sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 231, 7 april 2013

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu - Elfira Arisanti

Jakarta Di bawah Hujan - Sapardi Djoko Damono

Trem - MH Rustandi Kartakusuma

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Selamat Tinggal, Kucium - Sapardi Djoko Damono

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta - Suhendri Cahya Purnama

Jokowi - The Economist

Cikini Raya - Ajip Rosidi

Dari Dukuh-Krakatau - Wing Kardjo

Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan - Syamsul Huda M. Suhari

Sajak Pandak Tentang Negeri - Syam Asinar Radjam

foto

cerpen Lebih Hitam Dari Hitam
Iwan Simatupang

Sejak hari pertama aku dirawat di bagian penyakit jiwa rumah sakit ini, segera ia menarik seluruh perhatianku. Ia mempunyai kepala besar dengan bentuk yang khas. Bahkan boleh dikata seluruh perawakannya adalah khas. Caranya mengamati seseorang, memulai bicara, semuanya meninggalkan kesan, mengajak kawan berbicaranya tertegun dan segan. Adakah ia macam orangnya yang disebut berpribadi itu? Aku tak tahu.

Akan tetapi, selekas itu ia menarik perhatianku tak selekas itu aku bisa mengadakan kontak dengannya. Aku pun bukanlah orang yang secepat itu ingin dan dapat mengadakan hubungan dengan seseoang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Aku mempunyai ketegunan dan keseganan untuk mendekati seseorang, ketegunan dan keseganan, apa boleh buat? Sudah watakku. Aku tak mampu berbuat apa-apa terhadapnya, betapa pun pada hakikatnya besar keingingan dariku untuk mempunyai kawan, banyak kawan.

Tapi pada suatu hari ia sudah tegak di hadapanku dan serta merta merampas surat kabar yang sedang kubaca ketika itu. Karena terperanjat oleh tindakannya yang tanpa basa basi itu, aku tak dapat berbuat apa-apa, tak dapat berkata apa-apa. Ia segera duduk di atas sebuah bangku di pojok dari ruang tengah itu, lalu berlagak membaca.

Sebenarnya panas hatiku memerintahkan aku pergi kepadanya. Merampas surat kabar itu kembali darinya. Kemudian menjewer kupingnya atau mengayunkan sebuah tinju pada mukanya. Tapi segera aku menangkap suasana: suasana ruangan, suasana sekitar. Juga suasana yang ada dalam diriku. Mengapa aku di sini? Mengapa ia di sini?

Suatu perasaan kelu menghembus di dalam hatiku, kelu yang bikin merah padam. Tinjuku yang sudah mengepal, merentang kan jari-jarinya kembali. Entah mengapa, dadaku sesak dengan nafas panas: aku punya rasa simpati dengan dia, dengan si kepala besar. Ya, dengan semua orang miring dan gila yang sedang dirawat bersama aku di sini. Pipiku sudah basah keduanya: dunia mengenyakkan dirinya ke dalam diriku. Dunia kutimang. Kasihku padanya tak terhingga…

  • Mengapa saudara tak jadi marah? tiba-tiba menggeledek suara si kepala besar. Ia sudah tegak kembali di hadapanku. Surat kabar tadi sudah digulungnya jadi semacam pentung pemukul, tangan kirinya menolak pinggangnya
  • Ayo, jawab! Mengapa Saudara tak jadi marah, tadi? geledeknya kembali setelah dilihatnya betapa sukar aku mengambil sesuatu sikap yang layak bagiku terhadapnya, pada saat itu.
  • …mengapa saya mesti marah: sahutku. Bimbang. Malu.
  • Kau mesti marah! Mesti marah! Teriaknya. Kali ini ia melompat, akhirnya meniarap di atas ubin, sambil menangis tesedu-sedu.

Bimbangku semakin jadi. Kekaburan semakin merebut setiap ruang kosong dalam diriku.

  • Aku tidak ingin dikasihani tahu? Tidak mau! Kau setan! Iblis. Algojo! teriaknya.

Aku merasa diriku bersalah. Tapi tak jelas bersalah karena apa. Perasaan-perasaan begini sebenarnya tak asing lagi bagiku. Akhir-akhir ini bahkan semakin jadi-jadinya menghujami diriku. Sering aku mempergoki diriku dalam keadaan yang lesu sekali payah, sedang aku tak tahu mengapa. Berkali-kali aku meneliti diriku, apakah ini barangkali tak sama dengan apa yang disebut ‘kekosongan’ yakni yang banyak dipercayakan dalam banyak roman dan drama modern itu?

