sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 224, 10 september 2012

Tulisan lain

Autumn Leaves- Idrus F Shahab

Potret Diri - Ajip Rosidi

Kalangan Ronggeng - W.S Rendra

Ariel 1- Bernando J Sujibto

Delima yang bertutur tentang Senayan- Aminatul Faizah

Bulan Kota Jakarta- W.S. Rendra

Dengan Dua Gadis - S.M Ardan

Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 2- Liston P Siregar

Getah Malam - Dodong Djiwapradja

Yogya

memoar Oh RPM, I feel good
Ani Mulyani

Setelah sekian lama bergelut dengan olahraga sepeda dalam ruang (indoor cycling) -istilah kerennya RPM- dan mulai menderita ketergantungan atasnya, tiba-tiba muncul pertanyaan kenapa sepeda 'buntung' satu warna tanpa asesoris warna warni itu bisa menjadi bagian dari hari-hari saya.

Penciptanya -ketika saya cari di internet- adalah seorang penggemar sepeda fanatik, Jonathan Goldberg yang belakangan lebih dikenal dengan Johhny G di bisnis kebugaran. Tahun 1980-an muncul ide di benaknya untuk tetap bisa bersepeda tanpa harus ke luar rumah. Tapi seratus persen, pasti lah bukan Johhny G yang menjadi inspirasi bagi saya untuk mengayuh sepeda di dalam ruangan.

Sejujurnya -walau dengan sedikit rasa malu- saya sebaiknya harus mengakui bahwa motif utama untuk bergabung kembali dengan pusat kebugaran adalah agar tubuh terlihat langsing, berisi, dan lebih cantik. Masalahnya, ada saatnya saya merasa amat menderita dengan program kebugaran. Setelah beberapa minggu, rasanya otot-otot tetap terasa kaku, juga pegal di sendi-sendi tidak menghilang. Penderitaan itu rupanya demikian berat sehingga mengalahkan tekad kuat untuk lebih langsing, berisi dan cantik.

Ditambah lagi dengan kesibukan di luar pekerjaan sehari-hari, maka dengan penuh keyakinan saya memutuskan untuk ke luar dari pusat kebugaran. Olahraga -berdasarkan keyakinan saya saat itu- cukup lah dengan berjalan kaki dari rumah ke kantor dan sebaliknya, ditambah lagi dengan beberapa perjalanan lain yang terjangkau tenaga. Ternyata tanpa sasaran yang jelas dan program kebugaran terencana, porsi berjalan kaki saya cuma sebagai sarana transportasi dan tidak mampu untuk mengurangi berat badan, barang sekilo atau dua kilo.

Dengan penuh keyakinan pula saya memutuskan untuk masuk kembali ke pusat kebugaran. Tekad untuk lebih langsing, berisi, dan cantik rupanya belum musnah sama sekali namun hanya terlupakan sekejap. Di sebuah sore selepas jam kerja, ketika cahaya senja merona merah, bergegaslah saya ke pusat kebugaran di Thamrin City, Jakarta Pusat. Tekad sudah dinyalakan kembali dan penderitaan otot kaku dan sendi pegal tidak akan membunuh bara tekad itu.

Semua sepeda sama
Pengalaman kaku dan pegal rupanya masih tersisa dan dari semua peralatan kebugaran, sepeda tampaknya yang paling ringan. Sejak kecil saya sudah naik sepeda dan tak ada masalah. Lari di mesin dan alat dayung -yang dulu termasuk dalam program kebugaran saya- bukan kegiatan keseharian di masa kecil dan mungkin membuat saya jadi menderita. Tubuh saya mestinya lebih akrab dengan sepeda.

Semua RPM sama, tanpa warna warni seperti balapan sepeda Tour de Java, Tour de Singkarak atau Tour de France. Dari barisan sepeda RPM, saya tidak memilih yang paling pinggir, juga bukan yang persis di tengah tapi di antara bagian pinggir dan tengah. Setelah menyesuaikan jok sepeda dan pedal dengan postur tubuh, saya pun siap bergabung dengan kelas kebugaran RPM.

