sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 222, 3 juli 2012

Tulisan lain

Getah Malam - Dodong Djiwapradja

Malam Terang di Jakarta- Sobron Aidit

Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 1- Liston P Siregar

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta - W.S. Rendra

Surat Cinta Endaj Rasidin - Ajip Rosidi

Aku, Dingis, dan Sawah - Limantina Sihaloho

Setangkai Daun Bodhi - TranzCuk Riomandha

Tuti Artic - Chairil Anwar

Kamar - Toto S Bachtiar

Galau - Presiden Hayat

Swimbrook

memoar Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 2
Liston P Siregar
*ditulis untuk Alun

Keterjerumusan ke dalam musik jazz itu sebenarnya berlangsung rada simultan dengan pengenalan saya terhadap yang disebut sebagai classic rock atau progressive rock. Jelas classic rock datangnya setelah jazz namun kemudian berjalan bersama. Dan saya masih ingat yang membuka pintunya justru musik rock –tanpa classic atau progressive- yaitu Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin dan Bohemian Rhapsody dari The Queen. Saya mendengarnya di rumah salah seorang teman, yang punya kaset Rock Collection berupa kompilasi dari beberapa lagu rock.

Teman itu sebenarnya punya banyak kaset rock, tapi banyak yang tidak sampai menggugah, seperti Rolling Stones, Deep Purple, atau Status Quo. Buat saya musik mereka –ketika itu- hanya terdengar dalam bentuk dua formula: ritem dan teriak. Mendengarkannya tentu tidak masalah, sama seperti mendengar Satu Nusa Satu Bangsa, Malam Kudus, atau We Wish You Happy New Year. Cuma jelas tidak sampai membeli kasetnya, atau bahkan sekedar meminjam.

Tapi Stairway to Heaven dan Bohemian Rhapsody –paling tidak bagi saya- jelas amat berbeda dengan (I Can’t Get No) Satisfaction dari Rolling Stones yang –menurut saya- rada monoton dari awal sampai akhir. Mungkin ada baiknya menyampaikan mohon maaf bagi penggemar Rolling Stones sambil menegaskan bahwa jelas saya berpendapat Rolling Stones adalah band yang amat hebat, cuma tidak sesuai dengan selera. Jadi soal selera semata, dan selera itulah yang membuat Stairway to Heaven dan Bohemian Rhapsody lebih cepat menerobos ke rasa dan akal.

Kedua lagu itu seperti menjelajah ruang-ruang musik yang amat luas. Naik turun, berbelok kiri dan kanan tanpa kehilangan harmonisasi. Bukan hanya musiknya yang menjelajah, juga liriknya: ‘she’s buying a Stairway to heaven’ –walau waktu itu pasti lah saya cuma mengekor maknanya seperti yang dikatakan orang-orang lain yang sudah mengikuti Led Zeppelin lebih awal. Buat seorang anak remaja tahun 1980-an, maka kalimat ‘membeli tangga ke surga’ adalah sebuah imajinasi yang amat mengesankan, yang membayangkannya saja susah dan hanya mungkin tergambarkan dalam mimpi. Bahkan hingga saat ini.

There’s a lady who’s sure all that glitters is gold
And she’s buying a stairway to heaven
And when she gets there she knows if the stores are closed

With a word she can get what she came for

Belakangan saya tahu bahwa Robert Plant, Jimmy Page, John Paul Jones, dan John Bonham adalah pemabuk berat. Mungkin hanya dalam situasi melayang-layang tidak terfokus itu lah orang bisa menciptakan ‘seorang perempuan yang melihat semua yang berkilauan adalah emas.’ Dan dalam ilusi jugalah ada orang yang membeli tangga ke surga. Stairway to Heaven merupakan salah satu puncak musik rock, dan wajar jika saya pun terkena kekuatan magisnya.

Bohemian Rhapsody? Dimulai dengan alunan yang lembut dan pertanyaan –Is this the real life? Is this just fantasy?- karya Freddie Mercury ini adalah lagu pertama tanpa refrain yang saya kenal dan mungkin satu-satunya. Jazz instrumental saja punya refrain, tapi tidak Bohemian Rhapsody. Namun pada sisi lain, ada juga elemen jazz dalam lagu itu: berawal tenang, beranjak ke improvisasi paduan suara yang bersemangat, lantas permainan gitar solo yang kencang, sebelum ditutup kembali dengan tenang.

