sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 221, 12 juni 2012

Tulisan lain

Menelusuri Pangkal Jazz, ELP, dan Yes - Liston P Siregar

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta - W.S. Rendra

Aku, Dingis, dan Sawah - Limantina Sihaloho

Setangkai Daun Bodhi - TranzCuk Riomandha

Tuti Artic - Chairil Anwar

Kamar - Toto S Bachtiar

Galau - Presiden Hayat

Lagu Jakarta - Ajip Rosidi

Jakarta - Sitor Situmorang

bourton

sajak Surat Cinta Endaj Rasidin
Ajip Rosidi (1956)
Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Kita telah pergi bersama senja yang tenggelam
Masuk kerajaan besar yang juga lagi tenggelam
Masuk gerbang yang tersundul kepala bersinar remang
Kita telah jalan dengan tangan di saku celana

Negara di mana rumah berjendela sepenuh arah
Negara di mana rumah menampung cahya keempat penjuru
Negara mereka yang kucinta
Dengan bisik mesra dari suara sudah parau
Dengan bisik parau dari suara yang mesra

Di mana orang ketawa dan ketawa
Walau mata sudah lama kehabisan cahya

Kita telah jalan sama didera sinar matahari
Kita telah jalan sama ditelan kelam malam
menemui pojok pondok yang depek
Dalam baju longgar dan sepatu sebelah lebih besar

Pondok di mana atap setinggi dada
Pondok di mana bilik hanya sedepa
Pondok mereka yang kucinta
Penuh tawa lepas tanpa lelucon
Penuh lelucon dengan tawa yang lepas

Di mana orang bicara dan bicara
Walau mulut sudah lama kehabisan kata

Kita telah jalan sama bergandengan tangan
Kita telah jalan sama beriringan
Dengan pantolan yang digulung hingga lutut
Berpeci miring dan sapu tangan bersulam biru

Di mana orang ketawa dan bicara
Di sana kita tenggelam antara mereka
***

ceritanet©listonpsiregar2000