ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 21, Selasa 28 Agustus 2001
___________________________________________________

novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Satu, Pada Awalnya

Di Indonesia dahulu, menjelang akhir rejim yang dinamakan Orde Lama oleh musuhnya, musik dunia yang direproduksi lewat piringan hitam dan radio, menembus batin satu golongan pada satu generasi muda. Histeria massa muda itu terjadi sedunia, dan gelombang gairah muda yang merasa memperoleh panutan tersebut, dilawan Presiden Sukarno yang tua, dengan melarang musik ngak-ngik-ngok The Beatles, dan menjebloskan epigonnya, Koes Bersaudara, ke dalam penjara. Sejarah mencatat Presiden Sukarno jatuh, dan Beatles berjaya. Tetapi ada pengaruh band yang saat itu dianggap lebih liar, lebih ngak-ngik-ngok dan lebih brutal. The Rolling Stones.

Kelompok The Rolling Stones dengan segala citra yang diasosiasikan orang padanya, hidup di alam batin sebagian pemuda Indonesia. Persona panggung seorang Mick Jagger, musisi yang saat itu terlalu bengal, dengan sex'n'drugs'n'rock'n'roll, seolah mengibarkan bendera filosofi hedonisme. Dan hedonisme itu mendapat persemaian subur di kalangan anak-anak remaja elit generasi pertama dari rejim yang menamakan dirinya Orde Baru.

Sebagai grafiti, sebagai tato, sebagai fashion dan juga sebagai sikap, persona Mick Jagger jadi hidup di dalam batin kebersamaan sebagian generasi muda Indonesia, terutama remaja elite ; anak-anak pejabat pemerintah dan petinggi militer.

Namun pengaruh Mick Jagger tidak hanya menembus remaja gedongan. Citra-citra itu hidup sebagai lagu yang diteriakkan bersama gembrang sumbang gitar bolong di pos ronda sebuah kampung miskin, maupun pada panggung gemerlap pesta elite di Jakarta. Di daerah di sekitar Bandung dan kota-kota Jawa Barat, kata Jager diserap untuk menamai jagoan lokal terminal angkutan, yang berubah sifat seiring dengan motorisasi transportasi desa dan dalam kota. Pangkalan beca, andong, dokar, bemo serta oplet, mulai awal tahun 1970-an, berubah pesat seiring penetrasi pemasaran kendaraan bermotor dari Jepang. Dan tokoh jagoan lokal yang hidup di lingkungan terminal juga berubah.

Para preman atau keamanan partikelir atau jawara itu pun menjadi agen perubahan budaya. Dandanannya, bahasanya, rokoknya, semuanya berubah, seiring dengan derap pembangunan para teknokrat dan sistem korupsi yang dibudayakan lewat warisan budaya upeti raja-raja dahulu. Pesat dan pasti, jenis jawara lama, yang berpotongan a'la tentara dengan kumis seram melintang, gigi emas hasil karya tukang gigi etnis Cina warga lokal, dan sabuk kulit lebar berdompet --berisi tembakau rajangan, cengkeh, klembak, wur, dan kemenyan-- hilang dari peredaran. Entah kemana. Preman cakar ayam atau yang bersendal plastik warna metalik --yang disebut sandal Lili-- seolah hilang ditelan cakrawala. Para preman jenis jawara lama pensiun dan diganti model jagoan generasi baru, yang citranya lebih internasional.

Jagoan lokal baru lahir dari bayangan yang dihidupkan oleh musik yang didengar dari radio. Musik itu demikian kuatnya, sehingga telinga-telinga manusia yang belum pernah mendengar musik itu sudah membayangkannya. Pikiran para muda yang belum pernah mendengar tentang the Beatles ataupun the Rolling Stones, sudah lebih dulu memiliki citra, imajinasi, dan mungkin juga fantasi mengenai musik itu. Di kota-kota besar dan kecil di pulau Jawa, menjelmalah dari corong-corong radio --yang merupakan barang mahal-- pemuda-pemuda berandal yang mengenakan sepatu gaya Cuba alias sepatu Beatles. Meskipun banyak di antara mereka belum pernah mendengar musiknya, bualan mereka sering menyangkut kabar-kabar sayup mengenai Lennon, Jagger, dan dunia jauh yang baru dan menggairahkan itu.

Mereka bangga berambut panjang terurai dan berpakaian mengenakan segala sesuatu yang terbuat dari denim atau kulit. Celana mereka dinamakan cut-brei, dengan potongan ketat di bagian paha dan pinggul, lalu melebar selebar-lebarnya pada bagian bawah. Sebagian golongan atas yang berlebihan uang, mengembangkan budaya hedonisme, mirip para priyayi di rumah judi, di arena tayub dan di kedai-kedai candu di jaman penjajahan Belanda. Jika kakek mereka menghisap candu yang dibeli dari pemerintah kolonial, mereka menghisap ganja yang berasal dari Aceh. Jika kakek mereka minum Jenever merek Bols, mereka minum whiskey Jack Daniels dan Bir Bintang atau Anker. Yang lebih jager di antara mereka, menyuntikkan morphin, memakan LSD, dan sering juga punya pistol yang dipinjam dari ajudan Bapaknya --hanya sekedar untuk gagah-gagahan saja.