Tapi setiap kali mencoba menheliti serupa itu, setiap kali pula lah aku harus kecewa. Bagaimana mungkin kepadatan perasaan dan pikiran serupa itu dapat disebut kekosongan?

Perasanku gemuruh, menggelegak panas, dan ingin melimpah ruah ke segenap penjuru. Kosong? Tidak! Pikiranku memacu dalam keadaan terang benderang: seolah seluruh persoalan di bawah kolong langit ini menyatakan dirinya dalam keadaan yang kemilau padaku dan aku tinggal memecahkannya saja. Kosong?

Surat kabar tadi kini sudah bukan surat kabar lagi. Ia telah lusuh. Bagian-bagiannya beterbangan kian  kemari. Si kepala besar telah berhenti terisak-isak. Dengan mata yang masih basah ia mengirimkan beberapa senyum manis kepadaku. Ia tegak mengulurkan tangannya padaku. Cepat tangannya kuburu dan kusergap. Alangkah panasnya air mataku yang membasahi tangannya itu. Ia kugenggam erat. Suatu panas yang membara, tapi sekaligus menyeramkan. Menjalar dari jari-jarinya ke dalam seluruh tubuhku. Dan mengapa aku mesti berlaku demikian, entahlah! Bahkan aku tak perduli. Huruf-huruf daripada pengertian 'segan' dan 'harga diri' memang masih sempat kulihat berpijar dalam kalbuku. Tapi dengan cepat yang menderu-deru ia kulalui saja, Aku lupa mendengus ke depan. Entah ke arah mana aku tak tahu; tak perduli.

Kami berdua yang berpeluk-pelukan begitu, tentulah merupakan tontonan bagi hadirin di situ.

Hadirin terdiri dari kawan-kawan sekedudukan sosial (orang-orang yang miring) dan mereka yang ada di luar lingkungan sosial kami itu, yakni para juru rawat, dokter, dan para kerabat dari para pasien yang sedang datang berkunjung saat itu. Pada wajah mereka itu tampak iba keasihan mengambang dengan padatnya. Mereka ini adalah agaknya manusia-manusia budak dari hati nurani yang primer. Sikap pertama mereka di segala kejadian adalah: kasihanilah! Beberapa dari mereka, terutama dari jenis wanitanya, sudah ada yang bahkan menghapus-hapus matanya dengan sapu tangan…karena terharunya.

Beberapa wajah lain lagi menggambarkan rasa geli, lucu. Mereka ini adalah agaknya manusia-manusia dari jenis humoris akhir zaman, manusia-manusia budak dari etika dan moral yang primer. Sikap pertama mereka di segala kejadian adalah: Tertawalah! Segala yang ada di dunia ini adalah –pada taraf pertama dan terakhirnya- serba lucu. Beberapa dari mereka itu, dari kedua jenis wanita maupun prianya, sudah ada yang terpingkal-pingkal memegangi perut dan menghapus-hapus air matanya dengan sapu tangan….karena lucunya.

Tapi hatiku berdenyak paling nyeri adalah ketika mengamati jenis ketiga dari publik kami.

Mereka adalah dari jenis yang tidak ada menunjukkan reaksi apa apa pun! Muka mereka tetap mempertahankan kerentangan jangatnya, sedikit pun tak berkerut: tak menangis, tak tertawa. Melihat wajah-wajah yang indiferen inilah nafasku mulai jadi sesak. Kelilingku mulai berputar. Setiap zarah udara yang masuk ke dalam rongga dadaku membawa rasa enyak. Sesak…

Aku bangun dari tidurku esok harinya. Begitu aku mengenali kembali putih tembok bilikku, aku tegak melompat dan memacu ke luar. Tapi si kepala besar tak tampak olehku.

Manteri juru rawat yang selalu kuhadiahi senyum manis, melihatku. Agaknya mengerti siapa yang sedang kucari itu.

  • Dia sudah pergi Tuan, katanya.
  • Ke mana? Tanyaku
  • Pulang ke rumahnya. Semalam tiba-tiba ia minta agar familinya datang mengambilnya, pagi ini juga. Apabila ia tak diambil pulang hari ini juga, ia mengancam akan bunuh diri. “Juga di rumah sakit jiwa masih banyak alasan dan alat untuk bunuh diri!” begitu dia mengancam.
  • Apa jawab familinya?
  • Tadi, pagi-pagi benar, pukul setengah enam mereka datang, lalu membawanya pulang.
  • Setengah enam pagi? Tanyaku, kali ini dengan heran yang memuncak. Mengapa mesti pukul setengah enam?
  • Entah, Tuan. Itu permintaannya sendiri.
  • Tapi bagaimana bisa, seorang pasien meninggalkan rumah sakit pukul setengah enam pagi? Kan kantor belum buka? Tanyaku dengan nada seolah aku lah pemimpin rumah sakit ini.
  • Entah, Tuan. Sambil berkata demikian cepat ia pun berlalu.
  • Aneh! Sungguh aneh.

