sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 227, 12 desember 2012

Tulisan lain

Hikayat Luka - Tosca Santoso

Fragmen - Harijadi S. Hartowardojo

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Terimakasih Banyak untuk Anda Sekalian - www.ceritanet.com

Pirus Urat Mas 1 - Vincent Mahieu

Dunia Sebelum Tidur - Toto S. Bachtiar

Jauh Malam di Pasar Matraman - Sobron Aidit

Doger- Ajip Rosidi

Gadis Peminta-minta - Toto S. Bachtiar

Autumn Leaves- Idrus F Shahab

Portsmouth

Pirus Urat Mas 2
Vincent Mahieu (dari kumpulan cerita pendek Cuk, penterjemah H.B. Jassin)

baca Pirus Urat Mas 1

"Pernahkah Anda melihat orang meninggalkan komedi putar yang sedang berputar, tuan Mah Yu?"

"Ada yang berguling-guling seperti kelereng. Ada yang melayang dengan lompatan-lompatan indah seperti kijang. Ada pula yang tertumbuk seperti penyelam dengan timah di kepala dan timah di kaki. Itu tidak aneh. Yang aneh ialah bahwa itu terjadi dengan orang yang berpakaian terhormat, kejadian yang tidak ada pertaliannya dengan keindahan atau akrobatik."

"Yang demikian terjadi apabila pemain orgel tiba-tiba menghilang dengan cara yang tidak bertanggung jawab. Setiap pemain orgel. Apakah dia namanya menteri ataukah jenderal atau pendeta. Sistem pembawa bahagia yang tiada pengemudi itu melontarkan orang-orang bahagia jumpalitan ke udara. Betul. Ha, orang dalam jentera di Paris melakukan yang seperti itu juga. Ia meninggalkan kincir dan mesin itu dengan sendirinya mulai berputar lebih cepat. Saya dapat melihat semua itu dengan jelas karena mesin rasasa seperti itu selalu begitu indah menjulang ke atas."

"Saya melihat orang-orang dalam keranjang bajanya bersembunyi dan menjongkok sedalam-dalamnya karena peluru-peluru cahaya terus ditembakkan menembus jentera. Tapi orang-orang lain mencoba dengan sekuat tenaga ke luar dari jentera. Saya tambah hormat ke pada wantia, tuan Mah Yu, betul, Saya melihat seorang wanita yang tiga kali berturut-turut melakukan percobaan yang berbahaya untuk melepaskan diri. Anda tahu bahwa semua wanita selalu salah melangkah kalau turun dari trem atau kereta api yang sedang berjalan, tapi wanita yang s tu ini berulang-ulang berani melompat dari kincir yang sedang berjalan."

" Yang perama kali ia salah menganbil ancang-ancang, keranjang bergoncang keras ke belakang, ia terhenyak ke depan, kepalanya ke bawah, hanya berghantung dengan kedua kakinya. Temannya yang memekik-mekik menariknya ke atas tapi mula-mula hanya menarik sarungnya dan kemudian baru si upik cantik, kalau Anda mengerti yang saya maksud. Tidak tuan Mah Yu, saya tidak tertawa. Kalau Anda melihat apa yang saya lihat, bagaimana ia segera sesudah itu dengan cepat merapikan kembali dandanannya, dalam keadaan serupa itu, Anda juga akan merasakan respek yang dalam terhadap perasaan kesopanan wanita dalam segala keadaan. Sungguh mengagumkan.

"Yang kedua kali ancang-ancangnya baik, tapi terlalu rendah dan dia cepat-cepat jatuh kembali dalam keranjang dengan kepala ke bawah dalam pangkuan temannya, sehingga sesaat lamanya seakan-akan hanya seorang wanita saja yang ada dalam keranjang itu, seorang wanita yang luar biasa kenyalnya dengan kedua kakinya terlipat di kiri kanan kepalanya."

