ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 22, Rabu 12 September 2001
___________________________________________________

laporan Tjong A Fie dan Medan, Bung.
Aulia Andri

Kalau bung mengaku sudah pernah ke Medan dan tak mendengar nama Tjong A Fie, artinya bung cuma ke setengah Medan. Bung berarti belum ke Kesawan --kalau di peta nama resminya Jalan Ahmad Yani. Di sana ada puluhan bangunan kuno, tapi satu yang termegah milik Tjong A Fie. Bangunan megah itu berdiri sejak akhir tahun 1800-an dengan arsitektur bergaya Tiongkok kuno. Istana itu dan pemiliknya, Tjong A Fie, adalah bagian dari sejarah kota Medan.

Memasuki rumah peninggalan Tjong A Fie ini, kita akan disambut sepasang patung singa yang berdiri di depan pintu rumah. Halaman rumah tersebut sangat luas dengan berbagai macam tanaman bunga. Masuk ke dalam rumah, kemegahan konglomerat Cina jaman dulu ini masih tersisa. Barisan foto-foto yang dipajang di ruangan tamu bisa bercerita banyak. Ada beberapa foto Tjong A Fie dengan Sultan Deli, penguasa Tanah Deli saat itu. Juga pose Tjong A Fie di beberapa bagian rumahnya yang penuh dengan barang-barang antik dari Cina. Sayang, kini barang-barang seperti lemari dan kursi-kursi antik itu sudah tidak ada lagi. Cucu-cucu Tjong A Fie, katanya, menjual barang-barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bangunan kuno bersejarah peninggalan Tjong A Fie memang kurang terurus. Mungkin karena desakan pengembangan kota Medan, rumah Tjong A Fie juga jadi tak nyaman lagi dipandang. Pagar besi dan pintu kayu setinggi 10 meter yang membentengi rumah sudah berhimpitan langsung dengan jalan raya. Tak menyisikan bahu jalan sedikitpun.

Kepala Orang Cina Tanah Deli
Tjong A Fie merantau ke Tanah Deli --yang dijuluki het dollar land-- hanyalah sebagai orang Cina perantauan biasa. Dalam buku Sejarah Medan Tempo Doeloe yang ditulis Tengku Lucman Sinar disebutkan Tjong A Fie datang ke Tanah Deli bersama abangnya Tjong Yong Hian. Mereka berangkat dari tanah kelahirannya di desa Moy Hian, Kanton, Cina pada tahun 1875.

Mula-mula mereka membuka perkebunan tembakau dan menetap di Labuhan Deli, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Medan modern. Selain membuka perkebunan tembakau bersama abangnya, Tjong A Fie juga membuka kedai yang melayani kebutuhan kuli-kuli Cina daratan yang baru datang ke Tanah Deli. Kedai tersebut, olehTjong A Fie, diberi nama Bun Yon Tjong. Banyaknya orang-orang Cina yang merantau membuat kedai Bun Yon Tjong semakin ramai dikunjungi. Tjong A Fie pun dalam sekejab jadi kaya raya. Imperium bisnisnya kemudian menjalar kemana-mana. Belakangan Tjong A Fie tak hanya dikenal sebagai konglomerat Cina yang sukses di Labuhan Deli, juga punya kekuatan politik karena kedekatannya dengan Sultan Deli dan orang-orang Belanda.

Karena dinilai kaya raya dan punya hubungan baik dengan Sultan Deli, pemerintah Belanda menganugrahinya pangkat Letnan --tercatat pada tanggal 4 September 1885. Ini merupakan jabatan bergengsi bagi orang-orang Cina di Tanah Deli. Tak lama kemudian Tjong A Fie ditunjuk sebagai kepala orang-orang Cina Tanah Deli.

Karena kejeliaannya melihat peluang bisnis, maka pada tahun 1886 Tjong A Fie kemudian memindahkan pusat imperium bisnisnya ke Medan. Kala itu, Medan hanyalah sebuah kampung kecil yang berada diantara Sungai Deli dan Sungai Babura. Pada masa itulah Tjong A Fie membangun rumahnya di Kesawan, yang kemudian menjadi pusat bisnis di kota Medan. Dan sampai sekarang masih bisa dilihat puluhan bangunan pertokoan kuno di sekitar Kesawan.

Sebagai juragan kaya raya --yang punya kekuatan politik-- Tjong A Fie jadi tokoh yang amat dihormati di Medan. Dia juga mendirikan rumah sakit cina pertama di Medan, namanya Tjie On Jie Jan. Dia pulalah yang selalu bertindak menjadi perantara jika terjadi silang sengketa anatar orang Cina dengan tuan-tuan kebon Belanda.

Philantropis Tjong A Fie
Setelah menjadi orang sukses di Tanah Deli, Tjong A Fie tak lupa akan kampung halamannya. Di propinsi Nanking, Cina, Tjong A Fie membangun sebuah pabrik, untuk mendorong perindustrian di sana. Atas jasa-jasanya yang begitu besar pada Kerajaan Cina, Tjong A Fie diagkat menjadi bangsawan dengan gelar Tjie Voe, dan pada tahun 1911 gelar itu dinaikkan lagi menjadi To Thay.

Keluhuran budi Tjong A Fie juga diperlihatkannya ketika dia membangun kuburan khusus untuk orang-orang Cina di Medan. Pasalnya, ketika jalur kereta api Medan -Belawan dibangun, Tjong A Fie sering menerima laporan kalau para pekerja sering menemukan tengkorak orang Cina. dan untuk menghormati jenasah orang-orang Cina itulah, dia kemudian membangun pekuburan Cina di daerah Pulo Brayan, Medan.

Selain itu Tjong A Fie ternyata punya peran dalam membangun Istana Maimoon milik Sultan Deli. Ketika itu, sekitar tahun 1888, Sultan Deli yang sedang berkuasa, Sultan Makmun Al Rasyid, hendak membangun sebuah istana di Medan. Tjong A Fie pun menyumbang dana untuk membangun istana tersebut. Kabarnya, Tjong A Fie menyumbang sampai 1/3 biaya pembanguan Istana Maimoon, yang sampai sekarang masih bisa ditemukan di jalanan yang terletak satu garis lurus dengan istana Tjong A Fie di Kesawan.

Peninggalah Tjong A Fie di Medan yang paling mengesankan adalah sumbangan sebuah jam besar kepada Kotapraja Medan pada tahun 1913. Jam itu sampai sekarang masih dipajang di Balai Kota Medan, sebuah bangunan Belanda yang juga terletak satu garis lurus dengan rumah Tjong A Fie, namun di ujung yang lain dari Istana Maimoon. Jam buatan Firma Van Bergen di Heillgerlee Belanda itu dipersembahkan Tjong A Fie khusus untuk kota Medan.

Itulah Tjong A Fie, dan istananya. Jadi bung sudah ke Medan, dan belum mendengar Tjong A Fie? Memang banyak orang Medan yang juga belum mendengar nama Tjong A Fie, tapi bung mereka juga orang setengah Medan. Nyatanya, Tjong A Fie itu salah satu bagian dari Medan, bung.
***

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000