Tapi…tiba-tiba aku melihat dalam ingatanku wajah salah seorang dari publikku yang kemarin: tertawa geli, lucu. Aku tertawa. Sungguh geli. Kucu! Siapa lagi yang meninggalkan rumah sakit pukul setengah enam pagi-pagi buta, kalau tidak orang yang miring?

Aku tertawa, makin lama makin keras. Terbahak-bahak. Membuat para sesame pasien, para juru rawat, dan dokter yang mulai masuk berdatangan pagi itu, melihat padaku, dengan wajah takut campur heran.

Sore itu langit sangat cerah. Sama dengan cerahnya aku dari dalam diriku.

Buku yang sejak dua hari ini terungkap terbengkalai di bawah bantalku dapat kubaca lanjut beberapa halaman lagi. Di sekelilingku terdapat suasana yang beroleh larasnya dengan perasaanku ketika itu. Pasien-pasien lainnya seolah sepaham semuanya dengan aku, demikian pula para juru rawat yang berjaga sore itu. Perasaanku meluap dengan kebutuhan untuk meneriakkan ke seluruh dunia, betapa bahagianya aku ketika itu.

Kerabat para pasien mulai berdatangan. Tampak dan kedengaran keriuhan dari setiap mereka yang datang itu. Jantung para pasien yang melonjak-lonjak karena beroleh kunjungan itu (berarti kiriman makanan, minuman, rokok, kadang diiringi dengan sayang dan cium) seolah tampak berlompatan ke luar tubuh mereka, dan berkeliaran d sekitar sambil menari-nari kegirangan.

Tiba-tiba namaku dipanggil. Aku menoleh.

Seorang lelaki menjinjing sebuah bungkusan datang padaku. Dia tak kukenal. Setahuku ia pun tak kenal aku. Hatiku berdentang cepat: Kepalanya! Kepalanya menyerupai… si kepala besarku, sahabatku. Tak pelak lagi!

Aku berpacu datang mengelu-elukannya. Alangkah kecewanya aku, ketika kulihat dari dekat bahwa raut mukanya adalah dari benua di bumi lain, Tidak, dia bukanlah si kepala besarku. Dan langkah-langkah seolah direm, dengan sendirinya. Aku hentikan lajuku, kemudia berbalik dan cepat lari masuk ke bilikku.

  • Aku tak ingin lihat Saudara. Tak ingin bicara dengan saudara. Pergilah, pintaku terisak. Pergiiii.
  • Baik, jawabnya tenang, sambil berdiri di ambang pintu bilikku.
  • Bagaimana dengan bungkusan ini? Di dalamnya ada makanan.
  • Bawa pulang! Teriakku.

Lama ia menatap aku. Pandangannya membikin bumi berputar. Kepalanya yang sebangun dengan sesuatu yang sangat mesra sekali artinya bagiku, mengambil bentuk yang semakin besar, kian lama kian besar juga. Tiba-tiba kepala itu demikian besarnya hingga ia mendekap aku dalam ranjangku.

Kembali itu perasaan ambivalen merebut seluruh diriku: Aku ingin dengan teharu menyentuh kepala tersebut. Tapi di saat yang bersamaan itu juga ingin aku menerjangnya. Aku ingin mengulasnya, membelainya penuh sayang, tapi sekaligus juga ingin aku memecahkannya. Aku ingin mengucapkan kata-kata yang paling merayu padanya, sedangkan di bagian lain dari rongga mulutku sudahlah tersedia kata-kata paling keji dan kasar baginya.

Sesudah proses begini berlaku kurang lebih tiga menit lamanya, aku pun biasanya jadi lemah, payah sekalu, Aku merasa kebutuhan buat berkeringat. Akan tetapi aku hanya dijengkelkan oleh perasaan bahwa bintik-bintik keringatku itu hanya sampai pada selaput sebelah dalam saja, sari jangatku: keringatku enggan keluar. Hangat-hangat kuku yang melembahi seluruh kujur tubuhku, membuat rasa payahku semakin jadi.

Keseluruhan dari keadaan diriku yang begini inilah yang tadi kusebutkan sebagai 'kekosongan'. Kekosongan yang sebenarnya merupakan keriuhan yang seriuhnya, kepadatan yang sepadatnya.

