Nyonya, Tolonglah saya nyonya!”

Nyonya Aubrey terus tertawa, tertawa. Ia terbungkuk-bungkuk tertawa. Dengan tangan kirinya dipegangnya kimononya yang separoh terbuka dan dengan tangannya yang lain ia memukul-mukul pahanya. Ia pergi sambil berkata antara tawa tergelak-gelak: mari ikut saya.

Ia berjalan di belakangnya, terpana, terhina, terpukul. Nyonya Aubrey tiba di kamar mandi dan tuan Barkey dengan cepat menyelinap di belakangnya masuk kamar mandi dan menutup pintu.

”Apa yang harus kulakukan dengan seorang laki-laki di kamar mandiku?” kata nyonya Aubrey sambil tertawa. ”Aku, seorang janda yang hidup sendiri secara baik dan terhormat. Dan mendapat kunjungan petang hari dari seorang laki-laki berpakaian dalam! Aku bahkan tidak berani memanggil po1isi!"

Tapi sekali ia terlindung dari tatapan perempuan tak senonoh itu oleh pintu kamar mandi, Tuan Barkey cepat mendapat kernbali kepercayaan dirinya.

”Nyonya Aubrey, saya mohon. Tenanglah dan tolonglah saya. Sudikah nyonya pergi ke rumah saya.”
”Sama sekali tidak. Istri tuan akan mencungkil mata saya”
”Istri saya tidur. Dia masih akan tidur beberapa jam lagi. Kalau nyonya berjalan dari pagar samping, yang selalu terbuka, nyonya akan rnelihat di serambi belakang, persis di ujung gang gedung utama (”Yaaa,” kata nyonya Aubrey pura-pura penuh
perhatian dan terengah-engah), nyonya akan melihat papan setrikaan (”Yaaa,”) dan di atasnya ada celana dalam dan kemeja (”Yaaa”). Di tali jemuran di dalam kebun (”Yaaa”) ada piyama dan di tangga gang ada selop saya (”Yaaa”). Sudikah nyonya
mengambilkannya untuk saya?”
”Tidak ada lagi yang lain ?”
”Tidak. Ooo! Tidak, nyonya Aubrey. Saya rnohon nyonya Aubrey!”
”Kaau saya ketahuan ?”
"Ya Tuhan ! Tidak nyonya Aubrey, tidak ada yang mempergoki nyonya. Kan tidak ada orang jaga?”
”Nah, baiklah. Tapi diperlukan waktu. Saya harus ganti baju dulu. Dan saya harus membuatkan kopi untuk tuan. Supaya segar.”

Tuan Barkey mengerang. ”Nyonya. Nyonya.”
Nyonya Aubrey tenkekeh-kekeh dan pergi, kimononya mendesir berkibar di dalam gang. Sebentar ia kembali.

”Dalam pada itu mandilah dulu, tuan Barkey.”
”Ya, nyonya.”
”Ka1au tidak baju bersih itu akan kotor lagi.”
”Ya nyonya (ya Tuhan!).”
“’Pakai saja sabun saya”
”Ya-ya-ya nyonya, ah nyonya - eh ...”
”Saya berangkat!”

Tuan Barkey hampir-hampir roboh sangkin menderita. Tapi ia cepat menguatkan hatinya.Cepat, cepat. Dengan mata liar ia ia melihat sekeliling kamar mandi. Dilihatnya beberapa helai pakaian dalam yang intim tergantung di sampiran, tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandang karena malu. Ia mernbuka pakaiannya yang lengket. Goresan di pahanya untung tidak menguatirkan. Ia mulai dengan rajin, menyiram diri dan kemudian mengambil sabun dari wadahnya. Bukan main harumnya, sungguh menggoda. Tentu enak memakainya. Tapi tiba-tiba dengan kaget ia teringat bahwa Pompelmusye juga akan mencium baunya.

Jangan pakai sabun. Kedengaran ketokan pintu kamar mandi. Sudah kembali? Sungguh dia bidadari. Apa?! Dia -dibuka nya pintu kamar mandi hingga merenggang sedikit. Segelas jenewer disodorkan ke bawah hidungnya.

