sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 220, senin 14 mei 2012

Tulisan lain

Setangkai Daun Bodhi - TranzCuk Riomandha

Tuti Artic - Chairil Anwar

Kamar - Toto S Bachtiar

Galau - Presiden Hayat

Lagu Jakarta - Ajip Rosidi

Jakarta - Sitor Situmorang

Suara - Toto S Bachtiar

Senja di Tanah Abang - M. Hussyn Umar

Kepada Jakarta - Ajip Rosidi

Sebuah Buku Puisi dan Musik pun Dimulai - Arpan Rachman

Angkor Wat

memoar Aku, Dingis, dan Sawah
Limantina Sihaloho

Saya baru pulang dari jalan-jalan pagi dari sawah dengan adikku, si Dingis Phea Phea. Saya telah mengadopsi anjingku yang baik hati menjadi adikku. Kalau saya ke luar rumah, dia tahu saya akan ke mana dari jenis pakaian yang saya kenakan. Kalau berpakaian bagus dan saya mengeluarkan sepeda, dia tahu saya akan ke kota dan dia tidak akan ikut lalu tenang-tenang saja sambil duduk di lantai melihat saya bergegas.

Caranya melihat sungguh mengesankan. Dia duduk dengan menempelkan dagunya di kedua kakinya di lantai. Kalau saya mengenakan pakaian tertentu untuk jalan-jalan ke sawah, dia pun sibuk bergegas untuk segera ke luar rumah. Kalau saya ada tamu, dia duduk di samping saya. Kalau tamunya kelamaan, si Dingis akan menarik-narik pakaian saya. Kalau saya kelamaan di rumah tetangga, dia juga melakukan hal yang sama, semakin lama semakin keras dia menarik-narik ujung baju saya. Persis adik yang manja dan sedikit bandal.

***
Bersama Dingis Phea Phea inilah saya berkenalan dengan Pak Situmorang, di sawah miliknya sebelum dia meninggal karena depressi. Sawahnya yang hampir satu hektar gagal panen. Waktu itu empat orang bapak datang dari berbagai arah dan berkumpul persis di tempat saya dan Dingis berdiri. Rupanya sudah lama jadi tempat mangkal mereka untuk ngobrol-ngobrol. Simanjuntak, Siregar, Situmorang dan satu lagi - yang agak pendiam tapi pelawak, saya belum tahu marganya.

Beberapa kali bertemu dengan Pak Situmorang, memang terasa dia depresi karena terus-menerus membicarakan padinya yang rusak. Padi itu sudah berbulir, awalnya nampak bagus tetapi pelan dan pasti bulir-bulirnya berubah menjadi putih dan mati. Melihatnya memang menyedihkan, apalagi hampir satu hektar. Itu sangat luas untuk penduduk di pinggiran Siantar, kota terbesar kedua di Sumatera Utara.

Setelah meninggal, sawah yang sempat gagal panen itu diurus adiknya, jadi Situmorang juga, sebutlah Situmorang muda. Dia juga datang ke tempat mangkal, menggantikan abangnya.

Tanaman padi itu yang tampaknya seolah sederhana ternyata amat rumit. Bapak yang saya belum tahu marganya itu bilang sama Pak Regar -yang juga adalah kepling atau kepala lingkungan- bahwa dia sudah meminta racun hama dari seseorang, sebuah racun yang bisa membunuh 11 jenis hama sekaligus. Itu jenis racun baru. Saya terkesan bahwa ada jenis racun yang bisa membunuh 11 jenis hama padi di sawah sekaligus.

Pak Simanjuntak yang dominan dan suka menyalahkan teman-temannya kemudian bercerita tentang seorang marga Tampubolon yang belum lama ini meninggal setelah menyemprot padinya yang luas tanpa penutup wajah. Dia menghirup "keriting" -istilah mereka untuk menyebutkan semburan halus seperti gerimis yang keluar dari pompa. Pak Tampubolon rupanya saat itu memakai pompa yang menurut mereka biasa dipakai ibu-ibu, ukurannya kecil mirip alat semprot untuk menyemprot tanaman hias atau sayuran dalam skala kecil.

Di sawahnya Pak Tampubolon menjadi lemas setelah bekerja menyemprot padi. Malamnya dia meninggal. Tapi saya kira dia telah lama terpapar racun hama dan juga rumput. Bukan karena satu insiden saja. Dua orang meninggal karena urusan sawah tentu bisa menjadi bukti jika padi bukan lagi soal sederhana tapi amat rumit.

Semakin banyak saya berjalan-jalan di sawah bersama Dingis Phea Phea makin terlihat kalau para petani sekarang terlalu banyak menggunakan racun, termasuk untuk membunuh rumput di pematang sawah yang mengakibatkan sebagian jenis tumbuhan, seperti Pegagan, menghilang dari pematang-pematang sawah. Itu sejenis tumbuhan yang sangat baik untuk manusia. Orang Sunda suka menjadikannya lalapan. Jenis tumbuhan itu mempunyai banyak khasiat termasuk untuk memperbaiki jaringan otak dan meningkatkan daya ingat.

