sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
ikut mailing list

 twitter    facebook    google

ceritanet              situs karya tulis - edisi 226, 16 november 2012

Tulisan lain

Terimakasih Banyak untuk Anda Sekalian - www.ceritanet.com

Dunia Sebelum Tidur - Toto S. Bachtiar

Jauh Malam di Pasar Matraman - Sobron Aidit

Doger- Ajip Rosidi

Gadis Peminta-minta - Toto S. Bachtiar

Autumn Leaves- Idrus F Shahab

Oh RPM, I feel good - Ani Mulyani

Potret Diri - Ajip Rosidi

Kalangan Ronggeng - W.S Rendra

Beachy Head

Pirus Urat Mas
Vincent Mahieu (dari kumpulan cerita pendek Cuk, penterjemah H.B. Jassin)

Dan siapa yang aku temukan di warung Ban Fo, si penjual sup itu? Tentu saja Tek Eng. Si Kebal. Di manapun aku menemukan rumah makan dengan makanan rakyat yang istimewa enaknya dan merahasiakannya, pastilah cepat atau lambat pada suatu hari Tek Eng akan menemukannya pula. Si Tek Eng itu sungguh tukang makan enak yang tiada malunya. Dia tahu semua rumah makan dan semua warung makan yang istimewa di seluruh Jawa Barat, dia tidak malu di manapun juga dan dia makan apa saja. Asal dimasak oleh orang yang ahhi masak dan ditemukan oleh orang yang selalu mencari yang baru.

Ambillah misalnya Ban Fo. Dia menjual swi ki. Setiap orang pernah makan swi ki atau paling tidak pernah mendengarnya, yaitu semacam sup kedele dengan punggung kodok. Tapi swi ki masakan Ban Fo istimewa sekali, Kalau Anda pikir bahwa dia hanya sekali sehari memasak makanan itu sebanyak satu drum minyak yang besar (tidak pernah lebih, meskipun dia bisa mendapat uang banyak), bahwa drum itu jam enam pagi masih penuh dan tiga jam kemudian, apabila hari baru saja mulai, sudah kosong lagi, maka dapatlah Anda bayangkan betapa disukainya sup itu.

Ingatlah pula bahwa Ban Fo hanya menjual swi ki saja, bahkan secangkir kopi atau tehpun dia tidak jual. Bahwa rumah makannya bobrok tidak pun berlantai, sehingga kursi-kursi terus menerus bergoyang di atas tanah biasa yang dipadatkan. Dan bahwa rumah makan ideal bagi pencari makan enak ini letaknya jauh dari pusat kota, di kampung yang kotor dan becek. Bahwa di tempat itu orang dengan tidak malu-malu dan seolah-olah tiada puas-puasnya makan sampai empat lima porsi dan sesudah itu dengan suara keras menceritakan di mana-mana bahwa ia makan enak sekali. Maka tahulah Anda bahwa Ban Fo sungguh unggul.

Kalau Anda aduk-aduk mangkok Anda dengan sendok kaleng, Anda tidak mengerti dari mana datangnya rasa enak itu. Sebab Ban Fo tidak hanya memasukkan punggung kodok ke dalam drumnya; seringkali nampak kodok hampir seutuhnya. Dan berbagai serat-serat entah apa lainnya. Dan demikianlah. Mulut-mulut usil mengatakan bahwa sering ada daging anjing yang mati terlindas dalam drum itu, tapi itu fitnah. Aku tahu rasa daging anjing, yang digoreng, yang dipanggang atau yang dalam sup. Aku tahu waktu jadi tawanan. Aku bersumpah; tidak ada sepotongpun daging anjing dalam swi ki bikinan Ban Fo.

Tapi mengapa aku ngoceh tentang swi ki? Aku kan lagi bidara tentang Tek Eng?

