sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 232, 10 mei 2013

Tulisan lain

Anak Sumbawa - Ajip Rosidi

Hampa - Bahrum Rangkuti

Lebih hitam dari hitam - Iwan Simatupang

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

Trem - MH Rustandi Kartakusuma

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Selamat Tinggal, Kucium - Sapardi Djoko Damono

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta - Suhendri Cahya Purnama

Jokowi - The Economist

Cikini Raya - Ajip Rosidi

Dari Dukuh-Krakatau - Wing Kardjo

Worcester

cerpen Vivere Pericolosamente 1
Hidup Nyerempet Bahaya
Vincent Mahieu (dari kumpulan cerita pendek Cis, penterjemah H.B. Jassin)

Berapa banyak manusia yang menjalani kehidupan ganda? Berapa lamanya, kapan kedua kehidupan itu tabrakan dan bagaimana terjadinya kehidupan yang demikian? Kadang-kadang timbulnya karena rumah yang mempunyai kehidupan ganda. Anda tidak akan dapat menerkanya kalau anda tidak tahu. Ada rumah-rumah seperti itu, yang dengan bagian mukanya yang respektabel menghadap ke jalan yang respektabel, tapi yang pintu belakangnya menghadap ke sebuah gang di daerah gelap.

Betapa banyak petualangan dilakukan dari pintu belakang seperti itu dan betapa banyak penderitaan bahkan kebinasaan disebabkan karenanya!

Di negeri Hindia lama hal-hal semacam itu biasanya tersembunyi. Orang Eropa punya prestise. Bangunan-bangunan tambahan dan apa yang berada di belakangnya secara resmi tetap merupakan terra incognita. Petualangan-petualangan didiamkan saja, disisihkan atau paling-paling diceritakan sebagai keberanian dalam pembicaraan dengan suara redup waktu minum-minum. Sebagai cerita yang diragukan kebenarannya Tapi mengapa kejadian yang paling rahasia selalu menjadi pembicaraan juga kalau tidak ada orang Eropa meliihatnya? Ah. Kita mendengarnya karena kita sendiri muncul di bangunan-bangunan tambahan atau di belakangnya. Ada mata yang melihat, kuping yang mendengar, jadi ada pula mulut yang bicara.

Di kali Ciliwung, di tengah-tengah kota Betawi ada rumah-rumah yang mempunyai kehidupan ganda seperti itu. Tentu saja rumah-rumah itu tidak secara resmi letaknya di kali Ciliwung. Ciliwung mengalir di belakangnya Tidak ada orang yang melihat apa-apa kecuali waktu menyeberangi jembatan. Itupun yang kelihatan hanya bagian-bagian kecil saja, yang sudah dilupakan lagi dalam sekejap mata. Dan karena tidak pernah orang Eropa berdayung di kali Ciliwung, apalagi berenang, tidak ada orang yang tahu bagaimana rupanya paroh yang lain dari kehidupan ganda rumah-rumah itu, yang bagian mukanya didiami oleh referendaris-referendaris, pegawai-pegawai staf dan para akademikus.

 Kehidupan di bagian paling belakang rumah-rumah seperti itu sama gelapnya dan tidak dikenal seperti lazimnya segala sesuatu yang paling belakang. Dari kali hanya nampak dinding-dinding belakang bangunan-bangunan tambahan yang tegang, kotor, dan penuh debu dengan lubang-lubang ventilasi yang laksana mata tiada berkedip, dengan pecahan-pecahan beling yang tajam di atas tembok dengan dinding setengah
bobrok dan tiada bercat, kuncinya sudah berkarat dan gang di belakangnya penuh barang-barang rombengan yang dibuang sehingga tamu yang tidak diundang tidak akan bisa masuk, meskipun ia hendak membuka pintu dengan paksa.

Dari dinding-dinding belakang itu sampai ke tepi sungai kadang-kadang masih ada juga beberapa keping tanah repih ditumbuhi rumputan yang hidup sia-sia antara boto1-botol pecah, barang pecah belah dan kaleng berkarat yang pemah dilemparkan dari atas tembok dengan kesal. Beberapa orang yang pernah menjejak kepingan-kepingan tanah itu ialah penangkap-penangkap ikan yang datang membersihkan jalanya. Tapi tidak enak lama-lama di sana karena banyak duri, beling, dan kotoran. Seringkali ada pula ular.