"Yang ketiga kalinya loncatannya baik dan ia terbang di atas kaki dan tangannya menyusur ke tanah ke depan, menabrak lemari kassa yang tinggi hingga bolong. Dengan heran saya lihat dia muncul lagi di atasnya dalam gaun perempuan Eropa, tapi saya salah. Itu ada perempuan Cina penjual karcis yang menjerit-jerit lari sementara tempatnya diduduki oleh perempuan dari komedi putar tadi yang nampaknya bengong saja. Dengan sikap seolah-olah ia sedang menjual karcis. Tuan Mah Yu. Tuan Mah Yu! Tuan Mah Yu! Kalau Anda tidak berhenti tertawa, saya pergi, itu tidak lucu, dulu tidak, sekarang pun tidak. Sebab kejadian itu benar. Dan mereka ketakutan. Betul."

"Ya, saya katakan saya hormat kepada kaum wanita. Mereka menjerit-jerit tapi mereka berani dan tabah. Ada juga seorang laki-laki dalam komedi putar itu, yang jendak melarikan diri dan serta merta meninggalkan istri atau tunanganya. Dan dia begitu bingung sehingga ia hendak turun ke bawah melalui tiang baja sementara jentera justru bergerak ke atas. Sehingga ia sekali turun ke bawah tanpa mencapai tanah dan sekali lagi dengan kepala ke bawah menjerit-jerit menuju bumi, uang dan puplen berjatuhan dari kantungnya. Ia terlalu cepat menghentikan daya upaya dan turut berputar seperti keong pada roda kereta sambil berdoa keras-keras. Saya benci kepadanya. Saya kira saya benci semua lakik-laki!"

"Anda harus lihat, Anda tahu kan parit busuk dan kotor di tengah lapangan yang dilalui setiap orang dengan menutup hidung? Bah parit itu penuh manusia, dua lapis bersusun-susun. Aduhai betapa dalam dan mesra mereka bergelimang dalam bubur yang hitam itu. Sekarang mereka tidak terbatuk-batuk kecil dan tidak mendengus jijik, mereka senang dalam parit itu seperti dalam ranjang pengantin. Kalau keselamatan orang terncam, maka ia pun kehilangan martabat diri. Jadilah ia seperti ikan yang hidup dalam lumpur, seperti cacing, ulat! Aah, tapi di parit itu pula saya menyaksikan tersingkapnya suatu rahasia, tuan Mah Yu. Sebab ketika orang banyak berlari-larian itu, saya lihat pula sebuah kotak aneh yang berkaki berlari-lari di tengah lapangan. Kaki-kaki itu bercelana piyama dan bersepatu tumit tinggi dan ketika kotak itu berhenti di atas parit, barulah saya lihat apa yang ada di atasnya: laba-laba dengan kepala perempuan. Lalu saya lihat pula bahwa kotak itu terdiri dari kaca-kaca cermin. Kita memang pernah mendengar yang semacam itu, tapi kita pernah mengetahui dengan pasti."

""Perempuan yang malang itu tidak dapat membuka kotak itu sendiri dan mencoba berjongkok di dalam parit. Hal mana tidak mungkin karena adanya kotak itu. Maka duduklah laba-laba besar dengan kepala perempuan itu di tengah lapangan pasar malam yang sepi, masih terus memakai kaca mata hitamnya. Meskipun demikian pemandangan itu tidak aneh. Sebab segalanya aneh bukan. Suasana yang sunyi sekali di tengah seribu lampu-lampu dan bendera-bendera, suara logam reklame, kincir-kincir yang berputar dan peluru-peluru cahaya."