Tek Eng adalah semacam sahabat bagiku, seorang Cina peranakan yang bundar seperti bola dengan usia yang tidak dapat dipastikan. Aku berkali- kali kebetulan bertemu dia di berbagai warung yang tidak dikenal. Dan kami jadi bersahabat. Tek Eng beroleh nama julukannya karena kenyataan bahwa dia sungguh-sungguh tidak dapat dihancurkan. Waktu perang dengan Jepang dapat dilaluinya tanpa goresan sedikitpun. Dan ketika dalam revolusi Indonesia sesudah itu dalam pertumpahan darah di Tangerang hampir seluruh warga habis dibantai, siapa yang nongrol di tengah jalan tiada kurang suatu apa? Tek Eng.

Dia tiba di ibukota yang kekurangan makanan, orang nganggur, di mana-mana pertempuran di jalan-jalan, serangan bom dan kesulitan perumahan. Dan tanpa bantuan siapa-siapa, dia dalam waktu singkat menjadi makmur. Nasib baik? Rahasia? Sama sekali tidak.

Tek Eng menunggu di depan pintu belakang percetakan satu-satunya koran yang terbit waktu itu. Dan dia menyogok kacung yang paling rendah dengan sebungkus rokok untuk memberikan ke padanya percobaan koreksi yang pertama dari rubrik 'Jual dan Beli'. Dengan cepat ia lalu berjalan kaki dalam kota dan apabila koran diantar ke rumah-rumah, sepuluh menit kemudian Tek Eng sudah berdiri di depan rumah orang yang hendak menjual sepedanya dan lima menit kemudian dia sudah di depan rumah orang yang ingin sekali membeli sepeda. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Yang demikian itu dilakukanya setiap hari dengan buku-buku, alat-alat musik, obat-obatan, pakaian dan perabot rumah. Seminggu kemudian ia sudah dapat membeli sepeda dan dua bulan kemudian ia mempunyai sebuah prahoto kecil sesudah sebelumnya membeli sepeda motor.

Ia bersahabat dengan kepala-kepala gudang, penjual-penjual keliling, pengendera-pengendara konvoi, pahlawan-pahlawan kemerdekaan dan pegawai-pegawai distribusi, persahabatan--persahabatan yang menguntungkan. Ia pasang kuping di rumah-rumah makan dan pada penanam-penanam kopi dan mendengar peringatan-peringatan yang berguna dan petunjuk-petunjuk yang positif dalam bahasa Melayu, Cina, dan Belanda dan berbagai macam manusia.

Ia mendengar di mana ada persediaan-persediaan barang dan malahan harta-harta tersembunyi. Tentu saja kebanyakannya di pinggiran kota. Di mana hanya datang soldadu-soldadu yang suka berkelahi dan perampok-perampok. Tek Eng bukan soldadu dan bukan pula perampok. Dia hanya seorang kebal dan itu tentu saja sudah cukup. Dan karena itu ia mengalami petualangan-petualangan yang paling aneh. Sebab orang dalam tahu: di mana bahaya paling besar, di sanalah kehidupan paling menarik.

Dua kali bersama sebuah konvoi masuk perangkap penghadangan dan truk Teng Eng berlobang-lobang seperti keranjang bambu. Tek Eng sendiri; tidak mendapat groesan sedikitpun. Dengan sebuah kenderaan militer enam ton ia melanggar ranjau dan karung-karung besar tempat Tek Eng tidur, compang camping oleh pecahan-pecahan ledakan.

Ketika ia menggali kuburan massal, ia mendapat tembakan gencar bersama penggali-penggali lain dan mereka terpakas berbaring di dalam kubur antara tulang belulang menunggu kematian mereka sendiri. Tek Eng di bawah sekali. Akhirnya dua granat mortir 3 1/2 inci tepat mengenai mereka. Dengan puas para pengepung memeriksa asi pembantaian mereka yang baru dan mulai menimbuni lagi kuburan itu, tapi pada saat terakhir datang pertolongan. Satu-satunya yang masih hidup dikeluarkan dari dalam kubur, bermandi darah tidak bisa dikenali lagi tapi sama sekali tidak mendapat luka-luka, ialah Tek Eng.

