sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 223, 11 agustus 2012

Tulisan lain

Ariel 1- Bernando J Sujibto

Bulan Kota Jakarta- W.S. Rendra

Dengan Dua Gadis - S.M Ardan

Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 2- Liston P Siregar

Getah Malam - Dodong Djiwapradja

Malam Terang di Jakarta- Sobron Aidit

Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 1- Liston P Siregar

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta - W.S. Rendra

Surat Cinta Endaj Rasidin - Ajip Rosidi

Aku, Dingis, dan Sawah - Limantina Sihaloho

Setangkai Daun Bodhi - TranzCuk Riomandha

bangladesh

cerpen Delima yang bertutur tentang Senayan
Aminatul Faizah

Aku tak yakin dengan apa jenisku.

Tapi aku tahu, aku laki-laki dan aku perempuan yang terdiam. Terdiam di persimpangan antara ada dan tiada, antara yang dianggap dan antara terbuang dan tersisihkan.

Aku syukuri itu adanya.

Setidaknya Tuhan memberi pengajaran padaku tentang surga dan neraka. Tentang malaekat dan juga setan dan Tuhan begitu baik mengajarkan aku tentang arti sebuah pilihan dan hidup tanpa pilihan. Apa yang bisa kubuat selain hanya terdiam dan menatap mereka yang sibuk dengan duniawinya.

Entah apa yang mereka lakukan. Berjalan mondar mandir seolah sesuatu mengejar mereka.  Mereka bahkan hampir lupa dengan estetika kehidupan. Terbesit aku ingin seperti mereka yang mampu berjalan, berlari, memilih dan bertindak semaunya.

Ku tahu kehidupan seperti itu sangatlah berwarna. Bukan seperti yang hanya terdiam menjadi penonton. Kapan aku seperti mereka Tuhan?

Itulah yang aku tanyakan pertama kali saat kudapati diriku tanpa daya.

Aku hanya sendiri berada di persimpangan. Aku ada namun tiada di mana mereka. Bahkan dengan sangat santainya anjing dan kuncing tanpa dosa kencing di tubuhku. Pantasnya aku diperlakukan manusiawi karena aku sangatlah lemah. Lemah secara moral.

Berat memang hidup jadi pohon delima, keluhku dalam hati.

Meski berduri tak mampu untuk menyakiti. Hanya mahluk tolol yang celaka karena duriku. Lalu dengan santainya mereka meluapkan emosi dengan menendangku. Padahal aku hanya diam dengan duri pemberian Tuhan.

Suatu ketika ada seekor kucing tua berjalan melintasi. Wajahnya sangat asing. Dia bukan kucing juga bukan anjing yang biasa yang kencing di kakiku. Ah, dia juga kucing dan pada akhirnya akan mengencingi aku.

Wajahnya meneduhkan duka. Tak pernah aku pikirkan dirinya. Tak pernah kubayangkan menatapnya apalagi bertemu. Sebelumnya aku tak ingin di sini menatap yang lalu lalang, tapi saat kudapati tamuku, aku tersenyum menatapnya dan ada sedikit keteduhan di hatiku. Dia lalu beranjak pergi meninggalkan aku. Dia tidak kencing.

Esok paginya saat aku menantang mentari. Aku menatapnya berjalan dengan anggunnya. Kulitnya putih seputih awan dan bibirnya memerah. Ah, ia miliki keindahanku.

Aku menatapnya pelan dan tajam seolah tak ingin meninggalkannya dan berpaling pada yang lain. Aku suka dia. Rasa pertama yang menyenangkan, setelah hanya bisa menerima penderitaanku.Atas ketidak berdayaanku sebagai mahluk.

Apalah arti semua ini.
***

Aku terdiam.

Llalu aku melihat mahluk munggil yang tengah berlari menyembunyikan diri. Terlalu banyak yang ia curi hingga untuk ke luar pun ia malu. Mamak dan bapak moyangnya memanglah pencuri, untuk hidup.

Hanya dengan mencuri, mengambil yang tersisa, dan menyampah. Manusia terlalu sibuk hingga tak mau berbagi dengan yang lain.

"Wahai tikus ke luarlah!!!"
"Aduh….Kakek maaf, aku malu. Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?" katanya sambil tetap bersembunyi di kakiku.
"Jangan takut. Manusia yang ada di Senayan saja tak malu, untuk apa kamu malu. Apa yang kamu curi untuk hidup bukanlah suatu kesalahan karena keterbatasan yang Tuhan berikan."
"Tidak aku malu."
" jangan malu. Pecuma kita malu. Kita mencuri bukan karena keinginan tapi kebutuhan. Ini jalanan bukan rumah senayan."
"Benarkah. Ceritakan padaku tentang senayan? Bbisakah aku hidup di sana, mencuri sesuka untuk anakku. Adakah di sana sepiring nasi yang disediakan untuk ku tanpa harus bersembunyi untuk mengambilnya.”