Kayuhan pertama yang terasa ringan meyakinkan saya bahwa saya salah memilih peralatan dalam putaran pertama kehidupan kebugaran dulu. "Gampang. Kenapa orang-orang tidak masus kelas ini saja, sepeda palsu dikayuh sekencang mungkin tidak akan terjatuh atau tabrakan," pikir saya sambil tersenyum kecil.

Sorak sorai instruktur membahana memacu semangat kami semua. Musik ritme disko menghentak keras memicu kayuhan yang lebih kencang dan berat. Tapi saya masih asyik dengan kayuhan ala kadarnya sambil bersenandung di dalam hati.

“Kring, kring, naik sepeda. Sepedaku roda tiga. Kudapat dari ayah karena rajin belajar.”

Lamunanku tersentak buyar tatkala instruktur memberi komando langsung kepadaku untuk mengayuh lebih cepat. Terbangun dari lamunan, saya pun langsung setuju saja dengan isntruktur dan mulai ngebut. Sekitar 20 putaran yang kencang membuat paha terasa mengencang sementara irama nafas semakin cepat. Instruktur mendekati sepeda dan meminta kunci sepeda dinaikkan jadi ++ sehingga kayuhan terasa semakin berat seperti sedang di tanjakan.

Saya mulai meringis, memaksakan beberapa kayuhan lagi dengan cepat sebelum menyerah. Dengkul sudah bergetar hebat, keringat mengalir bak guyuran hujan tropis. Terlintas taktik mendapat telepon penting untuk berhenti, tapi HP tersimpan di lemari ganti. Maka saya tetap mengayuh, atau mungkin menggunakan sisa-sisa tenaga untuk mendorong pedal dengan amat perlahan. Mungkin kalau menggunakan sepeda sebenarnya, saya sudah terjatuh karena kayuhan yang amat lambat.

Instruktur tampak tersenyum melihat penderitaan saya, yang cuma bisa menyeret kayuhan. Tak ada lagi tenaga untuk membalas ramah senyuman itu, juga tidak ada gunanya karena senyuman itu terasa seperti sindiran keras atas kelemahan fisik saya. Otot paha semakin kaku dan berat, lutut semakin pegal, serta tarikan nafas tinggal bergantian satu dua dan tidak mengalir lancar.

Kelas RPM pertama saya itu diakhiri persis pada menit ke-50. Saya berhenti bagaikan menemukan seember air dingin di tengah gurun pasir. Turun dari sepeda, saya berjalan lunglai menuju kamar ganti dan instruktur masih sempat menyapa dalam Bahasa Inggris sambil tersenyum, atau mungkin menyindir: “How was the class?” Saya tetap berjalan menjauh, bergumam “yeahhh it's perfectly make my legs aching.”

Bangun pagi esoknya, penderitaan lama kembali saya alami. Berjalan kaki ke kantor yang biasanya ringan dan cepat menjadi berat dan terseok-seok. Seharian badan terasa berat dan letih. Sore itu, selepas kantor, saya putuskan untuk tidak ber-RPM. Raga dan jiwa saya perlu dipulihkan lebih dulu.

Mengalahkan diri sendiri
Hanya keledai yang masuk lubang dua kali, begitulah kata peribahasa. Saya tidak mau menyerah dua kali. Dua hari setelah kelas pertama RPM, saya merasa sudah pulih dan ikut lagi. Ada motivasi lain yang tiba-tiba terasa amat kuat selain urusan kelangsingan, kepadatan, dan kecantikan. Saya juga ingin mengubah makna senyuman instruktur dari sindiran menjadi kekaguman!

Dalam perjalanan menaklukkan RPM, tersadar pula esensi dari olahraga: menaklukkan penderitaan. RPM persis seperti balap sepeda jalan raya, dengan jalanan datar, tanjakan, dan turunan. Semakin jauh bersepeda maka semakin berat penderitaannya. Jarak itu masih bisa dimodifikasi lagi dengan tanjakan yang diperbanyak sehingga semakin berat lagi penderitaannya.

Ruangan tempat sepeda disusun seperti sebuah peloton dalam balapan sepeda jalan raya. Peloton merujuk pada sekumpulan pebalap sepeda dalam sebuah balapan sepeda jalan raya. Mereka bukan kelompok pemimpin balapan yang berada terpisah di depan. Kecepatan para pebalap di peloton kira-kira sama dan mereka saling menjaga irama kayuhan. Biasanya menjelang garis finish baru lah masing-masing pebalap berupaya lepas dari peloton.

