sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 221, 12 juni 2012

Tulisan lain

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta - W.S. Rendra

Surat Cinta Endaj Rasidin - Ajip Rosidi

Aku, Dingis, dan Sawah - Limantina Sihaloho

Setangkai Daun Bodhi - TranzCuk Riomandha

Tuti Artic - Chairil Anwar

Kamar - Toto S Bachtiar

Galau - Presiden Hayat

Lagu Jakarta - Ajip Rosidi

Jakarta - Sitor Situmorang

bourton

memoar Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes 1
Liston P Siregar
*ditulis untuk Alun

Terus terang ada sedikit rasa malu untuk mengakui pemusik yang mengantarkan keterikatan dengan musik. Waktu persisnya sudah rada lupa, tapi kemungkinan besar di tahun-tahun pertama SMP. Soalnya di SD rasanya belum cukup canggih untuk punya hobby mendengar musik sedang di SMP -jelas waktu masih pakai celana pendek- sudah ada juga masa ketika saya membeli kaset sendiri: sudah punya selera sendiri.

Pada sekitar pertengahan 1970-an itu, sudah banyak sekali lagu yang masuk ke kuping dan bukan hanya lagu anak-anak: Balonku Ada Lima atau Pelangi Pelangi. Juga lagu yang wajib dipelajari di sekolah seperti Maju Tak Gentar, atau lagu gereja -antara lain Tinggal Sertaku- termasuk juga lagu Batak tradisional -A Sing Sing So- maupun lagu pop -rasanya Kolam Susu sudah sering terdengar. Lagu-lagu itu jelas masih melekat puluhan tahun kemudian hingga di abad 21 ini, bahkan sebagian besar liriknya masih bisa dikumandangkan dengan nada yang benar -tentu yang ke luar dari mulut sedikit sumbang namun jelas niat di benak adalah nada yang semestinya.

Melekat, tapi seperti dipaksakan dan bukan sebagai sebuah pilihan. Entah kenapa, bukan lagu-lagu itu yang membuat saya mulai menjalin hubungan 'mesra' –atau persisnya sudah pada tingkat ketergantungan- dengan musik. Jadi apa, atau siapa?

Sekali lagi, mungkin agak memalukan -dengan standar masa pertengahan 1970-an sekalipun apalagi jika memakai ukuran tahun 2012. Cuma rasanya amat yakin kalau yang membuat saya menjadi pencinta musik adalah...Ray Conniff dan James Last!

Buat banyak orang dari generasi saya –waktu itu, apalagi sekarang- musik keduanya tergolong menjemukan, kuno, dan mapan atau mungkin kata tepatnya ‘musik om-om dan tante-tante’.  Memang, saya juga menyadarinya, tapi begitulah adanya.

Karya kedua pemusik itu awalnya saya dengar dengan menumpang dari bapak saya lewat pemutar kasetnya mononya. Kalaulah mau diingat-ingat lagi, tak ada karya khusus kedua komposer itu yang melekat, apalagi keduanya memang lebih banyak mengaransemen kembali karya-karya musisi lain.   

Iramanya, alirannya, polanya, modelnya  -atau istilahnya keren zaman sekarang, genrenya- yang sepertinya lebih mengemuka. Sajian orkestra lengkap membuat musiknya menjadi kaya namun harmonis dengan lenggak-lenggok nada yang lebih terasa, dan ada permainan instrumen solo yang menarik pula di bagian tengah. Di Ray Conniff ditambah lagi dengan paduan suara yang renyah dan riang. Dan musiknya yang beragam karena merupakan aransemen ulang dari karya-karya berbagai pemusik -yang sering berbeda aliran- membuat satu kaset terasa tidak membosankan.

Juga -mungkin karena hanya menginterpretasikan karya-karya yang pernah melintas lewat di kuping- ada semacam ‘kejutan’ mendengar versi barunya. Lagu-lagu Love for for Sale, Besame Mucho, Danny Boy dan medley lagu The Beatles adalah beberapa yang direaransemen oleh Ray Conniff dan James Last. Dan hingga saat ini salah satu kegemaran saya adalah mendengar beragam versi dari satu nomor. Saya, misalnya, punya kumpulan Summertime karya Gershwin, Take Five gubahan Dave Brubeck, All Blues dari Miles Davis, atau Mayden Voyage-nya Herbie Hancock yang diinterpretasikan oleh belasan pemusik. Interpretasi yang kadang amat bebas sehingga hanya menyisakan intro di depan saja. Bisa jadi kebiasaan itu sebenarnya berasal dari mendengar Ray Conniff dan James Last, puluhan tahun lalu.