Dari kompilasi Rock Collection teman itu, hanya dua lagu yang membuka pintu ke musik rock. Bagaimanapun sepertinya landasan jazz sudah lebih dulu mengeras, dan menjadi semacam petunjuk selera musik, termasuk ke dalam dunia rock sehingga membatasi saya tidak menyelami Rolling Stones dan band-band rock’n roll lainnya. Dan jika Jazz Directions menjadi kompas untuk jazz, maka Majalah Aktuil –yang saya pinjam dari abang tengah saya- berfungsi sebagai pengarah untuk rock. 

Sama seperti Ray Conniff dan James Last, status saya hanya peminjam di barisan kedua dan baru bisa melihat-lihat majalah Aktuil ketika nomor terbaru sudah ke luar. Ketinggalan satu nomor tidak masalah, karena gambar-gambar dan khususnya logo-logo band-band rock belum, dan tidak akan, ketinggalan jaman. Masih terkenang kuat di ingatan kalau saya amat suka logo ELP yang ditulis dalam sebuah bulatan dengan kaki L dan P agak memanjang ke luar dari lengkung lingkaran di bawah seperti menjadi kaki lingkaran. Logo itu agak mengingatkan pada lambang ‘peace’ berbentuk segitiga dalam bulatan yang amat terkenal dari gerakan kontrabudaya yang disebut flower generation di masa Woodstock Festival tahun 1960-an dan awal 1970-an.

Yang lebih hebat lagi adalah logo Yes, dengan hurufnya yang saling sambung menyambung. Jika ELP masih mengingatkan pada peace dari era sebelumnya, maka orjinalitas Yes tidak diragukan lagi. Ketika mengenal Yes semakin dalam dan jauh, semakin terasa pula kedahsyatan ilustrasi sampul album nya yang menghadirkan dunia khayal dengan gambar lembah, samudra, karang, embun dalam warna-warna pastel yang menciptakan citra kemayaan. Tentu rincian tersebut baru bisa dituturkan setelah puluhan tahun mengikuti Yes secara seksama sampai mengantarkan pada seniman pencipta ilustrasi itu, Roger Dean.

Bagaimanapun logo Yes dan ELP, jelas menjadi salah satu satu indikator pemuda trendy di zaman itu, walau ternyata tak semua penggemar logonya juga suka musiknya, seperti abang tengah saya. Seingat saya dia suka kedua logo, tapi musik pilihannya -yang juga diajarkan kepada saya- adalah Harry Roesli, dari sejak zaman vokal group Kharisma. Dia meminjam atau membeli kasetnya –Gadis Plastik, Tiga Bendera, Peti Mati, atau LTO- dan saya ikut mendengarkan dan menikmati. Sedangkan kaset ELP dan Yes saya harus beli sendiri, dan pendorong awal –tidak diragukan lagi adalah- adalah logonya.

Album pertama ELP yang saya dengar –setelah dengan penuh keyakinan untuk membelinya- berjudul Brain Salad Surgery -jelas saya tidak tahu maknanya. Ilustrasi sampul album itu seperti pintu besi raksasa yang bergambar tengkorak berwarna biru gelap dan logo ELP di bagian bawah. Lagu pertamanya sudah memastikan bahwa pilihan saya benar: Jerusalem. Puisi William Blake yang ditulis tahun 1808 digubah menjadi lagu oleh Hubert Parry tahun 1916 dan diaransemen ulang oleh ELP tahun 1973. Tahun-tahun itu memang baru diketahui belakangan, namun mendengar Jerusalem dari ELP, orang akan merasakan langsung campuran yang padu antara klasik dan modernitas.

Tentu saat itu saya tidak pernah mendengar himne gereja Inggris itu sebelumnya, tapi irama sebagian besar himne gereja sama dan sebangun. Sementara fondasi Ray Conniff dan James Last yang mengimprovisasi karya-karya lain sudah menguat sehingga ada kekaguman -dan sekaligus kenikmatan- mendengar himne gereja disenandungkan dengan melodi keyboard, hentakan bas, gebukan drum yang berurutan dan vokal yang dalam tapi bersih. Walau ELP bukan penggagas awal classic rock, album Brain Salad Surgery merupakan contoh utama dari genre tesebut, dengan mencampurkan secara harmonis irama klasik, jazz, dan rock.

Beberapa teman saya yang bukan umat Kristen -dan saya yakin banyak orang lainnya- ikut menikmati improvisasi himne gereja ala ELP:
And did those feet in ancient time
Walk upon England’s mountains green?
And was the Holy Lamb of God
On England’s pleasant pastures seen?

