ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 22, Rabu 12 September 2001
___________________________________________________

 

esei Rumput-rumput Lorosae
Aboeprijadi Santoso
Fretilin, meminjam istilah seorang bekas tokoh Fretilin, 'seperti tidur di atas (bencana) sejarah.' Bekal historis itu diperolehnya berkat agresi tetangga, ketika seorang jenderal di Jakarta berseru bahwa Timor Timur bisa dibereskan dalam sehari ; 'sambil makan pagi di Dili, makan siang di Baucau dan makan malam di Los Palos.' Lalu, kita tahu apa yang terjadi ; politik luar negeri bebas dan aktif terjungkir-balik, APBN disedot dan puluhan ribu jiwa, rakyat tetangga maupun prajurit kita, melayang. Sebuah bencana politik dan kemanusiaan. Lebih seperempat abad kemudian, 30 Agustus yang lalu, rakyat Timor Lorosae pagi buta sarapan, berduyun-duyun ke TPS, makan siang di sana, lantas makan malam di rumah. Pada hari yang sama dua tahun silam, mereka juga lakukan itu. Tetapi para jenderal dan milisi memilih cara mengerikan dan memalukan untuk menanggapi hasil kotak suara ; bumi hangus. Sekarang, pertama kali, rakyat pemilih Timor Lorosae pulang dengan aman. Dengan kata lain, dalam sehari, mereka telah menciptakan sebuah ruang demokrasi, yang ditakuti penguasa tetangga selama lebih dari dua dasawarsa.
selengkapnya

laporan Tjong A Fie dan Medan, Bung
Aulia Andri
Kalau bung mengaku sudah pernah ke Medan dan tak mendengar nama Tjong A Fie, artinya bung cuma ke setengah Medan. Bung berarti belum ke Kesawan --kalau di peta nama resminya Jalan Ahmad Yani. Di sana ada puluhan bangunan kuno, tapi satu yang termegah milik Tjong A Fie. Bangunan megah itu berdiri sejak akhir tahun 1800-an dengan arsitektur bergaya Tiongkok kuno. Istana itu dan pemiliknya, Tjong A Fie, adalah bagian dari sejarah kota Medan. Memasuki rumah peninggalan Tjong A Fie ini, kita akan disambut sepasang patung singa yang berdiri di depan pintu rumah. Halaman rumah tersebut sangat luas dengan berbagai macam tanaman bunga. Masuk ke dalam rumah, kemegahan konglomerat Cina jaman dulu ini masih tersisa. Barisan foto-foto yang dipajang di ruangan tamu bisa bercerita banyak. Ada beberapa foto Tjong A Fie dengan Sultan Deli, penguasa Tanah Deli saat itu. Juga pose Tjong A Fie di beberapa bagian rumahnya yang penuh dengan barang-barang antik dari Cina. Sayang, kini barang-barang seperti lemari dan kursi-kursi antik itu sudah tidak ada lagi. Cucu-cucu Tjong A Fie, katanya, menjual barang-barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.
selengkapnya


novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo
Lebih duapuluh tahun kemudian, Jagger Jogja, telah dewasa. Wajahnya tetap mirip Bagong, dengan rahang yang kuat dan bibir berlebih. Bentuk tubuhnya tak tambun, melainkan kurus. Nama Jagger tetap melekat padanya, bahkan dikukuhkan dengan selamatan dan akte dari Catatan Sipil. Kini, Jagger Melayu, bersama Elaine, ibunda anak Jagger yang bernama Sanca, sedang berada di dalam pesawat terbang yang menuju ke kota Inggris, negeri asal Jagger yang asli, yang memimpin band Rolling Stones. Sepintas, dandanannya aneh, sebab dia mengenakan pakaian penunggang sepedamotor besar padahal dia sedang menumpang pesawat di kelas ekonomi. Sudah jauh dia menempuh jarak, jadi rambutnya yang panjang makin awut-awutan. Dia sudah terbiasa menjadi perhatian orang sebab sehari-hari Jagger selalu berdandan ala biker. Dandanan penggemar motor besar seperti itu ditirunya dari cara berpakaian anggota geng Hell's Angels yang terkenal pernah menjadi keamanan yang membuat rusuh dalam pentas-pentas Rolling Stones di Amerika Serikat. Sejak masih duduk di bangku SMA, Jagger biasa bergaya seperti itu.
selengkapnya

tentang penulis 22

novel Dokter Zhivago 22
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Sekalipun sejak Desember arus penghidupan pulih seperti biasa, sekali-sekali masih ada tembakan, dan meskipun ada lagi rumah-rumah terbakar, seperti yang biasa terjadi, tapi kelihatannya sebagai sisa-sisa kebakaran dari Bulan Desember yang membakar habis sendiri. Anak-anak tak pernah selama itu naik kereta. Sebetulnya Hotel Montenegro hanya sejauh lemparan batu --cuma lewat Bulevar Smolensky, turut Jalan Sadovaya-- tapi salju beku yang ganas serta kabut telah mengacaukan jarak-jarak dan memanggal-manggalnya, seolah sifat ruangan di dunia ini berbeda-beda. Asap rumbai yang meroyak dari api di tepi jalan*, derap langkah kaki serta gerat-gerit kereta salju yang lewat, semua itu membantu timbulnya kesan bahwa mereka sudah berjalan entah berapa lamanya, pun tengah menuju ke suatu tempat terpencil yang mengerikan. Di depan gerbang hotel ada kereta salju sempit yang indah; kuda-kudanya ditutup kain dan pada kakinya terikat bantalan-bantalan. Kusirnya meringkuk di tempat duduk penumpang hendak berhangat-hangat; kepalanya terbebat dan teruruk oleh tangan-tangannya yang besar lagi bersarung. Serambi depan hotel itu hangat; si pelayan duduk dengan ngantuk di situ, di belakang kamar pakaian ; terdengar oleh dengkur kipas angin, oleh bunyi kerosok dari tungku dan samovar yang lagi mendidih, iapun sekali-sekali terbangun oleh ngoroknya sendiri.
selengkapnya

 

ceritanet©listonpsiregar2000