Tentu analisa kecil di atas baru bisa saya utarakan sekarang, sambil mengingat-ingat kenapa komposisi Ray Conniff dan James Last membuat saya mulai menyukai musik sebagai hobby, bukan lagi sekedar lewat atau karena terpaksa di sekolah, di gereja, atau di pergaulan.  Musik menjadi sebuah sesuatu yang dicari, disiapkan, dan dinikmati. Sebelumnya, musik lebih merupakan sesuatu yang secara fisik terdengar maka didengar tanpa harus sengaja menutup kuping atau sesuatu yang harus dinyanyikan maka dinyanyikan tanpa harus sengaja menutup mulut.

Tiba-tiba musik menjadi sebuah pilihan dengan penuh sadar. Dan pelan-pelan secara gradual selama puluhan tahun, mendengar musik bahkan menjadi sebuah acara ritual. Bukan hanya ritual dalam pengertian dipersiapkan dan dilaksanakan secara khusus, juga menjadi sebuah peristiwa atau sebuah kejadian yang menenangkan jiwa. Musik menjadi sebuah ‘happening’ yang bukan hanya mengguncang benak dan rasa, juga menyerap ke jiwa. Tak banyak berbeda dengan sebuah perenungan spritual lewat upacara-upacara keagamaan.  

Dan sumber awalnya adalah Ray Conniff dan James Last.

Jadi mulailah masa ketika Bapak saya tidak menggunakan pemutar kasetnya, maka saya yang memutarnya di kamar –tepatnya saat hanya saya sendiri karena abang tengah saya tidak bisa menerima musik keduanya- atau di teras lantai atas. Seingat saya juga, musik Ray Conniff dan James Last menciptakan sebuah suasana –atau menggunakan istilah zaman modern: ambience music. Musik keduanya menjadi sebuah pendukung untuk melakukan kegiatan lain –belajar, ngelamun, maupun sebagai pengantar tidur. Ringan, enak, ceria, tenang, renyah dan berbagai kata sifat lain yang kira-kira maknanya tanpa sebuah intensitas.

Begitulah, saya pun mulai mendengarkan musik secara rutin dan sengaja. Terasa sudah nikmatnya, walau masih jauh dari situasi ketergantungan. Dalam perjalanan awal itu –sama seperti banyak orang lain- The Beatles ikut masuk ke dalam kasanah musik yang relatif masih amat sederhana. Bagaimanapun Ray Conniff maupun James Last tidak tergeserkan dan The Beatles sepertinya lebih sebagai ‘jeda’.

Cilakanya kedua abang saya berpendapat musik Ray Conniff dan James Last tergolong kuno, membosankan, bahkan menyakitkan kuping. Bisa jadi karena sudah lebih remaja maka mereka menghadapi tekanan kelompok teman yang lebih kuat pula –yang tidak bisa menerima sesuatu yang berbeda dari konsensus atau selera komunal. Dan jelas musik Ray Conniff serta James Last tidak boleh mendapat kesempatan untuk hidup berkembang di kalangan generasi masa depan, cukup di kalangan atau om-om dan tante-tante saja.

Jika abang tengah tidak terlalu perduli dengan upaya ‘pencerahan’ maka abang sulung saya –yang belakangan menjadi peneliti tanaman karet sambil merangkap dosen– langsung mengambil langkah-langkah praktis.  Waktu itu, saya -dengan mengumpulkan uang saku- sudah membeli beberapa kaset James Last- harganya Rp 800, kalau tidak salah. Mungkin itu lah yang membuat abang sulung saya memutuskan untuk segera mengambil tindakan darurat.

Saya diajaknya memasuki kasanah musiknya, yang menurut dia lebih pantas dan lebih ‘beradab’ untuk dinikmati. Digoncengnya saya dengan sepeda motor ke toko kaset di kawasan pertokoan Kampung Keling –karena awalnya merupakan pemukiman warga Tamil yang disebut orang Keling di Medan. Pada masa akhir 1970-an dan awal 1980-an, calon pembeli kaset boleh mencoba dulu barang dua atau tiga lagu sebelum memutuskan untuk membelinya. Kaset itu dipasang di perangkat sound system dengan speaker besar yang baik sehingga suara yang ke luar terdengar utuh dengan keseimbangan bas dan trebel yang pas.