Kali yang lain pula dalam sebuah kota yang bermandi cahaya bulan di pinggiran kota ia tiba-tiba kena berondongan houwitser yang gencar. Tek Eng lari masuk rumah petama yang paling dekat dan alangkah kagetnya ia ketika tiba-tiba mengetahui bahwa ia berada bersama-sama dengan beberapa orang soldadu musuh. Tapi segera juga mereka hanya memperhatikan bunyi-bunyi yang khas dari suatu penembakan dengan houwitser, bunyi mendesing granat-granat yang tidak begitu cepat mendekat, seperti orang bersiul dan mempermainkan lidahnya di depan lobang mulutnya. Bunyi yang perlahan meninggi dari suara yang mengerikan itu, yang berakhir dengan ledakan yang menumpulkan segala panca indera, disertai hingar bingar tembok runtuh, bunyi canang beribu-ribu dan pecahan-pecahan granat di atap seng dan tembok-tembok, deru dan bunyi merdu serpih-serpih dan bungkah-bungkah yang terlontar.

Kemudian hening, bunyi redup sisa-sisa puing yang masih berjatuhan, samar-samar dan jauh kedengaran pula suitan mendesing granat lain yang sedang mendekat dan seterusnya. Rumah tempat mereka bersembunyi dua kali mendapat tembakan yang tepat mengenai sasaran, tapi rumah itu rumah Hindia yang tua dan kuat buatannya. Hanya atapnya yang terbang kena granat dan beberapa keping tembok jatuh ke bawah. Anak-anak muda yang berlindung di bawah meja tulis, meja-meja dan tempat tidur, tidak apa-apa. Tapi jendela-jendela dan pintu-pintu pecah dan tiba-tiba ke luar mahluk-mahluk yang berpakaian aneh dan tingkat lakunya aneh. Mereka berjalan di gang-gang dan kamar-kamar rumah, sedang bulan memandar ke dalam di tengah asap dan debu.

Tek Eng menyadari bahwa ini mestinya rumah sakit gila. Pasien-pasiennya dalam bulan-bulan belakangan ini terlantar sama sekali. Mereka sudah lama mengenakan pakaian compang-camping yang aneh di badannya, tapi sekarang ditambah pula dengan rambut mereka yang acak-acakan dan sudah lama tidak dipangkas dan kuku-kuku panjang yang tidak dipotong. Dan yang paling aneh adalah orang-orang ini tidak takut kepada pemboman. Mereka berlari atau menari, menyanyi, terkekeh-kekeh dan mengoceh seperti kakak tua yang setengah terlelap. Soldadu-soldadu ingin lari saja, sekiranya mereka berani.

Tek Eng duduk di belakang sebuah pot besar di ujung gang, di mana seorang nyonya berjalan kian ke mari dengan rambut putih panjang terurai, berbaju gaun dalam antik, sambil bermain harpa khayali dan menyanyi dengan mulut tidak bersuara. Di tempat remang-remang di gang yang sepi hanya kedengaran kuku-kuku kakinya yang panjang menggores-gores dan mengetuk-ngetuk, perlahan-lahan mendekat dan perlahan-lahan menjauh. Dan kembali lagi. Pun di sini Tek Eng luput dari bahaya maut dan luput dari kegilaan. Dia lepas dari segala bahaya.

Ia lepas dari bahaya seperti veteran-veteran tulen di garis depan yang paling berbahaya. Yang banyak sekali pengalamannya sehingga rambutnya sudah lama putih. Atau rambutnya tidak bisa putih lagi. Yang telah melampaui batas-batas logika, drama, dan keajaiban. Di mana kehidupan hanya tinggal sesuatu yang bukan main lucunya. Yang tertawa terbahak-bahak karena ketika ada tembakan gencar yang berbahaya sedang membaca surat dari rumah bahwa Tante Miep di Amsterdam telah meninggal dengan tenang karena keracunan darah ketika mengorek-ngorek hidungnya. Atau karena Kees membeli giliran jaga di suatu pos yang terus menerus jadi sasaran tembakan dan kemudian mati di kota kena tabrak sepeda kumbang.