Pernah ada juga seorang anak nakal memanjat tembok dan kerasak kerusuk di situ, tapi kakinya Iuka-Iuka kena beling yang tidak kelihatan dan ibunya melarangnya untuk datang Iagi ke situ. Barangkali dahulu ada juga orang mempergunakan keping-
keping tanah itu. Kalau tidak apa gunanya pagar pemisah pekarangan dari kawat berduri itu, kadang-kadang malahan sampai ke air kali? Tidak ada orang yang menanyakan itu karena tidak ada orang yang melihatnya.

Kecuali seorang. Itulah tuan Barkey. Tuan Barkey sebenarnya seorang Indo, seperti nyata dari namanya, menurut orang yang tahu. Tapi ia suatu tipe yang sangat istimewa, jenis yang lengkap dan kulitnya putih.

Banyak orang Eropa yang menyangka ia seorang totok karena rarnbutnya yang pirang, matanya yang biru dan kulitnya yang putih. Barangkali karena itu pula ia sukses dalam pekerjaannya. Sebab meskipun usianya baru 34 tahun dan dinasnya baru 14 tahun, ia sudah jadi kepala kantor. Ia tidak banyak bergaul dengan ternan sejawat berkulit coklat yang tidak rela rnelihat suksesnya dan menyesalinya bahwa ia tidak mengakui bangsanya.

Tuan Barkey tidak punya anak. Istrinya seorang perempuan yang ramah, gemuk. Dari semula ia sudah rnenyebutnya Musye karena wajah dan sifatnya yang keibu-ibuan. Juga Pompelmusye karena dia begitu gemuk. Mereka hidup senang. Si nyonya empat tahun lebih tua dari suaminya dan sudah mulai kelihatan seperti perempun tua. Si tuan yang kawin pada usia 19 tahun segera padam semangatnya sebagai penakluk dan kekasih. Itu selalu terjadi kalau ’kita bertambah tua’. Kita tidak menginginkan sesuatu yang istimewa lagi, artinya sesuatu yang menggugupkan.

Tuan dan nyonya Barkey, yang tidak mengenal siapa-siapa di sekitar, kecuali paling-paling kenal rnuka, hidup tenang menikmati umurnya. Mereka membaca buku-buku roman, berlangganan tromol baca, rnelakukan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah dan sibuk dengan hobinya tanpa saling mengganggu; semua mereka lakukan seperti anak-anak yang manis. Si nyonya mampunyai kebiasaan membaca sarnpai jauh malam di tempat tidur, tapi kekurangan tidur itu diperbaikinya dengan tidur siang yang lama: dia tidur dari setengah dua, segera sesudah makan nasi yang banyak, sampai jam lima seperti kerbau.

Sebaliknya si tuan tidak pernah tidur siang. Barangkali karena ia selalu tidur di kantor. Suatu bukti bahwa ia sama sekali bukan seorang yang penuh ambisi. Apabila isterinya tidur, kerasak kereaek dalam rumah, tangannya yang suka bekerja selalu bisa saja menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Kandang ayam, kabel listrik, kebun, gudang, mengadakan reparasi-reparasi tidak berguna pada barang-barang tidak berguna.

Pada suatu hari ia memperbaiki kunci karatan pintu belakang yang tidak berguna. Dengan seikat kunci, minyak kelapa, dan sebuah obeng ia dapat memperbaiki kunci itu dengan sempurna tanpa memperhatikan kali di belakang rumah. Lagipula di situ tidak nampak apa-apa, seperti kernudian diketahuinya, setelah selesai pekerjaannya, ia istirahat dan sambil mengisap rokok melihat ke seberang kali. Tidak ada orang kelihatan di tepi kali sini maupun di seberang sana, di mana nampak kebun pisang yang sepi. Di sebelah sana lagi, di tikungan menghilir, ada kampung yang tidak kelihatan karena pepohonan yang lebat, tapi kehadirannya dapat diketahui karena adanya rakit bambu di sungai; di atasnya perempuan-perernpuan mencuci pakaian. Tapi mereka jauh. Jadi tuan Barkey dapat tetap berpakaian dalam, tak usah malu-malu.