Keyakinan dari seorang penyair dan seorang komposer bahwa Tuhan hadir di tanah Inggris Raya diberi warna modernitas oleh ELP. Ada dua hal di sini, satu sebagai ide untuk menemukan himne puluhan tahun lalu dan kedua mewujudkannya menjadi sebuah komposisi praktis yang tetap enak didengar kaum muda.    

Di Brain Salad Surgery itu pula ada Karn Evil I, II, dan III yang merupakan gubahan ELP yang paling penting. Total panjang Karn Evil mencapai 29 menit lebih dengan bagian satu serta dua dan tiga yang sebenarnya sudah sama sekali berbeda. Saya masih ingat bahwa pada banyak malam ketika masih di Medan, saya matikan lampu kamar dan berkumandang lah Brain Salad Surgery dengan keras menggunakan tape mono -yang sudah punya sendiri dan bukan pinjam dari bapak saya lagi.  Tujuaannya adalah untuk menghadirkan atmosfir kemegahan himne Jerusalem maupun ketegaran Karn Evil.

Welcome back my friends to the show that never ends
We’re so glad you could attend
Come inside! Come inside!

Lirik yang jelas bukan imajinasi liar dan jauh seperti seorang perempuan yang membeli tangga ke surga, tapi terrasa dekat: sebuah panggilan dari sesama kamerad, panggilan untuk sebuah komunitas. Maka di dalam kegelapan kamar, saya malah menyaksikan sebuan pertunjukan besar.

Karn Evil adalah sebuah komposisi dengan semua instrumen –termasuk vokal Greg Lake- bertingkah seperti melodi. Dan bukan melodi yang mendayup-dayu tapi bergerak cepat ke depan juga naik turun penuh energi. Pilihan bunyi keyboard Keith Emerson yang beragam –piano akustik, organ, dan synthesiser- membuat nomor ini menjadi semakin unik, sementara drum Carl Palmer terus begerak menjaga kecepatan irama. Seperti jazz, masing-masing instrumen juga mendapat ruang improvisasi namun bedanya ini improvisasi rock.

Sampai sekarang, saya tak bisa menemukan komposisi musik yang amat kaya dan penuh berenergi seperti Karn Evil, khususnya yang bagian pertama.
Come inside the shows about to start
Guaranteed to blow your head apart
Bagi yang tidak suka rock, Karn Evil First Impression memang bisa meledakkan kepala.

ELP bubar resmi tahun 1998 dengan pentas terakhir di San Diego, Amerika Serikat, pada bulan Agustus. Praktis selesai lah sudah perjalanan ke depan. Tak ada album baru lagi setelah In The Hot Seat tahun 1994, juga tertutup kemungkinan menyaksikan pentas hidupnya. Tahun 2002, Keith Emerson manggung di Royal Festival Hall, London, untuk bermain solo di paruh pertama dan didamping band-nya sebelum ELP, The Nice, di paruh kedua. Waktu itu rasanya cukup lah sebagai penghibur lara –Emerson memainkan Jerusalem juga walau tanpa vokal- namun amat jauh dari memuaskan dahaga akan ELP. 

Tiba-tiba beredar berita bahwa ELP akan tampil di High Voltage Festival di London pada Juli 2010. Tapi saat itu pula pamor saya sebagai penggemar ELP rada turun sedikit karena seorang pilot Garuda Indonesia, Jose Rizal, mengambil cuti dari pekerjaan dan terbang belasan ribu kilometer dari Jakarta khusus untuk menyaksikan ELP dan pulang keesokan harinya. Dia –sama seperti saya- puas total, terlepas dari suara Greg Lake yang sudah tidak mampu mengangkat nada-nada tinggi, maupun jari-jari Emerson yang sudah tidak secepat dan seliar dulu. Hanya Carl Palmer –pemegang ban hitam karate- yang masih prima menabuh drumnya. Bagaimanapun terlampiaskan rasanya setelah mengikuti musik-musik ELP selama puluhan tahun.

Perjalanan bersama ELP –sebutlah begitu- berbeda dengan Yes, yang masih manggung berkeliling dunia hingga tahun ini –termasuk di Jakarta pada pekan ketiga April. Memang dalam dua konser terakhir, vokalis pentolan Yes, Jon Anderson, tidak bisa tampil lagi karena alasan kesehatan namun musik-musik Yes masih bisa didengar lewat album-album barunya maupun secara langsung lewat konser hidup. Dan –walau baru tekun mengikuti Yes mulai dari album Tormato keluaran tahun 1978- saya menyaksikan semua konser Yes sejak Open Your Eyes tahun 1997 hingga Fly From Here, November 2011, di London. 

