ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 21, Selasa 28 Agustus 2001
___________________________________________________

novel Dokter Zhivago 21
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Gromeko bersaudara mempunyai rumah di pojok Sivtsev Vrazhek* dan jalan kecil lainnnya. Alexander Alexandrovich dan Nikolay Alexandrovich Gromeko kedua-duanya profesor Ilmu Kimia, yang pertama di Akademi Petrov, lainnya di Universitas. Nikolay belum kawin. Alexander punya istri yang nama gadisnya Krueger. Ayahnya seorang raja besi, ia punya tanah milik besar di pegunungan Ural dekat Yuryatin; di situ ada beberapa tambang yang tak menguntungkan dan terbengkalai.

Rumah keluarga Gromeko berloteng dua. Di loteng paling atas terletak kamar-kamar tidur, kelas sekolahan, kamar kerja dan perpustakaan Alexander Alexandrovich, kamar duduk Anna serta kamar-kamar Tonya dan Yura; itulah tempat-tempat kediaman. Ruang bawah dipergunakan untuk menerima tamu. Dengan tirai-tirai berwarna pistachio, kepala piano yang mengkilap, akuarium, kain dinding hijau jaitun serta tumbuh-tumbuhan dalam pot-pot seperti ganggang laut, maka ruangan mirip pada dasar laut hijau yang bergoyang dalam suasana impian.

Keluarga Gromeko ini beradab, suka menerima tamu dan ahli serta penyayang besar mengenai musik. Mereka sering mengadakan resepsi serta malam musik kamar untuk kuartet musik gesek dan trio piano.

Malam musik demikian akan diselenggarakan dalam Bulan Januari 1906. Konser pertamanya ialah sonata biola oleh seorang komponis muda, murid Taneyev, kemudian trio Tchaikovsky.

Persiapan teah dimulai sehari sebelumnya. Perabot-perabot digeser melingkar dalam kamar tamu. Di satu sudut penyetem piano menyentil berlusin kali dawai yang sama, maka ditaburkannya bunyi-bunyi arpeggio seperti seraup manik-manik. Di dapur orang memetik bulu-bulu ayam, mencuci sayur dan mencampur mustardi dengan minyak jaitun untuk menghidangkan selada.

Shura Sclesinger, teman akrab dan orang kepercayaan Anna, pertama-tama tiba pagi itu dan menjemukan orang. Shura adalah perempuan tinggi kurus dengan raut runtut dan wajah agak kelaki-lakian yang mengingatkan pada Kaisar, apalagi bila bertopi astrakan abu-abu yang dipasang miring; ia memakainya terus di dalam rumah dan hanya sedikit menyingkapkan cadar yang tersemat pada dopti itu.

Dalam waktu kesusahan atau kesukaran, dua teman ini saling meringankan beban-beban mereka. Ini mereka lakukan dengan rangsang-merangsang, percakapan berangsur-angsur menjadi tajam, sampai meletuskan badai persaan yang segera berakhir dengan air mata dan perdamaian. Adegan demikian berhasil menenangkan kedua-duanya, sepreti penggunaan lintah untuk tekanan darah tinggi.

Shura Schelesinger telah berkali-kali kawin tapi ia selalu melupakan suaminya seger sesudah cerai, pun ia menganggap enteng semua perkawinannya itu, hingga dalam tingkah lakunya senantiasa tinggal keresahan dingin perempuan bujangan.

Shura adalah teosuf, tapi ia juga ahli dalam upacara ibadah Gereja Ortodoks; bahkan bila ia sama sekali terpesona dalam keadaan ekstase setingg-tingginya, iapun tak dapat menahan diri untuk mendahului pendeta yang bertugas. 'Dengarkan, ya Tuhan,' 'Kini dan selama-lamanya,' 'Malaikat Terpuja,' gumamnya tak henti-henti dengan suara stakato yang serak.

Shura mempunyai pengetahuan tentang ilmu hitung dan penyembahan esoteris secara India, dia tahu alamat guru-guru paling terkenadi di konservatorium Moskow, dia tahu siapa tinggal dengan siapa dan entah apa lagi kecuali itu. Itu sebabnya ia dipanggil orang sebagai juru pisah dan organisator untuk segala kejadian penting dalam penghidupan.

Pada waktu yang ditentukan, tamu-tamu mulai datang. Salju turun dan apabila pintu depan terbuka nampaklah udara terbang lalu, bagaikan terpilin dalam seribu simpul oleh salju yang berpendar. Dari tempat dingin ini masuklah kaum laki-laki dengan sepatu salju panjang yang canggung, masing-masing tanpa kecuali berusaha sedapat-dapatnya untuk nampak seperti orang dusun ongak, tapi sebaliknya istri-istri mereka dengan muka hangat karena salju, dengan mantel tak terkancing, kain leher yang tersingkap serta rambut ditaburi embun beku, mempribadikan tipe si genit yang berpengalaman, jiwa curang yang tak dapat dipercaya. "Kemenakan Cui,"** bisik orang sekeliling, ketika musikus muda masuk.

