ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 21, Selasa 28 Agustus 2001
___________________________________________________

 

esei Target Transisi Politik di Timor Lorosae
Aniceto Guterres Lopes
Dari segi proses tentang pemilu, Regulasi UNTAET No. 2001/2 menentukan persyaratan bagi pemilih sama dengan syarat yang ditetapkan pada Konsultasi Rakyat --atau referendum kemerdekaan-- dua tahun lalu. Itu berarti setiap orang yang berusia minimal 17 tahun, yang memenuhi syarat tersebut --termasuk mereka yang masih tinggal di luar negeri-- berhak mengikuti pemilu di Timor Lorosae pada tanggal 30 Agustus ini. Tetapi ada persyaratan lain, atau tepatnya pembatasan lain, yaitu semua calon pemilih harus mendaftar dan memilih di Timor Lorosae. Jadi semua orang Timor Lorosae yang berada di luar Timor Lorosae pada tanggal 30 Agustus tidak dapat menggunakan haknya. UNTAET tidak melakukan upaya khusus agar mereka dapat melaksanakan haknya karena tidak memiliki sumber daya dan waktu untuk mengorganisir pemilu di luar negeri atau mendatangkan mereka. Akibatnya, kurang lebih sepertiga warga Timor Lorosae yang punya hak pilih secara praktis tidak dapat mengikuti pemilu. Adilkah itu?
selengkapnya


novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo
Di Indonesia dahulu, menjelang akhir rejim yang dinamakan Orde Lama oleh musuhnya, musik dunia yang direproduksi lewat piringan hitam dan radio, menembus batin satu golongan pada satu generasi muda. Histeria massa muda itu terjadi sedunia, dan gelombang gairah muda yang merasa memperoleh panutan tersebut, dilawan Presiden Sukarno yang tua, dengan melarang musik ngak-ngik-ngok The Beatles, dan menjebloskan epigonnya, Koes Bersaudara, ke dalam penjara. Sejarah mencatat Presiden Sukarno jatuh, dan Beatles berjaya. Tetapi ada pengaruh band yang saat itu dianggap lebih liar, lebih ngak-ngik-ngok dan lebih brutal. The Rolling Stones. Kelompok The Rolling Stones dengan segala citra yang diasosiasikan orang padanya, hidup di alam batin sebagian pemuda Indonesia. Persona panggung seorang Mick Jagger, musisi yang saat itu terlalu bengal, dengan sex'n'drugs'n'rock'n'roll, seolah mengibarkan bendera filosofi hedonisme. Dan hedonisme itu mendapat persemaian subur di kalangan anak-anak remaja elit generasi pertama dari rejim yang menamakan dirinya Orde Baru.
selengkapnya

cerpen Parodi Surat Pembaca
Imron Supriyadi
Budi, salah seorang wartawan teman dekatku di Palembang, tiba-tiba uring-uringan. Dari wajahnya, sepertinya, kawanku itu benar-benar marah. Sekalipun gaya marah Budi memang tidak seperti marahnya seorang redaktur kepada Kepala Humas, yang lalai memberi amplop seusai jumpa pers. Marahnya Budi biasanya terlihat biasa-biasa saja, sama seperti marah-marah sebelumnya. Semula, aku tidak mau tahu dengan sikap Budi. Aku tahu persis cara marah Budi. Paling-paling beberapa menit. Sudah itu sudah. Menit ini kesal, maka beberapa menit kemudian sudah kembali normal. Seperti marahnya orang yang antri di depan WC hanya lantaran kebelet buang air besar. Marahnya hanya ketika menahan ledakan bom isi perut saja. Setelah dapat giliran, maka sekeluarnya dari WC pasti akan lebih ramah. Tapi aku merasa marahnya Budi terasa agak lain. Biasanya dia marah meledak-ledak, mencaci-maki, membanting pintu, menghantam meja, tapi matanya tetap lembut mengalirkan kesegaran hidup. Kali ini sorot matanya memerah dan amat tajam menusuk ke ulu hati orang-orang, dan dia juga lebih banyak diam daripada mencaci-maki.

selengkapnya

novel Dokter Zhivago 21
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Gromeko bersaudara mempunyai rumah di pojok Sivtsev Vrazhek* dan jalan kecil lainnnya. Alexander Alexandrovich dan Nikolay Alexandrovich Gromeko kedua-duanya profesor Ilmu Kimia, yang pertama di Akademi Petrov, lainnya di Universitas. Nikolay belum kawin. Alexander punya istri yang nama gadisnya Krueger. Ayahnya seorang raja besi, ia punya tanah milik besar di pegunungan Ural dekat Yuryatin; di situ ada beberapa tambang yang tak menguntungkan dan terbengkalai. Rumah keluarga Gromeko berloteng dua. Di loteng paling atas terletak kamar-kamar tidur, kelas sekolahan, kamar kerja dan perpustakaan Alexander Alexandrovich, kamar duduk Anna serta kamar-kamar Tonya dan Yura; itulah tempat-tempat kediaman. Ruang bawah dipergunakan untuk menerima tamu. Dengan tirai-tirai berwarna pistachio, kepala piano yang mengkilap, akuarium, kain dinding hijau jaitun serta tumbuh-tumbuhan dalam pot-pot seperti ganggang laut, maka ruangan mirip pada dasar laut hijau yang bergoyang dalam suasana impian. Keluarga Gromeko ini beradab, suka menerima tamu dan ahli serta penyayang besar mengenai musik. Mereka sering mengadakan resepsi serta malam musik kamar untuk kuartet musik gesek dan trio piano.
selengkapnya

tentang penulis 21

ceritanet
©listonpsiregar2000