ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 22, Rabu 12 September 2001
___________________________________________________

novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Dua, Hari Pertama

Lebih duapuluh tahun kemudian, Jagger Jogja, telah dewasa. Wajahnya tetap mirip Bagong, dengan rahang yang kuat dan bibir berlebih. Bentuk tubuhnya tak tambun, melainkan kurus. Nama Jagger tetap melekat padanya, bahkan dikukuhkan dengan selamatan dan akte dari Catatan Sipil. Kini, Jagger Melayu, bersama Elaine, ibunda anak Jagger yang bernama Sanca, sedang berada di dalam pesawat terbang yang menuju ke kota Inggris, negeri asal Jagger yang asli, yang memimpin band Rolling Stones.

Sepintas, dandanannya aneh, sebab dia mengenakan pakaian penunggang sepedamotor besar padahal dia sedang menumpang pesawat di kelas ekonomi. Sudah jauh dia menempuh jarak, jadi rambutnya yang panjang makin awut-awutan. Dia sudah terbiasa menjadi perhatian orang sebab sehari-hari Jagger selalu berdandan ala biker. Dandanan penggemar motor besar seperti itu ditirunya dari cara berpakaian anggota geng Hell's Angels yang terkenal pernah menjadi keamanan yang membuat rusuh dalam pentas-pentas Rolling Stones di Amerika Serikat. Sejak masih duduk di bangku SMA, Jagger biasa bergaya seperti itu.

Setelah Jagger agak menginjak remaja, terbit sebuah novel karya penulis populer. Novel itu menghidupkan karakter Ali Topan sebagai tokoh lokal street fighting man, dan pengaruh-pengaruh sejenis itulah yang mendorong Jagger untuk berpakaian nyentrik tanpa konteks jelas. Meski bertubuh kecil dan kurus dan meski dia bukanlah seorang pengendara motor besar, Jagger selalu bangga dengan pakaiannya yang jarang dia ganti itu. Tetap bergaya sebagai biker, walau sedang menumpang becak ataupun mengendarai Honda bebek C-70-nya yang merah dan berkarat, buatan tahun 1976 yang setia.

Tidak adil juga, bila hanya dibayangkan bahwa Jagger adalah tipe orang yang mementingkan kulit daripada isi, sebab dia juga memiliki kedalaman tertentu. Nyatanya, dia menulis puisi dan membacanya dengan cukup baik. Sering dia mendapat undangan untuk membacakan puisi dan dia juga memperoleh honor. Sebelum itu, dia juga pernah menjadi wartawan, bahkan terlibat dengan satu eksperimen jurnalistik menarik. Namun, kepenyairan itulah yang menjadi jalan perjodohannya dengan Elaine, seorang wanita Inggris yang sedang merintis profesi sebagai sutradara film dokumenter di dalam industri pertelevisian Inggris.

Dari Cengkareng, Jakarta, pesawat yang ditumpangi Jagger bersama istri dan anaknya, juga mengangkut ratusan perempuan jelata dari Jawa yang hendak bekerja di Timur Tengah. Mereka semua turun di Abu Dhabi, untuk meneruskan perjalanan dan memperbaiki nasib. Dari Abu Dhabi ke Inggris, pesawat rada kosong. Namun keluarga Jagger terlalu letih untuk dapat menikmati kelonggaran itu, sudah terlanjur jemu menempati tempat duduk yang diminta. Untungnya, bayi mereka tertidur nyenyak di ranjangnya, dan tidak rewel sedikitpun selama perjalanan panjang yang berawal dari stasion Tugu, Jogja, dua hari yang lalu.

