sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 229, 11 februari 2013

Tulisan lain

Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan - Syamsul Huda M Suhari

Sajak Pandak Tentang Negeri - Syam Asinar Radjam

Rindu - Ajip Rosidi

Tangan Dalam Kelam - Toto S. Bachtiar

Hikayat Luka - Tosca Santoso

Pirus Urat Mas 2 - Vincent Mahieu

Fragmen - Harijadi S. Hartowardojo

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Salju

Sendiri, aku duduk di taman itu. Berusaha bercakap dengan siapa pun yang terlihat. Mengajak mereka agar sudi berbagi kelu denganku. Tapi, semuanya terasa asing. Terasa berjarak. Dan terasa nisbi. Sejenak, aku bersandar di bangku yang menghadirkan dirinya di taman itu. Menggeragap apa pun yang tertampak. Berharap siapa saja yang melihatku, mau menyambangi dan menyentuh raga yang berlahan-lahan mulai mengabur. Menyublim menjadi sebentuk wujud yang tak tertampak. Tapi, aku masih ada di sana. Hanya tak lagi dapat terindera.  Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta - Suhendri Cahya Purnama

Sejak memegang jabatan Oktober lalu, Joko Widodo, gubernur Jakarta yang sederhana dan populis, bertindak sesuai dengan reputasinya sebagai Tukang Bereskan. Setelah membalikkan ketertiban politik Indonesia di bagian atas dengan mengalahkan gubernur yang menjabat di ibukota, dia menempatkan dirinya berbeda dari politisi lain, yang banyak dilihat sebagai korup, sombong, dan berjarak. komentar Jokowi The Economist

pedagang kembang yang menembang sumbang
dilarikan karet becak ke ujung malam
lampu-lampu jalan bersinar terang Cikini Raya Ajip Rosidi (1954)

Kereta barang malam-malam menyemburkan bunga api
merah menyobek-nyobek badan hitam
menjeritlah nada tinggi mengoyak-ngoyak sepi
menyemburkan amarah dan dendam

Dari Dukuh-Krakatau
Wing Kardjo (1958)

ceritanet©listonpsiregar2000