Bagaimanapun juga, orang yang karena hatinya membatu tidak disukai orang-orang biasa. Dan karena itu menghibur diri pada penanam-penanam kopi di daerah-daerah yang tidak sopan. Di mana orang duduk dengan sepatu laras di atas meja. Di tengah kopi dan kue-kue dengan senapan mesin dan siku-siku dalam lengan baju kamuflase. Tek Eng paling suka duduk di tempat seperti itu. Lebih suka dari duduk dalam bioskop dengan film-filmnya yang ngibul atau membaca buku dengan drama-drama yang khayali.

Tek Eng hanya berbeda dalam satu hal dengan kawan-kawannya. Mereka hidup tanpa sak wasangka seperti hewan, tapi dia tahu, dia tahu. Dia tahu bahwa setiap orang di dunia harus mempunyai jimat atau maskot, yang bisa membuat dia kebal. Tahyul? Puh. Siapakah manusia yang betapapun genialnya bisa merangkum segala rahasia kehidupan? Pun yang absurd adalah kenyataan hidup. Carilah kristalisasinya dalam sebuah cincin, sebuah rantai, sebuah medaliun, sebuah batu cincin dan kuasailah maut. Semua orang ini punya jimat dalam sesuatu bentuk, tapi mereka tidak tahu.

Dia Tek Eng, dia tahu.

Batu bertuah baginya adalah pirus urat mas, sebuah batu sebesar telor merpati, di pasang pada sebuah cincin yang tidak pernah dipakai pada jarinya karena takut hilang, tapi pada rantai baja di lehernya.

Tidak kelihatan oleh mata-mata yang lapar. Dan dekat ke hati yang harus terus berdebat. Jangan sekali-sekali lepaskan batu itu. Hanya sebentar apabila mandi. Selain itu jangan sekali-sekali, jangan, jangan sekali-sekali. Tidak satu menit dan tidak satu detik. Sebab di tengah kehidupan yang berlangsung tersembunyi, malapetaka seperti penembak pengintai. Jarinya siap menarik pelatuk. Siap siagalah.

Tek Eng siap siaga dengan kepastiannya yang tidak bisa diganggu gugat. Barangkali itulah pula sebabnya ia selalu berkata: betul, yakni: pasti, tidak bisa salah lagi, mutlak! Dan ia selalu tertawa.

Tapi mengapa hari ini ada awan aneh di atas kepastiannya yang cerah? Atau apakah ia hanya linglung? Tapi apakah yang bisa membikin dia linglung seperti itu?

"Kau mau cerita yang aneh lagi ke padaku, Tek Eng?" tanyaku ketika ia mengajakku ke kebun di belakang, di mana hanya boleh duduk kawan-kawan baik Ban Fo.

"Alam semestaku telah runtuh," kata Tek Eng datar dan dibiarkannya aku tertawa terbahak-bahak, sementara ia masuk ke dalam untuk mengambilkan sup bagiku.

Aku bersandar malas dan puas ke belakang, memandang dengan senang hati melalui kali berlumpur ke seberang yang luas, di mana terletak kebun-kebun sayur kepunyaan penjara. Dan penjara itu sendiri yang bertangas dengan bebasnya di panas mahatari, dengan pekebun-pekebun yang rajin dalam pakaian penjara berwarna tanah di kaki tembok-temboknya yang tinggi dan putih menyilaukan: sebuah bangunan bagus yang lebar dan padu seperti puri dibandingkan dengan gubuk-gubuk kecil jaman baheula di pinggir kali: sempit dan kelabu dan jorok rapat berjejer-jejer. Seperti orang biasa.

