sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut mailing list
ceritanet              situs karya tulis - edisi 218, 13 maret 2012

Tulisan lain

Senja di Tanah Abang - M. Hussyn Umar

Kepada Jakarta - Ajip Rosidi

Penghujung Senja - Suhendri Cahya Purnama

Aku Berkisar Antara Mereka - Chairil Anwar

Ibukota Senja - Toto S. Bachtiar

Kotaku, Kotamu, Kota Kita - Aminatul Faizah

Tupai

catatan Sebuah Buku Puisi dan Musik pun Dimulai
Arpan Rachman

Sejak sajak menemukan rima
Aksara ruparupa warna
Cinta tenggelam diamdiam
Bertunas seribu episode

Sejak sejuk tatapmu ramah
Kalimah berpendar di ujung pena
Bisu kita hanya kata
Dalam cinta kita merupa
(22 Mei 2011, sajak Sejak oleh Dewi Mudijiwa)

"Ada banyak makna untuk merangkai kata tapi terlalu sedikit kata untuk merangkai makna. Tak banyak perempuan merangkai sajak seperti banyaknya karya Mahila," kata Andi Gadis Kinanti, moderator dalam acara peluncuran buku puisi berjudul 9 Pengakuan: Seuntai Kidung Mahila.

Diluncurkan di Family Garden, Makassar, 90 puisi karya sembilan penyair perempuan itu dengan santainya dibicarakan gambling oleh penyair Aslan Abidin. Dengan editor Shinta Febrianyl, kesembilan penyairnya adalah: Erni Aladjai, Sri Rezkhi, Dewi Mudijiwa, Meiranti Kurniasih, Tiza Fitrizia, Deasy Tirayoh, Nilam Indahsari, Amanda Puspita, dan Nurul Nisa.

Sebuah sumber membocorkan informasi bahwa kurang lebih Rp60 juta ongkos produksi dikeluarkan, termasuk pencetakan buku dan musikalisasi puisi yang direkam dalam CD . Proyek puisi yang terbilang cukup mahal dan terkesan serius.

Buku dan musik ini seperti nyanyian perempuan tentang musim angin di Makassar ketika lirik dan sastra diimbuhi oleh makna tersendiri.

Pada esai berjudul Dari Mana Datangnya Sastra? dulu pernah saya ungkap tentang lirik yang berdaulat dan mempertanyakan pengertian sastra dalam kamus karangan WJS Poerwadarminta.

Sementara dalam acara televisi Opera van Java, bekas biduan grup band pop Stinky, Andre Taulany, mempopulerkan kembali talibun yang dirangkai sebagai karangan dari logika cerdas sederhana.

Khasanah Melayu, mungkin saja Deli, yang dulu menghiasi masa remaja Andre telah mengakrabkan dia pada bentuk-bentuk awal puisi. Talibun merupakan salah satu bentuk awal nan kuno itu.

Para penonton OVJ karena ulah Andre seketika mengerti bahwa sastra selalu mengandung dua prinsip utama: menghibur dan menyenangkan. Dulce et utile, kata orang-orang bijak zaman dulu.

Tidak heran bila mendengar rayuan gombal seperti bunyi talibun, banyak orang yang suka karena sesungguhnya kita amat mengenal bunyi-bunyi purba seperti itu sejak dulu kala.

Tak bisa digugat
Puisi itu karena sederhana, maka liriknya yang berdaulat tidak akan mungkin dapat digugat lagi oleh siapapun juga. Tapi karena itu, kalau harus buka kamus lagi, pengertian sastra tetap saja boleh dan sah dipertanyakan.

Di satu sisi, penyair adalah orang yang mencintai kata. Kepada orang-orang seperti mereka, kita berharap kata-kata yang telah lama mati di dalam kamus dihidupkan kembali daya pengertiannya ke dalam hati untuk menggugah semua orang dengan cara menghibur dan menyenangkan.

Seperti gugahan Dewi Mudijiwa dalam puisinya, Atom Rindu, yang menorehkan satu lirik: "Pada pasti yang tak dimengerti"

Apakah liriknya itu terasa begitu dalam, tapi jauh dari unsur menghibur dan menyenangkan, bagaimana menilainya dengan ideal?

Atau, apakah sebaris lirik tidak harus menjadi sebuah cara untuk menghibur dan menyenangkan?

Komunitas seperti Komunitas Mahila mungkin boleh mulai membentuk klub etimologi untuk mengukur berapa banyak kata yang hidup dalam diri seorang penyair, dan kata itu juga dikenal orang-orang di sekitar mereka yang lalu membandingkannya dengan kata-kata yang hanya menghiasi kamus tetapi mati karena tidak dipakai lagi.

Apa batas pengertian satu kata yang diajukan kamus sama dengan definisi yang dipahami manusia sehari-hari? Pertanyaan ini niscaya cuma berhasil dijawab oleh penyair yang tidak memproduksi puisi gelap atau secara asal-asalan.

Kalau ada seorang perayu bertanya: "Ibu kamu penyair ya?" maka jawaban, "Kok tahu?" atau "Nggak tahu!" menjadi tidak penting lagi bagi sebuah talibun. Yang penting ialah larik kedua yang memungkasnya: "Karena kau telah menghibur dan menyenangkan hatiku."

Akhir kata, si moderator, Andi Gadis Kinanti, lagi. Dia bilang, "Mari kita kembali menanti Mahila mencari sajak di folder tersembunyi." Mungkin maksudnya ada lirik-lirik lain yang selama ini tak tersembunyi, seperti talibun yang sempat kita lupakan bersama dan kemudian kita nikmati bersama.

Apapun, mungkin larik kedua tadi: dulce et utile. Para penyair perempuan datang dengan buku dan cd puisi yang manis dan berguna.
***
9 Pengakuan - Seuntai Kidung Mahila; Copyleft Mahila Press 2012; editor Shinta Febriany

ceritanet©listonpsiregar2000