Saat menumpang kereta api dari Jogja menuju ke Jakarta, pasangan berlainan bangsa dengan bayi mereka itu mampu membeli tiket kelas eksekutif, dengan kursi yang dapat distel kemiringan sandarannya serta pendingin yang sejuk. Namun dalam penerbangan ke London ini, mereka hanya mampu membeli tiket kelas ekonomi. Tempat duduk kelas ekonomi untuk penumpang yang membawa bayi, berada paling depan, terasa sempit karena mata langsung menghadap sekat pemisah kelas bisnis. Jagger dan Elaine sudah sejak lama merasa pegal otot karena kurang gerak dan kulit mereka lengket dan tak nyaman karena lama tak mandi.

Untungnya Sanca, anaknya yang baru berusia tiga bulan, tidak rewel. Bahkan sudah hampir lima jam dia tertidur pulas di atas ambin lipat yang menempel dengan berengsel-lipat di sekat yang beradu dengan dengkul-dengkul orang tuanya.

Terasa pesawat dengan cepat mengurangi ketinggian dan gendang kuping para penumpang mulai terasa bertepang. "Nyampe juga gue di sini," pikir Jagger. Begitulah, Jagger berpikir dalam bahasa percakapan Jakarta. Memang, selain berpikir di dalam bahasa Jawa, Jagger juga sangat sering menggunakan bahasa lu-gue dalam benaknya, maupun di dalam ucapannya. Dia melongok keluar jendela, karena pilot yang berbicara lewat sistem suara kabin mengatakan bahwa kota London sudah mulai tampak di sebelah kiri pesawat yang mulai turun dan berputar.

Kota London tertutup mendung tebal yang tak rata. Dari ketinggian dua ribu kaki, terlihat basah dan kelabu, melebar sampai ke cakrawala. Jagger menggerakkan rahangnya seakan menguap, dan, 'pang!' kupingnya terasa lega lagi. "Nah, mendingan sekarang." Katanya dalam hati. Sekali lagi dia melirik keluar jendela di sebelah kirinya. Dari sela-sela gugus-gugus mendung yang melayang rendah, terkadang Jagger melihat lalulintas di jalanan dan atap perumahan serta pepohonan dengan dedaunan hijau rimbun.

"Kita hampir tiba, Jagger" sapa Elaine, istrinya, dalam bahasa Indonesia yang baik. Sambil memperhatikan omongan istri yang bertubuh lebih tinggi dan lebih besar daripada dirinya itu, Jagger berpikir; "Kapan sih, orang Indonesia memakai kata tiba dalam percakapan sehari-hari? Jarang, 'kan? Elaine memang sangat pintar berbahasa Indonesia, tetapi bahasanya kaku dan formal, dengan pengucapan kelas yang terlalu jelas". Pikiran itu tak diutarakannya. Malahan Jagger mengecup bayinya yang masih saja tertidur: "Welcome to London, Sanca!" Tangannya lembut mengelus kaki mungil anaknya yang terbalut sepatu bayi dari korduroi merah hati.

Lampu tanda wajib memasang sabuk pengaman menyala diiringi bunyi bel elektronik, dan para pramugari menyuruh penumpang semua agar meneggakkan sandaran kursi. Jagger memejamkan mata. Sangat tak suka ia dengan ketegangan rasa setiap kali pesawat terbang yang ditumpangi lepas landas ataupun mendarat. Elaine mencengkeram tangan kanannya yang terkulai di atas sandaran lengan pemisah kursi. Genggaman istrinya itu, seolah menjadikan mulut Jagger berkomat-kamit membaca Al Fatihah di dalam hati. Siapa tahu? Mungkin saja pendaratan gagal dan malaikat maut datang menjemput. Meski sejak kecil bandel hingga dinamai Jagger, dan meski sejak kecil dia males sholat dan ogah ngaji --apalagi puasa-- kadang-kadang dia merasa perlu berdo'a juga. Terlebih di saat saat takut mati.