Nampaknya hampir semua suku di Indonesia ini mengetahui bahwa pegagan adalah sejenis obat. Rata-rata orang tua yang saya temukan tahu bahwa Pegagan adalah obat. Nama Latin yang keren: Centella Asiatica. tapi demi sawah atau padi, Pegagan juga ikut mati. Dan saya yakin bukan hanya Pegagan yang mati , juga 11 serangga yang disebut hama karena racun mujarab tadi. Manusia, tanaman, dan serangga bermatian.

Semua pembicaraan di tengah sawah itu selama setengah jam adalah tentang padi, air, dan pematang sawah. Sama sekali tidak menyebut Pegagan. Beberapa waktu berlalu, Pak Situmorang pun sudah tidak disebut sebut lagi, apalagi 11 jenis hama.

***
Biarpun padi dan sawah sudah menjadi amat rumit sampai menimbulkan korban dan tempat mangkal para bapak sepi, saya bersama Dingis tetap menikmati berjalan-jalan di sawah. Menenangkan dan menyenangkan, sekalipun saya rasanya sudah tahu cerita di balik bulir-bulir padi itu.

Saya tak tahu persis, seandainya Dingis mendengar korban-korban yang berjatuhan dari sawah jaman sekarang ini -seperti yang saya dengar- apakah dia masih menikmati jalan-jalan kami seperti biasanya. Atau mungkin juga dia sudah mendengar tentang serangga-serangga yang bermatian dari anjing-anjing lain yang sering di bawa para petani ke sawah.

Dia pasti lah megenal anjing-anjing lain di kampung dan di sawah. Sejak kecil dia sudah biasa lontang lantung di jalanan atau di halaman orang lain kalau saya sedang bekerja di luar rumah. Selepas kerja, saya ajak di jalan-jalan ke sawah, jadi pastilah pergaulannya cukup luas juga.

Saya ingat, ketika lahir Dingis adalah salah satu anak Paulina dan ekornya paling pendek dibanding lima kakak adiknya. Mungkin karena ekornya yang pendesk sendiri itu yang membuat saya memberi perhatian lebih kepadanya.

Waktu masih sekitar dua bulan, saya sedang melihat ke luar jendela dan melihat banyak burung pemakan padi di sawah yang sudah mulai bersemak. Padi yang sudah dipotong akan bertunas lagi dan kalau pemilik sawah tidak segera membajak sawahnya, burung-burung itu akan datang berpesta. Jadi, saat itulah, saya
dapat ide menyenangkan, menamakan anak anjing itu: Dingis. Itu nama burung pemakan padi dalam bahasa Simalungun. Ibu saya orang Simalungun, marganya Damanik. 

Sdangkan Phea-Phea tidak ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, tapi semacam lembah yang terus basah karena ada mata air di dekatnya. Kami biasa menambatkan kerbau di pea-pea. Membawa kerbau minum dan mandi pada siang hari juga ke pea-pea. Mencari semacam rumput untuk membuat bakul yang akan dianyam, juga ke pea-pea. Mencari bunga berwarna merah jambu juga ke pea-pea. Tapi pea-pea bukan rawa, agak berbeda.

Entah kenapa pula saya memberi nama pea-pea kepada Dingis. Mungkin karena tradisi marga dan saya pastilah akan dikecam jika memberi marga Sihaloho kepada Dingis walaupun dia sudah saya angkat resmi menjadi adik. Tapi itu cuma aksi sepihak, bapak dan ibu saya tidak tahu, apalagi keluarga besar Sihaloho. Kalaupun saya minta izin memberi marga Sihaloho kepada Dingis, pastilah yang saya dapatkan mnalah cap gila. 

Jadi diberilah nama Phea Phea, ditambah H biar keren. 

Tahun baru 2012, dia sakit parah, mungkin makan bangkai katak dan itu sangat beracun. Saya bertanya apa obatnya kepada banyak. Daun pepaya, katanya, maka saya peras daun pepaya dan memaksa Dingis menelannya tapi tak membantu. Dia lemas tak bertenaga dan tak mau makan. Badannya semakin lemah dan saya semakin sedih.

Jadi pada tanggal 31 Desember 2011, setelah magrib, saya pergi ke rumah mantri hewan dan memintanya datang ke rumah memeriksa dan mengobati si Dingis. Untung mantri Nababan itu mau datang. Dia sudah kenal Dingis karena dia lah yang memberi suntik rabies.

Dua minggu Dingis pulih dan kami kembali berjalan-jalan ke sawah.

Hamparan sawah sekarang berwarna hijau. Indah dan menenangkan. Saya lupakan saja cerita di baliknya, dan saya bersama Dingis mengambil jalur yang tidak melewati tempat mangkal.

Saya khawatir dua minggu berlalu, sudah ada cerita tentang korban-koban baru lagi.
***

ceritanet©listonpsiregar2000