Tikus munggil dengan malu-malu menampakkan moncongnya. Matanya melotot mendesak aku bercerita.

"Senayan adalah tempat manusia setengah dewa, kau tahu bukan bahwa manusia adalah khalifah dan mereka adalah pilihan khalifah, mewakili kita semua. Senayan adalah tempat ketika rakyat sedang kelaparan mereka malah meminta makanan yang untuk rapat. Kau akan dengan nyaman duduk tanpa harus malu dengan nanah, darah, dan juga keringat rakyat yang membayar pajak. Di sana pencurian merupakan hal biasa. Bukan ayam, secuil kain, sejumput beras seperti kamu. Tapi setumpuk uang, setumpuk emas."

Tikus makin maju ke luar dari kaki delima tua.

"Tetanggaku dibunuh karena kedapatan dalam karung beras padahal hanya makan enam bulir beras." "Itulah perbedaan kau tikus dengan dengan mahluk senayan."
"Apakah Senayan di dunia?"

Delima tua mengangguk. Ia tak yakin karena tak ada manusia yang lalu lalang yang bercerita lokasi Senayan.

Lalu tikus dan delima tua terdiam dalam lamunan masing-masing, sejenak.

"Kau tahu…lihatkah engkau kucing tua yang pincang ?" tanya tikus penuh antusias.
"Kenapa tikus bertanya tentang kucing?"
"Karena ia tak mau memakanku,” jawab tikus sedih.

Delima tua melihat tikus menangis kecil. Dia ingat kucing yang tidak mengencinginya lalu esok paginya berjalan anggun dengan kulit seputih awan.

Wajah kucing yang menyejukkan batinnya itu kah?

"Tahukah kamu? Dia menerkamku namun ia urungkan niatnya untuk memakanku. Aku tahu ia sangat lapar dan tua. Tubuhnya kurus dan perutnya kempes, tapi ia tak memakanku karena ia aku masih muda dan umurku lebih panjang darinya."

Tikus mengeluarkan seluruh tubuhnya, ingin memperlihatkan usianya.

“Karena itu ia mencuri ikan tongkol milik saudagar emas. Belum sempat dia makan, dia ditendang dan kakinya di pukul sapu. Pincang, lapar, dan renta. Semoga Tuhan bersamanya."

Dimana kah Tuhan saat itu? Tuhan tidaklah tidur. Ia melihat dan menyaksikan manusia setengah setan berbuat. Ia melihat dan menyaksikan manusia Senayan.

"Tuhan selalu bersamanya,” kata delima tua, setengah tak yakin.
"Iya. Tuhan bersama dia dan aku dan kau yang papa. Tapi tahukah kau"
"Apa?"
"Tuhan lebih menyanyangi kita. Tuhan akan mengundang kita ke surganya tanpa harus melewati ujian godaan setan. Kita lebih istimewa dari pada manusia."
"Ya, bersyukurlah pada kebikjasanaan Tuhan," jawab Delima tua yang mendengar keraguan dari jawabannya.

"Manusia boleh menendang kita, memaki-maki kita seolah kita mahluk tak berguna. Dia boleh memangkasmu sesuka hati, mencuri, memperkosa dan membunuh sesama. Ada neraka. Ada pengadilan paling adil di antara pengadilan para kyai yang berpolitik."

Tikus munggil lalu berlari dengan riang. Ia tak menyangkah mendapatkan kepuasan setelah merenung bersama delima tua.

Manusia akan diadili oleh Tuhan, kelak. Ia tersenyum dengan riang seolah ketidak dilan kaumnya terbayar dengan seketika. Pengadilan Tuhan tiada yang berbuas culas, tiada yang memainkan uang dan kekuasaan.

Ddelima tua sambil memandangi seputarnya, menjadi saksi dari setiap pergerakan.

Detik-detik ia lalui dengan doa semoga dipercepat untuk pergi. Ia tak tahan lagi dengan panasnya udara, dingginnya hujan yang, dan air yang asin. Semakin sedikit ruang gerak akarnya dan semakin tak ada tempat baginya untuk bernafas.

Sesak, sesal, dan pasrah, ia tumbuhan tak mampu berbicara dan bergerak untuk mengatakan tidak.
***
Kepada taman-taman kota yang hilang berganti aspal yang menghitam.

ceritanet©listonpsiregar2000