Di ruang RPM terdapat sekitar 30 sepeda -jadi semacam peloton- dengan sebuah panggung untuk instruktur yang memandu dan membakar semangat. Di balap sepeda jalan raya -seperti yang saya baca- selalu ada rekan pebalap yang berperan sebagai penarik untuk menjaga kecepatan pebalap utama maupun untuk menariknya agar mengayuh lebih kencang. Instruktur sepertinya berperan seperti itu. Bedanya di jalan raya terdengar sorak sorai penonton di pinggir jalan yang memicu semangat sedang di ruang RPM yang terdengar adalah hentakan lagu-lagu bergairah, yang juga memicu semangat.

Lalu saya teringat artikel liputan Tour de France di di Majalah Time. Ajang balapan itu disebut sebagai: "a gruelling test of human endurance, a three-week 2,175 mile (3,500 km) race stretched over 21 stages, nine of them in the mountain.”Balapan sepeda Tour de France yang pertama kali digelar tahun 1903 ini dikenal sebagai puncak dari kekuatan fisik manusia menaklukkan jarak tempuh 3.500 km, dengan mendaki sembilan pegunungan.

Saya yakin mengalahkan penderitaan merupakan kata kunci di Tour de France. Tanpa berniat menyamakan diri dengan pebalap di Tour de France, namun dalam skala yang amat jauh lebih kecil ada saatnya paha sudah amat kaku dan amat berat walau tidak membuat saya untuk berhenti. Yang saya lakukan justru memaksa diri mencari titik ujung tenaga yang baru. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, ujung tenaga saya semakin menjauh bersamaan dengan kemampuan mengelola penyebaran penggunaan tenaga dan pengaturan nafas.

Jadi titik penderitaan yang harus dikalahkan semakin menjauh bersamaan dengan berjalannya waktu.

Jika pada masa-masa awal, saya sudah menderita karena kehabisan tenaga dan nafas pada menit ke-15 maka pekan depannya penderitaan itu baru saya capai pada menit ke-20. Bulan depannya bahkan saya tidak mencapai titik penderitaan pada akhir kelas di menit ke-50 sehingga keesokan harinya saya harus mempercepat tempo kayuhan guna mendapat titik penderitaan baru yang harus saya taklukkan di hari atau pekan berikutnya.

Pengaturan penyebaran tenaga dan nafas juga sudah tidak tergantung lagi pada instruktur. Saya bukan hanya mampu mengalahkan diri sendiri yang meminta untuk berhenti pada titik kelelahan tertentu. Dan perlawanan atas diri sendiri selalu memberikan kepuasan besar bagi ego saya.

Sementara pada saat-saat tertentu -ketika kurang tidur atau baru pulih dari serangan flu ringan maupun diare kecil- saya juga bisa mengukur kekuatan dan membatasi diri untuk tidak mengejar sasaran yang biasa. Saya menjadi lebih mampu memahami kekuatan tubuh; kapan saya bisa memaksa untuk mengayuh lebih berat, lebih lama, dan lebih kencang serta kapan pula saya perlu mengayuh sekedarnya.

Sekitar satu setengah tahun sudah saya menekuni RPM secara rutin. Senyuman instruktur bukan sekedar kekaguman lagi -begitulah menurut saya- tapi sebagai salam antara sesama rekan. Saya dengan amat mahir bisa mengatur nafas dan tenaga: mengayuh tanjakan dengan cepat kemudian masuk ke kayuhan ringan untuk sedikit mengumpulkan tenaga baru dan melaju cepat sebelum kembali menanjak. Saya, dan rupanya juga teman-teman lain, merasa seperti ikut Tour de France: bermain strategi menjelajahi jalanan yang naik turun berbelok kiri kanan.

Akan halnya kelangsingan, kepadatan, dan kecantikan tiba-tiba berada di luar saya dan menjadi persoalan bagi orang-orang yang melihat saya.

Apapun kata mereka, saya akan selalu bersenandung riang: "I feel good...."
***

ceritanet©listonpsiregar2000