ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 22, Rabu 12 September 2001
___________________________________________________

novel Dokter Zhivago 22
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Sekalipun sejak Desember arus penghidupan pulih seperti biasa, sekali-sekali masih ada tembakan, dan meskipun ada lagi rumah-rumah terbakar, seperti yang biasa terjadi, tapi kelihatannya sebagai sisa-sisa kebakaran dari Bulan Desember yang membakar habis sendiri.

Anak-anak tak pernah selama itu naik kereta. Sebetulnya Hotel Montenegro hanya sejauh lemparan batu --cuma lewat Bulevar Smolensky, turut Jalan Sadovaya-- tapi salju beku yang ganas serta kabut telah mengacaukan jarak-jarak dan memanggal-manggalnya, seolah sifat ruangan di dunia ini berbeda-beda. Asap rumbai yang meroyak dari api di tepi jalan*, derap langkah kaki serta gerat-gerit kereta salju yang lewat, semua itu membantu timbulnya kesan bahwa mereka sudah berjalan entah berapa lamanya, pun tengah menuju ke suatu tempat terpencil yang mengerikan.

Di depan gerbang hotel ada kereta salju sempit yang indah; kuda-kudanya ditutup kain dan pada kakinya terikat bantalan-bantalan. Kusirnya meringkuk di tempat duduk penumpang hendak berhangat-hangat; kepalanya terbebat dan teruruk oleh tangan-tangannya yang besar lagi bersarung. Serambi depan hotel itu hangat; si pelayan duduk dengan ngantuk di situ, di belakang kamar pakaian ; terdengar oleh dengkur kipas angin, oleh bunyi kerosok dari tungku dan samovar yang lagi mendidih, iapun sekali-sekali terbangun oleh ngoroknya sendiri.

Seorang perempuan berhias tebal dengan muka seperti pungkahan tepung berdiri di depan cermin sebelah kiri. Jaket bulunya terlalu tipis untuk iklim dingin. Ia menanti seseorang yang akan turun; dengan membelakangi kaca, kepalanya dipalingkan di atas tiap bahu, agar yakin bahwa dari belakang ia kelihatan bagus.

Sais yang kedinginan itupun masuk. Mantelnya yang membonjol membuatnya mirip pada gambar kue di depan toko pemasak roti; dan ia tambah serupa, lantaran mengeluarkan kepulan uap. "Berapa lama lagi nyonya di sini?", tanyanya pada perempuan di depan cermin. "Mengapa saya selalu kerepotan dengan orang-orang semacam nyonya? Aku tak ingin kudaku mati kedinginan."

Para pegawai hotel kehilangan akal; peristiwa kamar No. 23 hanya salah satu gangguan yang ditambahkan pada kesukaran mereka sehari-hari. Bel mendering tiap menit, lantas muncullah nomor-nomor di belakang kaca panjang pada sebuah kotak di dinding, menunjukkan tamu mana dalam kamar mana yang bikin heboh serta mengusik pelayan atau babu kamar tanpa sadar akan apa yang diinginkannya sendiri.

Saat ini dokter memberi obat peluntur pada si tua gila Giusharova** untuk mencuci perutnya. Glasha, babu hotel, jatuh keletihan dengan mengepel lantai serta mengangkut-angkut seember air cuci kotor keluar dan air bersih ke dalam. Tapi taufan yang kini mengamuk dalam kamar pegawai ini dimulai sebelum kerusuhan terjadi, sebelum Tirashka dikirim dengan kereta untuk memanggil dokter dan pemain biola yang malang itu, sebelum Komarovsky tiba dan banyak orang berjejalan dalam gang di luar pintu kamar No. 23.

Keributan mulai senja itu, ketika ada orang berpaling dengan canggungnya dalam gang sempit yang terbentang dari dapur sampai bordes, hingga dengan tak sengaja menyikut Sisoy, pelayan yang justru ketika itu keluar, menunjuk dengan susah payah dan dengan baki yang penuh sesak berayun-ayun di tangan kanannya. Baki berderik-derik ke lantai, sopnya tumpah dan pecah pula dua piring sop dan sepiring daging.

Sisoy bersikeras bahwa yang bertanggung-jawab ialah si tukang ngepel yang kini harus membyar ongkos kerugian. Sekarang sudah menjelang pukul sebelas dan separoh jumlah pegawai seharusnya beristirahat, tapi kerisauan masih saja berlangsung.