”Minum1ah ini dulu,” kata nyonya Aubrey dengan pasti, “supaya jangan masuk angin.”
”Ya Tuhan !” erang tuan Barkey dan ditutupnya pintu, tapi sepatu nyonya Aubrey yang tinggi haknya terjepit di antaranya.

”Minum1ah ini dulu, tuan Barkey. Dan jangan sakiti kaki saya.”
”Nyonya,” kata tuan Barkey hendak menolak, ”nyonya.”
”Tuan,” kata nyonya Aubrey dari luar pintu, ”ka1au saya menolong sesama rnanusia, saya menolongnya dengan baik. Saya tidak mau tuan sakit di rumah saya, Tuan minum ini dulu.”
"Tapi saya tidak pernah minum minuman keras!” tuan Barkey memberikan alasannya.
”Tuan minum sekarang,” kata nyonya Aubrey dengan pasti.
”Dan satu gelas cognac pu1a!” tuan Barkey menjerit.
”Aaaah. Tuan kan bisa minum satu sloki, tuan Barkey. Ayuh, demi kesehatan!”

Tuan Barkey menguatkan hati dan rnengambil gelas itu, ia mereguk sekali reguk, menyemburkannya kembali, tersedak, terbatuk-batuk dan didengarnya nyonya Aubrey berkata: ”Awas kalau tuan buang! Minum!”

Tuan Barkey minum seperti Sokrates. Dikembalikarmya buru-buru gelas itu ke tangan nyonya Aubrey dan ditutupnya pintu, ia terhuyung-huyung ke belakang dan duduk di tepi bak mandi, hampir-hampir tergelincir masuk ke dalamnya dan akhirnya mendapatkan kembali keseimbangannya. Pun ia mendapatkan kembali kesadaran dirinya yang agak sempoyongan.

Kesadaran dirinya itu memang begitu tergoncang sehingga ia hampir-hampir tidak mengenali kembali dirinya sendiri. Kenyataan bahwa ia pada saat ini hidup, adalah suatu hal yang sungguh tidak bisa dimengerti. Tapi ia hidup. Tubuhnya hidup, telanjang. Ia mulai mandi 1agi. Air yang dingin menyegarkan badannya dan menenangkan sarafnya. Tidak pakai sabun. Tapi dipakainya juga handuk nyonya Aubrey. Handuk itu lembut, ungu muda, bukan lap putih besar yang ia kenal, dengan garis yang selalu ia dan Pompelmusye pergunakan. Baunya harum minyak wangi dan ada lagi baunya yang lain yang menggelisahkannya. Tuan Barkey mulai menyeka badannya dengan rajin, membelakang ke sampiran.

Di sebelah kirinya tiba-tiba dilihatnya sebuah cermin besar. Di dalamnya ia melihat dirinya seluruhnya. Ia agak malu tapi sebenarnya senang juga. Ditatapnya dengan senang hati badannya yang besar dan tegap, yang pasti menjadi lebar dan kuat karena selalu berenang. Dilihatnya dua potong baju detkait kepalanya tergantunsg di samping. Dibauinya. Dipandangnya. Dipegangnya. Rasanya halus seperti sutera, lembut, licin. Tidak seperti blus kain kasar yang biasa dipakai oleh Mus. Pinggirannya tidak besar dan lebar, tapi renda tipis sarang laba-1aba. Tuan Barkey memejamkan matanya dan nyonya Aubrey terbayang dalam khayalnya. Seperti menurut cerita tuan-tuan yang mengenalnya.

Wah, dia ,seorang Janda periang dua puluh dua karat, Dia menggaet siapa saja yang dia mau, tua muda, tinggi rendah, yang kawin yang bujangan. Tapi tanpa maksud apa-apa. Dia hanya hendak menikmati hidup ini. Dan tuan Barkey mengingatnya seperti ia pernah melihatnya. Dengan gerlapan tiba-tiba dalam mata yang hitam dan tawa menantang yang halus mengerling mulutnya sehingga tuan Barkey selalu dengan tersipu-sipu memandang ke depan lagi dan cepat-cepat melupakannya. Dan ia ingat kepadanya sebagaimana dia berdiri mandi di depannya. Dengan perasaan lucu yang meledak memang, tapi juga dengan kekaguman yang tidak disembunyi-sembunyikan matanya. Ha sekali lagi meamandang ke dalam kaca. Dilakukannya apa yang sejak usianya yang kedelapan belas tidak dilakukannya lagi. Ia .menegangkan buah lengannya. Dan merasa puas.