Di balik pintu-pintu di kanan kiri kamar dansa itu meja makan mengkilap laksana jalanan bersalju, putih dan panjang. Tarian cahaya di botol-botol dingin penuh vodka dari buah anggur merah menyemat pandangan. Flakon-flakon kecil dari hablur berlandasan perak serta susunan indah alat-alat zakuski*** menangkap daya khayal, sedangkan sapu-sapu tangan yang dilipat menjadi limas tegak serta bakul-bakul dari cenarairia ungu yang berbau buah badam agaknya mengasah selera.

Agak tak lama-lama menunda kenikmatan berkta rejeki duniawi, tamu-tamu bergegas ke bawah, menuju ke suguhan rohani. Mereka duduk berjejer-jejer. "Kemenekan Cui," bisik orang lagi, waktu pemusik itu duduk di depan piano. Konser dimulai.

Sonata yang diduga akan kering, rumit dan membosankan itu memenuhi kekuatiran yang demikian, jadinya terlalu direntang-panjangkan.

Waktu jedah, kritikus Kerimbekov dan Alexander Gromeko berselisih tentang sonata itu, Kerimbekov mengecam, sedangkan Gromeko membelanya; sementara itu di sekeliling mereka orang merokok, omong-omong dan menyeret-nyeret kursi. Sampai taplak meja yang mengkilap di kamar sebelah menarik perhatian kembali dan membuat mereka mengambil putusan untuk melanjutkan konser.

Pianis mengangguk pada kawan-kawannya; pemain biola dan Tishkevich membungkuk dengan indahnya dan musikpun memainkan rayuannya.

Yura dan Tonya bersama Misha Gordon yang selama separuh waktunya ada di rumah Gromeko, duduk di deretan ketiga.

"Yegorovna memberi tanda pada tuan," bisik Yura kepada Alexander Alexandrovich yang duduk tepat di depannya.

Yegorovna, bujang Gromeko yang beruban berdiri di ambang pintu dan dengan memandang gelisah ke arah Yura sambil mengangguk dengan gigih kepada Alexander Alexandrovich, dicobanya menyadarkan Yura bahwa ia perlu sekalui bicara dengan majikannya.

Alexander Alexanderovich menoleh, memandangnya dengan rengut, lantas mengangkah pundaknya, tapi Yegorovna tak undur. Segera mereka bicara dengan tanda-tanda lewat kamar, tak ubahnya dengan sepasang bisu tuli. Hadirinpun menyaksikan itu. Anna memancarkan pandangan amarah pada suaminya yang kemudian berdiri merah padam dan jalan beranjak kaki turut ke tepi kamar.

"Kau tak malu Yegorovna? Mengapa amat tergesa? Nah ada apa?"
Yegorovna bergumam ke kupingnya.
"Apa itu Montengro?"

"Hotel."
"Nah, apa soalnya?"
"Mereka minta ia pulang selekasnya. Seorang keluarganya hampir meninggal."
"Wah mengapa maut datang sekarang? Aku hanya dapat membayangkannya... Tapi mustahil, Yegorovna. Kalau permainan selesai, baru kusampaikan padanya. Sebelum itu tak mungkin."
"Pelayannya dikirim dengan kereta untuk menjemputnya. Ada yang sekarat, saya katakan, tuan tak paham? Seorang wanita --kelas bangsawan."
"Dan aku katakan mustahil. Beberapa menit saja tak mengubah apa-apa." Ia bertanjak kaki kembali ke tempatnya dengan kerut murung, sambil menggaruk-garuk punggung hidungnya.

Pada akhir tempo pertama, sebelum tepuk tangan reda, didekatinya pemusik dan disampaikan pada Tishkevich bahwa ia perlu pulang; di rumahnya ada kecelakaan, mereka harus berhenti main. Lalu ia berpaling menghadap publik, meminta ketenangan dengan mengangkat tangan.

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya kuatirkan trio ini harus berhenti. Tuan Tishkevich dapat kabar buruk dari rumah. Seluruh simpati kita bersama dia. Ia terpaksa meninggalkan kita. Saya tak mau ia pergi sendirian dalam saat begini. Saya ikut serta untuk membantu, jika perlu. Yura, suruh Simon menyediakan kereta, ia telah siap berjurus-jurus. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya tak mengucapkan 'Selamat Malam' --hendaknya tetap disinilah semua-- tak lama saya kembali."

Anak-anak minta dibolehkan ikut, karena ingin berkenderaan di malam bersalju beku.
***

* Sivtsev Vrazhek : Lembah Kuda Kelabu.
** Musikus Rusia tersohor, 1835-1918.
*** Hidangan dingin sebelum sop, yang tak tergolong pada hidangan utama (hors-doeuvres).

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000