"Dialah yang kena sodok, tangan dan kakinya tiada tegap. Yang diurusnya cuma duduk dengan botol, seakan botol itu istrinya, ia minum anggur macam ikan asin makan garam, lantas tanya ia siapa menyikutnya, siapa menumpahkan sopnya, siapa membanting piring-piringnya. Kau pikir siapa menyodokmu, hai iblis, jahanam Astrakan, mahluk tak tahu malu?"
"Matroyono Stepanovna, kukatakan tadi supaya menjaga kesopanan lidahmu."
"Dan siapa yang menyebabkan kehebohan ini, he? Kau kira orang yang cukup penting untuk membanting piring-piring? Bukan, cuma si ceroboh ini, si bunga aspal yang berlagak ini, si lima perak satu kali ini, kesucian yang berkhalwat, begitu baik hasilnya untuk diri sendiri sampai ditelannya arsenikum. Ya, sang nyonya tinggal di Montenegro, tentu tak kenal si kucing lorong, kalau dijumpainya."

Misha dan Yura berjalan kian kemarin dalam gang di luar kamar Nyonya Guishar. Semuanya ternyata serba lain dari yang disangka oleh Alexander Alexnadrovich. Dibayangkannya duka cerita yang bersih dan pantas dalam penghidupan seorang pemsuik. Tapi ini urusan setan. Kotor dan memalukan, dan tentu tak baik untuk anak-anak.

Anak-anak itu mendinginkan tumit di dalam gang.

"Silahkan bertemu dengan nyonya, tuan-tuan muda."

Seorang pelayan mendekati mereka dan untuk kedua kalinya dicobanya mengajak mereka dengan suara halus yang tenang. "Silahkan masuk, jangan kuatir. Dia tak apa-apa, tuan tak usah takut. Dia sembuh betul. Tuan tak bisa tinggal di sini. Sore tadi ada insiden di sini, barang gerabah yang berharga terbanting pecah. Tuan lihat, kami harus lari ke atas dan ke bawah, mengantar makanan, dan gang agak sempit. Masuklah ke sana."

Anak-anak itupun menurut.

Di dalam kamar menyala sebuah lampu lilin yang biasanya berdiri di meja, tapi kini telah diambil dari tampuknya dan dibawa ke belakang sekatan kayu ke dalam bagian kamar untuk tidur.. Bagian ini berbau kutu busuk; di situ ada tirai yang memisahkannya dari kamar selebihnya dan dari gang. Tapi tirai ini telah terkuak, sedangkan dalam kerigutan tadi tak ada orang berpikir hendak menutupnya. Lampu berdiri atas dingklik rendah dan menerangi tempat tidur secara menyilaukan dari bawah seperti lampu panggung.

Nyonya Guishar telah mencoba meracuni diri sendiri, bukan dengan arsenikum seperti yang disangka tukang cuci tadi, melainkan dengan iodine. Dalam kamar ada bau masam yang mencekam dari buah walnut hijau, yang kulitnya masih empuk dan hitam bila dicecah.

Di belakang sekatan, babu sedang mengepel lantai; di ranjang terbaring seorang perempuan setengah telanjang; basah kena air mata, air dan keringat, dengan rambut melengket beruntai-untai ia memegang kepalanya di atas ember sambil menganis keras.

Anak-anak remaja berpaling segera, sebab merasa malu dan tak sopan untuk melihat ke arahnya. Tapi Yura telah cukup berpengalaman, hingga tak dipengaruhi kenyatan bahwa dalam keadaan tertentu yang luar biasa dan tegang, dalam saat tenaga dan urat sarafnya diuji, maka perempuan tak lagi seperti yang dilukiskan oleh seni patung, melainkan lebih mirip pada tukang gumul dengan otot-otot melembung, tak berpakaian selain dengan celana pendek, siap untuk bertanding.

Akhirnya ada juga orang di belakang sekatan yang cukup berselera menutup tirai.

"Tuan Tishkevich sayang, mana tanganmu? Ulurkan tangnamu," kata perempuan itu, tercekik oleh air mata dan rasa muak.
"O, alangkah keji pengalamanmu. Aku ngeri karena sjakwasangka... Tuan Tishkevich... Kukhayalkan... tapi semoga semua ini ternyata mustahil, hanya khayalan kacau...Coba alangkah lega. Dn hasilnya...beginilah aku..hidup."
"Pergilah kita sekarang," ujar Alexander Alexandrovich dengan geramnya kepada anak-anak.