Kekosongan yang sebenarnya merupakan chaos dalam bentuknya yang paling murni. Kekosongan yang merupakan vitalitas yang tak menentu arah, yang hanya merupakan linjakan hayat yang liar belaka, seliarnya.

Keputihan tembok kian nyata talam penglihatanku. Aku siuman. Tapi kokoh yang membuat aku bingung tadi sudah tak ada lagi di ambang pintuku. Kepala besar yang khas itu sudah pergi. Kekosongan jenis baru terasa padaku, kini. Cepat aku bangun, memburu ke luar.

Tapi di luar hanya ada gang yang kelewat bersih, kelewat kosong. Tamu-tamu pengunjung lainnya agaknya sudah pulang semua, sedangkan pasien-pasien lain sudah masuk ke bilik masing-masing. Aku melihat pada jam dinding ruang tengah. Setengah delapan malam, sudah.

Tiba-tiba suara yang kukenal, menyergapku dari belakang.

  • Dia sudah pergi, Tuan.
  • Ke mana? Tanyaku.
  • Pulang. Ke rumahnya.

Ia diam. Aku diam. Ia agaknya menantikan reaksiku. Aku kaget. Buat pertama kalinya dalam hidupku aku ada merasakan dalam diri datangnya sesuatu keinginan buat membunuh. Buat menerkam manteri itu di kuduknya, menghisap darahnya sebanyak-banyaknya dari situ. Aku merasakan panas darahku mengguyur tubuhku.

Sang manteri agaknya menangkap suasana. Nalurinya memperingatkannya agar cepat berlalu. Ia takut. Tapi kemanterijururawatannya yang sudah sekian puluh tahun itu memberikan padanya kemahiran untuk menyembunyikan perasaan dan pikiran yang sebenarnya. Demi dan untuk dinas. Demi dan untuk masa kerjanya.

  • Apa katanya? Tanyaku, tanpa aku sendiri ingin bertanya.
  • …anaknya, yakni kawan Tuan yang pulang tadi pagi itu, sudah meninggal. Dan bersama dengan ucapan itu manteri itu pun bergegas.
  • Meninggal? Aku tak tahu apakah ucapan itu sungguh ada aku ucapkan. Buat sekian kalinya bumiku kiamat.
  • Meninggal karena apa? Tanyaku lagi dan sekaligus dalam diriku aku mentertawakan diriku: seolah untuk mati dibutuhkan sesuatu sebab.
  • Entah. Tapi setiba dia di rumah, dia tiba-tiba demam panas. Ketika dokter yang dipanggil datang, ia meninggal.

Dalam waktu yang sangat sekilas kulihat dalam picingan mataku, betapa rasa muakku yang tadi gagal mengambil sesuatu bentuk tertentu bagi dirinya, kembali. Beberapa garis berterbangan, datang entah dari mana, bertemu, berbenturan, dan mencoba saling merangkul satu sama lain. Gumpalan rangkulan itu kemudian berputar. Kian ama kian kencang dan menunjukkan warga silih beganti, silau-silau. Tiba-tiba entah sebab apa, gumpalan itu pecah. Garis-garis tadi beterbangan kembali dan entah ke mana. Bersama hilang mereka mataku disilaukan oleh warna hitam yang berpijar…dan berakhir dengan bau ludah basi di dalam mulutku.

  • O ya. Tuan, kata manteri yangh masih tegak di depanku. Agaknya dari tadi dia mengamatiku. Ia mengeluarkan surat kabar yang berlipat dari dalam saku celananya dan menyerahkannya kepadaku. Tanpa aku ingini sendiri surat kabar itu kuterima.
  • Ayah kawan Tuan tadi, menyerahkan surat kabar ini pada saya. Pesannya, agar saya serahkan kepada Tuan.
  • Surat kabar? Surat kabar apa? Surat kabar siapa? Tanyaku berturut-turut, heran bingung.
  • Mendiang kawan Tuan berpesan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, agar buat Tuan di sini diantarkan sebuah surat kabat.
  • Buat apa? aku heran memuncak.
  • Bayar utang, katanya. Sang manteri lalu pergi

Bunyi langkah-langkahnya yang kian menjadi membuat gangguan seolah kian lengang. Kian licin, bersih. Sebelah tanganku menggenggam surat kabar itu, yang sebelah lagi mencari pegangan, pada tembok. Aku terhuyung-huyung kembali ke bilikku. Yang kecil, yang putih temboknya, yang malam itu bagiku punya warna hitam yang lebih hitam lagi dari hitam…

***
Disalin dari Cerita Pendek Indonesia 1, editor Satyagraha Hoerip

ceritanet©listonpsiregar2000