Tek Eng kenbali dan dengan hati-hati meletakkan dua mangkok besar swi ki di atas meja kami yang bergoyang-gioyang. Kemudian ia beberapa lama tanpa sepatah kata mencari dan mencocok-cocokkan dengan teliti kepingan-kepingan genteng untuk mengganjel kaki-kaki meja kami yang goyah.

Dan sementara aku dengan sedap mulai makan, ia bercerita:

"Ini bukan cerita gila. Saya tidak pernah punya cerita gila. Sebab saya kan hanya menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Apakah kehidupan gila. Hanyalah orang-orang yang membuat cerita rekaan di rumah, merekalah yang gila, dan cerita cerita mereka gila. Kehidupan yang dibikin-bikin. Seperti fim."

"Apa yang saya ceritakan kepada Anda, ada dalam harian pagi. Anda membaca De Nieuwsgier bukan? Ya Tuhan, Anda sendiri bekerja di sana. Dan Anda tidak dapat membayangkan betapa banyak emosi yang dibinasakan dalam berita yang kecil tidak berarti itu: 'Tadi malam di pasar malam terjadi perkelahian antara polisi dan tentara. Seorang tentara tewas dan tiga polisi luka-luka. Di antara orang preman sepanjang yang diketahui tidak ada korban'. Anda baca berita itu?"

Aku mengangguk tanpa sepatah kata.

"Ah Tuan Mah Yu, Anda tidak ada di pasar malam. Saya, saya ada di pasar malam. Dengan 50.000 orang lain. Penuh sesak. Tidak ada orang yang berjalan biasa, semua orang mengingsut. Semua orang tertawa. Semua orang makan. Dunia tertawa, kehidupan tertawa. Pada tembakan-tembakan pertama tidak ada yang memperhatikan. Tuan Mah Yu, apabila maut, apabila malapetaka, keruntuhan menyatakan kedatangannya, tidak pernah ada yang kau percaya. Dia tiba-tiba selangkah lagi, orang pun panik. Betul."

"Anda pernah melihat orang berlari, Tuan Mah yu. Satu orang memburu trem. Lima orang di jalan lomba lari, 20 orang di lapangan olah raga. Tapi pernahkah Anda melihat 50.000 serentak berlari. Dan tidak pula di lapangan terbuka, tapi di lapangan pasar malam yang penuh sesak?"

"Ha! Pemandangan yang sungguh mengesankan, Begitu mengesankan sehingga Anda sendiri lupa untuk berlari. Betul. Dan ketika saya telah mengatasi keheranan saya, saya berpikir bahwa saya tidak perlu melarikan diri. Anda tentu paham Tuan Mah Yu?

Aku teringat pirus urat mas dan mengangguk.

"Nah Tuan Mah Yu, tentu Anda mengerti pula betapa terpesona saya melihat pemandangan itu, Sebab orang-orang yang lari dengan pakaian olah raga bagus untuk dilihat. Tapi cobalah Anda lihat 50.000 orang berlari dalam pakaian pesta. Dengan anak-anak di punggugnya. Dengan balon-balon dan payung. Cobalah Anda lihat orang-orang gemuk berlari-lari dan nenek-nenek umur 80 tahun. Orang Eropa dan orang Timur, miskin dan kaya! Sangat mengesankan."

"Siapa yang bicara tentang keajaiban di pasar malam? Inilah dia keajaiban! Ah Anda jangan tertawa Tuan Mah Yu. Saya melihat sebuah rumah turut terbawa ke dalam arus manusia. Saya tahu bahwa rumah itu ringan terbuat dari bambu dan kertas. Tapi sebuah rumah tergolong pada benda-benda tidak bergerak, bukan? Rumah itu turut berlari. Dan hal seperti itu Tuan Mah Yu amat berkesan untuk dilihat."

