sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 233, 17 juni 2013

Tulisan lain

Vivere Pericolosamente 2 - Vincent Mahieu

Kisah dua pemimpin: Boris dan Jokowi - Liston P Siregar

Anak Sumbawa - Ajip Rosidi

Hampa - Bahrum Rangkuti

Lebih hitam dari hitam - Iwan Simatupang

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

Trem - MH Rustandi Kartakusuma

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Selamat Tinggal, Kucium - Sapardi Djoko Damono

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

foto

sajak Risau di Rumah Sakit Cikini
untuk dr Sinaga

Ramadhan K.H. (1972) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Setelah kalimat di pintu kamar bedah:
-dengan bantuan Yang Maha Kuasa
Telah diselamatkan satu jiwa-
Campurlah diriku dari dua jenis kutub,
Risau dan harapan
Aku batu karang yang perlahan mengambang,
Semula di dasar sumur yang paling dalam

Apa yang Anda perlukan lagi,
Gantungan harapanku?
Katakanlah, agar gerombolan kelelawar
Selengkung langit cepat enyah,
Sitinjuing diam lenyao,
Dan fajar segera membua
Tirai kegelapan yang menghantu

O, kapal yang selalu oleng
Menyebabkan aku semopoyongan dan lengang
Salahku jua
Mengapa tak pernah aku singgah di pulau pasrah.
Seandainya bundaku masih ada,
Yang selalu mengajarkan ilmu itu padaku,
Tentulah ia yang akan jadi sandaranku
Di saat-saat yang demikian goncang
Sekalipun ia tentu sudah keriput
Dan tak tahab angina tipis sekalipun
Tapi patilah ia yang akan jadi tempatku berpeluk,
Sewaktu kekasihku hijrag dari kenyataan
Di atas kereta yang entah bekas siapa

Sungguh, dokter
Tiadalah batu permata yang bakal berat kulepaskan
Ataupun sekerat emat cincin kawin jika masih diperlukan
Ataupun kitab-kitab puisi yang selalu di katil,
Ataupun apalah lagi
Sejumlah darah yang kumiliki
Ataupun pertukaran nasib sama sekali,
Untuk menembus kegelisahanku
Yang masih terus menjaring aku

Ucapan di pintu kamar bedah,
Tetesan Kristal salju di tenggorokan yang tersumbat,
Benarlah
Tiadalah hormat dan terimakasih yang lebih,
Aku jadi budak belianmu di abad ini,
Sedialah.

Dan kini.
Apaalah yang Anda perlukan lagi
Gantungkan harapanku?
Untuk melenyapkan kegundahanku
Seandainya perku ditebus
Dengan barisan manusia semacam aku
Dan peperangan akan berhenti
Dan segala emas permata dialihkan alurnya
Dan kegelisahan umat akan lenyap
Atas penemuan para ahli,
Catatkanlah namaku yang pertama

Aduh manusia yang tak kenal
Tali temali kecapi nurani yang peka,
Cerita tentang payudara di atas baki
Atau sama sekali dongengan hantu-hantu maut melulu,
Kebalikan dari ajaran kepercayaan.
Jangankan aku sanggup menyimpan seiiris daripadanya,
Seperti orang lain mudah menanyakannya,
Biarlah aku lebih suka jadi buta,
Namun tahun ia tetap hidup di sampingku

O, sayatan cemas yang tak pernah punah
Dokter, pabila aku lewat di tempat kerjamu,
Sekalipun kalimat itu tetap mengiang,
Waktu di pintu kamar bedah

O, gantungan harapan yang sebenarnya,
Aku merunduk depanMu
Dan sujud ingin hilang menyerah di pulau pasrah,
Namun sudilah, sudila, sudilah,
Luluskan dambaan harapanku tentangnya:
Mawar merahku pulih kembali segar.
***

ceritanet©listonpsiregar2000