sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 233, 17 juni 2013

Tulisan lain

Vivere Pericolosamente 2 - Vincent Mahieu

Cikini - Ramadhan K.H.

Vivere Pericolosamente 1 - Vincent Mahieu

Anak Sumbawa - Ajip Rosidi

Hampa - Bahrum Rangkuti

Lebih hitam dari hitam - Iwan Simatupang

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

Trem - MH Rustandi Kartakusuma

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Selamat Tinggal, Kucium - Sapardi Djoko Damono

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

foto

komentar Kisah dua pemimpin: Boris dan Jokowi
Liston P Siregar

Walau habis-habisan diejek ‘badut’, Boris Johnson ternyata menang dalam pemilihan walikota London dua kali berturut-turut.: 2008 dan 2012. Rambutnya pirang acak-acakan, tubuhnya gembul, ngomong ceplas-ceplos, dan dalam pemilihan pertama mengalahkan walikota saat itu, Ken Livingstone, yang serius dan menerapkan tarif bagi mobil yang ingin masuk ke kawasan pusat kota London.

Boris sekali waktu pernah kejeblos di sungai di London Tenggara. Waktu itu, jelas direkam sejumlah juru foto dan juru kamera, dia sedang kampanye membersihkan sungai dari sampah. Dengan sepatu boot selutut tahan air, tongkat penarik sampah, dan kantung sampah dia jalan menelusuri sungai dangkal kira-kira selutut. Tiba-tiba dia terperosok dan jatuh terduduk walau kepalanya tak sampai terendam.

Lain waktu, di sebuah taman dalam acara pesta rakyat dia naik luncuran tali dan sempat tergantung di tengah-tengah. Dengan jas lengkap, helem pelindung berwarna biru sambil membawa dua bendera kecil Inggris Raya, Boris sebenarnya tampak konyol. Tapi itu bukan masalah bagi Boris –begitulah, dia dipanggil dengan nama pertama, bukan Johnson. Setelah ditarik pakai tali dan turun ke tanah, dia tersenyum-santai saja seperti tak ada masalah.

Pernah pula saat membuka putaran final basket di London, Boris mencoba menembak bola sambil berbalik tanpa melihat keranjangnya. Gayanya waktu besiap-siap sambil mengangkang sedikit jauh dari penampilan pejabat ‘biasa’ dan bola dilempar: masuk. Dia bersorak mengangkat kedua tangan dan memberi high five kepada seorang hadirin.

Atau ketika meresmikan sebuah gedung, dia sudah berdiri memegang gunting besar namun pas sebelum memotong pita merah dia tersadar kalau para wartawan berada di belakangnya. Otomatis dia melangkah ke seberang pita untuk menghadap ke wartawan tapi kelak fotonya menggunting pita ke luar dari gedung. Bengong sebentar dia balik ke posisi awal dan pita merah tergunting.

Kocak atau mungkin konyol tapi muncul perdebatan apakah Boris layak jadi calon perdana menteri? Kaum muda Inggris, yang semakin tidak perduli dengan ideology politik cenderung tak mempersoalkan penampilan Boris. Ketika konferensi Partai Konservatif, Oktober tahun lalu, dia disambut sekelompok kaum muda yang bersorak ‘Boris, Boris…’ Jelas di dalam konferensi, saat berpidato, dia menegaskan dukungan atas Perdana Menteri David Cameron, bukan menantangnya.

Tapi apakah Boris tidak akan mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri? Dia tidak pernah menjawab jelas namun menjawab: “Cameron melakukan tugas yang fanstastis.” Masih ada dua tahun lagi untuk memutuskan sambil mereka-reka dan menggalang dukungan kaum muda dari seluruh Inggris, bukan sebatas London saja.

Agak mirip dengan Joko Widodo, Gubernur DKI yang menjadi pejabat –atau mungkin orang- yang paling banyak diliput oleh media nasional. Dan bukan untuk acara peresmian gedung atau pembukaan pameran, tapi bertemu dengan warga di bantaran sungai, makan siang bersama warga Waduk Pluit, melelang gitar bas hadiah dari Metallica, nonton Arkarna pakai jaket kulit dan ikut nyanyi panggung.

Belum setahun memimpin Jakarta –dan wajar belum ada keberhasilan yang terukur- Jokowi –nama panggilan yang jelas lebih bergema dibanding Foke atau Ical- sudah disebut-sebut sebagai calon presiden.Orang pun berdebat: untuk 2019 saja supaya tidak terburu-buru atau yang sudah tidak sabar lagi supaya segera diturunkan di 2014.

Jokowi tidak pernah mengatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden, selain masih ingin konsentrasi dengan Jakarta. Banyak yang tahu, begitu Jokowi menyatakan sebagai capres maka dia akan menjadi lebih mudah dihajar lawan-lawan politik.

Jadi masih ada waktu sekitar satu tahun menjelang pemilihan presiden 2014. Toh untuk sementara waktu Jokowi  masih bisa berkampanye gratis sambil menunggu tiba saatnya untuk muncul. Mungkin masih banyak yang mengingat modus operandi ‘kampanye’ mobil Esemka ala Jokowi ketika dia menjadi walikota Solo dan mengantarkan dia menjadi Gubernur Jakarta. Bisa diulang tentunya ‘kampanye’ blusukan di Jakarta untuk meniadi Presiden Indonesia.

Kampanye?

Politisi harus berkampanye, mana mungkin berpolitik tanpa kampanye. Jadi, silahkan bemain cantik Jokowi.
***

baca Jokowi - The Economist

ceritanet©listonpsiregar2000