Tiba-tiba dilihatnya bintik cahaya dalam bak: sinar matahari menernbus ke dalam, masuknya miring melalui lubang udara dalam tembok. Jam berapa hari? Tuan Barkey tiba-tiba kehilangan akal lagi_ Demi Tuhan, di mana perempuan itu? Tiba-tiba ia mendengar detak detik tumit sepatunya di gang. Direnggangkannya pintu. Disambarnya buntelan bajunya seperti binatang kelaparan. Pintu dibantingnya kembali dan dengan kagok dan susah payah karena tergesa-gesanya ia mulai mengenakan pakaiannya, sambil mendengar suara nyonya Aubrey: ”Terlalu ah! Menyuruh saya masuk rumah orang seperti pencuri. Merampas pakaian dan kembali lagi menyelinap seperti pencuri. Sebenarnya saya gila mau rnelakukannya.”

”Nyonya berhati mu1ia!” tuan Barkey membantah dengan bersemangat, ”saya tidak akan melupakan budi baik nyonya seumur hidup!”
”Seumur hidup? Sungguh seumur hidup” ia bertanya menggoda dan nakal. Ada suatu nada menggemparkan dau mengandung makna dalam suaranya. Tuan Barkey berdiam diri, pikirannya kacau.

”Coba terangkan tuan Barkey, mengapa tersedia sepasang baju dalam tuan di belakang rumah itu ?”
”Saya kan jadi kotor sesudah berenang ?” tuan Barkey menjelaskan seperti orang dungu. Nyonya Aubrey diam sebentar, berpikir-pikir.
”Jadi tuan berenang saban hari?”
”Ya,” jawab tuan Barkey, bangga seperti anak muda.
”Di kali yang berbahaya itu?”
Ia tidak mendengar nada sampingan pertanyaannya yang mengganggu.
”Ah, berbahaya?” ia mengeram bangga.
”Tuan hebat, tuan Barkey, saya kagum kepada Tuan!”
”Ah,” katanya dan ia melangkah ke luar.

Nyonya Aubrey memandangnya dengan rasa kagum yang tidak disembunyikan, tapi tuan Barkey tiba-tiba merasa dirinya kikuk dan kagok lagi. Ia bersiap-siap untuk pergi saja cepat-cepat, dari samping melalui pagar kebun.

”Tidak, tidak,” kata nyonya Aubrey, ”tuan harus minum kopi panas dulu, Saya minta dengan sangat.”
Ia berkeras menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Tidak, nyonya Aubrey, sungguh tidak. Saya sangat berterima kasih kepada nyonya, tapi itu tidak mungkin.”
”Apa maksud tuan ?” heran, seolah-olah ada alasan istimewa. Mukanya memerah.
“Kan tidak ada waktu lagi,” katanya cepat, ”sekarang saya masih sempat pulang ke rumah tanpa diketahui. Maksud saya, istri saya tidak akan mengetahuinya.”
”Jadi tidak ada orang yang boleh tahu ?”
”Tentu saja tidak, bukan? Demi kepentingan nyonya, demi kepentingan nyonya.”
“Tapi buat saya tidak apa-apa, sama sekali tidak apa-apa. Saya anggap kejadian ini interesan sekali, Dan sungguh lucu. Saya sama sekali tidak keberatan untuk menceritakannya kepada semua orang! Tapi sudahlah, saya pergi tidur saja lagi. Selamat jalan, tuan Barkey.”

Ia mengangguk genit dan menggiurkan. Ia berbalik dengan anggun, sepatunya berdetak-detak lagi ke ujung serambi, meninggalkan tuan Barkey yang melongo.
Tiba-tiba Tuan Barkey berlari-lari menyusulnya: ”Nyonya, nyonya Aubrey. Jangan ceritakan kepada siapa-siapa! Jangan!”