"Sekali-seikali rupanya ada pula peluru-pekuru melayang rendah di atas lapangan. Misalnya dekat kolan air mancur. Kolam itu penuh kepala-kepala hitam mengkilap. Seperti pelampung. Dan saban sebentar pelampung-pelampung itu menyentak masuk air seolah-olah ada ikan terbentur di bawah air. Tapi ikan-ikan ada di luar kolam, di ssudut yang aman: sekawanan besar orang-orang berbaring, laki-laki, perempuan, dan anak-anak dengan kepala menghadap ke tembok yang melindungi dengan aman. Juga saya lihat di sana seorang ibu menyusui anak bayinya. Seolah-olah dia di rumah saja, di tempat tidur. Tidakkah Anda merasa kagum dengan cinta ibu yang mesra demikian dalam segala keadaan?"

"Dan juga di kolam itu ada pondok sepi tukang ramal itu. Anda tahu bukan? Dengan segala kartu bergambar tangan dengan garis-garis dan nomor-nomor dan planet-planet, peramal itu sendiri mungkin sedang berbaring di kolam, tapi s aya bertanya kepada Anda: mengapa kita selalu mau menatap ke masa depan saja padahal kita tidak percaya? Seluruh kepercayaan kita kepada kehidupan tegak atau runtuh dengan satu letusan senapan. Ya bahkan dengan meletusnya ban sepeda! Seluruh kehidupan adalah satu komedi besar. Dan hanya bila ada kekacauan segala kebohongan akan tampak. Betul!"

"Saya menyaksikan bagaimana laki-laki yang congkak runtuh semangatnya di tenda tempat menembak, di mana tukang-tukang tembak dan juru-juru tembak yang tadinya omong besar dengan penuh kepastian diri mengayukan senapan dan saat berikutnya melemparkan segala senjata menyuruk ke dalam bak kotoran besar yang disemen, Anda tahu bukan di sebelah tenda itu. Di seberangnya seperti Anda tahu ada panggung pertandingan keroncong. Semua pencinta seni sudah lari dan di atas panggung seorang nona penyanyi sedang menangis menyeret seorang temannya yang jatuh pingsan ke luar panggung. Temannya itu seorang laki-laki besar dan badannya berat, sebuah terompet dipegangnya kuat-kuat. Mengapa ia tidak tegak berdiri dan meniup terompetnya: hentikan tembakan! Isyarat demikan ada bukan tuan Mah Yu dan tentara mematuhinya bukan?"

"Tembak menembak berhenti dengan sendirinya. Tiba-tiba. Saya tidak tahu mengapa, barangkali karena kehabisan peluru. Tapi orang tidak percaya pada keheningan itu, seperti juga orang tidak percaya pada tembakan-tembakan pertama pada permulaan drama itu baru setelah orang karena semutan yang tidak tertahan berdiri dan berjalan, lambat laun kembalilah lagi kesibukan, orang malahan bergerak tergesa-gesa dan gugup. Orang yang ketakutan bahwa barang-barang yang mereka tinggalkan barangkali akan dicuri orang. Orang-orang yang dalam kebingungan umum tadi kehilangan dompet, pulpen, dan sebagainya, dan orang-orang yang bergegas-gegas mencari barang orang lain yang hilang. Pemilik-pemilik kincir kembali menghentikam kincir berputar. Suara rekaman reklame diputuskan, para pengemis melarikan diri membawa bungkusan-bungkusan penuh makanan, terhuyung-huyung dan kepalanya pening kebanyakan makan, diburu oleh pemilik-pemilik dan pelayan-pelana restoran yang marah, yang tiba-tiba ke luar dari segala sudut."

"Pendeknya timbullah suatu gamabran orang banyak yang marah memaki-maki dan meratap menyayat hati. Ya, ya kehidupan normal cepat kemnbali. Saya jadi tidak enak badan karenanya, tuan Mah Yu, betulo. Saya cepat-cepat meninggakan lapangan, melewati sapu tangan-sapu tangan, topi, syal sepatu-sepatu, selop-selop, sebuah sanggul, songkok pesta, kacamata, seekor bebek goreng, bungkusan berisi jajan dan sebagainya."

Tek Eng menghitung di jarinnya sementara ia seperti peramal merenung ke kejauhan.