Demikianlah suasana di awal Orde Baru, setelah darah kering di tanah, dan setelah kekejian bangsa Indonesia terhadap saudaranya sendiri menjadi terlampau mengerikan untuk dikenang. Semua orang berusaha melupakan mimpi buruk pembantaian orang-orang yang dicap PKI oleh militer dan masyarakat. Sebagian anak yang terguncang hidupnya oleh perubahan yang menggulung itu, menjadi liar, dan membutuhkan morphin. Untuk pertama kalinya di dalam sejarah pemakaian zat pengubah persepsi, pecandu Indonesia mengkonsumsi zat yang disalurkan dengan cara menyuntik. Sebelumnya, tembakau dirokok atau dikunyah, candu dirokok atau diminum bersama alkohol, pinang dikunyah dan kecubung diseduh. Tak ada yang memakai suntikan.

Kebebasan seks generasi ini cukup mencenangkan dan terbukti membawa ekses buruk: di Jogja ada kasus Sum Kuning. Ini kasus pemerkosaan legendaris yang tidak pernah dituntaskan secara hukum karena konon kasus itu melibatkan seorang wanita desa yang lemah, yang jadi korban sebuah geng remaja yang terdiri dari putera-putera orang-orang ternama. Di Bandung muncul gerakan anti celana dalam. Di Surabaya polisi membubarkan pentas yang menjurus liar dan sangat tidak senonoh.

Seks bebas, tidak hanya berarti bahwa di antara anak-anak muda yang bercinta melakukan hubungan seks. Lebih dari itu, seks bebas Jogja di awal Orde Baru adalah juga kebebasan pria untuk melacur. Pemerintah meregulasi pelacuran, mengganti nama bordil menjadi Panti Resosialisasi, menghaluskan kata pelacur menjadi wanita tuna susila WTS, dan memberikan program-program penyadaran kepada para WTS. Di antara pelanggan mereka, banyak pemuda yang baru mulai mengeksplorasi seksualitasnya.

Banyak ilmuwan mencatat generasi muda --pria dan wanita masa itu-- berubah karena rekayasa politik. Sebutan mereka berubah, dari pemuda menjadi remaja. Status politik mereka juga berubah, dari penggerak massa Revolusi menjadi massa mengambang yang perlu dibimbing menjadi alat Pembangunan. Mereka menjadi sasaran rapat-rapat manajemen pemasaran perusahaan-perusahaan multinasional. Setelah terbius, mereka jadi pembawa nilai-nilai baru, yang sangat lebih konsumeristis daripada generasi terdahulu.

Sebagian mereka bertato. Macam-macam gambar tatonya namun semuanya bersyahwat lelaki; gambar perempuan telanjang di dalam berbagai pose, misalnya. Atau juga gambar-gambar binatang yang berkesan jantan seperti naga, singa, ular, kalajengking, macan, kadang juga senjata seperti belati, revolver, atau juga simbol, seperti misalnya suntikan, atau bibir jontor dan lidah menjulur-nya Rolling Stones.

Sebagian kreatif, bermain musik dan mampu membeli alat-alat untuk membentuk kelompok band. Mereka juga jagoan dan berkelakuan urakan, seperti para dedengkot Rolling Stones. Mereka bangga dengan perkelahian-perkelahian. Saat itu, pemuda di banyak sudut dunia menyanyikan lagu-lagu pemberontakan, salah satunya, mengenai kreatifitas jalanan. Itulah citra Street Fighting Man-nya Jagger.

                But what can a poor boy do?
                'Xcept to sing for a rock'n'roll band?
                'Cause in dreary London town there's
                Just no place for
                Street fighting man
                No!

Pengaruh Jagger menyebar ke mana-mana, bahkan memasuki perkampungan-perkampungan kota Jogja yang rapi dan bersih, yang rindang dengan gelap teduh tajuk pohon-pohon sawo yang tua. Di Jogja, yang tenang, yang dijuluki kota sepeda, muncul juga radio pemuda, band rock'n'roll, tato bibir jontor dan lidah menjulur, penyanyi gardu ronda, celana cut-brei, T-Shirt ketat, dan nilai-nilai pergaulan sex bebas.

Sebagian elit dari satu generasi memberontak terhadap kemunafikan orang tua mereka, dan tidak bergeming ketika pengaruh Barat pada diri mereka dikecam. Dalam suasana begitulah seorang anak hidup dan berkembang. Anak yang sejak kecil bengal dan suka nongkrongin kakak-kakaknya bermain band rock and roll --lengkap dengan gitar listrik dan amplifier volume tinggi-- mendapat panggilan yang belakangan disahkan : Jagger.

Saat itu usianya lima tahun, hampir menginjak enam, dengan seragam baju kodok warna merah jahitan ibunya sendiri. Dari Barat Laut, Matahari kemarau memembus rindang tajuk sawo. Cahayanya yang merah keemasan, melewati daun-daun hijau tua yang kecil dan rapat, menjadi cahaya merah-emas kehijau-hijauan. Ia tak berhenti melompat-lompat ketika kakak-kakaknya mengakhiri lagu yang mereka sedang latih.

Hari sudah sore, hampir pula petang. Di sebuah pendapa tua, teman-teman kakak-kakaknya bermain gitar listrik dan menyanyikan lagu-lagu Beatles dan Rolling Stones, sebagai latihan untuk sebuah pentas dalam sebuah pesta ulang tahun seorang kawan yang kaya, anak pejabat. Teman kakaknya yang menjadi vokalis band --seorang pecandu ganja dan penggurau-- mengomentari bahwa wajahnya mirip dengan Mick Jagger. Itu memang betul, mulutnya lebar, bibirnya dower. Jika dia dilahirkan satu generasi sebelumnya, tak mungkin dia dinamakan Jagger, tapi --bisa dipastikan-- akan diberi nama Bagong.
***
bersambung

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000