Ia selalu berpakaian dalam yang potongannya sederhana terlalu kuno. Tapi Pompelmusye orangnya memang kuno dan membuat pakaian yang potongannya kuno. Celana dalam yang sempit samrpai melewati lutut, terbuat dari katun yang kuat dengan setrip merah yang halus. Dan dengan sebuah kolor, yakni tali yang biasanya dipakai untuk mengikat piyama sebelnm ditemukan pita karet. Tuan Barkey memakai kemeja bertangan pendek lehernya bulat tinggi, kancingnya dua dengan kantong di rentang perut, di dalamnya disimpan tepak dan ansteker.

Tuan Barkey yang mengenakan baju dalam sebenarnya adalah tuan Barkey ’sec-and-c1ean’. Tuan Barkey yang berpakaian kantor adalah seorang tuan, seorang amtenar, semacam perhiasan kantor.

Karena itu juga ‘tuan Barkey sebenarnya selalu merasa paling senang memakai pakaian dalam. Tuan Barkey bersandar di tiang pintu sambil mernandang ke kali yang mengalir lewat, coklat, perlahan dan dingin. Kali yang kotor, di dalamnya mengapung kotoran, bangkai dan tai. Kali itu bagi tuan Barkey juga merupakan lambang segala yang hina, kotor dan tidak beradab di negeri Hindia. Waktu itu tuan Barkey bukannya sadar akan hal itu. Kali hanya kali saja. la duduk dan dengan senang memandang ke kali; ia tidak ada urusan dengan kali itu. Barangkali karena pekarangan belakang tuan
Barkey dengan barang-barang matinya yang selalu tenang maka kali yang bergerak itu menarik juga dan dan bahkan memberahikan.

Barangkali juga karena semuanya serba acak-acakan, tepi sungai yang rapih dengan tumbuh-tumbuhan yang liar, sesudah segala yang rapih teratur dalam rumah maka ia dapat melihat semua itu penuh perhatian. Bagaimanapun juga tuan Barkey entah bagaimana tertarik oleh kali itu. Dengan cara yang tidak dapat diterangkan bahkan seolah-olah ada sesuatu yang menariknya ke tepi kali dan ia perlahan-lahan berjalan
ke sana dengan terompah kayunya. Dilepaskannya sebuah terompahnya dan dimasukkannya kakinya ke daalam air, yang di tepi sini bukan kuning coklat, tapi hampir-hampir jernih, pendekmya kabur dan bening romantis.

Tuan Barkey berdiri tegak seperti bangau di atas satu kaki dan kakinya yang satu lagi bermain-main dengan jari-jarinya dengan air yang dingin. Di dalam air itu berenang julung-julung dengan moncongnya yang tajam. Dan di dalamnya berenang ikan-ikan kecil keemasan berkepala gepeng dan dengan bintik putih di kepalanya. Lumut dan ganggang berayun-ayun dan melingkar anggun dalam arus per1ahan. Beratus ribu kerlap kerlip keemasan berenang di dalam air. Tuan Barkey berdiri
dengan kedua kakinya di dalam air yang kotor. Kakinya tiba-tiba menjadi lebih pendek namun lebih putih dan bagus.

Aneh sekali. Dirasanya bahwa di sini ada semacam gosong dengan batu-batu kecil, licin dan bundar, pecahan-pecahan putih licin tergesek dan kepingan-kepingan batu bata merah. Gosong itu tambah ke tengah tambah menyempit dan berangsur-angsur
Menurun. Demikianlah dirasanya. Pada siang yang panas itu air terasa sejuk sekali dan menyegarkan. Air itu lebih bersih dari yang kita sangka melihat kali yang kotor itu. Air itu memeluk kakinya, berbunyi kluk-kluk-kluk menyegarkan lekuk-lekuk lututunya, baunya enak seperti tanah yang segar. Tuan Barkey tiba-tiba duduk.

Sejam kemudian barulah ia masuk rumah lagi.

Sesudah seabad bermain-main seperti anak kecil, bertualang seperti anak nakal, berenang seperti seorang jantan. Waktu itu belum ada kolam renang di Betawi. Jadi tuan Barkey tidak pernah berenang. Ia bahkan tidak punya baju mandi, Tapi tidak mengapa kalau ia mandi memakai baju dalamnya. Kan tidak ada orang di sini. Permainan di kali itu menyenangkan seperti setiap pekerjaan terlarang dan menarik seperti sesuatu yang unik sekali.