Sambil melengos: ”Mengapa tidak! Tuan yang tidak tahu sopan santun, duduk sebentar sajapun tidak mau (”Saya mau duduk !”) untuk minum kopi (”Saya akan minum kopi !”), pada hal untuk kesehatannya.” 
”Memang sohat untuk saya.”
”Baik1ah kalau begitu.”

Tuan Barkey duduk di serambi belakang kecil yang akrab (nyonya Aubrey hanya tinggal di paviliun) dengan kere yang diturunkan sehingga suasana jadi intim. Udara panas namun rasanya sejuk juga. Ditiupnya kopinya yang panas mendidih dan ia menyadari betapa halus dan murni suasana di tempat itu. Kursi-kursi, horden-horden, tikar, barang hiasan, lukisan-lukisan dengan perempuan-perempuan telanjang yang menantang, megah. Semua itu gambar-gambar ilustrasi dari majalah-majalah luar negeri.

Pusat segala kehalusan terbaring di atas divan, terselubung dan juga terdedah dalam yapon hitam yang halus, kulitnya gading dengan indahnya mengelus mata. Di bawah yapon halus itu ada baju dalam sutera yang dilihatnya di kamar mandi tadi, harumnya melenakan. Tuan Barkey lupa kopinya. la lupa waktu. Ia takut tapi merasa tertarik oleh barang yang menakutkannya. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang seperti berenang dalam kali. Mereka hening beberapa lama. Kemudian berkata si perempuan: ”Saya berjanji tidak akan menceritakan sesuatu kepada siapapun juga. Sebab saya senang dengan tuan.”

Tuan Barkey dengan gugup mencari kata-kata untuk menjawab.
”Nyonya simpatik sekali.”
”Hanya simpatik? Sayang tidak?"
”Iiya.”
”Kalau begitu berilah aku cium sebelunm berangkat.”

Ia tidak bisa mengelak lagi dan ia juga tidak mau mengelak. Ia berjalan mendekatinya dan membungkuk ragu-ragu kepadanya. Mata perempuan itu terpejam. Dia begitu murni, begitu jernih dan manis seperti kali di musim kering. Dikecupnya sekilas. Tubuhnya gemetar. Ditariknya kembali bibirnya, tapi bibir perempuan itu mengikuitinya dan ia merapatkan bibirnya lagi.

Ia ......Singkatnya ia baru pulang seperempat jam kemudian ke rumah.

Meskipun tidak ada yang melihatnya, ia merasa seolah-olah ada orang yang melihatnya dan menunjuknya dari belakang. Dan ia merasa lebih dungu dari tadi di kamar mandi. Kepala dan tubuhnya gempar. Ia berjalan melalui pagar samping masuk ke rumahnya dan berja1an terus tanpa berhent1 sampa1 ke serambi belakang. Ia berdiri di gang samping antara kamar mandi dan dapur di pintu belakang. Dilihatnya sejalur kali yang sempit di belakangnya. Coklat dahsyat tidak tertahan menyeret kolosal. Dirasanya di belakangnya benda benda mati yang lamban di rumah itu, serambi ke bangunan utama, serambl belakang yang tenteram kehenangan yang mendesah di kamar tidur dengan Mus yang sedang lelap kamar depan yang hening dengan meja tulis dan kertas kertasnya.

Ia berjalan ke pintu belakang dan menutupnya ba1ik ba1ik. Diputarnya kunci dalam slot dan didorongnya kunci dan bawah pintu ke luar. Ia pergi ke gudang dan dari sebuah peti dlambilnya dua papan penutup yang besar sekali. Diambilnya palu dan paku. Lalu paku itu dengan tenang dan tepat diketuknya masuk ke dalam kayu, menembus pintu dan menancap di tiang pintu.

Di kiri empat dan di kanan empat empat dan d1 kanan empat Dipergosokkannya tangannya dan ia berbalik perlahan masuk ke dalam rumah.
***

ceritanet©listonpsiregar2000