Juga sedikit agak berbeda dengan ELP, musik dan lirik Yes sebenarnya terasa lebih tenang walau tetap menghantam dengan hentakan-hentakan rock. Beberapa komposisi Yes tidak terlalu tepat disebut dalam kategori rock karena lebih terdengar sebagai lagu balada. Elemen klasik lebih terasa pula, bahkan dalam rangkaian pentas Magnification, Yes diperkuat oleh sebuah orkestra klasik lengkap

Yes juga bisa memainkan beberapa gubahannya dengan instrumen akustik dan tetap memukau. Salah satu yang dibawakan secara akustik dalam album DVD berjudul Yes Acoustic adalah Owner The Lonely Heart –nomor Yes yang paling populer yang aslinya menggebrak bising dengan peralatan elektronik penuh. Album DVD Yes Acoustic jelas menjadi salah satu token dalam ‘pemujaan’ terhadap Yes.

Sebagian besar lirik Yes berkisah tentang alam, persahabatan, cinta –yang tidak diwujudkan secara cengeng- atau sekeda memaparkan pencarian atas makna kehidupan maupun terdengar sekedar sebagai puisi. Dalam album pertama yang saya beli –karena logonya- Tormato, ada lagu Don’t Kill The Whale yang maksudnya memang sebagai kampanye untuk melindung Paus.
They worship their own space
In a moment of love, they will die for their grace
Don't kill the whale

Tak jarang pula, lirik Yes lebih semacam permainan kata-kata puitis, yang susah dimengerti maksudnya selain menghadirkan keindahan dari kehidupan –begitulah pengertian saya sambil mengingat obrolan Jon Anderson di antara nomor-nomor yang dibawakan saat pentas hidup. Sebagian besar lirik Yes memang ditulis oleh Jon Anderson.
Sound did silence me
Leaving no trace
I beg to leave, to hear your wonderous stories
Beg to hear your wonderous stories

Sebuah puisi yang ditampilkan dalam bentuk musik, dan itu indah.

Karena Yes masih terus berkarya sejak berdiri tahun 1998 lalu, harus diakui banyak albumnya yang gagal, secara artistik apalagi secara komersial. Album Talk, misalnya, yang dirilis tahun 1994 adalah salah satu album yang gagal total karena warna classic rock yang bisa dikatakan sama sekali tidak terasa. Begitu juga dengan Open Your Eyes, yang mengandalkan chord-chord yang malah membunuh karakter unik suara Jon Anderson yang bernada tinggi, dan juga menghapus kepiawaian petikan gitar klasik Steve Howe yang diliarkan.

Personil Yes yang sering bertukar –kecuali pemetik bass Chris Squire yang muncul di semua album- juga membuat pada suatu saat musik Yes lebih mengarah ke pop rock yang cenderung mengikuti standard baku yang membosankan dengan intro, verse atau bagian utama, refrain.  Kehadiran gitaris Trevor Robin –yang merupakan jawara gitar- adalah salah satu periode yang sedikit mengurangi unsur klasik dan balada Yes.  Trevor Robing memang bukan berasal dari kelompok classic rock.

Tapi Yes sudah sempat melekat. Seperti kebanyakan classic rock, musik Yes pada umumnya kaya dengan permainan instrumen yang tidak terbatas dalam permainan ritem gitar dan chord keyboard yang dijaga temponya oleh petikan bass dan pukulan drum. Dalam banyak nomor, semua instrumen menjadi nada utama bersama dengan vokal namun terdengar harmonis, bukan jadi saling bersaing satu sama lain.

Memang rentang waktu yang panjang dalam menyelami Yes, membuat saya tak bisa hanya sekedar menggemari Yes, tapi juga harus menerima naik turunnya atau kiri kanannya karena bukan lagi sekedar bernostalgia tentang kejayaan masa lalu. Harus sabar pula mendengar sindiran: “Emangnya Yes masih ada...” Seperti sebuah perkawinan maka setelah melewati satu titik akan menjadi hubungan spiritual total: dalam susah, senang, atau biasa-biasa. Satu atau dua atau puluhan kesalahan tehnis jelas tidak cukup kuat untuk jadi alasan putus.

Jadi sekali Yes tetap Yes –walau awalnya adalah Ray Conniff dan James Last.
***
*ditulis untuk buku berjudul Alun, yang merupakan bunga rampai kenangan tentang musik yang berpengaruh sepanjang hidup dengan penerbit Jagat Abjad, Solo. (akan terbit 2012)

ceritanet©listonpsiregar2000 
ceritanet©listonpsiregar2000