Tersiksa oleh rasa malu, mereka berdiri diambang pintu gang dan oleh sebab tak tahu kemana mata mesti diarahkan, merekapun memandang lurus ke depan, ke pedalaman kamar yang penuh bayang-bayang.

Dinding digantungi foto-foto, dan ada rak buku yang diisi dengan partitur-partitur musik; sebuah lesenar ditimbuni kertas dan majalah mode, sedang di seberang meja bundar dengan taplak rajutan ada seorang gadis tidur dalam kursi besar, lengannya yang sebelah terkulai di punggung kursi, mukanya tertekan ke sebuah bantal. Dia tentu letih bukan kepalang, tidur terus di tengah segala kegaduhan dan kerusuhan.

"Kita pergi sekerang," ulang Alexander Alexandrovich. Kedatangan mereka tak ada artinya dan tinggal lebih lama akan nampak kurang patut. "Segera setaelah Tuan Tishlkevich keluar... aku minta diri padanya."

Tapi yang keluar dari belakang sekatan bukanlah Tishkevich, melainkan seorang laki-laki yang tegap, gemuk dan tahu diri. Dengan mendukung lampu ia jalan ke meja serta menempatkan lampu itu kembali ke tampuknya. Cahayanya membangunkan si gadis. Ia tersenyumn kepadanya, mengusap matanya dan menggeliat.

Melihat gadis ini Misha menatapnya dan terus menatap, seakan tak sanggup mengelakkan matanya sendiri. Ia tarik lengan Yura, hendak berbisik kepadanya, tapi Yura tak mau. "Tak boleh bisik-bisik di depan orang. Apa sangka mereka nanti?"

Sementara itu si gadis dan si laki-laki melakukan adegan bisu. Tak sepatah kata lewat mulut mereka, hanya mata bertemu mata. Namun pengertian antara mereka mempunya sifat magis hitam yang mengerikan; laki-kali itu seolah dalang, sedangkan si gadis semacam boneka yang menurut tiap geraknya.

Senyuman lesu mengerutkan matanya dan meretakkan mulutnya, tapi untuk membalas pandangan ria si laki-laki, gadis itu memberi isyarat halus yang licik, alamat pengertian akan dosa bersama. Kedua-duanya senang bahwa semuanya berakhir dengan baik --rahasia mereka aman, pun percobaan Nyonya Gusihar untuk bunuh diri gagal.

Yura menelan mereka dengan matanya. Dari keremangan di dalam gang, dimana orang tak melihatnya, ia memandang tak berkedip ke lingkaran sinar lampu. Adegan antara gadis tawanan dan penguasanya itu penuh rahasia yang tak boleh tersiar, tapi sekaligus terus terang tanpa malu. Berbagai perasaan yang baru dan bertentangan berdesakan degan pedih dalam hati Yura.

Inilah justru apa yang oleh dia bersama Tonya dan Misha dibicarakan tak habis-habisnya dan telah dibuang sebagai vulgar, tenaga yang begitu menakutkan dan menarik mereka dan yang mudah mereka kuasai dengan kata-kata dari jarak yang aman. Kini hadirlah tenaga itu di depan mata Yura sendiri, punya wujud yang sebenar-benarnya, namun campur baur dan kabur seperti dalam mimpi, berdaya merusak yang patut disesalkan, penuh keluh dan tak tertolong. --dan manakah filsafat Yura yang kekanak-kanakan itu dan apa hendak dibuatnya.

"Kau tahu siapa kelaki tadi?" tanya Misha, waktu mereka keluar ke jalanan. Yura yang sibuk dengan pikirannya itu tak menjawab.
"Dialah yang membuat ayahmu jadi pemabuk dan meneybabkan kematiannya. Pengacara yang bersama di dalam kereta api --ingat? Kukatakan itu padamu."

Yura berpikir tentang si gadis dan hari depan, tidak tentang ayahnya dan hari yang lampau. Mula-mula ia bahkan tak mengerti apa yang dituturkan Misha, lagipula hawa terlalu dingin untuk bicara,.

"Kau tentu kedinginan, Simon," kata Alexander Alexandrovich kepada saisnya. Mereka pulang.
***

*Pada simpangan jalan dibuat api, bila hawa sangat dingin.
**Nama Nyonya Gusihar yang di-Rusiakan oleh pegawai hotel.

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000