"Pun banyak debu. Seolah-olah kumpulan manusia itu terbakar. Kedengaran pula jeritan-jeritan putus asa dari seribu kerongkongan tapi suara itu adalah pula satu suara dari semua manusia bersama-sama. Sebagaimana juga bunyi empat roda yang direm merupakan bunyi sebuah oto dalam bahaya. Hanya saja bunyi teriakan ini lebih keras dan lebih mengerikan. Bersama-sama dengan bunyi teretet senapan mesin dan letupan-letupan kacau yang ke luar dari banyak mulut senapan, kedengarannya seperti bunyi penutup pelat gramofon jazs yang brengsek. Anda tahu bukan, di mana semua alat musik serentak menghabiskan sumbangan bunyinya dan seorang drumer seperti gila memalu semua tambur sekaligus. Ah, hanya jauh, jauh lebih mengesankan."

"Dan di atas semua itu, Tuan Mah Yu, kedengaran bunyi logam yang berat dan jernih, bunyi megafon-megafon besar, yang secara otomatis dengan patuh mengikuti rekaman-rekaman pitanya dan dengan suara keras mengumumkan ke pada orang banyak obat-obat mana yang mendatangkan kesembuhan bagi segala penyakit, barang makanan mana yang mendatangkan tenaga paling besar dan kesehatan, salep salep dan pil-pil mana yang mendatangkan kecantikan yang paling sempurna, bubuk penenang mana yang paling baik untuk menenangkan dan pisau cukur mana yang mencukur paling licin. Tuan Mah Yu, biar saya mati kalau bermaksud mengatakan sesuatu yang tidak pantas, tapi suara itu seperti suara Tuhan tentang kiamat dunia. Sungguh mengesankan."

"Mula-mula Tuan Mah Yu, saya melihat segalanya sekaligus tapi mata kita tidak bisa merangkum begitu banyak kekacauan sekali rangkum dan kita mencoba mengerti keseluruhan dengan memperhatikan kejadian lepas-lepas. Tapi kejadian lepas-lepas itu pun menimbulkan banyak keheranan pula dan pikiran yang tidak teruraikan. Saya duduk di restoran di seberang lapangan sepatu roda dan di depan mata saya nampak orang-orang, yang mula-mula masih meluncur keliling dengan bebas dan indah seperti burung layang-layang yang berteriak-teriak, tapi tiba-tiba berobah menjadi ayam-ayam yang mengepak-ngepakkan sayap denga kaki-kaki terikat, ketika mereka turun kembali di tanah dari lapangan sepatu roda. Di lapangan sepatu roda sendiri seorang anak umur tiga tahun berkeliling-keliling dalam mobil sambil berteriak-teriak kegirangan karena tiba-tiba mendapatkan ruangan yang bebas, tidak mau mendengarkan ibunya dari bawah bufet dengan suara keras namun siap-siap memanggil anak kesayangannya. Tapi anak-anak kan tidak pernah mau mendengar? Dan bukankah kita semua anak-anak, suka bersenang-senang dengan kesenangan kecil-kecil dan tidak mau mendengarkan peringatan sementara dunia sekeliling kita runtuh?"

"Yang juga tidak mau melihat bahaya adalah pengemis-pengemis, yang tiba-tiba melihat semua restoran ditinggalkan penuh meja-meja dengan makanan yang paling enak, yang tidak dijamah, tidak ada orangnya dan tidak ada yang menjaganya. Mereka menyerbu mangkuk-mangkuk seperti macan, menjejali mulut, mangkuk dan topinya dengan makanan yang paling enak dan kadang-kadang saling melempar dengan telor dadar dan ayam goreng. Saya tidak tahu apa yang lebih tidak pantas: lahap seperti itu atau membiarkan orang kelaparan seperti itu. Betul."

Dan Tek Eng termangu-mangu saja dengan murung, sementara aku dengan tidak malu-malu mulai menyendok porsinya yang tidak dijamahnya.

Ia tersenyum dan mengangguk lesu. Mengapa dia?

*** bersambung ke Pirus Urat Mas 2

ceritanet©listonpsiregar2000