Abang saya itu –yang ini saya ingat sekali- memperkenalkan Dave Grusin dan Bob James, dua pemain piano dan keyboard dan syntheseiser serta gitaris George Benson. Ketiganya merupakan pemusik penting dalam fusion jazz, yang bisa disebut sebagai versi ringan dari aliran jazz utama. Bagi orang-orang dari generasi saya, mungkin masih ada yang mengingat edisi khusus Perina yang disebut Jazz Directions dengan logo Perina dan gambar terompet di bagian atas.  Saya masih berhasil menyimpan satu dua kaset edisi itu.

Jika sampul kaset Ray Conniff dan James  Last hanya berisi judul lagu, maka edisi Jazz Directions dilengkapi dengan informasi judul, durasi tiap nomor, daftar para pemusik dan instrumennya. Masih ada lagi –ini yang paling penting- sedikit informasi tentang album maupun pemusiknya. Berikut kutipan dari salah satu kaset yang masih saya simpan dengan baik: Monty Alexander Trio, Special Guest Ernestine Anderson.

Rekaman ini tidak hanya merupakan ‘vocal star’ album tapi suatu ‘double star’ album di mana anda akan mendengar vocal style Ernestine Anderson tapi juga penampilan Monty Alexander sebagai instrumental trio bersama Ray Brown (bass) yang kadang-kadang juga muncul sebagai leader dari trionya.

Masih ada lima alinea lainnya, yang ditulis oleh S.PR –entah siapa dia: mungkin pengamat musik jazz atau cuma penterjemah bahasa Inggris ke Indonesia. Dan keseluhan informasi itu cukuplah sebagai sebuah pengantar untuk mendengar musiknya, walau ada juga istilah yang sampai sekarang ini masih sulit dimengerti maknanya.

Dan tidak kalah pentingnya kehadiran bass Ray Brown yang merupakan dynamo rhytmik dari trio ini.

Dynamo rhytmik? Saya rasanya sudah membaca amat banyak ulasan tentang jazz, dan sampai sekarang belum menemukan dynamo rhytmik selain di sampul kaset produksi Perina itu. Juga sampai sekarang saya tidak terlalu yakin maknanya, walaupun kalau direka-reka mungkin maksudnya dinamis yang ritmis. Jadi musiknya dinamis tapi juga penuh dengan ritme. Mungkin...

Tapi itu bukan masalah besar. Saya rasanya cukup terpana dengan seri Jazz Directions produk Perina. Jelas bukan hanya karena sampulnya semata, juga musiknya ternyata masih bisa dibilang sama akarnya dengan Ray Conniff dan James Last: aransemen musik yang kaya dengan penampilan improvisasi di tengahnya. Bahkan suaranya terdengar lebih modern dengan bunyi denting keyboard yang elektrik, hentakan bas yang lebih mantab, maupun gebukan drum yang lebih bersemangat. Kata sifat om-om dan tante-tante jadi bisa dicabut.

Permainan solo di tengah juga lebih liar dengan peluang yang terbuka bebas tanpa batasan. Dan semua instrumen mendapat kesempatan untuk bersolo dalam hampir setiap nomor. Sering sekali improvisasi dalam permainan solo sudah amat jauh dari irama dasar yang cuma dimainkan sebagai pembuka, pengantar transisi ke permainan solo, dan penutup. Jazz fusion -yang diperkenalkan abang saya lewat Dave Grusin, Bob James, dan George Benson- terdengar lebih menggugah perasaan dan juga memicu otak untuk sedikit bekerja.

Kompleksitas musiknya dan informasi di sampul kaset juga membuat musik tidak bisa lagi sekedar pendukung sebuah kegiatan lain. Saya mulai mendengar musik seperti membaca buku atau menonton TV. Mendengarkan musik dilakukan sambil membaca informasi dan ulasan tentang musik dan pemusiknya serta sekaligus melakukan uji coba apakah yang disebut si penulis rasanya cocok atau tidak. Pelan-pelan berkembanglah intensitas dalam berhubungan dengan musik. Bukan sekedar dinikmati tapi ternyata musik juga bisa dikomentari, diberi nilai, atau diiris-iris untuk dilihat penampilan per instrumen.

