sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 229, 11 februari 2013

Tulisan lain

Jokowi - The Economist

Cikini Raya - Ajip Rosidi

Dari Dukuh-Krakatau - Wing Kardjo

Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan - Syamsul Huda M Suhari

Sajak Pandak Tentang Negeri - Syam Asinar Radjam

Rindu - Ajip Rosidi

Tangan Dalam Kelam - Toto S. Bachtiar

Hikayat Luka - Tosca Santoso

Pirus Urat Mas 2 - Vincent Mahieu

Fragmen - Harijadi S. Hartowardojo

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Salju

sajak Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta
Suhendri Cahya Purnama

Sendiri, aku duduk di taman itu. Berusaha bercakap dengan siapa pun yang terlihat. Mengajak mereka agar sudi berbagi kelu denganku. Tapi, semuanya terasa asing. Terasa berjarak. Dan terasa nisbi.

Sejenak, aku bersandar di bangku yang menghadirkan dirinya di taman itu. Menggeragap apa pun yang tertampak. Berharap siapa saja yang melihatku, mau menyambangi dan menyentuh raga yang berlahan-lahan mulai mengabur. Menyublim menjadi sebentuk wujud yang tak tertampak. Tapi, aku masih ada di sana. Hanya tak lagi dapat terindera.  

Tak pernah kukira, di detik ini aku terhenyak. Dalam satu putaran masa, kali ini aku tak mampu berbuat apa pun. Segala kemampuan lingual yang selama ini begitu kubanggakan, lumpuh. Semua kemampuan analisa dan sintesa yang sering membuatku jumawa, buntu. Aku menjadi rapuh, hanya karena sentuhan rasa.
***

Sendiri, aku menyusuri jalan itu. Menapaki dan menghirup debu-debu yang terhinggap. Ingin kuundang mereka agar memenuhi gelembung-gelembung dalam paru-paruku. Agar tak ada lagi sesak yang kini kerap menghampiri. Nyeri yang tak pernah kutahu, mengapa rajin berhatur salam denganku.

Sejenak, aku menghentikan langkah dan duduk terhenyak di bawah pohon cemara. Memanggil angin agar mau mengelus penat yang bercokol di setiap jengkal tubuh. Dan memintanya agar tak cepat pergi dari keletihanku. Meskipun itu semua sia-sia. Penat dan letih tetap tak mau sirna. 

Tak pernah kuduga, jalinan kisah ini menjadi rumit tak terpahamkan. Jangankan pencerahan, sebuah jawaban sederhana pun, tak pernah muncul. Pusat logikaku menjadi beku. Deduksi, induksi, silogisme yang kerap jadi senjata andalan, tumpul. Aku tak tahu apa-apa. Benar-benar tak tahu. Terpaku oleh kebodohan karena hadirnya ia.
***

Sendiri, aku mendekati telaga bening yang terhampar. Di tengahnya, dua ekor bangau putih sedang memadu kasih. Sekilas, dua mata makhluk itu melirikku. Menyampaikan kemesraan yang kentara menyergap. Ingin kusapa mereka, tapi urung kulakukan. Biarlah sepasang bangau putih itu jadi avatar diriku, menebar asa yang sama.         

Sejenak, kubasuh wajah, tangan dan kakiku untuk sebuah kerinduan menyiksa. Kuhamparkan kain sekenanya, dan tersungkur untuk selamanya. Tak berapa lama, mengalun serangkum doa yang teruntai.

“Tuhan, aku butuh hadirMu. Menerangiku yang sedang mengais setitik cahayaMu. Memberiku jawab akan ia yang Kau hadirkan untuk sebuah tujuan. Yang tentunya, tak kebetulan semata.”

“Tuhan, aku butuh penjelasanMu. Tentang rasa, yang ramai manusia menamakannya dengan cinta. Tapi bagiku, ia adalah amanah dariMu. Melalui kehendak bebasku, beri aku mauMu untuk apa ia ada.”

“Tuhan, aku butuh kasihMu. Yang mampu memberiku kehangatan dari sepi yang kali ini tak lagi bisa kunikmati. Dari gelap, yang entah mengapa, kini begitu menakutkan.”

“Tuhan, jangan tinggalkan aku, hambaMu yang sedang mengurai salah satu takdir yang telah Kau goreskan sebelum aku bersua dengan cahaya. Tetap selalu rengkuh aku, dengan hadirmu, akan kuentaskan semua galau rasa yang menyiksa.”
***

Dan, jawaban untuk sebongkah doa yang terhatur itu pun terjawab. Bukan berupa sebuah suara yang mengiang. Bukan pula bersitan pemahaman yang mengilap. Tapi, jawaban itu terpahat pada selembar kalam yang tersampir di sisi.  

Kuambil ia dan kubaca dengan perlahan.

“Di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung kepadanya dan merasa tenteram bersamanya; serta Dia menjadikan pula di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”*     

Kutafakuri sesaat untuk menarik makna yang tersirat. Yah, inilah cinta yang bisa menciptakan kasih sayang seluruhnya di dalam setiap dada. Menenangkan setiap makhluk yang bernafas. Dan melimpahkan rahmat seluruhnya pada setiap kalbu manusia.

Inilah cinta yang memberikan gambaran paling indah, paling manis, dan paling suci yang telah diciptakan oleh Tuhan di kerajaan langit dan bumiNya. Cinta yang bisa mendatangkan ketenangan, menumbuh-suburkan kasih sayang, menyebabkan kerinduan memekar, dan memungkinkan penyembahan kepada Allah membuahkan hasil. Kesucian.          

Cinta yang menjadikan segala sesuatunya demikian indah. Mulai dari keberanian, kemuliaan, kesombongan, keangkuhan, kecantikan, kelincahan, kemewahan, nyanyian, puisi, pahatan, hingga lukisan. Dengan semua itu, sang pencinta mengira bahwa dirinya telah tunduk patuh kepada cinta dan sang kekasih, tanpa menyadari bahwa di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia semata-mata telah tunduk patuh kepada Zat Yang menciptakan rahasia menakjubkan ini.

Itulah rahasia cinta. Begitu indah, ketika terungkap.    
***

Ini masa, aku sendiri, sejenak, bicara tentang cinta. Ketika ia tertulis di sebuah kota yang terlupa, serta waktu yang tak lagi teringat. Dan untuk serangkai nama yang selalu mengikat.
***

ceritanet©listonpsiregar2000