Elaine juga tidak suka pendaratan, namun benaknya riuh berkecamuk macam-macam pikiran selain takut mati. Khawatir Sanca terbangun dan menangis, adalah pikirannya yang dominan. Namun ada juga pertanyaan-pertanyaan lain, yang rasanya, selalu saja mengganggu setiap dia bepergian. Pikiran-pikran soal flatnya, apa sudah dikunci rapat sebelum di tinggalkan, dalam keadaan hamil besar, untuk menikah dengan Jagger di Jogja enam bulan lalu? Segala sesuatu dikerjakan dengan tergesa, dan tak sempat pula dia mengurusi mencari penyewa untuk flatnya itu. Maka dikunci saja, dan ditinggal.
***

Memang, dulu Elaine sudah hamil besar saat dia dan Jagger resmi menikah. Bukan karena kecelakaan, namun karena urusan birokrasi yang menumpuk untuk pernikahan antar warga negara menjadikan mereka menikah di bawah tangan saja. Elaine mengikuti Jagger masuk agama Islam, setelah mendapat jaminan tak akan dipaksa melaksanakan ajaran agama yang bertentangan dengan hati nuraninya. Justru, kata Jagger kepada pacarnya, Islam itu merupakan agama hati nurani.

Jagger waktu itu meyakinkannya dengan menekankan bahwa Islam adalah rahmat untuk alam semesta. Layaknya seorang ahli fisika Jagger menjelaskan bahwa setiap atom zat di alam semesta ini terdiri dari nukleus, yang dikelelilingi proton dan elektron. Dan perputaran proton dan elektron yang tanpa henti itu adalah sembahyang Islamnya atom itu. Seperti seorang ahli astronomi, Jagger menggunakan metafora peredaran planet mengitari matahari dan menyebarnya bintang-bintang suatu galaksi, sebagai contoh apa itu Islam. Namun Elaine ternyata lebih tertarik ketika Jagger menjelaskan Islam menggunakan bahasa alam, puisi, bukan keterangan ilmiah.

"Seperti daun jatuh."
"Apa?"
"Islam. Islam itu wajar, fitrah, seperti daun jatuh. You know, like a leaf falling."
"No. I don't know. Apa itu a leaf falling hubungannya dengan Islam?"
"Ya itu, you know, daun jatuh itu wajar. Natural."
"That is different from the Islam I have read about!"
"Yes. Banyak misunderstandings kepada Islam. Orang cuma lihat potong tangan, rajam. Padahal, Islam really is gentle."

Toh semua pembicaraan mengenai agama itu, meski serius buat yang mengerjakan, apalah artinya. Dalam dialog-dialog mengenai agama itu, Jagger dan Elaine berpacaran seperti dilarang agama. Mereka berhubungan sex secara teratur layaknya suami-istri, tetapi di luar perkawinan. Bukankah itu perbuatan zina? Bukankah itu dilarang agama? Tegas-tegas ada ayatnya yang mengutuk.

"So we should get married then!" kata Jagger, ketika Elaine menyoal hubungan mereka yang makin mendalam dan omongan mereka mengenai agama dan kebenaran spiritual lainnya. Bagaimana mereka bisa bepergian berduaan menjelajah kota dan desa, gunung dan lembah dan pantai-pantai di timur pulau Bali?

Di atas perahu tradisional yang bercadik dan bermotor tempel melaju lancar di atas gelombang laut menuju ke Gili Trawangan, kedua sejoli itu memeluk ransel masing-masing dan berdiskusi tentang jiwa, Tuhan, cinta, dan hubungan mereka.

"Isn't this hypocrisy?" tanya Elaine, menuntut penjelasan.
"Hypocrite? In Islam, it means munafik."
"Is munafik good? It can't be!"
"No, no, no, no, no. Munafik no good."
"I still think that it is hypocrisy. What was it? Munafik? I think it is munafik to believe Islam but not live it."

Jagger kemudian tampak murung. Dikatakan munafik oleh Elaine, menusuk perasaannya. Bukan karena perkataan Elaine itu mengada-ada, namun justru karena benar adanya. Elaine pun merubah pokok pembicaraan.

"I want to swim with the dolphins! There are dolphins here, you know, Jagger? I want to swim with the dolphins!"