Seperti sebuah mangga, setelah dikupas maka terlihat bagian daging yang berwarna kuning dengan permukaan licin. Jika bagian daging itu diiris maka terlihat bagian yang berserat, dan diiris lebih dalam lagi, terlihat bijinya. Jazz seperti itu: tidak punya satu pola atau bentuk yang sama dari depan hingga belakang. Namun orang harus mengirisnya dengan baik sehingga perlu kerja dan tidak mendengarkan sambil makan pisang goreng, misalnya. Dalam banyak kesempatan, saya bekerja untuk menikmati musik.

Dan ketika si pembetot bas main solo, saya pun ingin tahu siapa pula namanya, dan apakah sama dengan pemain bos di album sebelumnya. Berbeda dengan orkestra Ray Conniff atau James Last maupun The Beatles yang punya personil tetap, maka kelompok fusion jazz merupakan kolaborasi dari berbagai pemusik. Jadi sejalan dengan berjalannya waktu maka semakin banyak koleksi Dave Grusin dan ditemukan pula bahwa di album terbarunya didukung penabuh drum Steve Gadd namun di album sebelumnya yang main drum adalah Harvey Mason. Bahkan dalam satu album, bisa muncul tiga pemain bas:  Marcus Miller, Abraham Laboriel, atau Stanley Clark. Tergantung nomor yang mana.

Abang saya dan saya pun sudah bisa sok membahas kalau bas Marcus Miller tedengar lebih keras dari Abraham Laboriel. Atau kehadiran pemain perkusi Paulinha da Costa membuat satu nomor jadi terasa lebih bernuansa jazz. Menyebut nama-nama para pemusik pendukung itu saja terdengar keren dan juga ‘intelek’, walau selama di Medan saya hanya bisa bertukar nama dengan abang saya karena tak satupun teman permainan yang menggemari aliran musik yang sama. Bertahun-tahun kemudian, di Jakarta baru saya bertemu teman yang bisa nyambung dalam musik jazz fusion.

Edisi Jazz Directions juga amat membantu dalam memperluas barisan para pemusik. Monty Alexander, misalnya, adalah salah satu pemusik yang sampai saat ini masih saya ikuti -dan saya tonton di JakJazz pertama di Taman Impian Jaya Ancol tahun 1988 ketika masih dipromotori Ireng Maulana maupun di Barbican Hall, London, tahun 2006. Jika dia tidak muncul dalam Jazz Directions, kecil kemungkinan saya akan membeli kasetnya. Begitu juga dengan pemain terompet Chuck Mangione, yang saya kenal lewat produk Perina.

Memang dari perkenalan pertama dengan Dave Grusin, Bob James, George Benson itu lah bermunculan nama-nama pemusik jazz fusion lain. Apalagi masa 1980-an bisa dikatakan masa subur jazz fusion, baik instrumen maupun vokal. Belakangan penjelajahan saya sudah jauh meninggalkan abang sulung yang memperkenalkan jazz fusion. Daftar nama yang masuk ke dalam radar saya sudah jauh lebih beragam, termasuk Herbie Hancock, Chick Corea, Miles Davis,  Larry Carlton, Lee Ritenour, maupun Don Grusin, adiknya Dave Grusin. Atau yang berbau etnis Spanyol seperti gitaris Al Dimeola maupun instrumen yang tidak biasa untuk jazz, seperti pemain biola Jean Luc Ponty.

Semakin jauh penjelajahan maka semakin besar pula peluang untuk menyelempeng dari ajaran utama. Masuknya Al Jarreau masih bisa diterima, tapi ketika daftar diperpanjang dengan Michael Franks -yang menurut abang saya cuma mendayu cengeng- Mezzoforte, Spyrogyra, atau Casiopea, maka saya pun menjadi murid liar yang tidak bisa dikendalikan lagi. Sayangnya, saya sudah mencapai titik untuk hanya bisa maju ke depan atau melebar ke samping tapi tidak untuk mundur. 
***
bersambung

*ditulis untuk buku berjudul Alun, yang merupakan bunga rampai kenangan tentang musik yang berpengaruh sepanjang hidup dengan penerbit Jagat Abjad, Solo. (akan terbit 2012)

ceritanet©listonpsiregar2000