Kepala kantor mana yang berenang di kali? Bahkan komis tiga pun tidak akan melakukannya! Begitu istimewa dan begitu khas, sehingga tuan Barkey bahkan tidak menceritakannya kepada isterinya. Ia mandi bersih-bersih dengan mempergunakan banyak sabun untuk menghilangkan bau kali, Ia berhasil menyimpan rahasianya beberapa bulan lamanya.

Setiap siang apabila Pompelmusye tidur, tuan Barkey menyelam dalam kali. Tidak ada yang kotor, katanya. Buktinya air hanya jika dekat sekali dengan kotoran -paling dekat satu sentimeter – baru akan kena infeksi dengan kotoran itu. Ia menolak pula bahwa air itu tidak sehat dengan mengemukakan bukti para ahli menasehati bahwa lapisan air pailing atas selalu bebas hama sama sekali karena panas matahari terik. Dan sekalipun tidak demikian halnya, mau apa?

Tuan Barkey dalam minggu-minggu berikutnya bertambah berani, tidak pernah ia seberani itu. Ia berenang ke setiap tempat di pinggir kali yang rnenarik perhatiannya. Di tepi sungai di seberang sana ia masuk dalam sekaili ke dalam gosong lumpur 'yang licin’ ia narik ke darat antara tanaman-tanaman berduri, terus juga berenang bila ada ular menyeberangi kali, ia berenang juga bila air kali naik oleh hujan dan mengalir lebih deras. Ia bahkan di tengah-tengah arus yang kuat sejam lamanya dapat melawan arus dengan jalan berenang sekuat tenaga dan tidak kehilangan satu sentipun. Sambil berenang cepat ia dapat maju sepuluh meter ke depan dalam arus yang paling keras. Ia dapat menyelam bermenit-menit lamanya. Ia kadang-kadang dengan sengaja bermain-main dengan bahaya dan ia senang.

Tuan Barkey lambat laun menjadi seorang manusia. Hanya prosesnya agak lambat karena dua puluh dua jam dalam sehari ia dengan berhasiil dapat menahan diri berlaku munafik sebagai amtensar biasa.

Hanya satu yang ditakuti oleh Barkey. Yakni bahwa satu kali akan berarti yang penghabisan kali. Seperti halnya semua kesibukan yang nampaknya tiada berakhir, terutama kesibukan-kesibukan yang menyenagkan sekali akan berakhir juga. Bukan karena tuan Barkey takut akan terjadi kecelaakaan tiba-tiba, untuk itu ia lambat laun telah jadi biasa denigan kali. Tuan Barkey bukan takut kepada asal musabab semua itu akan berakhir tapi ia takut dengan keakhiran itu sendiri.

Nampaknya seolah-olah kali itu iambat laun telah mengenalmya dan mencintainya. Setiap kali ia datang, kali itu tertawa gembira seolah-olalh mengucapkan selamat datang. Pun penduduk kampung di atas sana sudah terbiasa dengan orang Belanda aneh ‘yang suka‘ berenang itu. Minggu-minggu yang pentaima sering kali masih ada juga anak-anak benkumpul di atas rakit, tapi itu pun tidak lama kemudian tidak terjadi lagi. Si orang Eropa Barkey pun menjadi suatu gejala biasa di kali. Seperti orang-orang lain yang berenang, seperti kotoran, bangkai, dan tai yang mengapung.

Juga yang penghabisan kali itu tuan Barkey terjun ke dalam air dengan perasaan gembira dan tidak curiga apa-apa.

Dua hari sudah turun hujan keras, rupanya juga di pegunungan sana. Sebab air di kali naik sehingga tepi kali di belakang bangunan-bangunan tambahan terbenam dalam air. Namun demikian tuan Barkey terjun lagi ke dalam air seperti anjing laut putih yang menganggap air bukan lagi suatu bahaya yang mengancam tapi hanya unsur alam saja. Kali waktu itu pekat karena lumpur dan warnanya coklat dengan pusaran-pusaran lumpur yang hampir hitam. Bahkan ada batang-batang pohon yang patah mengapung. Jadi tuan Barkey merasa senang sekali, belum pernah ia merasa sesenang itu. Sambil mendengus ia menguak menempuh air, tidak sejengkalpun mau mengalah kepada arus. Pun di tengah kali ia tidak mau mengalah meskipun arus di situ paling keras. Ia mengawasi kotoran yang mengapung ke arahnya sambil dengan cekatan mengelakkan dahan-dahan dan batang pisang.

Tapi bahaya menyergapnya dengan cara yang hina dari belakang.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000