Jagger pun tersenyum, lega bahwa pembicaraan berganti dari masalah kemunafikannya dalam hidup beragama. Dia tidak berpendapat apa-apa, tetapi hanya berharap bahwa benar-benar ada lumba-lumba, agar Elaine tak kecewa.

Elaine, yang rajin membaca buku-buku panduan wisata terkini terbitan penerbit-penerbit internasional, jauh lebih tau mengenai seluk-beluk daerah-daerah di Indonesia dengan keistimewaannya masing-masing dibanding Jagger. Jagger tidak tahu, apakah di perairan di sekitar kepulauan tiga Gili yang terletak di antara Selat Lombok dan Laut Flores itu ada kawanan lumba-lumba atau tidak. Waktu menunggu jukung di pelabuhan Bangsal, Elaine membunuh waktu dengan cara membaca-baca. Kini dia yakin benar bahwa dari Gili Trawangan, dia akan bisa berenang-renang bersama-sama sekawanan ikan lumba-lumba nan anggun. Jagger, tidak begitu perduli, toh dia tidak bisa berenang.

Pikiran Jagger kembali introspektif, karena ingat tuduhan munafik yang dilontarkan Elaine tadi. Maka dia berkata lagi;

"I think that we should get married."
***

Pesawat melalui daerah bertekanan udara tak stabil, dan para penumpang merasakan guncangan akibatnya. Pikiran Elaine mendadak panik lagi. Apa waktu berangkat dia ingat memasang alarm? Ah, jangan-jangan alarmnya yang memang sudah agak soak itu bunyi sendiri. Pernah kan itu terjadi? Apa pemanas air di lemari dinding sudah dia matikan? Jangan-jangan meledak! Lalu Elaine juga meragukan pikirannya sendiri, kenapa selalu membayangkan boiler-nya meledak? Pasti suatu kompleks kejiwaan berhubungan dengan didikannya semasa kecil, yang diasuh penuh kasih sayang di dalam keluarga kelas menengah bawah yang terdiri dari seorang ibu yang paranoid dan nyinyir, dan seorang ayah yang pendiam lagi sangat hemat.

Kini, Elaine pulang, membawa suami dan anak. Mum, begitu dia memanggil ibunya, pasti bingung kalau Jagger datang berkunjung. Mau masak apa? Apa yang mau dibicarakan? Bukan hanya Mum, bahkan kedua orang tuanya, Mum and Dad, pasti bingung. Mereka tidak pandai bergaul, dan hanya bisa berbincang-bincang mengenai masalah-masalah sederhana seperti kelakuan para tokoh opera sabun Inggris yang sangat populer seperti Coronation Street dan East Enders. Mereka tidak pernah mengenyam pendidikan universitas, dan takut dibilang snob bila tertarik kepada pembicaraan intelektual. Mendengar bahwa Jagger adalah seorang penyair dan aktivis demokrasi, mereka membayangkan bahwa dia adalah seorang Nelson Mandela dari Indonesia, dan dengan bayangan demikian, mereka merasa minder.

Pastilah Mum and Dad takut ngobrol dengan Jagger, karena mereka tau bahwa dia seorang penyair dan bekas wartawan, dan karena itu mereka membayangkan Jagger itu sangat intelektual dan sophisticated. Selain itu, Jagger juga telah mempengaruhi Elaine sehingga masuk Islam. Citra Islam di benak Mum and Dad sangat terbentuk oleh ketidaktahuan --ignorance-- yang diperkeruh oleh mental masa lalu yang kolonial dan industri pers kontemporer yang dikuasai kepentingan tertentu . Jadi mereka membayangkan Islam itu rajam, hareem, pancung, dera cambuk, bom bunuh diri dan ritus-ritus aneh di dalam bahasa Arab. Elaine sering merasa khawatir, jika memikirkan bahwa Jagger akan memasuki alam batin orang tuanya, yang sudah berisi latar belakang bias seperti itu.
***
bersambung

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000