"Pintu-pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu dan bambu yang kuat di belakang profil keras gerbang batu, gerbang-gerbang itu ternyata roboh sama sekali: pintu berputar tercabut dari tanah, di tengah jalan berpuluh-puluh tukang jualan keliling menyumpah-nyumpah dan mengomel sepanjang pendek sambil memperbaiki pikulan dagangannya yang diubrak-abrik dan mengumpulkan sisa-sisa pinggan mangkuk dan makanan yang masih terpakai. Boleh dikatakan setiap orang sudah lupa bahaya maut yang barusan ditempuhnya dan kembali dengan sepenuh tenaga memperbaiki kehidupan lama yang dicintainya. Kebodohan dan kesukaan manusia yang konyol untuk bersenang-senang sungguh tidak dapat disembuhkan, tuan Mah Yu. Saya tidak percaya lagi kepada pembersihan dengan jalan air bah atu peperangan atau bencana alam. Saya tidak percaya apa-apa lagi. Apapun tidak."

Kesudahannya Tek Eng berdiam diri. Ia menyilangkan tanganya di atas meja dan merenung murung ke mangkok-mangkok sup yang dalam pada itu telah kukosongkan sama sekali sementara aku untuk menghormatinya mengeluarkan sendawa tanpa suara. Dan aku belum juga mengerti bagaimana pandangan hidup baru ini dapat menghilangkan keseimbangan Tek Eng begitu rupa. Jahanam! Bukankah sekali lagi terbukti dengan meyakinkan bahwa yang absurd itu dapat membawa keselamatan dalam keadaan absurd, asal saja orang berhasil mendapatkan batu bertuah seperti Tek Eng menemukan pirus urat masnya?

Seolah-olah Tek Eng menerka pikiranku, sebab ia melanjutkan.

"Saya belum selesai bercerita, tuan Mah Yu. Memang tadi malam saya agak bingung tapi kehidupan saya yang istimewa dengan batu bertuah itu sudah jadi begitu otomatis sehinga saya tidak dapat menjadi sungguh-sungguh gelisah lagi. Tapi coba terka apa yang saya temukan di atas meja sekembali saya di rumah, tuan Mah Yu. Pirus itu!"

"Karena terburut-buru sesudah mandi saya lupa mengalungkannya dan benda jahanam itu masih terletak di sana. Enak-enak saja tinggal di rumah. Sementara saya menempuh bahaya maut berjalan antara berjuta-juta peluru. Sekian tahun dia menipu saya, tuan Mah Yu, menipu saya! Saya tidak perlu batu bertuah! Saya adalah manusia seperti semua manusia lain, hanya dengan sedikit nasib baik, nasib baik yang sudah cukup lama mengabdi saya, dan karena segalanya mempunyai akhir, kapan melapetaka menimpa saya? Ah hidup yang celaka, habislah riwayat saya! Batu celaka yang terkutuk, terkutuk!"

"Apa yang kau lakukan dengan batu itu, Tek Eng?"

"Saya jual kepada si perengek tua Wie Sin. Dengan harga dua ribu rupiah. Seolah-olah kekebalan yang sesungguhnya bisa dibeli dengan uang dua ribu rupiah! Si tolol itu!"

Lalu tiba-tiba, sambil melihat arlojinya dengan terkejut.

"Sorry saya harus pergi. Sampai ketemu lagi, tuan Mah Yu. Atau selamat tinggal untuk selama-lamanya, manusia mana yang tahu berapa lama ia hidup."

"Anda mau ke mana?" tanyaku sambil berdiri pula. "Aku akan ikut Anda."

"O jangan, jangan. Saya ke jurusan lain, kerumah Madame Svengala. Anda tahu bukan, ahli nujum yang terkenal itu? Saya harus, saya harus mengetahui juga sedikit apa yang akan terjadi dengan diri saya. Adieu, adieu, adieu!"
***

ceritanet©listonpsiregar2000