sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 230, 19 maret 2013

Tulisan lain

Catatan Joshua Oppenheimer: The Act of Killing - Liston P Siregar

Hampa - Sang Agung Murbaningrad

Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta - Suhendri Cahya Purnama

Jokowi - The Economist

Cikini Raya - Ajip Rosidi

Dari Dukuh-Krakatau - Wing Kardjo

Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan - Syamsul Huda M Suhari

Sajak Pandak Tentang Negeri - Syam Asinar Radjam

Rindu - Ajip Rosidi

Tangan Dalam Kelam - Toto S. Bachtiar

Hikayat Luka - Tosca Santoso

London

sajak Selamat Tinggal, Kucium
Sapardi Djoko Damono (1964,) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

selamat tinggal. Kucium udara Jakarta yang bagai gambar abstrak.
kemerlap kembali di bawah bulu-bulu mataku:
matahari, debu, bintang, hujan, laut. tunggu sejenak,
biarlah terbawa segala yang paling dekat dengan hatiku

berhenti: suara, warna, cahaya, udara. selamat tinggal,
segala yang berurusan langsung dengan sajak-sajakku:
terlalu sederhana arti sebuah kata, bayang-bayang dalam hujan.
jala kawat listrik, laut yang tercium sampai ke rabu

kemarin telah dipisahkan dari setiap orang: apakah yang terbawa
sehabis sebuah perjalanan, menolak dan menerima,
teringat dan lupa, setia dan tak setia kepada diri sendiri:
aku hanya bisa bercinta dengan yang paling dekat ke hati.
Kucium udara Jakarta yang sunyi, rindu, gelisah, sedu, cemas, haru:
Biarlah hatiku sendiri yang mengantar pergiku
***

ceritanet©listonpsiregar2000